Fase-Fase Perkembangan Manusia

Perkembangan manusia sampai pada fase kapitalisme

Secara pokok kebutuhan manusia adalah makan, pakaian, dan tempat tinggal, hal ini jika dilihat dari pandangan ekonomi. Jika kebutuhan-kebutuhan primer ini sudah terpenuhi maka akan ada kebutuhan lain yang juga bermunculan untuk di penuhi juga. Sudah menjadi kodrat manusia mempunyai watak serba kurang dan tidak puas, tapi itu merupakan sifat terburuk manusia, tapi jika dia bias mengondisikan keinginan-keinginan tersebut dan mengorientasikannya kepada hal-hal yang baik dan benar maka mereka akan menjadi manusia sejati (manusia seutuhnya manusia). Sebab jika orientasi dari sifat selalu kurang, rakus dan mengakumulasi adalah untuk kepentingan individunya sendiri sedangkan manusia hidup tidak bisa sendiri selalu membutuhkan satu dengan yang lain, jika dia mengetahui esensinya sebagai makhluk sosial maka dia tidak akan mengakumulasi harta sebanyak-banyaknya, tapi dia ambil secukupnya untuk kebutuhannya serta berbagi dengan yang lain jika mempunyai harta lebih, maka dia akan menjadi sempurna.
Secara ekonomi atau kebutuhannya, peradaban manusia mempunyai beberapa fase atau tingkatan, mulai dari fase primitif, komunal primitif, perbudakan, feodal, kapitalis dan yang terakhir sosialis (dilihat dari kaca mata filsafat marxis). Perubahan di setiap fasenya juga di iringi dengan kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri, secara alamiah perubahan itu terjadi mulai semua juga di pengaruhi oleh lingkungan dan pola pikir manusia itu sendiri. Memang kodrat manusia manusia mempunyai akal yang selalu berkembang untuk mengondisikan alam, berbeda dengan hewan yang terkondisikan oleh alam
jika kebutuhan primer manusia tidak bisa di penuhi maka populasi manusia bisa dipertanyakan eksistensinya atau mengalami kepunahan. Secara hukum alam, yang di cari manusia adalah kebutuhan primer yakni makanan, apalagi ketika manusia masih di fase primitif, pola pikirnya sangat sederhana, cukup mencari makan untuk bertahan hidup, tidak ada yang menyimpan untuk besok hari apalagi mengakumulasi. Kehidupan manusia di saat itu sangat cukup dengan memenuhi kebutuhan primer tanpa adanya pikiran untuk kebutuhan sekunder apalagi pesier, jika ada kebutuhan tersebut , pemenuhannya pun sangat sederhana Kebutuhan sekunder mereka cukup terpenuhi dengan kulit pohon atau dengan kulit binatang, tidak ada pikiran untuk bagaimana hidup lebih, di lihat glamor atau di pandang lebih, semua sama tidak ada yang lebih, tidak ada yang lebih kaya atau yang lebih miskin, cukup dengan kebutuhan-kebutuhan saat itu saja maka dapat terpenuhi saat itu pula.
Seiring dengan jumlah populasi manusia yang semakin meningkat maka kebutuhan untuk bahan makanan manusia juga meningkat, sedangkan alam tetap. Maka dari sini muncullah yang namanya bercocok tanam, namun tidak semudah itu bisa ditemukannya bercocok tanam berawal dari ketidak sengajaan kaum wanita yang mengetahui biji yang bisa tumbuh dan menghasilkan buah. Ketidak sengajaan ini pun di saat wanita melahirkan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk istirahat sehingga munculah manusia bisa bercocok tanam dan mereka tidak lagi berpindah pindah atau menetap. Sedangkan pada fase sebelumnya mereka harus berpindah-pindah (no maden) untuk mencari makanan dan berburu, tapi ketika di fase ini mereka cukup menempati suatu tempat dan bercocok tanam.
Ada ciri khusus di fase ini yakni ketika manusia menemukan cara bercocok tanam sedangkan yang menemukan yang pertama adalah wanitanya maka kaum yang di anggap kuat adalah yang wanita, sedangkan di fase sebelumnya kaum yang kuat tidak ada, maksudnya sama antara yang perempuan dan yang laki-laki. Di saat membutuhkan makanan mereka juga sama-sama berburu. Namun di fase ini sudah di dominasi perempuan sebagai yang kuat dan laki-laki tetap berburu seperti pada fase sebelumnya . dalam perkembangan fase ini seiring dengan jumlah populasi manusia yang semakin meningkat dan kebutuhan lahan juga meningkat untuk menghasilkan sumber-sumber makanan, maka menimbulkan pertarungan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Dengan adanya pertarungan antar kelompok untuk memperebutkan wilayah maka, muncullah yang namanya batas wilayah. Batas wilayah ini untuk membatasi wilayah yang dikuasai oleh kelompok-kelompok sehingga suatu daerah dikatakan daerah kekuasaan. Di daerah kekuasaan ini mereka sudah tidak lagi berburu hanya memanfaatkan daerah kekuasaannya, namun karena kondisi daerah dengan daerah yang satu tidak sama maka bagaimana satu kelompok ini menguasai daerah yang lain untuk dijadikan daerah kekuasaannya, sehingga muncul yang namanya ekspansi wilayah. Untuk daerah yang dikuasai tidak hanya daerahnya dikuasai tapi juga orang-orangnya dikusai sehingga muncul yang namanya perbudakan. Bagi daerah yang kalah harus tunduk pada daerah yang menang, sehingga daerah yang kalah terpaksa mereka harus menjadi budak. Karena ada dan munculnya perbudakan maka di fase ini di namakan fase perbudakan.
Di fase perbudakan ini yang diuntungkan adalah tuan budak, tuan budak dengan semena-mena menyuruh dan memaksa budaknya untuk melakukan keinginan yang di kehendaki tuan budak. Karena budak tidak pernah merasa bahagia dan selalu susah dengan penuh keterpaksaan atas apa yang dilakukan. Karena posisi budak yang tidak bias melakukan apa-apa ini sehingga budak membutuhkan pertolongan, tapi siapa yang bisa menolong mereka, yang bisa menolong mereka adalah tuan budak karena mereka yang mempunyai hak kuasa penuh atas budaknya. Karena di anggap yang kuat dan bisa membantu budak dan berkuasa maka tuan budak mengganggap dirinya yang paling kuat dan budak yang lemah, karena ini muncullah yang di namakan kepercayaan kekuatan untuk bias membantu sang budak, sehingga muncul yang namanya kepercayaan atau (animisme dan dinamisme).
Di samping itu pada fase ini juga memunculkan yang namanya Negara atau yang di namakan kerajaan. Negara atau kerajaan di peroleh dari daerah-daerah yang dikuasai, dan yang berkuasa adalah golongan yang kuat dan dari golongan yang kuat ini siapa-siapa yang kuat di golongan ter sebut yang kuat menjadi raja atau pemimpin. Dari perkembangan ini maka muncullah yang namanya konsep kerajaan, dan untuk membangun kerajaan mereka mempunyai budak-budak yang di siapkan sebagai ladang utama kemajuan dari Negara tersebut. Dan untuk mempercepat kemajuan daerah tersebut maka maka mereka mengekspansi ke daerah-daerah yang lain, sehingga daerah kekuasaannya semakin luas dan berkembang.
Di sisi lain, perkembangan pola pikir manusia semakin meningkat, bagi daerah yang satu dengan yang lain tidak sama sehingga muncul yang namanya saling tukar antara barang yang satu dengan barang yang lain (barter). Barter sebenarnya tidak hanya bermunculan pada fase perbudakan ini tapi pada fase komunal primitif juga sudah ada yakni dengan bentuk barang dengan barang. Kemunculan barter di fase komunal primitif adalah karena yang dihasilkan daerah yang satu dengan yang lain tidak sama antara daerah yang di pegunungan dan daerah yang dekat dengan laut atau sungai, contoh kecilnya adalah ketika orang yang hidup di daerah pegunungan maka mereka mempunyai banyak buah-buahan dan makanan seperti beras, disamping beras mereka pasti membutuhkan ikan sebagai lauk, begitu pula orang-orang yang hidup di pesisir laut mereka mempunyai banyak ikan dan membutuhkan buah dan kebutuhan makanan seperti beras. Untuk itu bagaimana mereka bias saling tukar menukar antara barang yang satu dengan yang lain.
Seiring dengan perkembangan manusia yang semakin bisa bagaimana mereka mempermudah cara hidupnya maka muncul yang namanya mata uang yang digunakan untuk salin menukar barang. Karena adanya uang ini maka muncullah yang namanya nilai dari suatu barang jika tidak ada nilai maka tidak bisa barang di tukar antara yang satu dengan yang lain. Sebab adanya nilai ini lah maka muncul pula perdagangan, bagi orang yang tidak mempunyai hasil produksi maka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bisa berdagang, karena adanya peningkatan nilai dari suatu barang dan barang akan mempunyai nilai ketika banyak orang mengetahui manfaatnya dan membutuhkan manfaat dari barang tersebut.
Dari adanya nilai ini semakin menguntungkan bagi kerajaan-kerajaan yang peradapanya lebih dahulu berkembang dan pola pikirnya semakin berkembang pula untuk menguasai dan mengekspansi daerah lain. Di sisi lain adanya nilai ini juga memunculkan watak manusia untuk mengakumulasi nilai barang karena mereka ingin di anggap kaya dan ingin hidup seenak-enaknya dengan nilai tersebut. Sehingga dari sini memunculkan yang namanya faham modal sedikit dan keuntungan sebesar-besarnya, diiringi pula oleh perdangan tersebut semakin memperluas jaringan mereka. Dari faham ini maka memunculkan yang namanya kapitalisme, yaitu suatu faham yang mengedepankan keuntungan dan keuntungan tanpa melihat penderitaan orang lain atau bahasa kasarnya penghisap kekayaan orang lain. Sehingga di fase ini dinamai dengan fase kapitalisme.

About rudien87


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: