Arsip Bulanan: April 2010

Konsep Pemberdayaan pendidikan Perempuan

A. Konsep Pemberdayaan pendidikan Perempuan
1. Pengertian Perempuan
Semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan keadilan. Begitu juga dengan Islam. Islam sangat menekankan pentingnya keadilan tersebut, seperti firman Allah pada Surat Al Maidah ayat 8, yang berbunyi:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Maidah :8)

Al-Qur’an, sebagai prinsip prinsip dasar atau pedoman moral tentang keadilan tersebut, mencakup berbagai anjuran untuk menegakkan keadilan teologis (agama), ekonomi, politik, budaya, kultural termasuk keadilan gender. Secara diskrit, di dunia ini yang diakui sebagai manusia “lumrah” adalah manusia yang berjenis kelamin laki laki dan perempuan. Meskipun menyandang predikat sebagai manusia “lumrah”, akan tetapi terdapat ketimpangan di antara keduanya, represi (penindasan) yang sungguh luar biasa. Laki laki menguasai perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, ini adalah realitas yang tidak bisa ditolak oleh siapapun.
Perempuan merupakan makhluk lemah lembut dan penuh kasih sayang karena perasaannya yang halus. Secara umum sifat perempuan yaitu keindahan, kelembutan serta rendah hati dan memelihara. Demikianlah gambaran perempuan yang sering terdengar di sekitar kita. Perbedaan secara anatomis dan fisiologis menyebabkan pula perbedaan pada tingkah lakunya, dan timbul juga perbedaan dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan kegiatan intensional yang bertujuan dan terarah dengan kodrat perempuan.
Adapun pengertian Perempuan sendiri secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti “tuan”, orang yang mahir atau berkuasa, kepala, hulu, yang paling besar. Namun dalam bukunya Zaitunah Subhan perempuan berasal dari kata empu yang artinya dihargai. Lebih lanjut Zaitunah menjelaskan pergeseran istilah dari wanita ke perempuan. Kata wanita dianggap berasal dari bahasa Sanskerta, dengan dasar kata Wan yang berarti nafsu, sehingga kata wanita mempunyai arti yang dinafsuai atau merupakan objek seks. Jadi secara simbolik mengubah penggunaan kata wanita ke perempuan adalah megubah objek jadi subjek. Tetapi dalam bahasa Inggris wan ditulis dengan kata want, atau men dalam bahasa Belanda, wun dan schen dalam bahasa Jerman. Kata tersebut mempunyai arti like, wish, desire, aim. kata want dalam bahasa Inggris bentuk lampaunya wanted. Jadi, wanita adalah who is being wanted (seseorang yang dibutuhkan) yaitu seseorang yang diingini. Sementara itu feminisme perempuan mengatakan, bahwa perempuan merupakan istilah untuk konstruksi sosial yang identitasnya ditetapkan dan dikonstruksi melalui penggambaran. Dari sini dapat dipahami bahwa kata perempuan pada dasarnya merupakan istilah untuk menyatakan kelompok atau jenis dan membedakan dengan jenis lainnya.
Para ilmuan seperti Plato, mengatakan bahwa perempuan ditinjau dari segi kekuatan fisik maupun spiritual, mental perempuan lebih lemah dari laki laki, tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan adanya perbedaan dalam bakatnya. Sedangkan gambaran tentang perempuan menurut pandangan yang didasarkan pada kajian medis, psikologis, dan sosial, terbagi atas dua faktor, yaitu faktor fisik dan psikis.
Secara biologis dari segi fisik, perempuan dibedakan atas perempuan lebih kecil dari laki laki, suaranya lebih halus, perkembangan tubuh perempuan terjadi lebih dini, kekuatan perempuan tidak sekuat laki laki dan sebagainya. Perempuan mempunyai sikap pembawaan yang kalem, perasaan perempuan lebih cepat menangis dan bahkan pingsan apabila menghadapi persoalan berat.
Sementara Kartini Kartono mengatakan, bahwa perbedaan fisiologis yang alami sejak lahir pada umumnya kemudian diperkuat oleh struktur kebudayaan yang ada, khususnya oleh adat istiadat, sistem sosial ekonomi dan pengaruh-pengaruh pendidikan. Pengaruh kultural dan pedagogjs tersebut diarahkan pada perkembangan pribadi perempuan menurut satu pola hidup dan satu ide tertentu. Perkembangan tadi sebagian disesuaikan dengan bakat dan kemampuan perempuan, dan sebagian lagi disesuaikan dengan pendapat pendapat umum atas tradisi menurut kriteria kriteria, feminis tertentu.
Seorang tokoh feminis, Mansour Fakih mengatakan bahwa manusia baik laki laki dan perempuan diciptakan mempunyai ciri biologis (kodrati) tertentu. Manusia jenis laki laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (Jawa: kala menjing) dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti, rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui (payudara). Alat alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis laki laki dan perempuan selamanya dan tidak bisa ditukar.
Dalam konsep gendernya dikatakan, bahwa perbedaan suatu sifat yang melekat baik pada kaum laki laki maupun perempuan merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, kasih sayang, anggun, cantik, sopan, emosional atau keibuan, dan perlu perlindungan. Sementara laki laki dianggap kuat, keras, rasional, jantan, perkasa, galak, dan melindungi. Padahal sifat sifat tersebut merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Berangkat dari asumsi inilah kemudian muncul berbagai ketimpangan diantara laki laki dan perempuan.
Konstruksi sosial yang membentuk pembedaan antara laki laki dan perempuan itu pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan. Pembedaan peran, status, wilayah dan sifat mengakibatkan. perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan baik untuk pribadinya maupun lingkungan karena adanya pembedaan pembedaan tersebut. Berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan tersebut adalah, subordinasi, marginalisasi, stereotipe, beban ganda dan kekerasan terhadap perempuan.
Secara eksistensial, setiap manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama, sehingga secara asasi berhak untuk dihormati dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya. Secara mendasar, Hak Asasi Manusia meliputi, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, hak untuk memiliki sesuatu, serta hak untuk mengenyam pendidikan. Ketiga hak tersebut merupakan kodrat manusia. Siapapun tidak boleh mengganggu dan harus dilindungi.
Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia adalah makhluk Tuhan yang satu, memiliki derajat yang sama, apapun latar belakang kulturnya, dan karena itu memiliki penghargaan yang sama dari Tuhan yang harus dihormati dan dimuliakan. Maka, diskriminasi yang berlandaskan pada perbedaan jenis kelamin, warna kulit, kelas, ras, teritorial, suku, agama dan sebagainya tidak memiliki dasar pijakan sama sekali dalam ajaran Tauhid. Hanya tingkat ketaqwaan kepada Allah yang menjadi ukuran perbedaan kelak dihari pembalasan.
Jika kita meneropong realitas sosial Indonesia, lebih lebih jika kita fokuskan pada kehidupan kaum perempuan, niscaya yang akan kita temukan adalah sebuah keprihatinan. Mengapa posisi kaum perempuan tidak menguntungkan? Memang, pada satu sisi kita bisa mengatakan bahwa realitas sosial yang tidak menguntungkan kaum perempuan tersebut terkait dengan terlalu dominannya budaya patriarki.
Oleh karena itu, memerangi ketidakadilan sosial sepanjang sejarah kemanusiaan dalam konsepsi kemasyarakatan adalah penting. Salah satu pendekatan yang kini sering digunakan dalam meningkatkan kualitas hidup dan mengangkat harkat martabat perempuan adalah pemberdayaan perempuan.

2. Pengertian Pemberdayaan Pendidikan Perempuan
Realitas ketidakadilan bagi kaum perempuan mulai dari marginalisasi, makhluk Tuhan nomor dua, separoh harga laki laki, sebagai pembantu, tergantung pada laki laki, dan bahkan sering diperlakukan dengan kasar atau setengah budak. Seakan memposisikan perempuan sebagai kelompok mesyrakat kelas dua, yang berimbas pada berkurangnya hak-hak perempuan termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan.
Salah satu pendekatan yang kini sering digunakan dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan mengangkat harkat dan martabat perempuan adalah pemberdayaan pendidikan perempuan. Konsep pemberdayaan pendidikan ini sangat penting karena memberikan perspektif positif terhadap perempuan. Sehingga perempuan dalam menggapai realitas hidup tidak dipandang sebagai makhluk yang serba kekurangan.
Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata “power” yang artinya keberdayaan atau kekuasaan. Pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana seseorang, rakyat, organisasi. dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (berkuasa atas) kehidupannya. Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap kejadian kejadian serta lembaga lembaga yang mempengaruhi kehidupannya.
Jadi pernberdayaan pendidikan perempuan adalah suatu cara dan proses meningkatkan pendidikan perempuan dengan harapan agar mampu menguasai kehidupannya. Tujuan pemberdayaan adalah untuk meningkatkan kekuasaan perempuan yang dalam realitas kehidupan sampai sekarang mengalami nasib tidak beruntung. Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial.
Pemberdayaan pendidikan perempuan menekankan pada aspek ketrampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya, Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan, khususnya kelompok lemah agar memiliki akses terhadap sumber¬sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan¬keputusan yang mempengaruhi mereka.
Mengingat bahwa pendidikan merupakan persoaalan yang sangat penting dan mendasar dalam pamberdayaan perempuan, maka merupakan sebuah keharusan bahwa pemberdayaan terhadap pendidikan perempuanpun juga dilakukan sebagai prasyarat terhadap pemberdayaan perempuan itu sendiri.
Adapun pemberdayaan terhadap pendidikan perempuan adalah suatu cara atau upaya dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan cara:
1. Memberikan kesempatan seluas-luasnya terhadap kaum perempuan untuk bisa mengikuti atau menempuh pendidikan seluas mungkin. Hal ini diperlukan mengingat masih menguatnya paradigma masyarakat bahwa setinggi-tinggi pendidikan perempuan toh nantinya akan kembali ke dapur. Inilah yang mengakibatkan masih rendahnya (sebagian besar) pendidikan perempuan.
2. Melakukan kampanye dan memberikan penyadaran kepada kaum perempuan akan pentingnya pendidikan dan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Untuk meminimalisir pelecehan-pelehan atau ketidak adilan yang dialami oleh perempuan, maka sangat dimungkinkan sosialisasi dan penyadaran akan pentingnya pendidikan menjadi suatu keniscayaan.
3. Melakukan penelitian terhadap partisipasi masyarakat khususnya kaum perempuan dalam pemberdayaan dan peningkatan pendidikan bagi perempuan. Kegiatan ini sangat urgen, karena ini akan menjadi landasan dasar bagi siapa saja yang mengkampanyekan gerakan gender. Fakta ini menjadi tolok ukur untuk menetukan orientasi pergerakan gender. Kalau di suatu tempat, tingkat pendidikan perempuan sangat minim, maka berbagai kegiatan dapat disusun guna menutupi kekurangan itu.
4. Menyiapkan langkah-langkah antisipasi terhadap segala kendala dan hambatan yang akan dihadapi dalam proses pemberdayaan terhadap pendidikan perempuan. Hal ini perlu dilakukan karena tidak sedikit fakta dilapangan yang ditemui, berbeda dengan harapan. Sehingga kalau sudah ada persiapan yang matang tentang antisipasi kendala yang akan ditemui, dapat dikatakan aktivitas apapun akan berjalan dengan lancer.

3. Indikator Keberhasilan Pemberdayaan Pendidikan Perempuan
Pembangunan pemberdayaan pendidikan perempuan dilakukan untuk menunjang dan mempercepat tercapainya pemberdayaan perempuan menuju kualitas hidup dan mitra kesejajaran laki laki dan perempuan yang bergerak dalam seluruh bidang atau sektor. Keberhasilan pembangunan pemberdayaan pendidikan perempuan menjadi cita-cita semua orang. Namun untuk mengetahui keberhasilan sebagai sebuah proses, dapat dilihat dari indikator pencapaian keberhasilannya. Adapun indikator-indikator pemberdayaan pendidikan perernpuan adalah sebagai berikut:
1. Adanya wahana dan sarana yang memadai serta aturan perundang-undangan yang mendukung terhadap perempuan untuk menempuh pendidikan semaksimal mungkin.
2. Adanya peningkatan partisipasi dan semangat kaum perempuan untuk berusaha memperoleh dan mendapatkan pendidikan dan pengajaran bagi diri mereka.
3. Meningkatnya jumlah prosentase perempuan dalam lembaga-lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi.
4. Peningkatan keterlibatan aktifis perempuan dalam kampanye pemberdayaan pendidikan terhadap perempuan.
Namun lebih dari itu semua adalah terciptanya pola pikir dan paradigma yang egaliter. Perempuan juga harus dapat berperan aktif dalam beberapa kegiatan yang memang proporsinya. Kalau ini telah terealisir, maka pendidikan perempuan benar-benar telah terberdayakan.

4. Peran Pendidikan Dalam Pemberdayaan Perempuan
Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan sehingga mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global, khususnya peran perempuan sebagai bagian dari pelaku pembangunan, maka perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan potensi perempuan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Pembangunan pemberdayaan perempuan dilakukan untuk menunjang dan mempercepat tercapainya kualitas hidup perempuan, dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi atau advokasi pendidikan, pelatihan, dan ketrampilan bagi kaum perempuan yang bergerak dalam seluruh bidang kehidupan.
Pendidikan merupakan hak setiap individu, kaya miskin, lemah kuat, pandai bodoh, laki laki maupun perempuan. Oleh karena itu pendidikan adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan menjadi kebutuhan bagi semua tanpa memandang latar belakang. Salah satu penyebab penindasan, peminggiran, subordinasi, bahkan perlakuan kasar terhadap perempuan adalah kemiskinan pendidikan yang dialami oleh kaum perempuan. Lebih dari itu pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan fasilitas yang layak dan maksimal dalam pendidikan ini. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang 1945 yaitu Negara ikut terlibat dalam mencerdeskan kehidupan bangsa.
Dalam agama Islam sendiri diajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan pada hakekatnya sama dalam hak untuk memperoleh pendidikan.
Dalam Al Quran Surat Al Alaq Allah SWT. Berfirman:
Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dari ayat al Qur’an tersebut di atas dapat dipahami bahwa Tuhan mengajarkan kepada manusia tentang manusia. Kata manusia di sini menunjukkan universalitas dan tidak terpaku pada golongan manusia tertentu, baik laki-laki atau perempuan.
Kuantitas pendidikan yang diterima perempuan sangat minim, sehingga tidak kaget kalau dua pertiga dari penduduk dunia yang buta huruf adalah perempuan. Anak anak perempuan mendapatkan pendidikan ala kadarnya atau bahkan tidak sama sekali, memang sangat berat menghadapi dunia, mereka tidak memiliki sumber daya yang memungkinkan secara efektif mengatasi kemiskinannya, kecuali hanya ratapan kesedihan. Tanpa pendidikan mereka, perempuan bukan apa apa.
Meskipun pendidikan yang ditawarkan kepada anak perempuan dianggap “pedang bermata dua”, yakni pendidikan yang berguna untuk menjaga dirinva sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhannya sendiri, serta pendidikan yang bermanfaat bagi keluarga (sebagai ibu rumah tangga). Oleh karena itu, pendidikan bagi pernberdayaan itu sebagai sesuatu memperkuat dan mempertinggi perasaan mereka tentang kekurangan sebagai perempuan, kalau perempuan memang enggan untuk diposisikan sebagai manusia nomor dua setelah laki laki, sehingga keberadaannya tidak dianggap sebagai pelayan atas kebutuhan laki laki.
Salah satu bagaian dari Hak Asasi Manusi yang dimiliki manusia sejak lahir, dimanapun dan dalam waktu apapun, harus diberikan bahkan tidak boleh dihalang halangi adalah hak untuk mendapatkan pendidikan. Dalam UUD 1945, pasal 31, dijelaskan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran (pendidikan) yang layak.
Dalam Islam dianjurkan menegakkan persamaan di bidang hukum dan pendidikan. Antara laki laki dan perempuan harus mendapatkan hak atas pendidikan tanpa harus mengalami diskriminasi. Melalui pendidikan, baik laki-laki maupun perempuan, baik ilmu keagamaan maupun kemasyarakatan, manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah fil ardl.
Pendidikan harus diarahkan pada perkembangan penuh kepribadian, kompetensi, skill, ketrampilan serta pengokohan rasa hormat terhadap Hak Asasi Manusia dan prinsip prinsip kebebasan. Setiap orang, baik laki laki maupun perempuan berhak untuk bebas berpartisipasi di dalarn kehidupan kebudayaan masyarakat dan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan menikmati manfaatnya. Selain itu, pendidikan juga sangat berarti terutama bagi pemberdayaan perempuan. Melalui pendidikan, perempuan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, mempunyai kemampuan dan keamanan, guna kemandirian, memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalarn hal pendidikan, ada tiga jenis pendidikan yang wajib ditempuh oleh perempuan:
1. Pendidikan yang wajib bagi setiap orang demi menjaga kehidupannya sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pribadinya.
2. Pendidikan yang bermanfaat bagi keluarganya.
3. Pendidikan yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekelilingnya.
Meskipun gerakan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan untuk meningkatkan kualitas kehidupan perempuan mulai diberdayakan. tetapi masih ada hambatan hambatan yang berupa asumsi negatif tentang tabi’at perempuan. Salah satu diantaranya adalah, asumsi yang berasal dari teks teks keagamaan yang ditafsirkan secara tekstual dan konservatif, tanpa memandang kultur sosiologis yang berkembang. Seperti, bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah akal dan agamanya lemah. Padahal asumsi ini terpengaruh oleh kondisi sosial perempuan Arab pada waktu itu.
Oleh karena itu, pembekalan kaum perempuan dengan pendidikan dalam konteks sekarang sangat urgen, bahkan menjadi kewajiban, karena kepribadian umat dan bangsa ditentukan anak anaknya. Maka, pendidikan pada kaum perempuan dimulai dari proses pendidikan mental, demokrasi dan pembentukan kepribadian dalam keluarga. Selanjutnya, mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang unggul dan sempurna.
Perlu diketahui, bahwa harapan harapan tersebut di atas, akan sulit terkabul, kecuali melalui uluran uluran tangan dan nurani ibu ibu pendidik, serta pemerhati nasib perempuan yang berpendidikan tinggi dan memiliki bekal yang memadai. Belum pernah terpikirkan oleh kita, bagaimana kita akan membentuk dan membina generasi yang unggul dan tangguh, jika kaum ibu saja masih terbelakang tanpa pendidikan.

B. Perempuan Dan Masyarakat Modern
1. Pengertian Masyarakat Modern
Modernisasi merupakan satu kata baru untuk suatu fenomena lama, yang berlapis lapis, kesemuanya mencakup proses perubahan sosial bersifat revolusioner, kompleks, sistematik, global, bertahap, hegemonisasi dan progresif seperti Indonesia. Teori Modernisasi ini lahir pada tahun 1950 an dan merupakan tanggapan kaum intelektual terhadap Perang Dunia. Bagi para penganut teori evolusi, modernisasi dianggap sebagai jalan optimistis menuju perubahan.
Masyarakat modern adalah suatu struktur sosial atau lingkungan kehidupan publik tempat relasi antar manusia diatur atas dasar business, produksi, konsumsi dan komersialisasi. Pada masyarakat modern, perhatian lebih ditekankan pada sikap dan nilai nilai individu serta kemampuan produktifitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, keterbelakangan masyarakat (dianggap) bersumber pada faktor faktor intern Negara atau masyarakat itu sendiri, terutama dalam bidang pendidikan.
Masyarakat modern merupakan hasil evolusi dari masyarakat tradisional yang mengalami proses perubahan dalam segala bidang, baik budaya, politik, ekonomi dan sosial, gaya hidup lebih kompleks dan maju secara teknologis serta cepat berubah. Masyarakat modern juga merupakan suatu tatanan sosial yang lebih mengedepankan rasionalitas, universalisme, equalitarianisme, spesialisasi fungsional, dan tidak ketinggalan juga tingkat pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Dalam masyarakat modern setiap individu atau kelompok mengalami proses perubahan yang lebih maju, yang didukung dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebelumnya belum pernah dicapai dalam pengetahuan manusia. Terutama dalam bidang ekonomi, model model pertumbuhan ditandai dengan tingkat konsumsi dan standar hidup, revolusi teknologi serta intensitas modal.
Sedangkan dalam bidang sosial mencakup transisi multilinear ditandai dengan perubahan dalam atribut atribut sistemik, pola pola kelembagaan dan peranan peranan status dalam struktur sosial masyarakat. Secara sosiologis, masyarakat modern lebih menekankan peran nilai dalam pembangunan sosio ekonomi yang didasarkan pada budaya materi.
Sistem stratifikasi pada masyarakat modern cenderung menjadi terbuka dan fleksibel, kesempatan atau lapangan kerja modern, pola pola hubungan sosial didasarkan pada skill. Kemajuan teknologi, pertumbuhan industri pabrik dan jasa, revolusi ilmu dan inovasi organisasi sangat mendorong ke arah spesialisasi fungsi fungsi, pembentukan birokrasi rasional vang ditangani oleh person (orang) yang menguasai teknik managerial dan professional.
Sementara pendidikan pada masyarakat modern merupakan symbol kemajuan dan kebanggaan nasional. Meskipun pendidikan menjadi symbol kemajuan dalam masyarakat modern, tetapi pengembangan pendidikan yang berat sebelah akan menghasilkan produksi yang cepat, suatu teknik baru. Sedangkan para elit administrasi dalam mengisi kompitisi yang sangat kompetitif tidak tergantung pada status formal (ijazah).
Dalam bidang politik, bentuk pemerintahan dalam masyarakat modern berperan secara berlebihan dalam ruang lingkupnya yang menyentuh pada setiap segi kegiatan sosio ekonomi dan bahkan pada aspek kehidupan pribadi. Sistem politik baru melalui badan perundang undangan, pemerintahan dan pelayanan mendominasi kehidupan ekonomi. Selain itu perubahan yang timbul dalam masyarakat modern yaitu perluasan yang mengacu kepada gejala pembaharuan fisik didalam masyarakat melalui usaha yang dilakukan secara terus menerus.
Dalain bidang budaya, masyarakat modern melakukan perubahan-perubahan dalam struktur normatif masyarakat, khususnva seperangkat nilai vang menghambat tingkat kemajuan peradaban. Suatu perubahan pada nilai nilai merupakan suatu akibat yang tidak menghambat pada perkembangan ekonomi menurut kaum modernis dianggap sebagai konsekuensi logis dari modernisasi, dan perubahan ini akan menyelamatkan dan membahagiakan rakyat menuju suatu kemakmuran.
Sementara fungsi Negara bangsa modern tidak lagi dibatasi dengan ketahanan dan pemeliharaan undang undang dan tatanan, melainkan pembangunan yang telah menjadi tujuan utama. Selain itu, perilaku yang dulunya (tradisional) didasarkan pada pengalaman yang bertumpuk yang disebabkan oleh tradisi, berubah dan dibatasi oleh pengetahuan ilmiah yang didorong oleh percobaan. Keterbukaan pada pengalaman baru, keinginan menerima resiko, aspirasi pendidikan yang tinggi, empati lebih besar dan individualisme merupakan kepribadian masyarakat modern.

2. Perempuan dan Masyarakat Modern
Tantangan kedepan yang dihadapi perempuan tentu akan lebih kompleks dan rumit. Modernisasi menjadi harga mati yang harus dihadapi, tentu akan membawa dampak yang sangat berbeda bagi perempuan. Kompetisi yang kian kompetitif, kemajuan Iptek dan lainnya. Jika tidak dihadapi dengan serius, terencana dan bersama sama tentu akan semakin meminggirkan perempuan yang selama ini akses pendidikannya sangat kurang dan kesempatan mendapatkannya pun seringkali terbatas.
Perempuan dalam pembangunan (Women in Development) menjadi diskursus pembangunan, dan merupakan pendekatan dominan bagi pemecahan persoalan perempuan. Agenda yang harus diutamakan dalarn program WID adalah bagaimana melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan pembangunan. Selain itu, demokratisasi (Cara dan proses yang memberi peluang dan wewenang yang memungkinkan bagi perempuan dalam menentukan dan mengelola hidupnya sendiri yang bertumpu pada asas persamaan dan keadilan) terutama bagi perempuan juga sebagai aspek penunjang pemberdayaan perempuan sebagai pelaku pembangunan.
Pemberdayaan menunjukkan bahwa masalah kemampuan atau kompetensi menjadi prasyarat bagi perempuan agar bisa aktif dalam pembangunan di tengah modernisasi. Ada tiga kebijakan khusus (affirmative action) sebagai langkah dalam mempersiapkan perempuan memasuki era modernisasi, yaitu:
1. Pemberian keahlian dan pembekalan ketrampilan/ kompetensi tertentu (expert-power).
2. Pemberian peluang dan peran (role power)
3. Pemberian fasilitas untuk mewujudkan kemampuan (resource power).
Dalam konteks modern (pembangunan), perhatian terhadap isu isu vang langsung berkenaan dengan bagaimana mendorong partisipasi perempuan dalam program pembangunan. peran perempuan tidak hanya identik sebagai ibu rumah tangga saja, melainkan juga berpartisipasi di dunia publik, sosial, memiliki hak (harus) berpendidikan, hak hak politik disamping kewajiban sebagai ibu rumah tangga, kecenderungan memasuki dunia kerja, dan pendidikan tinggi semakin meningkat. Pendidikan, akses politik, dan kemandirian ekonomi menjadi justifikasi posisi tawar yang setara dengan laki laki, termasuk relasi kesetaraan dalam relasi domestik.
Perempuan pada abad ini telah tersebar secara merata dalam berbagai bidang. Kegiatan kemasyarakatan, bahkan tidak jarang pula kita membaca kisah-kisah perempuan yang telah berhasil dan sukses dalam kehidupan rumah tangganya serta aktifitas kemasyarakatan yang diikutinya. Tokoh tokoh yang telah eksis dan sampai berhasil menjadi pimpinan Negara (Presiden RI Ke 5) seperti Ibu Megawati Soekamo Putri, Ibu Tuti Alawiyah (Mantan Menteri Pertanian), Zakiyah Darajat (Psikolog Perempuan), Moeryati Soedibyo, Martha Tilaar (pengusaha perempuan sukses), Pratiwi Soedharmono (Astronot perempuan), Sri Mulyani (Menteri Keuangan), Mirna Budhiarjo (Politikus Indonesia). Di luar negeri, ada Benazir Butho (Perdana Menteri Perempuan Pertama di Pakistan), All Brigt Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dan lain lain.
Salah satu ciri masyarakat modern adalah standar hidup, pendapatan perkapita. Pembangunan identik dihasilkan dari poliferasi dan integrasi peranan-peranan fungsi di dalam suatu komunitas. Begitu juga kaitannya dengan perempuan, apabila kaum perempuan di era modern masih menafsirkan dirinya dan berbekal sifat kodratinya, dan tidak peka oleh perubahan zaman, maka perempuan akan meneruskan sejarah ketertindasannya, marginalisasi, subordinasi, korban kekerasan, serta memikul label makhluk nomor dua setelah laki laki. Hal itu semua hanya dan bisa di minimalisir serta di hilangkan melaui penyiapan perempuan yang kualitatif, kompeten serta moderat.
Salah satu faktor penyebab keterpurukan kaum perempuan yaitu, adanya suatu kebijakan pemerintah, yang merupakan produk politik yang tidak memihak pada kaum perempuan, dan identik dengan kekuasaan. Bahkan kebijakan tersebut mengandung berbagai kepentingan termasuk budaya patriarki. Oleh karena itu, dengan segenap kamampuan dan berbekal hak sebagai warga Negara, maka perempuan perlu tampil dalam wilayah politik. Melalui penguasaan, perempuan dapat mendobrak ketidakadilan yang berkedok kodrati.
Perempuan di era modern merupakan stakeholders pembangunan, karena itu pelaksanaan pembangunan harus menekankan pentingnya upaya pemberdayaan perempuan. Keterlibatan masyarakat perempuan untuk ikut memberikan masukan dalam perumusan serta pengawasan. Sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, tanpa suatu penindasan dalam bentuk apapun.
Dalam Islam, mungkin istri-istri Nabi dapat dijadikan contoh perempuan-perempuan modern. Citra modern istri-istri Nabi saw. khususnya menurut Bin asy-syathi menunjukkan bahwa citra permpuan muslim tidak hanya menjadi pengikut dan hanya berada di bawah perlindungan laki-laki, tetapi juga merupakan struktur pendukung bagi laki-laki; keluarga dan masyarakat. hal ini mengidentifikasikan bahwa perempuan modern adalah perempuan yang mampu berdikari, tidak tergantung pada siapapun. Pernyataan ini sekaligus mengisyaratkan bahwa, Islam sejak awal telah mengajarkan hidup modern. Tidak ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Perkara dikotomis ini dengan jelas di tolak dalam Islam, karena tolak ukur Islam dalam menilai seseorang adalah amal perbuatannya atau ketaqwaannya kepada Allah, bukan berdasarkan jenis kelamin. sehingga sangat keliru akalau masih ada sebagian kelompok yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang tidak ramah perempuan.
Marnisi Seorang Sosisolog perempuan asal Maroko pernah melakukan penyerangan terhadap pendapat dari golongan konservatif lama tentang pemisahan perempuan dengan menyatakan hanya merupakan institusionalisasi otoritarianisme, yang dikembangkan dengan cara manipulasi teks-teks suci. Pendekatan yang dilakukan oleh adalah mencoba melakukan reinterpretasi atas teks-teks al-Quran dengan berbasis pada kontekstualisasi ayat-ayat suci tersebut.

C. Langkah langkah Yang Dilakukan Serta Faktor Faktor Pendukung Dan Penghambat Pemberdayaan Perempuan
Dalarn GBHN Tahun 1999, dinyatakan bahwa pemberdayaan perempuan dilaksanakan melalui upaya; pertama, peningkatan kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Kedua, meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan kaum perempuan dalam melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
Pemberdayaan perempuan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha. Program pemberdayaan perempuan membutuhkan pendekatan vang tepat dan sesuai dengan kelompok masyarakat yang dituju. Ada beberapa pendekatan untuk meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan, diantaranya yaitu, pendekatan kesamaan, pendekatan anti kemiskinan, pendekatan efisiensi, dan pendekatan pemberdayaan perempuan.
Beberapa pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa untuk memperbaiki posisi tawar perempuan, dibutuhkan upaya, untuk meningkatkan posisi tawar perempuan. Pendekatan ini meletakkan upaya penghapusan subordinasi perempuan sebagai pusat perhatian. Pendekatan ini lebih bersifat ideologis dan filosofis, dan melibatkan semua elemen masyarakat.
Selain itu, Reinterpretasi Teks Keagamaan berfungsi untuk membangun basis teoritis bagi pemahaman dan tradisi baru yang berkeadilan serta selaras dengan pesan pesan substansial Islam untuk memuliakan perempuan. Langkah ini meskipun bersifat teoritis, namun menyimpan tingkat kerumitan dan resiko yang tersendiri. Meskipun demikian, dalam konteks masyarakat Islam konteks sekarang merupakan kebutuhan mutlak dan tak terhindarkan.
Melengkapi langkah yang kedua, adalah langkah praktis berupa sosialisasi keadilan gender, atau yang kini populer dengan istilah gender mainstreaming (pola pikir dominan gender). Melalui langkah strategis ini, penyadaran akan berbagai bentuk ketidakadilan gender yang kini banyak terjadi di masyarakat harus terus dilakukan. Demikian pula langkah langkah taktis untuk meningkatkan peran publik perempuan, termasuk penempatan perempuan dalam ranah stock holder (pengambilan keputusan).
Selain langkah langkah diatas, pemberdayaan perempuan dapat dilakukan melalui langkah langkah sebagai berikut :
1. Memotivasi perempuan; perempuan dapat memahami nilai kebersamaan, interaksi sosial dan kekuasaan melalui pemahaman akan haknya sebagai warga Negara dan anggota masyarakat.
2. Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan, peningkatan kesadaran perempuan dapat dicapai melalui pendidikan sejak dasar.
3. Manajemen diri; perempuan harus mampu memilih pemimpin mereka sendiri dan mengatur kegiatan mereka sendiri.
4. Pembangunan dan Pengembangan jaringan; pengorganisasian kelompok kelompok perempuan perlu disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial disekitarya.
Disamping faktor pendukung, adapula faktor faktor penghambat. Ada beberapa faktor yang menghambat pemberdayaan perernpuan, diantaranya yaitu:
1. Terlalu dominannya budaya patriarki. Budaya patriarki memang sangat erat menjadi nafas dari berbagai kebudayaan dunia. Mantapnya tradisi patriarki ini didukung oleh ideologi kapitalisme. Ideologi ini sering ditengarai sebagai penyebab, semakin termarginalkannya kaum perempuan.
Gender terbentuk melalui proses yang panjang dan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor sosio cultural, baik secara fakta sosial (meminjam Istilah Durkheim) maupun agama.
Perbedaan peran gender yang tumbuh dari perbedaan seksual, pada dasarnya tidak menjadi masalah selama tidak menimbulkan ketidakadilan. Namun sangat disayangkan, selama ini perbedaan gender justru dijadikan legitimasi dikriminatif dan subordinatif terhadap banat hawa (putrid-putri hawa).
Selain budaya patriarki, peran tradisi dan ajaran agama (Fiqh Nisa’) atau pemikiran Islam tak bisa dipungkiri turut juga memberikan kontribusi dalam menciptakan ketimpangan sosial yang merugikan kaum perempuan. Perempuan sering diposisikan sebagai barang bawaan. Agama sebagai the fundamental need and the wayn of life, tidak bias dipungkiri memiliki pengaruh fungsional terhadap struktur yang terbentuk dalam suatu masyarakat. Bahkan tidak jarang dijadikan legitimasi atas diskriminatif gender dalam interaksi sosial.
Dalam tradisi Jawa, kita mengenal pernyataan bahwa “istri” adalah “kanca wingking” suami, nyang “swarga nunut, neroko katut” (jadi perempuan, dalam hal ini istri adalah parasit yang tidak memiliki posisi manidiri, dia selalu melekat pada suami) Terlebih untuk konteks masyarakat Indonesia yang sangat kental diwarnai dan dipengaruhi tradisi fiqh nisa’. Seperti Firman Allah yang sering dijadikan landasan untuk menentukan posisi hukum perempuan, yaitu:
Artinya: “Kaum laki laki adalah pemimpin atas kaum perempuan, disebabkan Tuhan telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lainnya, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
(Q.S. An Nisa’: 34)
Padahal, superioritas kaum laki laki sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tersebut, lebih didasarkan pada realitas sosial pada saat itu, dimana memang berbagai infrastruktur sosial dan budaya lebih memungkinkan laki laki untuk mendominasi dan memegang peranan. Namun di sisi lain tanpa kita sadari bahwa ayat tersebut sifat interpretable. Maka ulama Islam mencoba memaknai ayat tersebut, kemudian hasil ijtihad mereka terkodifikasi dalam kitab-kitab fiqh.
Pada umunya disepakati bahwa core keislaman adalah fiqh. Dalam problematika keperempuanan, ilmu fiqh memiliki peranan sangat besar, karena ilmu fiqhlah yang menstrukturkan hubungan laki-laki dan perempuan. Karena terkait dengan agama, maka fiqh memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku seseorang, baik secara personal maupun kolektif. Dalam masa yang panjang peranan fiqh dalam membentuk kebudayaan masyarakat muslim sangat dominant, sangat kuat, mengalahkan aspek ajaran lainnya seperti teologi dan lain sebagainya. Hal ini terlihat dari tulisan Murad Hoffman bahwa ada enam butir wilayah fiqh di mana Islam paling banyak mendapatkan serangan karena perlakuannya kepada aum perempuan, yaitu perkawinan, kehidupan keluarga, perceraian, pakaian, hukum waris dan kesaksian di Pengadilan.
2. Adapun faktor penghambat pemberdayaan perempuan yang lain yaitu. peran serta pesantren. Pesantren mempunyai peran dalam melegitimasi agama sebagai bagian dari kehidupan sosialnya, hampir semua perilaku yang dilakukan selalu merujuk pada teks agama, dalam hal ini kitab kuning. Posisi kitab kuning sebagai rujukan utama pesantren, padahal kitab kuning tersebut dikarang pada abad 14 atau 15 Masehi. Di lain pihak, pandangan pandangan kitab kuning di pesantren sangat mensubordinasikan perempuan, utamanya karena kebanyakan isinya memandang perempuan sebagai makhluk yang belum sempurna sehingga perempuan diposisikan hanya subordinat dari laki laki.
Sudut pandang pesantren yang ikut terlibat dalam “peng-kebiri-an” kaum wanita tidak lepas dari paradigma yang dikembangkan di lingkungan tersebut. Paradigma yang dikembangkan adalah superioritas dan inferioritas. Perempuan diletakan sebagai imperior laki-laki berdasarkan dalil Al-rijalu qawwamuna ala an-nisa. Padahal dalil ini pada dasarnya dapat dipahami melalui sudut pandang kontekstual (kasuistik).
Fenomena ini menambah buruk kedaan, karena sebagian besar masyarakat kita masih meletakkan pesantren (dengan segala kelebihan dan kekurangannya) sebagai barometer atau tolok ukur kehidupan sosial terutama yang berkaitan dengan pola keberagamaan. Oleh karena itu pesantren memiliki andil yang cukup signifikan dalam mempangaruhi paradigma masyarakat tentang perempuan.
Paradigma ini kemudian diperkuat dengan adanya “serangan balik” yang berasal dari kaum perempuan itu sendiri. Misalnya saja pendapat yang mengatakan bahwa isu feminisme itu sesungguhnya adalah budaya barat yang dipaksakan. Adanya kata “Barat” oleh sebagian komunitas memiliki konotasi yang sangat mengerikan. Apalagi selama ini Barat selalu dikontraskan dengan Islam. Ketika isu feminisme dikaitkan dengan Barat, maka ini menjadi boomerang bagi gerakan feminis itu sendiri. Indonesia yang nota benenya Islam, maka masyarakat kita akan melihat isu gender, feminisme, emansipasi atau istilah-istilah lain yang semaksud, sebagai musuh ideologi yang harus dilawan. Lebih dari itu, isu feminisme disebagian kalangan justru dianggap menyesatkan kaum perempuan bukan malah membahagiakan.
Kalau tetap demikian adanya, para aktivis gender dan feminisme tidak bisa berharap banyak. Gender hanyalah wacana yang tidak mungkin dapat terialisasi. Dan perempuan Indonesia khususnya tetap dalam paradigma semula, paradigma yang sudah tertanam dengan kuat dalam hubungan relasi antara laki-laki dan perempuan sebagaimana adanya.


MANAJEMEN KELAS

1. Pengertian Manajemen Kelas
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “Management“. Karena terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari Manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan/ sasaran yang diinginkan. Maka, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan/ manajemen adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
Sebelum kita membahas tentang Manajemen Kelas, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa pengertian daripada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa.
Disamping itu, Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut, yakni :
a. Kelas dalam arti sempit : ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti Proses Belajar Mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
b. Kelas dalam arti luas : suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa kelas diartikan sebagai ruangan belajar atau rombongan belajar, yang dibatasi oleh empat dinding atau tempat peserta didik belajar, dan tingkatan (grade). Ia juga dapat dipandang sebagai kegiatan belajar yang diberikan oleh guru dalam suatu tempat, ruangan, tingkat dan waktu tertentu.
Setelah berbicara tentang pengertian dari Manajemen dan Kelas diatas, maka dibawah ini para ahli pendidikan mendefinisikan Manajemen Kelas, antara lain :
DR. Hadari Nawawi berpendapat bahwa Manajemen Kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. Dari uraian diatas jelas bahwa program kelas akan berkembang bilamana guru/wali kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yaitu ; guru, murid, dan proses atau dinamika kelas.
Johanna Kasin Lemlech, dalam bukunya Drs. Cecep Wijaya & Drs. A. Tabrani Rusyan mengatakan bahwa “Classroom management is the orchestration of classroom life : planning curriculum, organizing procedures and resources, arranging the environment to maximize efficiency, monitoring student progress, anticipating potential problems.“ Menurut definisi ini, yang dimaksud dengan Manajemen Kelas adalah usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimumkan efisiensi, memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul.
Dr. Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa “Manajemen Kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung-jawab kegiatan belajar-mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapainya kondisi yang optimal, sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.”
Drs. Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa “Manajemen Ke-las adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.”
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dan masih banyak lagi pendapat yang lain, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Manajemen Kelas merupakan upaya mengelola siswa didalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah.

2. Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan Manajemen Kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan, baik secara umum maupun khusus. Secara umum tujuan Manajemen Kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa untuk belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap, serta apresiasi para siswa.
Adapun tujuan dari Manajemen Kelas adalah sebagai berikut :
a. Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
b. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan Manajemen Kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan/ perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
c. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
Jadi, Manajemen Kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi didalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan Manajemen Kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan tujuan Manajemen Kelas secara khusus dibagi menjadi dua yaitu tujuan untuk siswa dan guru.
Tujuan Untuk Siswa:
a. Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung-jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.
b. Membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan.
c. Membangkitkan rasa tanggung-jawab untuk melibatkan diri dalam tugas maupun pada kegiatan yang diadakan.
Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pada Manajemen Kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Tujuan Untuk Guru:
a. Untuk mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat.
b. Untuk dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa.
c. Untuk mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang mengganggu.
d. Untuk memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang muncul didalam kelas.
Maka dapat disimpulkan bahwa agar setiap guru mampu menguasai kelas dengan menggunakan berbagai macam pendekatan dengan menyesuaikan permasalahan yang ada, sehingga tercipta suasana yang kondusif, efektif dan efisien.

3. Prosedur Manajemen Kelas
Upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi siswa yang tinggi, dapat dilakukan secara preventif maupun kuratif. Perbedaan kedua jenis pengelolaan kelas tersebut, akan berpengaruh terhadap perbedaan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seorang guru dalam menerapkan kedua jenis Manajemen Kelas tersebut. Dikatakan secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk menciptakan suatu kondisi dari kondisi interaksi biasa menjadi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan bagi Proses Belajar Mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan Manajemen Kelas secara kuratif adalah yang dilaksanakan karena terjadi penyimpangan pada tingkah laku siswa, sehingga mengganggu jalannya Proses Belajar Mengajar.
a. Prosedur Manajemen Kelas yang bersifat Preventif meliputi :
1) Peningkatan Kesadaran Pendidik Sebagai Guru
Suatu langkah yang mendasar dalam strategi Manajemen Kelas yang bersifat preventif adalah meningkatkan kesadaran diri pendidik sebagai guru. Dalam kedudukannya sebagai guru, seorang pendidik harus sadar bahwa dirinya memiliki rasa “handharbeni“ (memiliki dengan penuh keyakinan) dan bertanggung-jawab terhadap proses pendidikan. Ia yakin bahwa apapun corak proses pendidikan yang akan terjadi terhadap siswa, semuanya akan menjadi tanggung-jawab guru sepenuhnya.
Sebagai seorang guru, pendidik berkewajiban mengubah pergaulannya dengan siswa sehingga pergaulan itu tidak hanya berupa interaksi biasa, tetapi merupakan interaksi pendidikan. Agar interaksi tersebut bersifat sebagai interaksi pendidikan, maka seorang guru harus dapat mewujudkan suasana kondusif yang mengundang siswa untuk ikut berperan serta dalam proses pendidikan.
2) Peningkatan Kesadaran Siswa
Apabila kesadaran diri pendidik sebagai seorang guru sudah ditingkatkan, langkah selanjutnya adalah berusaha meningkatkan kesadaran siswa akan kedudukan dirinya dalam proses pendidikan.
Kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam proses pendidikan ini baru akan diperoleh secara menyeluruh dan seimbang jika siswa itu menyadari akan kebutuhannya dalam proses pendidikan. Adakalanya siswa tidak dapat menahan diri untuk melakukan tindakan yang menyimpang, karena ia tidak sadar bahwa ia membutuhkan sesuatu dari proses pendidikan itu.
Upaya penyadaran ini menjadi tanggung-jawab setiap guru, karena dengan kesadaran siswa yang tinggi akan peranannya sebagai anggota masyarakat sekolah, akan menimbulkan suasana yang mendukung untuk melakukan Proses Belajar Mengajar.
3) Penampilan Sikap Guru
Penampilan sikap guru diwujudkan dalam interaksinya dengan siswa yang disajikan dengan sikap tulus dan hangat. Yang dimaksud dengan sikap tulus adalah sikap seorang guru dalam menghadapi siswa secara berterus-terang tanpa pura-pura, tetapi diikuti dengan rasa ikhlas dalam setiap tindakannya demi kepentingan perkembangan dan pertumbuhan siswa sebagai si terdidik. Sedangkan yang dimaksud dengan hangat adalah keadaan pergaulan guru kepada siswa dalam Proses Belajar Mengajar yang menunjukkan suasana keakraban dan keterbukaan dalam batas peran dan kedudukannya masing-masing sebagai anggota masyarakat sekolah.
Dengan sikap yang tulus dan hangat dari guru, diharapkan proses interaksi dan komunikasinya berjalan wajar, sehingga mengarah kepada suatu penciptaan suasana yang mendukung untuk kegiatan pendidikan.
4) Pengenalan Terhadap Tingkah Laku Siswa
Tingkah laku siswa yang harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan. Tingkah laku tersebut bisa bersifat perseorangan maupun kelompok. Identifikasi akan variasi tingkah laku siswa itu diperlukan bagi guru untuk menetapkan pola atau pendekatan Manajemen Kelas yang akan diterapkan dalam situasi kelas tertentu.
5) Penemuan Alternatif Manajemen Kelas
Agar pemilihan alternatif tindakan Manajemen Kelas dapat sesuai dengan situasi yang dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas. Dengan berpegang pada pendekatan yang sesuai, diharapkan arah Manajemen Kelas yang diharapkan akan tercapai.
Selain itu, pengalaman guru yang selama ini dilakukan dalam mengelola kelas waktu mengajar, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar perlu pula dijadikan sebagai referensi yang cukup berharga dalam melakukan Manajemen Kelas.
6) Pembuatan Kontrak Sosial
Kontrak sosial pada hakekatnya berupa norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kontrak sosial yang baik adalah yang benar-benar dihayati dan dipatuhi sehingga meminimalkan terjadinya pelanggaran.
Dengan kata lain, kontrak sosial yang digunakan untuk upaya Manajemen Kelas, hendaknya disusun oleh siswa sendiri dengan pengarahan dan bimbingan dari pendidik.
b. Prosedur Manajemen Kelas yang bersifat Kuratif meliputi :
1) Identifikasi Masalah
Pertama-tama guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyidik penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses pendidikan didalam kelas, dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang berdampak negatif secara luas atau tidak, ataukah hanya sekedar masalah perseorangan atau kelompok, ataukah bersifat sesaat saja ataukah sering dilakukan maupun hanya sekedar kebiasaan siswa.

2) Analisis Masalah
Dengan hasil penyidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha mengetahui latar belakang serta sebab-musabbab timbulnya tingkah laku siswa yang menyimpang tersebut. Dengan demikian, akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya.
3) Penetapan Alternatif Pemecahan
Untuk dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan tersebut, hendaknya mengetahui berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas dan juga memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.
Dengan membandingkan berbagai alternatif pendekatan yang mungkin dapat dipergunakan, seorang guru akan dapat memilih alternatif yang terbaik untuk mengatasi masalah pada situasi yang dihadapinya. Dengan terpilihnya salah satu pendekatan, maka cara-cara mengatasi masalah tersebut juga akan dapat ditetapkan. Dengan demikian, pelaksanaan Manajemen Kelas yang berfungsi untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan.
4) Monitoring
Hal ini diperlukan, karena akibat perlakuan guru dapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa yang menyimpang, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi.
5) Memanfaatkan Umpan Balik (Feed-Back)
Hasil Monitoring tersebut, hendaknya dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk :
a) Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.
b) Dasar dalam melakukan kegiatan Manajemen Kelas berikutnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan Manajemen Kelas yang sudah dilakukan sebelumnya.

4. Pendekatan Dalam Manajemen Kelas
Pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam Manajemen Kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, karakteristik watak dan sifat siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan. Dibawah ini ada beberapa pendekatan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pertimbangan dalam upaya menciptakan disiplin kelas yang efektif, antara lain sebagai berikut :

a. Pendekatan Manajerial
Pendekatan ini dilihat dari sudut pandang manajemen yang berintikan konsepsi tentang kepemimpinan. Dalam pendekatan ini, dapat dibedakan menjadi :
1) Kontrol Otoriter
Dalam menegakkan disiplin kelas guru harus bersikap keras, jika perlu dengan hukuman-hukuman yang berat. Menurut konsep ini, disiplin kelas yang baik adalah apabila siswa duduk, diam, dan mendengarkan perkataan guru.
2) Kebebasan Liberal
Menurut konsep ini, siswa harus diberi kebebasan sepenuhnya untuk melakukan kegiatan apa saja sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dengan cara seperti ini, aktivitas dan kreativitas anak akan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi, sering terjadi pemberian kebebasan yang penuh, ini berakibat terjadinya kekacauan atau kericuhan didalam kelas karena kebebasan yang didapat oleh siswa disalahgunakan.
3) Kebebasan Terbimbing
Konsep ini merupakan perpaduan antara kontrol otoriter dan kebebasan liberal. Disini siswa diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas, namun terbimbing atau terkontrol. Disatu pihak siswa diberi kebebasan sebagai hak asasinya, dan dilain pihak siswa harus dihindarkan dari perilaku-perilaku negatif sebagai akibat penyalahgunaan kebebasan. Disiplin kelas yang baik menurut konsep ini lebih ditekankan kepada kesadaran dan pengendalian diri-sendiri.
b. Pendekatan Psikologis
Terdapat beberapa pendekatan yang didasarkan atas studi psikologis yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam membina disiplin kelas pada siswanya. Pendekatan yang dimaksud antara lain sebagai berikut :
1) Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku (Behavior-Modification)
Pendekatan ini didasarkan pada psikologi behavioristik, yang mengemukakan pendapat bahwa :
a) Semua tingkah laku yang baik atau yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
b) Ada sejumlah kecil proses psikologi penting yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud, yaitu diantaranya penguatan positif (positive reinforcement) seperti hadiah, ganjaran, pujian, pemberian kesempatan untuk melakukan aktivitas yang disenangi oleh siswa, dan penguatan negatif (negative reinforcement) seperti hukuman, penghapusan hak, dan ancaman.
Penguatan tersebut masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Penguatan Primer, yaitu penguatan yang tanpa dipelajari seperti makan, minum, menghangatkan tubuh, dsb.
2. Penguatan Sekunder, yaitu penguatan sebagai hasil proses belajar. Penguatan sekunder ini ada yang dinamakan penguatan sosial ( pujian, sanjungan, perhatian, dsb ), penguatan simbolik (nilai, angka, atau tanda penghargaan lainnya) dan penguatan dalam bentuk kegiatan (permainan atau kegiatan yang disenangi oleh siswa yang tidak semua siswa dapat mempraktekkannya). Dilihat dari segi waktunya, ada penguatan yang terus-menerus (continue) setiap kali melakukan aktivitas, ada pula penguatan yang diberikan secara periodik (dalam waktu-waktu tertentu), misalnya setiap satu semester sekali, setahun sekali, dsb.
2) Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate)
Pendekatan ini berlandaskan psikologi klinis dan konseling yang mempradugakan :
a) Proses Belajar Mengajar yang efektif mempersyaratkan keadaan sosio-emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan antara pribadi guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa.
b) Guru merupakan unsur terpenting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Guru diperlukan bersikap tulus dihadapan siswa, menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, dan mengerti siswa dari sudut pandang siswa sendiri. Dengan cara demikian, siswa akan dapat dikuasai tanpa menutup perkembangannya. Sebagai dasarnya, guru dituntut memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan siswa, sehingga guru dapat mendeskripsikan apa yang perlu dilakukannya sebagai alternatif penyelesaian.
3) Pendekatan Proses Kelompok (Group Process)
Pendekatan ini berdasarkan pada psikologi klinis dan dinamika kelompok. Yang menjadi anggapan dasar dari pendekatan ini ialah :
a) Pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok sosial.
b) Tugas pokok guru yang utama dalam Manajemen Kelas ialah membina kelompok yang produktif dan efektif.
4) Pendekatan Elektif (Electic Approach)
Ketiga pendekatan tersebut, mempunyai kebaikan dan kelemahan masing-masing. Dalam arti, tidak ada salah satu pendekatan yang cocok untuk semua masalah dan semua kondisi. Setiap pendekatan mempunyai tujuan dan wawasan tertentu. Dengan demikan, guru dituntut untuk memahami berbagai pendekatan. Dengan dikuasainya berbagai pendekatan, maka guru mempunyai banyak peluang untuk menggunakannya bahkan dapat memadukannya. Pendekatan Elektik disebut juga dengan Pendekatan Pluralistik, yaitu Manajemen Kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan Proses Belajar Mengajar berjalan efektif dan efisien. Dimana guru dapat memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut, sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk menciptakan Proses Belajar Mengajar berjalan secara efektif dan efisien.


tugas metodelogi penelitian 1

1. KEPEMIMPINAN
1. Peran kepemimpinan pendidikan terhadap pengembangan madrasah aliyah negri Mojosari Mojokerto (Lely marini nim: 99140901)
2. Pola kepemimpinan kh.mohammad Badrudin Anwar dalam mengembangkan pondok pesantren an-nur2 al-murtadlo bululawang malang (Ernawati nim:97140095)
3. Kepemimpinan perempuan menurut ulama’ muslim klasik dan kontemporer (Helmi nim:98110091)
4. Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam mengembangkan profesionalisme guru di sltp islam 01 batu malang(Umi sholihah nim: 98110484)
5. Peran kepala sekolah dalam melaksanakan inovasi pendidikan madrasatul qur’an tebuireng jombang(edi haris amuruddin nim: 98110526)
6. Peran kepala madrasah stanawiyah dalam pengembangan madrasah stanawiyah mts .hashim asy’ari talang suko turen malang .
7. Peran kepala wisdalam mengembangkan pendidikan di smk bina cendika malang(wahyu dwi lestari nim:01190079)
8. Peran kepala sekolah dalam inplementasi manajemen untuk meningkatkan produktifitas di smu taruna dra yulaiha leces riob.(izzah farhani rusyda nim : 02110109)
9. Peran kepemimpinan kepalah sekolah dalam pengelolaan pai,studi kasus di SMp nengri 1 Singosari(Zainal abiding nim : 02110126)
10. Upaya kepala sekolah dalam menciptakan suasana religious di SMP negri 09 Batu (fitriani nim : 02110225)

Kesimpulan
 Fungsi dan tugas kepala sekolah adalah sebagai educator (pendidik)menajer, admistrator, supervisor,leader (pemimpin), innovator dan motifator serta menyesuaikan misi visi
 Upaya di lakukan
- Meningkatkan kegiatan antara siswa siswi, guru, kariawan, serta masyarakat sekolah dalam pembelajaran pendidikan agama islam
- Meningkatkan mengadaan sarana dan prasarana pendidikan
 Factor menghambat di SMP nengri 09 Batu
- Sarana dan prasarana belum memadai
- Kesadaran siswa dalam melaksanakan kegiatan –kegiatan keagamaan masih kurang
2. STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Ilslam Dalam Menungkatkan Prestasi Belajar Siswa (Study Kasus Di Sltpn Kedundung Kabupaten Sampang Madura )
Oleh : Zuhrotul Khoiroh Nim: 00110018
2. Penggunaan strategi pembelajaran dalam proses belajar mengajar agama islam. (Mts .Nengri Karang Anyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo)(Oleh Nasrul Hakim Nim: 98110232)
3. Strategi kopkar “mekar” PT. gudang garam Tbk. Kediri dalam meningkatkan kesejahteraan anggota (oleh : Ulfa Azizah nim: 00160038)
4. Stategi mengenbangan madrasah aliyah terpadu (study kasaus di MAN 3 Malang )
Oleh : Moh Anang Hardianto nim : 99110668
5. Strategi pengajaran pendidikan agama islam dalam membinaan mental agama islam siswa SDLB (Oleh : Dian isnani nim : 0011007)
6. Penetrapan strategi dalam meningkatkan keunggulan bersaiang bagi Universitas Islam Nengri (UIN) Malang (Oleh: Lailatul Chusnia nim : 00160040)
7. Strategi pengembangan MAN 3 malang dalam era otonomi pendidikan
Oleh :Yayuk Mahbubah nim : 99110599
8. Strategi pengembangan bahasa inggris bagi mahsiswa UIIS Malang
(Oleh Hartanti nim :01110292)
9. Strategi pembelajaran konstektual dalam dalam minat siswa untuk belajar (pembelajaran Aqidah Ahlak di MIN Ngrongkot kabupaten nganjuk)
(Oleh : Etik agustina nim : 01140096)
10. Strategi pengenbangan kurikulum pendidikan agama islam di MIN malang 1
(Oleh : Budiono nim : 98140529 )
11. strategi pembinaan kegiatan keagamaan di madrasah nengri sukosewu ganduser Blitar (oleh : Ida Mahmudin Atika fitria)
Kesimpulan : Berdasarkan data dan analisis yang telah di kemukaan kesimpulan yang dapat di ambil dari strategi pembinaan kegiatan keagamaan yaitu :
a) Kondisi kegiatan keagamaan
b) Strategi pembinaan kegiatan keagamaan
c) Kendala yang sering di hadapi dalam pembinaan kegiatan keagamaan
- Siswa kurang bias memanfaatkan sarana dan prasarana
- Orang tua atau keluarga yang kurang peduli
- Lingkungan masyarakat yang acuh tak acuh terhadap ajaran keagaman
3. MENAJEMEN PENDIDIKAN
1. Manajemen pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMP ar risalah salafi terpadu Liboyo Kediri. (oleh : Iffah Rosidah nim: 03110035)
2. Penerapan manajemen berbasis sekolah. manajemen kurikulum,kesiswaan, sarana dan prasarana dalam meningkatkan mutu pendidikan agama islam di SMP 4 kepanjen Malang (ESti Winarsih nim :04120011)
3. Implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS)dalam meningkatkan sarana dan prasarana di Mts Al yasini Areng-areng Pasuruan (Siti Cihikmatus sa’diyah nim: 05110013)
4. Penerapan manajemen mutu dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan di Mts.N 2 Kediri (Iqlima zahari nim:04110045)
5. Kepemimpinan dalam manajemen berbasisi sekolah (MBS) di SMP plus Darussalam lawang Malang (Mistiningsih nim :04110051)
6. Stategi meningkatkan mutu pendidikan dalam perspektif manajemen berbasisi Dai di Mts N Babat Lamongan (Nawafillah farisz nim :04110068)
7. Manajemen kelas dalam dalam mencapai proses belajar mengejar pindidikan agama islam yang efektif di SMK k 2 Malang (Eka Akbar mirza Iswanto nim : 04110100)
8. Manajemen pengembangan kurikulum di madrasah Aliyah (study tentang proses dan peran proses dan peran manajemen di madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton Probolinggo) (Ike setyawati nim: 04110114)
9. Peran nilai- nilai manajemen Qolbu dalam meningkatkan kualitas Ahlak santri mukim, program pesantren mahasiswa pondok pesantren darurtayhid Bandung.(Rini Novianti nim :0411061)
10. Impementasi manajemen berbasis sekolah di MA darurulum Gondang legi malang (Dyah Rosyidah nim :04110174)

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan analisis secara teontis dan empiris di lakukan oleh peneliti dapat di simpulkan
 Implementasi manajemen berbasis sekolah di MA darur ulum Gondang legi sudah dapat di terapkan walaupun tidak sempurna
 Usaha yang di lakukan manajemen kurukulum program pengajaran, manajemen tenaga kerja, kependidikan, kesiswaan, keuangan sarana dan prasarana
 Factor pendukung MBS adalah terdapat adanya kekompakan dan semangat juang yang tinggi di elemen-elemen yang ada
 Factor penghambat – dari pendidik kurang respon,sering minta izin, dana dan prasarananya kurang mendukung
 Partisipasi masyarakat kurang
4. PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
1. Implementasi pemberian cerita islami dalam upaya menanamkan nilai-nilai keagamaan di TK Qurota a’yunjalan Sunan Kalijaga dalam no.9 Malang
(oleh Hanik muyasaroh NIM :03110239)
2. Implementasi metode demostrasi dan komunikasi lisan untuk menungkatkan kondisi edukatif di kelas TK A insan terpadu sumber Anyar paiton Probolinggo
(oleh : Imroatun hasanah nim : 02110290)
3. Implementasi metode kontenporen dalam pembelajaran Al-Qur’an study komparatif metode iqrak dengan metode tilawatih di Nurul Huda Singosari (oleh Firman dini islami NIM 02110138)
4. Implementasi kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran pendidikan agama islam guna meningkatkan kreatifitas siswa SMP Negeri 04 Batu (oleh Hafifatul khoiroh NIM 021000197 )
5. Implementasi inofasi pembelajaran pendidikan agama islam di SD Ummu Aiman Lawang Malang (oleh Ahmad Makrus NIM :02110142)
6. Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam rangka menciptakan suasana relegius .study kasus di SMP Bhahti pertiwi sukodadi paiton Probolinggo
(mohammad Toha nim : 02110008)
7. Implementasi pengembangan pembelajaran baca tulis Al Quran di TPQ Al-Muttqin tunggewates (oleh : siti kholifa nim : 01110151)
8. Implementasi model pembelajaran tematik dalam pembelajaran Aqidah ahlak di Madrasah NU Roudhatul Falah talok turen Malang (oleh: Fridatuz zahroh El ummah nim :03110082)
9. Implementasi manajemen berbasis sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SMP 1 Turen Malang (Hamimfit Roni nim : 0211095)
10. Implementasi cooperative learning dalam pembelajaran Al-Quran hadis di Madrasah aliyah Zainul Hasan Genggong Probolinggo (Dewi masnunah nim: 04110130)
Kesimpulan
 Siswa sangat antusias dalam proses pembelajaran Guru santai tapi serius dalam menjelaskan materi bagi anak yang kurang pandai
 Factor menghambatnya
- sikap siswa bisa lebih trampildan menambahkan perilaku social antar sesamanya
- para siswa dengan muadah melakukan penyusuaian social dengan teman sebayanya.
- Tidak semua guru memehami prosedur couperativ learning sehingga ketika penerapan pembelajaran tersebut kurang mendapat dukungan dari guru lain.

5. MENAJEMEN PENDIDIKAN
11. Manajemen pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMP ar risalah salafi terpadu Liboyo Kediri. (oleh : Iffah Rosidah nim: 03110035)
12. Penerapan manajemen berbasis sekolah. manajemen kurikulum,kesiswaan, sarana dan prasarana dalam meningkatkan mutu pendidikan agama islam di SMP 4 kepanjen Malang (ESti Winarsih nim :04120011)
13. Implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS)dalam meningkatkan sarana dan prasarana di Mts Al yasini Areng-areng Pasuruan (Siti Cihikmatus sa’diyah nim: 05110013)
14. Penerapan manajemen mutu dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan di Mts.N 2 Kediri (Iqlima zahari nim:04110045)
15. Kepemimpinan dalam manajemen berbasisi sekolah (MBS) di SMP plus Darussalam lawang Malang (Mistiningsih nim :04110051)
16. Stategi meningkatkan mutu pendidikan dalam perspektif manajemen berbasisi Dai di Mts N Babat Lamongan (Nawafillah farisz nim :04110068)
17. Manajemen kelas dalam dalam mencapai proses belajar mengejar pindidikan agama islam yang efektif di SMK k 2 Malang (Eka Akbar mirza Iswanto nim : 04110100)
18. Manajemen pengembangan kurikulum di madrasah Aliyah (study tentang proses dan peran proses dan peran manajemen di madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton Probolinggo) (Ike setyawati nim: 04110114)
19. Peran nilai- nilai manajemen Qolbu dalam meningkatkan kualitas Ahlak santri mukim, program pesantren mahasiswa pondok pesantren darurtayhid Bandung.(Rini Novianti nim :0411061)
20. Impementasi manajemen berbasis sekolah di MA darurulum Gondang legi malang (Dyah Rosyidah nim :04110174)

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan analisis secara teontis dan empiris di lakukan oleh peneliti dapat di simpulkan
 Implementasi manajemen berbasis sekolah di MA darur ulum Gondang legi sudah dapat di terapkan walaupun tidak sempurna
 Usaha yang di lakukan manajemen kurukulum program pengajaran, manajemen tenaga kerja, kependidikan, kesiswaan, keuangan sarana dan prasarana
 Factor pendukung MBS adalah terdapat adanya kekompakan dan semangat juang yang tinggi di elemen-elemen yang ada
 Factor penghambat – dari pendidik kurang respon,sering minta izin, dana dan prasarananya kurang mendukung
 Partisipasi masyarakat kurang

EKSISTENSI KELOMPOK BERMAIN TERHADAP PERKEMBANGAN KEAGAMAAN ANAK

A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana upaya kelompok bermain Hajjah Mariyam dalam mengembangkan keberagamaan anak?
2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok bermain Hajjah Mariyam dalam mengembangkan keberagamaan anak?


PENDIDIKAN MENURUT HASAN AL-BANA

dari hasil pencarian di temukan berbagai maca referensi terkait pemikiran hasan al bana, di antaranya……….:
1. HASAN AL-BANNA

(1906-1949)

Nama tokoh ini sangat dikenal di kalangan dunia Islam, terutama di kawasan Timur Tengah menjelang pertengahan abad ke XX M dan dampaknya dirasakan hingga saat ini di seluruh penjuru dunia.

Beliau berhasil memobilisasi semua potensi dalam masyarakat, mulai dari buruh, usahawan, ilmuwan, ulama, zuama yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin beliau telah menancapkan satu model organisasi radikal modern dalam Islam yang menangani seluruh aspek kehidupan. Para ulama penerus dan pewaris perjuangannya terpandang, disegani dan dihormati. Amal sosialnya amat terasa, dan sebagian pecahannya membuat teror dimana-mana. Bermula dari sekelompok kecil yang bersemangat dan gelisah di Kairo, yang kemudian tumbuh pesat menjadi serikat yang kokoh dan kuat, menyebar hampir di seluruh penjuru Timur Tengah, bahkan ke bagian dunia lain (paling tidak dalam hal gagasan).
selengkapnya….http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/hasan-al-banna-dan-perjuangan-ikhwanul-muslimin/
2.


MEMILIH DAN MENGEMUKAKAN MASALAH PENELITIAN SERTA MENYUSUN ASUMSI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak kita menginjak kejenjang yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi, dari sinilah kita banyak berkelut pada kegiatan penelitian. Sebenarnya kata penelitian itu luas cakupannya, namun kita kurang mengartikannya lebih global. Ibu rumah tangga ketika memasak dan akhirnya meramu resep sendiri itu sudah merupakan penelitian dan masih banyak contoh yang lain dari penelitian.
Pada kesempatan ini kami akan membahas tentang penelitian, yaitu tentang bagaimana memilih nasalah, menentukan latar belakang, rumusan masalah, dan manfaaatnya sekaligus tentang menyusun asumsi. Namun karena kekurangan kita, mungkin dalam pembahasan akan banyak sekali hal yang belum kita bahas karena belum kami ketahui. Dan disini kita akan mambahas masalah penelitian yang lebih spesifik, bukan penelitian yang luas yaitu penelitian yang resmi dan perlu penulisan.
Lebih jelasnya pada bab 2 akan kami paparkan temuan kami dalam makalah kali ini, semoga dapat bermanfaat dan mohon maaf jika terdapat banya sekali kekurangan.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang telah kami buat, agar makalah dapat berjalan dengan baik, yakni sebagai berikut :
1) Bagaimana cara memilih masalah penelitian yang actual dan kontekstual?
2) Bagaimana latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian itu?
3) Bagaimana menyusun asumsi yang baik itu?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan makalah kami adalah :
1) Menjelaskan cara memilih masalah yang actual dan kontekstual
2) Menjelaskan definisi latar belakang, rumusan masalah dan tujuan
3) Menjelaskan cara menyusun asumsi

BAB II
PEMBAHASAN

A. Memilih Masalah Penelitian
Masalah, merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi, penyimpangan antara teori dengan praktik, penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan, dan penyimpangan antara pengalaman masa lampau dengan yang terjadi sekarang.
Memilih masalah penelitian adalah suatu langkah awal dari suatu kegiatan penelitian, baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Bagi orang yang belum berpengalaman meneliti, menentukan atau memilih masalah bukanlah pekerjaan yang mudah, bahkan boleh dikatakan sulit. Masalah merupakan bagian dari “kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan. Orang ingin mengadakan penelitian, karena ia mendapat jawaban dari masalah yang dihadapi. Masalah-masalah tersebut datang dari berbagai arah.
Permasalahan penelitian pada hakikatnya merupakan bentuk lain dari pernyataan-permasalahan seperti yang terdapat dalam latar belakang permasalahan. Dalam permasalahan penelitian, pernyataan-permasalahan penelitian dinyatakan dalam kalimat-pernyataan, bukan lagi dalam kalimat-pernyataan. Istilah permasalahan disini bukan berarti sesuatu yang menganggu atau menyulitkan tetapi sesuatu yang masih “gelap”, sesuatu yang belum diketahui, sesuatu yang ingin diketahui.
Merumuskan permasalahan penelitian (pernyataan-permasalahan) harus konsisten dengan pernyataan-permasalahan. Konsistensi terjadi jika keduanya tetap mengandung kata-kata kunci yang sama. Perhatikan konsistensi kedua hal tersebut, dalam bentuk perbandingan contoh berikut ini.
Pernyataan-permasalahan (problem statement) :
Belum diketahui rasionalitas tindakan konversi keagamaan warga Muhammadiyah yang berasal dari warga NU.
Pernyataan-permasalahan (problem question) :
Bagaimana rasionalitas tindakan konversi keagamaan warga Muhammadiyah yang berasal dari warga NU.
Tetapi akan menjadi tidak konsisten kedua unsur tersebut misalnya, jika pernyataan-permasalahan diubah menjadi :
Bagaimana proses tindakan konversi warga Muhammadiyah yang berasal dari NU.

Dikatakan tidak konsisten karena kata kunci dalam pernyataan permasalahan tersebut tidak sama, sebab rasionalitas tindakan konversi berubah menjadi proses tindakan konversi. Dalam hal ini peneliti tidak mempertahankan konsep yang telah dipilih sebelumnya. Data yang diperoleh dan kesimpulan penelitian akan berbeda, jika seseorang meneliti tentang rasionalitas tindakan konversi dan proses tindakan konversi.
Dengan menyatakan sekali lagi (mengulang) esensi pernyataan-permasalahan walaupun dalam bentuk kalimatyang berbeda, tetapi pada hekekatnya sama. Dengan “pengulangan” tersebut permasalahan-penelitian akan semakin menjadi jelas, terfokus, tajam, apa sesungguhnya yang akan diteliti, atau apa sesungguhnya yang ingin diketahuinya dari fenomena sosial tersebut .
Tulislah rumusan permasalahnya langsung atau dengan diberi pengantar singka seperti (dari contoh kasus):

Berangkat dari fenomena social tindakan konversi orang-orang NU ke Muhammadiyah, bahkan kemudian memimpin geraknya, pada hal NU-Muhammadiyah dikenal sebagai lembaga-konflik dalam Islam untuk kasus Indonesia. Kemudian, belum tersentuhnya aspek atau dimensi rasionalitas konversi pemahaman keagamaan dalam satu agama yakni Islam, dan lebih spesifik lagi dari NU ke Muhammadiyah oleh kajian empiric, makna rencana penelitian ini menjadi menarik dan tergolong baru dan secara logika dapat dirumuskan pernyataan permasalahan (problem question) penelitian sebagai berikut :
Bagaimana rasionalitas tindakan konversi yang dilakukan orang-orang Muhammadiyah yang berasal dari NU.
Perlu disampaikan bahwa permasalahan penelitian tidak harus satu. Peneliti bisa membuat permasalahan penelitiannya lebih dari satu, dengan memperhatikan tersedianya waktu, tenaga dan biaya dan kualitas hasil penelitiannya.
• Karakteristik permasalahan penelitian
Permasalahan yang ada harus dapat diklasifikasi, selanjutnya dapat diangkat sebagai masalah yang dapat diteliti, biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Permasalahan tersebut biasanyaa dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu bidang yang sama.
2) Permasalahan tersebut sering muncul dan secara signifikan ditemui oleh orang-orang yang terlibat.
3) Permasalahan tersebut dapat diukur dengan alat ukur penelitian, seperti skala nominal, ordinal, interval dan rasio.
4) Permasalahan tersebaut dapat diteliti, lantaran dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan koleksi data dan kemudian dianalisis.
• Sumber masalah dalam penelitian
Masalah atau peramsalahan yang ada di lingkungan kita sehari-hari cukup banyak, untuk itu diharapkan bagi peneliti mampu mengindentifikasi, memilih, merumuskan, dan kemudian menentukan tpologi penelitiannya secara tepat ( Borg, 1985). Beberapa sunber masalah atau permasalahan dapat diperoleh dari:
1) Literature, yang meliputi: buku, buku teks, monography, laporan statistic, dan berupa non buku seperti: jurnal, skripsi, tesis, disertasi dsb.
2) Berbagai pertemuan ilmiah, seperti: seminar, diskusi, lokakarya, sarasehan dsb.
3) Pengalaman pribadi, dan pengamatan yang bersifat longitudinal.
4) Pernyataan dari pemegang otoritas, dan
5) Perasaan intuitif( Barlian,1983;Suryabrata,1983).
B. Mengemukakan Masalah dalam Penelitian
Analisis Perumusan Masalah
Kriteria analisis
• Apakah rumusan masalah tersebut telah menhubungkan dua atau lebih hal atau factor (definisi masalah)? Jika ya, apakah dirumuskan secara proposional ataukah dalam bentuk diskusi atau gabungan keduanya?
• Apakah rumusan masalah itu dipisahkan dari tujuan penelitian? Jika ya, apakah hanya terdapat rumusan masalah atau dicampur-adukan dengan metode penelitian? Jika disatukan dengan tujuan penelitian ataukah tujuan penelitian dimaksudkan untuk memecahkan masalah? Apakah rumusan masalah yang disatukan dengan tujuan penelitian, pada maslah penelitian dibahas juga metode penelitian?
• Apakah uraiannya dalam bentuk deskriptif saja atau deskriptif disertai pertayaan penelitian, ataukah dalam bentuk pertanyaan penelitian saja?
• Apakah uraian masalah dipaparkan secara khusus sehingga telah dapat memenuhi criteria inklusi-enklusi ataukah masih berkaitan dengan masalah penelitian? Ataukah hanya dinyatakan secara implisit?
• Apakah kata hipotesis kerja dinyatakan secara ekplisit dan berkaitan dengan masalah penelitian? Ataukah hanya dinyatakan secara implicit?
• Apakah secara tegas pembatasan studi dinyatakan dengan istilah focus, secara ekplisit atau tidak, dan apakah focus itu merupakan masalah?

Prinsip-prinsip Perumusan Masalah
a. Prinsip yang berkaitan dengan Teori dari Dasar
Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Dengan hal itu berarti bahwa masalah sebenarnya terletak dan berada di tengah-tengah kenyataan, atau fakta, atau fenomena.
b. Prinsip yang berkaitan dengan Maksud Perumusan Masalah
Prinsip ini tidak begitu membatasi peneliti yang berkeinginan menguji suatu teori yang berlaku. Peneliti yang ingin merumuskan masalah dengan maksud menguji suatu teori dengan menyadari segala macam kekurangan akibat tindakannya.
c. Prinsip Hubungan Faktor
Fokus sebagai sumber masalah penelitian merupakan rumusan yang terdiri atas dua atau lebih factor yang menghasilkan tanda tanya atau kebingungan seperti telah didefinisikan di muka. Factor-faktor itu dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman, atau fenomena. Definisi tersebut mengarahkan kita pada tiga aturan tertentu yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti pada waktu merumuskan masalah tersebut, yaitu (1) adanya dua atau lebih factor,(2) factor-faktor itu dihubungkan dalam suatu hubungan yang logis atau bermakna dan (3) hasil pekerjaan menghubungkan tadi berupa suatu keadaan yang menimbulkan tanda tanya atau hal yang membingungkan.
d. Focus sebagai Wahana untuk Membatasi Studi
Seorang peneliti pasti memiliki orientasi toeri atau paradigmanya sendiri, barangkali berdasarkan pengetahiuan sebelumnya ataupun berdasarkan pengalaman.
e. Prinsip yang berkaitan dengan Kriteria Inklusi-Ekslusi
Sekali peneliti terjun ke lapangan,ia akan kebanjiran data, baik melalui pengamatan berperanserta, wawancara mendalam, analisis dokumen dsb. Perumusa focus yang baik yang dilakukan sebelum peneliti ke lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada awal ia terjun ke lapangan akan membatasi peneliti guna memilih mana data yang relevan dan mana yang tidak. Data yang relevan dimasukkan dan dianalisis sedangkan yang tidak relevsn dengan masalah dikeluarkan.
f. Prinsip yang berkatan dengan Bentuk dan Cara Perumusan Masalah
Tiga perumusan masalah, yaitu (1) secara diskusi. Cara penyajiaanya adalah dengan dalam bentuk peryataan secara deskriptif namun perlu diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian,(2) secara proposisional, yaitu secara lansung menhubungkan factor-faktor dalam hubungan logis dan bermakna; dalam hal ini ada yang disajikan dalam bentuk uaraian atau deskriptif dan ada pula yang lansung dikemukakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan (3) secara gabungan, yaitu terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi, kemudian ditegaskan lagi dalam bentuk proposisional.
g. Prinsip sehubungan dengan Posisi Perumusan Masalah
Posisi disini tidak lain adalah kedudukan untuk rumusan masalah di antara unsure-unsur penelitian lainnya. Unsure-unsur penelitian lainnya yang erat kaitannya dengan perumusan masalah ialah latar belakang masalah, tujuan, dan acuan teori dan meode penelitian.
h. Prinsip yang berkaitan dengan Hasil Penelaahan Kepustakaan
Penelaahan kepustakaan tersebut mengarahkan serta membimbing peneliti untuk menbentuk kategori substantive walaupun perlu diingat bahwa kategori substantive seharusnya bersumber dari data. Prinsip yang perlu di pegang oleh peneliti adalah bahwa peneliti perlu membiasakan diri agar dalam merumuskan masalah, ia senantiasa disertai dengan penelaahan kepustakaan yang terkait.
i. Prinsip yang berkaitan dengan Penggunaan Bahasa
Pada waktu menuis laporan atau artikel tentang hasil penelitian, ketika merumuskan masalah, hendaknya peneliti mempertimbangkan ragam pembacanya sehingga rumusan masalah yang diajukan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan menyimak para pembacanya, hendaknya perumusannya menggunakan bahasa langsung yang tidak berbelit-belit dan yang mudah dipahami.

Mengungkapkan latar belakang permasalahan maksudnya adalah menulis uraian butir-butir yang terdapat di dalamnya. Dengan ungkapan lain, apa saja yang seharusnya ditulis dalam latar belakang sebuah penelitian. Dengan membaca latar belakang suatu penelitian, maka akan menjadi jelas apa sebenarnya yang hendak diteliti, apa manfaat dan focus penelitian tersebut. Latar belakang permasalahan sebuah penelitian diawali dengan :
1) Ungkapan tentang fenomena social yang hendak diteliti sebagai deskripsi awal, yang secara runtun dapat memunculkan suatu permasalahan penelitian secara jelas dan logis, sebagai adanya rasa ingin tahu atau penasaran peneliti terhadap suatu objek social. Topic atau permasalahan penelitian yang hendak diteliti tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi biasanya didahului oleh proses berfikir tentang pengalaman atau hasil pengamatan seseorang tentang sebuah fenomena social, atau aktivitas membaca literatur atau media massa, yang berhubungan dengan teori atau peristiwa social tertentu. Peristiwa atau fenomena social itulah yang seharusnya dipaparkan pertama kali dalam latar belakang permasalahan. Dengan demikian peneliti nanti akan bias menjelaskan terhadap pernyataan: fenomena social apa yang diteliti.
2) Pemahaman tentang aspek –aspek fenomena social keagamaan.
Sebenarnya jika seseorang hendak meneliti fenomena social keagamaan maka banyak aspek yang akan diteliti. Karena itu agar suatu penelitian terfokus pada satu aspek tertentu peneliti harus memilih aspek mana dari fenomena social tersebut yang hendak dikaji, didalami. Fenomena social keagamaan misalnya, memiliki sejumlah aspek seperti : system kepercayaan, kepemimpinan, komunitas, lembaga, lembaga, ritus, pengetahuan, rasionalitas, konsekuensi atau makna social.
Untuk kejelasan pemahaman peneliti terhadap fenimena social keagamaan tersebut peneneliti perlu menggambarkan sejumlah aspek atau dimensi tersebut dengan dukungan dan membaca literature seraya menghubungkan dengan fenomena NU dan Muhammadiyah sebagai dua substruktur keagamaan.
Pemahaman peneliti tentang aspek-aspek keagamaan tersebut bisa dilukiskan sebagai berikut:
a) Aspek komunitas
b) Aspek rasionalitas
c) Aspek pengetahuan
d) Aspek kelembagaan
e) Aspek kepemimpinan
f) Aspek system keyakinan
g) Aspek ritus atau peribadatan
h) Aspek konsekuensi atau makna social
3) Beberapa penelitian sejenis terdahulu yang pernah dilakukan
Penelitian sejenis terdahulu, dalam hal ini maksudnya adalah penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang mempunyai focus penelitian, kata kunci yang sama. Ini juga penting, karena berfungsi untuk memberi keterangan atau bukti bahwa penelitian hendak dilakukan tersebut adalah baru, belum pernah dilakukan sebelumnya atau bukan hasil jiplakan, plagiat. Untuk kepentingan ini, peneliti harus membaca kumpulan hasil-hasil penelitian,baik berupa jurnal atau dafar judul skripsi, tesis atau desertasi (kumpulan abstrak penelitian). Dalam butir penelitian jenis terdahulu ini dikemukakan beberapa unsure seperti : nama peneliti, tahun peneliti, permasalahan atau tujuan, teori dan metode yang digunakan, hasil dan kesimpulannya. Yang demikian diungkapkan sebagai bukti bahwa peneliti telah melakukan penelusuran, hasil bacaan peneliti.
4) Apa yang belum diketahui atau peneliti pensaran ingin mengetahui dari fenomena social yang telah dipaparkan.
Peneliti perlu menegaskan tentang apa yang belum diketahui tersebut. Ungkapan tentang apa yang belum diketahui atau ingin diketahui ini dinamakan ungkapan tentang pernyataan-permasalahan atau problem statement, artinya permasalahan yang dinyatakan dalam kalimat pernyataan, bukan kalimat pertanyaan.
5) Pentingnya atau signifikansi atau urgensi sesuatu yang belum diketahui tersebut untuk diteliti.
Dengan tambahan penjelasan bahwa jika pernyataan permasalahan tersebut diteliti, maka hasil penelitian tersebut diharapkan pertama dapat member kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam sosiologi terutama sosiologi agama. Kontribusi tersebut biasanya disebut kegunaan akademik atau teoretik.
6) Mengemukakan kata-kata kunci.
Untuk penelitian kualitatif kata kuncinya adalah knsep-konsep (bukan variabel) yang hendak diteliti. Ambil kata-kata kunci ini dari kalimat-kalimat dalam pernyataan permasalahan atau judul.
Dengan mengetahui dan menyebut kata kunci ini maka peneliti tahu, sadar dan semakin jelas, konsep-konsep apa yang hendak diteliti. Lebih dari itu peneliti memperoleh petunjuk tentang teori dan yang relevan yang hendak atau harus dipilih, sehingga betul-betul dapat dipahami untuk kemudian digunakan sebagai pembantu dalam mengumpulkan data.
Berdasarkan level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
1) Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengungkapkan atau memotret situasi social yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.
2) Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks social atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.
3) Rumusan masalah asosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkontruksi hubungan antara situasi social atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah aosiatif dibagi menjadi tiga, yaitu hubungan simetris, kausal dan reciprocal atau interaktif. Hubungan simetris adalah hubungan suuatu gejala munculnya bersamaan sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibatatau interaktif. Hubungan klausal adalah hubungan yang bersifat sebab dan akibat. Selanjutnya hubungan reciprocal adalah hubungan hubungan yang bersifat interaktif.

Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variable penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, instrumen, dan tehnik analisa data. Sedangkan dalam penelitian kualitatif seperti yang telah dikemukakan, rumusan masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian masuk lapangan atau situasi social tertentu. Namun demikian setiap peneliti baik peneliti kuantitatif maupun kualitatif harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dengan kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context). Peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitiannya, kemungkinan belum memiliki gambaran yang jelas tentang aspek-aspek masalah yang akan ditelitinya. Ia akan mengembangkan focus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design” (Lincoln dan Guba, 1985: 102).
Dalam penelitian kualitatif, pertanyaan penelitian tidak dirumuskan atas dasar definisi operasional dari suatu variable penelitian. Pernyataan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspk-aspek lain (in context).
Dalam penelitian kualitatif, pernyataan penelitian tidak dirumuskan atas dasar definisi operasional dari suatu variable penelitian. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dengan kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context).
Menulis tujuan penelitian sebenarnya ingin memperjelas apa sebenarnya yang hendak diteliti. Esensinya adalah sama dengan kalimat judul pernyataan-permasalahan dan permasalahan penelitian. Tujuan penelitian ini bias diungkapkan dengan kata-kata, ingin mengetahui atau secara lengkapnya : tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui.
Kalimat untuk menuliskan tujuan penelitian ini pun juga harus konsisten dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk tetap konsisten ini, hendaknya peneliti tetap mencantumkan kata-kata kunci atau konsep yang telah digunakan dalam kalimat perumusan masalah. Jangan menambah kata kunci baru, mengganti atau menghilangkannya. Pertahankan konsep kunci yang telah dipilih sejak awal (kalau memang dirasa sudah tepat). Misalnya dengan menyatakan, tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui proses konversi warga Muhammadiyah yang berasal dari NU.
Bila hal itu dilakukan maka peneliti lalu menjadi tidak konsisten, sebab peneliti telah mengubah konsep rasionalitas dirumusan permasalah dengan konsep lain yakni proses. Meneliti rasionalitas konversi akan berbeda data yang dikumpulkan dan hasil penelitiannya bila dibandingkan dengan jika meneliti proses konversi. Kedua onsep tersebut berbeda pengertian atau defisi konseptualnya. Hal ini misalnya akan berakibat pada adanya perbedaan pada pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalm wawancara.
Perlu dikemukakan juga bahwa konsistensi suatu pernyataan jika peneliti tetap menggunakan kata-kata kunci tersebut. Hindari menggunakan kata-kata kunci dengan kata padanannya atau dianggap sama saja. Misalnya kata kunsi rasionalitas diganti dengan alasan dan pertimbangan.
C. Menyusun Asumsi
Asumsi dalam kamus ilmiah populer mempunyai arti praduga, anggapan sementara (yang kenbenarannya masih perlu dibuktikan). Dalam penelitian kita diharuskan untuk menyusun asumsi. Hal ini sebagai stimulus, agar kita mencari pembuktiaan sebuah kebenaran ilmiah. Dalam menyusun asumsi ini kita tidak boleh sembarangan, akan tetapi kita harus melihat konteks atau objek yang kita teliti.
Dalam beberapa tesis atau disertasi, ada bagian khusus yang memuat asumsi yang digunakan. Asumsi-asumsi tersebut dikemukakan satu per satu. Pada tesis yang lain para peneliti tidak menempatkannya pada bagian khusus karena asumsi tersebut telah dimasukkan pada bagian pendahuluan laporan. Asumsi adalah kenyataan penting yang dianggap benar tetapi belum terbukti kebenaran (Gay, 1976). Suatu kejadian atau situasi yang dianggap benar, sehingga kebenarannya tidak diragukan. Ini tidak sama dengan hipotesis, karena asumsi tidak memerlukan pengujian atau pembuktian.
Asumsi berarti : dugaan yang diterima sebagai dasar; landasar berpikir karena dianggap benar. Sedangkan mengasumsikan berarti menduga; memperkirakan; memperhitungkan; meramalkan. Asumsi adalah sebagai dasar dari suatu penelitian. Sebab sebuah penelitian berangkat dari asumsi. Dalam penelitian asumsi merupakan perekat (lem) atau adonan. Dikatakan perekat atau adonan karena asumsi menjadi perekat antara satu variabel dengan variabel lainnya. Asumsi dapat kita gunakan membangun suatu konstruksi bangunan penelitian yang besar. seperti menyusun batu-batu. Asumsi bisa dengan sebab akibat, tetapi bisa juga tentang suatu masalah. Asumsi juga merupakan hal penting dalam menentukan paradigma penelitian. Asumsi juga berguna untuk menafsirkan kesimpulan kita.
Contoh :
1. bahwa perubahan-perubahan kurikulum hanyalah menambah kebingungan bagi guru dan peserta didik.
2. bahwa persaingan penerimaan siswa baru antar SMU tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.
3. bahwa pendidikan di Indonesia belum memenuhi kriteria pemerataan kualitas pendidikan antara di kota dan di desa.
4. bahwa kurikulum membatasi kreatifitas guru dalam mengembangkan anak didik.
5. bahwa krisis global kedua akan berpengaruh terhadap omset para pengusaha di seluruh Indonesia.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah, merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi, penyimpangan antara teori dengan praktik, penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan, dan penyimpangan antara pengalaman masa lampau dengan yang terjadi sekarang.
Mengungkapkan latar belakang permasalahan maksudnya adalah menulis uraian butir-butir yang terdapat di dalamnya. Dengan ungkapan lain, apa saja yang seharusnya ditulis dalam latar belakang sebuah penelitian. Dengan membaca latar belakang suatu penelitian, maka akan menjadi jelas apa sebenarnya yang hendak diteliti, apa manfaat dan focus penelitian tersebut.
Berdasarkan level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif
Menulis tujuan penelitian sebenarnya ingin memperjelas apa sebenarnya yang hendak diteliti. Esensinya adalah sama dengan kalimat judul pernyataan-permasalahan dan permasalahan penelitian. Tujuan penelitian ini bias diungkapkan dengan kata-kata, ingin mengetahui atau secara lengkapnya : tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui.
Asumsi dalam kamus ilmiah populer mempunyai arti praduga, anggapan sementara (yang kenbenarannya masih perlu dibuktikan).

DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2008, “Memahami Penelitian Kualitatif,” Cet. IV, Bandung: Alfabeta
Arikunto, Suharsimi. 2006, “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik”, Cet. XIII, Jakarta: Rineka Cipta
Hamidi. 2004, “Metode Penelitian Kualitatif Aplikasi Praktis, Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian”, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press
Lexy J. Moleong. 2005. “ Metodelogi Penelitian Kualitatif”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Almanshur Fauzan, Ghony Djunaidi. 2009. “ Metodelogi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif”. Malang: UIN-Malang Press.


PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU KHOLDUN

Nama : Akhmad Khoirudin

A. Sekilas Tentang Ibnu Kholdun
Berbicara tentang seorang cendekiawan yang satu ini, memang cukup unik dan mengagumkan. Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri ilmu sosial. Ia lahir dan wafat di saat bulan suci Ramadan. Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Nama kecilnya adalah Abdurrahman, sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan keluarga, karena dihubungkan dengan anaknya yang sulung. Waliuddin adalah kehormatan dan kebesaran yang dianugerahkan oleh Raja Mesir sewaktu ia diangkat menjadi Ketua Pengadilan di Mesir.
Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan yang berasal dari pemikiran yang alami. Sedangkan pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau seseorang yang berkuasa.
B. Konsep atau tujuan pendidikan
Pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat memepertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis.Pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal pendidikan ia tuangkan dalam karya monumentalnya yang dikenal dengan sebutan Muqaddimah. Sebagai seorang filsuf muslim pemikirannya memanglah sangat rasional dan berpegang teguh pada logika. Corak ini menjadi pijakan dasar baginya dalam membangun konsep-konsep pendidikan. Menurutnya paling tidak ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan Islam, yaitu peningkatan kecerdasan dan kemampuan berpikir, peningkatan segi kemasyarakatan manusia, peningkatan segi kerohanian manusia. Sehingga diharapkan pendidikan Islam mampu menciptakan manusia yang siap menghadapi berbagai fenomena social yang ada disekitarnya.

C. Kurikulum dan Materi Pendidikan
Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun masih terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Sedangkan pengertian kurikulum modern, telah mencakup konsep yang lebih luas yang di dalamnya mencakup empat unsur pokok yaitu: Tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuan-pengetahuan, maklumat-maklumat, data kegiatan-kegiatan, pengalaman-pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum itu, metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur kurikulum dan hasil proses pendidikan. Dalam pembahasannya mengenai kurikulum Ibnu Khaldun mencoba membandingkan kurikulum-kurikulum yang berlaku pada masanya, yaitu kurikulum pada tingkat rendah yang terjadi di negara-negara Islam bagian Barat dan Timur. Kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada peserta didik dalam pemikiran Ibnu Khaldun meliputi tiga hal, yaitu: pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syair). Kedua, kurikulum sekunder yaitu matakuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika). Ketiga kurikulum primer yaitu inti ajaran Islam (ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, dan sebagainya).Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan, karena materi adalah merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu menjadi dua macam yaitu:
1. Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah)
Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syari’at yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab, ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi.
2.Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu: a. Ilmu logika, b. Ilmu fisika, c. Ilmu metafisika dan d. Ilmu matematika. Walaupun Ibnu Khaldun banyak membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan sosiologi, namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam klasifikasi ilmunya.Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik menjadi empat macam, yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya. Empat macam pembagian itu adalah:
1. Ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqh dan ilmu kalam.
2. Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika), dan ilmu Ketuhanan (metafisika)
3. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu mempelajari agama.
4. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.

D. Metode Pendidikan
Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran merupakan bagian dari pembahasan pada buku Muqaddimahnya. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah pendidikan Islam dapat kita simak bahwa dalam berbagai kondisi dan situasi yang berbeda, telah diterapkan metode pengajaran. Dan metode yang dipergunakan bukan hanya metode mengajar bagi pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus digunakan oleh anak didik. Hal ini sebagaimana telah dibahas Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimahnya.Didalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik.Kedua:Setelah pendidik memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan terperinci.Ketiga:Pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimapaun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna. Demikian itu metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses belajar mengajar.
Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang benar. Disamping metode yang sudah disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Ibnu Khaldun, adalah prinsipnya bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan berdiskusi akan menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah dan pandai menghargai pendapat orang lain, disamping dengan berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang dipelajarinya.
E. Pendidik
Pendidik dalam pandangan Ibnu Khaldun haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik. Karena pendidik selain sebagai pengajar di dalam kelas, pendidik juga harus bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya. Ibnu Kholdun menganjurkan agar para guru bersikap dan berperilaku penuh kasih sayang kepada peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut dan saling pengertian, tidak menerapkan perilaku keras dan kasar, sebab sikap demikian dapat membahayakan peserta didik, bahkan dapat merusak mental mereka, peserta didik bisa menjadi berlaku bohong, malas dan bicara kotor, serta berpura-pura, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau takut dipukuli. Dalam hal ini, keteladanan guru yang merupakan keniscayaan dalam pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu Kholdun lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada yang dapat dipengaruhi oleh nasehat, pengajaran atau perintah-perintah.

F. Peserta didik
Sedangkan konsepnya mengenai peserta didik, bahwa peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki potensi. Maka dari itu peserta didik membutuhkan bimbingan orang dewasa untuk mengembangkan potensi ke arah yang lebih baik dengan potensi dan fitrah yang telah ada. Peserta didik ibarat wadah yang siap untuk di beri pengetahuan yang baru.

Refrensi
Baali, Fuad dan Ali Wardi. Ibnu Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. alih bahasa Osman Ralibi. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1989.
Thoha,Nashruddin.Tokoh-tokoh Pendidikan Islam di Jaman Jaya. Jakarta: Mutiara. 1979.
http : // Wikipedia.co.id/ibnu khaldun

http://oggisobimedia.blogspot.com/2010/01/pemikiran-ibnu-khaldun-mengenai.html


PEMIKIRAN AL GHOZALI TERKAIT PENDIDIKAN

Nama : Akhmad Khoirudin
PEMIKIRAN AL GHOZALI TERKAIT PENDIDIKAN
A. Sekilas Tentang Al-Ghazali
Banyak dari kita mengenal al-Ghazali hanya sebagai seorang teolog, Faqih dan sufi, padahal ada sisi lain dari al-Ghazali yang kurang ter-cover dalam perhatian para sarjana belakangan yaitu pemikirannya tentang pendidikan. Padahal pemikirannya tentang hal tersebut banyak berpengaruh terhadap para ulama’ sunni sesudahnya. Lalu apa saja pemikiran al-Ghazali dimaksud. Untuk menjawab hal ini ada beberapa hal yang penulis rujuk, rujukan utama dan pertama adalah karya besarnya Ihya’ Ulumiddin juz I, kedua, terjemahan karyanya yang berjudul Ayyuha Al-Walad, yang ketiga adalah pendapat-pendapat para cendekiawan yang juga penulis jadikan sebagai bahan pertimbangan.
Berikut adalam item ‘b’ dalah ringkasan isi dari Ihya’ Ulumiddin Bab I yang dianggap mewakili bab yang berisi wacana pendidikan dalam kitab Ihya’. Akan tetapi yang perlu disadari oleh pembaca bukan berarti selain di bab I Ihya’, dalam bab-bab lain al- ghazali tidak menyinggung tentang pendidikan. Jadi sebenarnya lebih pada pilihan penulis karena keterbatasan waktu dan kemampuan yang ada.

B. KONSEP BELAJAR MENURUT AL-GHOZALI

Konsep belajar al-Ghozali merupakan hasil dari aplikasi dan responsi jawabannya terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan yang dihadapinya pada saat itu. Konsep tersebut jika diaplikasikan di masa sekarang nampak bahwa sebagianya masih ada yang sesuai dan sebagian lainnya ada yang perlu disempurnakan. Perkembangan intelektualitas al-Ghozali sebenarnya telah mulai kelihatan sejak ia sebagai seorang pelajar. Pada waktu itu, ia selalu menunjukkan sikap keraguan terhadap apa-apa yang dipelajarinya. Hal tersebut terus berlanjut hingga ia belajar di Bagdad. Pertanyaan yang selalu muncul dipikirannya adalah “apakah yang dimaksud dengan pengetahuan?.
Rangkaian pertanyaan dan keraguan tersebut membuatnya terus berfikir dan mencari guru yang dapat menjawab berbagai pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Melalui perjalanan panjang dalam mencari jawaban tersebut akhirnya telah membentuk dan memperkaya khazanah intelektualitasnya. Setelah mengajar diberbagai tempat seperti Bagdad, Syam, dan Naisaburi, akhirnya ia kembali ke kota kelahirannya, Thus pada tahun 1105 M. Disini kemudian ia mendirikan sebuah madrasah dan mengabdikan dirinya sebagai pendidik pada tahun 1111 M.
Diantara pemikirannya tentang pendidikan Islam dapat dilihat dari tiga buku karangannya, yaitu Fatihat al-Kitab, Ayyuha al-Walad, dan Ihya’ Ulum al-Din. Dari karangan-karangannya ini terlihat jelas bahwa al-Ghazali merupakan sosok ulama’ yang menaruh perhatian terhadap proses transisi sebuah ilmu dan pelaksana pendidikan.
Menurutnya hal tersebut merupakan sarana utama untuk menyiarkan agama Islam, memelihara jiwa, dan Taqarrub ila Allah. Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu ibadah dan upaya peningkatan kualitas diri. Pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia akherat. Secara sistematis pemikirannya memiliki corak tersendiri. Ia secara jelas dan tuntas mengungkapkan pendidikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Totalitas pandangannya meliputi hakekat tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, materi, dan metode.
Menurut al-Ghozali jalan yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam proses belajar tidak bisa seperti halnya yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, karena mereka menjadi ahli ilmu tanpa belajar dan didik dalam bangku pendidikan. Bagi manusia biasa untuk mencapai arah tersebut harus dilalui dengan jalan usaha dan belajar. Hal ini sangat mungkin karena manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan. Menurut al-Ghozali apabila seorang hendak belajar maka mereka harus membersihka jiwa mereka dengan perbuatan baik. Sedangkan pendidik harus menjadi uswatun hasanah. Dengan kebersihan dan kesucian jiwa mereka akan mudah dalam belajar.

C. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN PESERTA DIDIK DALAM BELAJAR

Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghozali menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah SWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah SWT sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabi’at dasarnya yang memang cenderung kepada agama tauhid (Islam). Untuk itu tugas seorang pendidik adalah membimbing dan mengarahkan fitrah tersebut agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya.
Menurutnya pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu, pendidik dalam perspektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknya diarahkan pada aspek Tazkiyah An-Nafs.
Menurut Al-Ghozali dalam menuntut ilmu (belajar), peserta didik memiliki tugas dan kewajiban yaitu:
a. Mendahulukan kesucian jiwa
b. Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan
c. Jangan menyombongkan ilmunya dan menentang gurunya
d. Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan
Dalam belajar, peserta didik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik senantiasa mensucikan jiwanya dengan akhlak al-karimah (Q.S.Al-An’aam:162 ; Adz-Dzariyat :56)
Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
2. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan dengan masalah ukhrawi (Q.S. Adh-Dhuha: 4)
artinya: “Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
Maksud dari ayat ini ialah bahwa akhir perjuangan nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ulama dengan arti kehidupan dunia.
3. Bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) dengan cara menanggalkan kepentingan pendidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat al-Ghozali yang menyatakan bahwa menuntut ilmu adalah merupakan perjuangan yang berat yang menuntut kesungguhan yang tinggi, dan bimbingan dari guru.
4. Hendaknya tujuannya dalam belajar di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akherat adalah untuk memndekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang di dekatkan. Hendaklah murid tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, pangkat, harta atupun untuk mengelabuhi orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu.di samping itu tidak boleh meremehkan semua ilmu, yakni ilmu fatwa, ilmu nahwu dan bahasa yang berkaitan dengan al-Qur’an, as-Sunah dan ilmu-ilmu lainnya yang merupakan fardhu kifayah.
5. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrawi maupun duniawi.
6. Belajar dengan bertahap atau berjenjang dengan memulai pelajaran ysng mudah (konkret) menuju pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu yang fardhu ‘ain menuju ilmu yang fardhu kifayah (Q.S. Al-Fath: 9).
Artinya : “Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
7. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9. Memprioritaskan ilmu yang diniyah sebelum memasuki ilmu yang duniawi.
10. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan yaitu ilmu yang dapat bermanfaat yang dapat membahagiakan, mensejahterakan, serta memberi keselamatan hidup dunia dan akherat.
11. Mendahulukan kesucian hati dari akhlak yang rendah dansifat tercela, karena ilmu adalah ibadah dan sholatnya dari hati, dan pendekatan pada Allah SWT .
12. Merasa satu bangunan dengan murid lainnya sehingga merupakan satu bangunan yang saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayang.
Ciri-ciri murid yang demikian itu nampak juga masih terlihat dari perspektif tasawuf yang menempatkan murid. Untuk masa sekarang hendaknya masih ditambah lagi dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreatifitas dan kegairahan dalam belajar.
Menurutnya pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan khaliqnya. Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu pendidik dalam perspektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknya diarahkan pada aspek penyucian diri. Seorang pendidik juga dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya. Diantara sifat tersebut tersebut yaitu:
a. Sabar dalam menaggapi pertanyaan murid
b. Senantiasa bersifat kasih, tidak pilih kasih ( objektif ).
c. Duduk dengan sopan, tidak riya’atau pamer.
d. Tidak takabur, kecuali terhadap oarang yang zalim dengan maksud mencegah tindakannya.
e. Bersikap tawadhu’ dalam setiap pertemuan ilmiah.
f. Sikap dan pembicaraan hendaknya tertuju pada topik persoalan.
g. Memilki sifat bersahabat terhadap semua murid-muridnya.
h. Menyantuni dan tidak membentuk orang-orang bodoh.
i. Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya.
j. Mengajar sesuai dengan kognisi pelajar, sehingga tidak memberuikan pengetahuan yang tak terjangkau oleh akalnya dan membuatnya trauma.
k. Menampilkan hujjah yang benar. Apabila ia berada dalam kondisi yang salah, ia bersedia merujuk kembali kepada rujukan yang benar.
Selanjutnya yang menjadi titik perhatian al-Ghozali dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah ilmu yang digali dari kandungan al-Qur’an, karena ilmu model ini akan jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akherat, karena dapat menenangkan jiwa dan mendekatkan diri pada Allah SWT . Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah memperbaiki hati dan perilaku :
“Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”


AL KHOS dan TAKHSIS

Ketika kita memahami hukum fiqih perlu adanya pemahaman yang menyeluruh atau objektif terkait sumber-sumber hukum yang berlaku dan yang sudah ditetapkan. Hukum yang berlaku di masyarakat tidak semena-mena bisa dirubah begitu saja sebab sudah menjadi kultur dan tradisi masyarakat dan berlaku bertahun-tahun bahkan sudah menjadi warisan turun temurun. Ketika kita mau merubah hukum adat di suatu daerah maka kita perlu dengan perlahan untuk masuk pada masyarakat dan sedikit-sedikit kita merubah pola pikirnya, seperti halnya yang telah dilakukan oleh nabi Muhamad SAW.
Sedangkan hukum yang sudah di tetapkan (khod’i) yakni bersumber dari Al qur’an dan Al hadist yang sudah jelas tidak bertentangan dan tidak membutuhkan penafsiran lagi. Untuk hokum ini tidak bisa di otak-atik lagi karena sudah mutlak dari Tuhan dan manusia hanya bisa menjalani dan merasionalkan apa-apa yang sudah ditetapakan dan digariskan oleh Tuhan.
Karena sumber hukum berdasar dari Al qur’an dan Al hadist yang mana keduanya menggunakan bahasa arab karena Nabi Muhamad SAW diturunkan di bangsa Arab, untuk itu perlu adanya pemahaman bahasa arab yang cukup sehingga pengambilan hokum tidak memberatkan dan tidak terlalu meringankan atau sederhana sehingga disepelehkan oleh manusianya.
Salah satunya untuk mencapai pemahaman itu yaitu kita harus mengetahui kalimat-kalimat sumber hokum yang bermakna khusus dan umum atau yang sudah khusus tapi perlu di spsifikan lagi. Untuk itu ada yang namanya khos dan takhsis sebagai pemahaman dan pengambilan hokum yang objektif.
Takhsis adalah mengecualikan sebagian dari lafad umum (amm). Seperti halnya ayat perintah haji. Haji diwajibkan bagi seluruh umat muslim tapi di akhir lafad ada pengecualian yakni bagi yang sudah mampu.
Takhsis ada dua macam yakni yang mutasil (langsung) yakni antara lafad yang umum (amm) langsung di sambung dengan lafad yang menaksisnya. Kedua adalah takhsis munfasil (pisah) antara lafad yang dan yang di taksis berpisah (tidak langsung)
Syarat-Syarat istisna’ (lafad yang menyifati atau yang menjadi jawaban)
- Mutasil atau langsung jika tidak maka tidak shah
Contohnya ketika dalam akad nikah, yakni ketika wali nikah membacakan akad nikah dan sang pengantin adalah menjawab, sedangkan ketika di putus antara akad dan jawaban maka tidak shah nikahnya.
- Tidak sampai menghabiskan mustasna minhunya (objek dari istisna’)
Contohnya, talak tiga kecuali tiga, hutang seribu kecuali seribu
- Tidak mendahului mustasna minhu

Aplikasi dari takhsis :
- Takhsis dibatasi oleh sifat maka yang lain tidak masuk
Contohnya. Syaratnya yang menjadi calon penerima beasiswa adalah mahasiswa kelas A, maka kelas B, C dan yang lain tidak boleh menerima beasiswa.
- Takhsis dengan memberi batasan akhir
Contohnya. Dilarang mendekati istri yang sedang haid maka diperbolehkan ketika istrinya sudah suci.
- Takhsis dengan menyebut badal
Contohnya. Ketika orang tidak mampu berdiri untuk sholat maka boleh dikerjakan dengan duduk.

Macam-macam bentuk takhsis:
- Takhsis kitab dengan kitab
Janganlah kamu menikahi wanita musrik. Surat (Al baqoroh, 221) kemudian di takhsis dengan ayat : orang-orang merdeka dari ahlul kitab. (Al Maidah, 5)
Sehingga di sini ada pemaknaan boleh menikahi orang selain islam asalkan masih menjadi ahlul kitab yakni agamanya (nabi Isa)
- Takhsis kitab dengan sunah
Alloh mewasiatkan pada kamu semua bagian anak laki-laki dua kali lipat dari anak perempuan (An nisa’, 11) Kemudian di tahksis dengan hadist Bukhori Muslim: Orang kafir tidak bisa mewarisi orang muslim dan orang muslim tidak bisa mewarisi orang kafir.
- Sunah dengan Kitab
Hadist Bukhori Muslim: Alloh tidak akan menerima sholat kalian kecuali dengan wudlu’. Kemudian di takhsis dengan ayat, kecuali bertayamum ( An Nisa’ 43)

- Sunah dengan Sunah
Hadist riwayat Bukhori Muslim: Dalam hasil panen yang di airi dengan hujan maka zakatnya adalah satu per sepuluh
(1/10) kemudian di takhsis dengan hadist yang lain: kecuali ketika mencapai satu nisob (94 gram emas).
- Kitab dengan kiyas
Wanita dan laki-laki yang melakukan zinah di cambuk 100x, Alloh mengkhususkan bagi wanita budak yakni separuh atas hukuman wanita merdeka. Maka ketika laki-laki budak yang melakukan zinah, apakah di samakan dengan laki-laki merdeka ataukah di samakan dengan wanita budak??? Dan hal ini di butuhkan yang namanya kiyas.
- Sunah dengan kiyas
Menunda-nunda membayar hutang bagi orang yang mampu maka halal kehormatanya. Kemudian yang menjadi pertanyaan ketika yang hutang itu orang tuanya apakah juga halal kehormatanya makanya butuh yang namanya kiyas.


BLU TAK JAUH BEDA DENGAN BHP

Akhir-akhir ini mahkamah kontitusi membatalkan undang-undang badan hokum pendidikan (UU BHP) karena dianggap bertentangan dengan undang-undang 1945. Tapi yang menjadi pertanyaan kalangan aktifis mahasiswa adalah kenapabaru di batalkan sekarang bukankah sudah satu tahun BHP sudah diterapkan oleh bebrapa peguruan tinggi negeri (PTN). BHP muncul sebagai tindak lanjut dari undang-undang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) 2003, yang mana sebelum menjadi BHP, kampus harus mempunyai badan usaha yang mandiri atau menerapkan system sebagai badan layanan umum (BLU). Ketika lembaga kampus atau PTN menerapkan BLU maka yang menjadi korban adalah mahasiwa ketika lembaga tersebut tidak mempunyai basis ekonomi yang mandiri. Di samping itu, akan mengeser esensi pendidikan yakni transfer ilmu atau pendidikan di komersilkan, bahasa kasarnya mahasiswa membeli ilmu dari kampus.
Ketika PTN menerapkan system BLU maka pemerintah seakan-akan lepas tangan terkait pendanaan pendidikan. Ketika lembaga kampus sudah mempunyai ekonomi mandiri atau badan usaha yang sudah siap menyuplai seluruh biaya oprasional kampus maka pemerintah akan dengan mudah melimpahkan pendanaan pendidikan dengan dalih kampus sudah mandiri. Tapi yang menjadi pertanyaan besar adalah dikemanakan dana 20%


INDAHNYA SUANGAIKU

"indahnya desa" "kedamaian di desa"

Indahnya Sungaiku

Foto ini bukan bermaksud untuk menunjukan porno aksi, tapi disini saya ingin menunjukan kedamaian serta kebahagian mereka ketika mandi disungai yang jernih dan segar airnya. Suatu kebahagian tersendiri saya bisa mengambil gambar ini dan bisa melihat secara langsung swara tawa mereka ketika mandi sambil bemain bersama temanya. Sungguh kebahagian yang luar biasa yang terasa akan tetapi apakah pemandangan dan kebahagiaan ini masih ada setelah 10 tahun yang datang.

Gedung-gedung bertingkat sudah mulai dibangun disekitar wilyah ini dan sebagian yang lainya adalah pemukiman. Ketika gedung dan pemukiman sudah apakah limbah mereka tidak dibuang ke sungai ini. Meskipun secara tidak langsung mereka membuang limbah kesuangai akan tetapi secara perlahan akan tercemar dan semua kebahagian dan keindahan yang kini dirasakan akan hilang.
Meskipun mereka tidak merasakan fasilitas hiburan yang mewah-mewah seperti dikota-kota tapi kebahagian ada disekitar lingkunganya. Tinggal siapa yang bisa menjaga itu semua. Kapan lagi kebahagian ini masih bisa dicapai kalau tidak mulai dari sekarang.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.