MEMILIH DAN MENGEMUKAKAN MASALAH PENELITIAN SERTA MENYUSUN ASUMSI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak kita menginjak kejenjang yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi, dari sinilah kita banyak berkelut pada kegiatan penelitian. Sebenarnya kata penelitian itu luas cakupannya, namun kita kurang mengartikannya lebih global. Ibu rumah tangga ketika memasak dan akhirnya meramu resep sendiri itu sudah merupakan penelitian dan masih banyak contoh yang lain dari penelitian.
Pada kesempatan ini kami akan membahas tentang penelitian, yaitu tentang bagaimana memilih nasalah, menentukan latar belakang, rumusan masalah, dan manfaaatnya sekaligus tentang menyusun asumsi. Namun karena kekurangan kita, mungkin dalam pembahasan akan banyak sekali hal yang belum kita bahas karena belum kami ketahui. Dan disini kita akan mambahas masalah penelitian yang lebih spesifik, bukan penelitian yang luas yaitu penelitian yang resmi dan perlu penulisan.
Lebih jelasnya pada bab 2 akan kami paparkan temuan kami dalam makalah kali ini, semoga dapat bermanfaat dan mohon maaf jika terdapat banya sekali kekurangan.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang telah kami buat, agar makalah dapat berjalan dengan baik, yakni sebagai berikut :
1) Bagaimana cara memilih masalah penelitian yang actual dan kontekstual?
2) Bagaimana latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian itu?
3) Bagaimana menyusun asumsi yang baik itu?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan makalah kami adalah :
1) Menjelaskan cara memilih masalah yang actual dan kontekstual
2) Menjelaskan definisi latar belakang, rumusan masalah dan tujuan
3) Menjelaskan cara menyusun asumsi

BAB II
PEMBAHASAN

A. Memilih Masalah Penelitian
Masalah, merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi, penyimpangan antara teori dengan praktik, penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan, dan penyimpangan antara pengalaman masa lampau dengan yang terjadi sekarang.
Memilih masalah penelitian adalah suatu langkah awal dari suatu kegiatan penelitian, baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Bagi orang yang belum berpengalaman meneliti, menentukan atau memilih masalah bukanlah pekerjaan yang mudah, bahkan boleh dikatakan sulit. Masalah merupakan bagian dari “kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan. Orang ingin mengadakan penelitian, karena ia mendapat jawaban dari masalah yang dihadapi. Masalah-masalah tersebut datang dari berbagai arah.
Permasalahan penelitian pada hakikatnya merupakan bentuk lain dari pernyataan-permasalahan seperti yang terdapat dalam latar belakang permasalahan. Dalam permasalahan penelitian, pernyataan-permasalahan penelitian dinyatakan dalam kalimat-pernyataan, bukan lagi dalam kalimat-pernyataan. Istilah permasalahan disini bukan berarti sesuatu yang menganggu atau menyulitkan tetapi sesuatu yang masih “gelap”, sesuatu yang belum diketahui, sesuatu yang ingin diketahui.
Merumuskan permasalahan penelitian (pernyataan-permasalahan) harus konsisten dengan pernyataan-permasalahan. Konsistensi terjadi jika keduanya tetap mengandung kata-kata kunci yang sama. Perhatikan konsistensi kedua hal tersebut, dalam bentuk perbandingan contoh berikut ini.
Pernyataan-permasalahan (problem statement) :
Belum diketahui rasionalitas tindakan konversi keagamaan warga Muhammadiyah yang berasal dari warga NU.
Pernyataan-permasalahan (problem question) :
Bagaimana rasionalitas tindakan konversi keagamaan warga Muhammadiyah yang berasal dari warga NU.
Tetapi akan menjadi tidak konsisten kedua unsur tersebut misalnya, jika pernyataan-permasalahan diubah menjadi :
Bagaimana proses tindakan konversi warga Muhammadiyah yang berasal dari NU.

Dikatakan tidak konsisten karena kata kunci dalam pernyataan permasalahan tersebut tidak sama, sebab rasionalitas tindakan konversi berubah menjadi proses tindakan konversi. Dalam hal ini peneliti tidak mempertahankan konsep yang telah dipilih sebelumnya. Data yang diperoleh dan kesimpulan penelitian akan berbeda, jika seseorang meneliti tentang rasionalitas tindakan konversi dan proses tindakan konversi.
Dengan menyatakan sekali lagi (mengulang) esensi pernyataan-permasalahan walaupun dalam bentuk kalimatyang berbeda, tetapi pada hekekatnya sama. Dengan “pengulangan” tersebut permasalahan-penelitian akan semakin menjadi jelas, terfokus, tajam, apa sesungguhnya yang akan diteliti, atau apa sesungguhnya yang ingin diketahuinya dari fenomena sosial tersebut .
Tulislah rumusan permasalahnya langsung atau dengan diberi pengantar singka seperti (dari contoh kasus):

Berangkat dari fenomena social tindakan konversi orang-orang NU ke Muhammadiyah, bahkan kemudian memimpin geraknya, pada hal NU-Muhammadiyah dikenal sebagai lembaga-konflik dalam Islam untuk kasus Indonesia. Kemudian, belum tersentuhnya aspek atau dimensi rasionalitas konversi pemahaman keagamaan dalam satu agama yakni Islam, dan lebih spesifik lagi dari NU ke Muhammadiyah oleh kajian empiric, makna rencana penelitian ini menjadi menarik dan tergolong baru dan secara logika dapat dirumuskan pernyataan permasalahan (problem question) penelitian sebagai berikut :
Bagaimana rasionalitas tindakan konversi yang dilakukan orang-orang Muhammadiyah yang berasal dari NU.
Perlu disampaikan bahwa permasalahan penelitian tidak harus satu. Peneliti bisa membuat permasalahan penelitiannya lebih dari satu, dengan memperhatikan tersedianya waktu, tenaga dan biaya dan kualitas hasil penelitiannya.
• Karakteristik permasalahan penelitian
Permasalahan yang ada harus dapat diklasifikasi, selanjutnya dapat diangkat sebagai masalah yang dapat diteliti, biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Permasalahan tersebut biasanyaa dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu bidang yang sama.
2) Permasalahan tersebut sering muncul dan secara signifikan ditemui oleh orang-orang yang terlibat.
3) Permasalahan tersebut dapat diukur dengan alat ukur penelitian, seperti skala nominal, ordinal, interval dan rasio.
4) Permasalahan tersebaut dapat diteliti, lantaran dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan koleksi data dan kemudian dianalisis.
• Sumber masalah dalam penelitian
Masalah atau peramsalahan yang ada di lingkungan kita sehari-hari cukup banyak, untuk itu diharapkan bagi peneliti mampu mengindentifikasi, memilih, merumuskan, dan kemudian menentukan tpologi penelitiannya secara tepat ( Borg, 1985). Beberapa sunber masalah atau permasalahan dapat diperoleh dari:
1) Literature, yang meliputi: buku, buku teks, monography, laporan statistic, dan berupa non buku seperti: jurnal, skripsi, tesis, disertasi dsb.
2) Berbagai pertemuan ilmiah, seperti: seminar, diskusi, lokakarya, sarasehan dsb.
3) Pengalaman pribadi, dan pengamatan yang bersifat longitudinal.
4) Pernyataan dari pemegang otoritas, dan
5) Perasaan intuitif( Barlian,1983;Suryabrata,1983).
B. Mengemukakan Masalah dalam Penelitian
Analisis Perumusan Masalah
Kriteria analisis
• Apakah rumusan masalah tersebut telah menhubungkan dua atau lebih hal atau factor (definisi masalah)? Jika ya, apakah dirumuskan secara proposional ataukah dalam bentuk diskusi atau gabungan keduanya?
• Apakah rumusan masalah itu dipisahkan dari tujuan penelitian? Jika ya, apakah hanya terdapat rumusan masalah atau dicampur-adukan dengan metode penelitian? Jika disatukan dengan tujuan penelitian ataukah tujuan penelitian dimaksudkan untuk memecahkan masalah? Apakah rumusan masalah yang disatukan dengan tujuan penelitian, pada maslah penelitian dibahas juga metode penelitian?
• Apakah uraiannya dalam bentuk deskriptif saja atau deskriptif disertai pertayaan penelitian, ataukah dalam bentuk pertanyaan penelitian saja?
• Apakah uraian masalah dipaparkan secara khusus sehingga telah dapat memenuhi criteria inklusi-enklusi ataukah masih berkaitan dengan masalah penelitian? Ataukah hanya dinyatakan secara implisit?
• Apakah kata hipotesis kerja dinyatakan secara ekplisit dan berkaitan dengan masalah penelitian? Ataukah hanya dinyatakan secara implicit?
• Apakah secara tegas pembatasan studi dinyatakan dengan istilah focus, secara ekplisit atau tidak, dan apakah focus itu merupakan masalah?

Prinsip-prinsip Perumusan Masalah
a. Prinsip yang berkaitan dengan Teori dari Dasar
Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Dengan hal itu berarti bahwa masalah sebenarnya terletak dan berada di tengah-tengah kenyataan, atau fakta, atau fenomena.
b. Prinsip yang berkaitan dengan Maksud Perumusan Masalah
Prinsip ini tidak begitu membatasi peneliti yang berkeinginan menguji suatu teori yang berlaku. Peneliti yang ingin merumuskan masalah dengan maksud menguji suatu teori dengan menyadari segala macam kekurangan akibat tindakannya.
c. Prinsip Hubungan Faktor
Fokus sebagai sumber masalah penelitian merupakan rumusan yang terdiri atas dua atau lebih factor yang menghasilkan tanda tanya atau kebingungan seperti telah didefinisikan di muka. Factor-faktor itu dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman, atau fenomena. Definisi tersebut mengarahkan kita pada tiga aturan tertentu yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti pada waktu merumuskan masalah tersebut, yaitu (1) adanya dua atau lebih factor,(2) factor-faktor itu dihubungkan dalam suatu hubungan yang logis atau bermakna dan (3) hasil pekerjaan menghubungkan tadi berupa suatu keadaan yang menimbulkan tanda tanya atau hal yang membingungkan.
d. Focus sebagai Wahana untuk Membatasi Studi
Seorang peneliti pasti memiliki orientasi toeri atau paradigmanya sendiri, barangkali berdasarkan pengetahiuan sebelumnya ataupun berdasarkan pengalaman.
e. Prinsip yang berkaitan dengan Kriteria Inklusi-Ekslusi
Sekali peneliti terjun ke lapangan,ia akan kebanjiran data, baik melalui pengamatan berperanserta, wawancara mendalam, analisis dokumen dsb. Perumusa focus yang baik yang dilakukan sebelum peneliti ke lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada awal ia terjun ke lapangan akan membatasi peneliti guna memilih mana data yang relevan dan mana yang tidak. Data yang relevan dimasukkan dan dianalisis sedangkan yang tidak relevsn dengan masalah dikeluarkan.
f. Prinsip yang berkatan dengan Bentuk dan Cara Perumusan Masalah
Tiga perumusan masalah, yaitu (1) secara diskusi. Cara penyajiaanya adalah dengan dalam bentuk peryataan secara deskriptif namun perlu diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian,(2) secara proposisional, yaitu secara lansung menhubungkan factor-faktor dalam hubungan logis dan bermakna; dalam hal ini ada yang disajikan dalam bentuk uaraian atau deskriptif dan ada pula yang lansung dikemukakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan (3) secara gabungan, yaitu terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi, kemudian ditegaskan lagi dalam bentuk proposisional.
g. Prinsip sehubungan dengan Posisi Perumusan Masalah
Posisi disini tidak lain adalah kedudukan untuk rumusan masalah di antara unsure-unsur penelitian lainnya. Unsure-unsur penelitian lainnya yang erat kaitannya dengan perumusan masalah ialah latar belakang masalah, tujuan, dan acuan teori dan meode penelitian.
h. Prinsip yang berkaitan dengan Hasil Penelaahan Kepustakaan
Penelaahan kepustakaan tersebut mengarahkan serta membimbing peneliti untuk menbentuk kategori substantive walaupun perlu diingat bahwa kategori substantive seharusnya bersumber dari data. Prinsip yang perlu di pegang oleh peneliti adalah bahwa peneliti perlu membiasakan diri agar dalam merumuskan masalah, ia senantiasa disertai dengan penelaahan kepustakaan yang terkait.
i. Prinsip yang berkaitan dengan Penggunaan Bahasa
Pada waktu menuis laporan atau artikel tentang hasil penelitian, ketika merumuskan masalah, hendaknya peneliti mempertimbangkan ragam pembacanya sehingga rumusan masalah yang diajukan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan menyimak para pembacanya, hendaknya perumusannya menggunakan bahasa langsung yang tidak berbelit-belit dan yang mudah dipahami.

Mengungkapkan latar belakang permasalahan maksudnya adalah menulis uraian butir-butir yang terdapat di dalamnya. Dengan ungkapan lain, apa saja yang seharusnya ditulis dalam latar belakang sebuah penelitian. Dengan membaca latar belakang suatu penelitian, maka akan menjadi jelas apa sebenarnya yang hendak diteliti, apa manfaat dan focus penelitian tersebut. Latar belakang permasalahan sebuah penelitian diawali dengan :
1) Ungkapan tentang fenomena social yang hendak diteliti sebagai deskripsi awal, yang secara runtun dapat memunculkan suatu permasalahan penelitian secara jelas dan logis, sebagai adanya rasa ingin tahu atau penasaran peneliti terhadap suatu objek social. Topic atau permasalahan penelitian yang hendak diteliti tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi biasanya didahului oleh proses berfikir tentang pengalaman atau hasil pengamatan seseorang tentang sebuah fenomena social, atau aktivitas membaca literatur atau media massa, yang berhubungan dengan teori atau peristiwa social tertentu. Peristiwa atau fenomena social itulah yang seharusnya dipaparkan pertama kali dalam latar belakang permasalahan. Dengan demikian peneliti nanti akan bias menjelaskan terhadap pernyataan: fenomena social apa yang diteliti.
2) Pemahaman tentang aspek –aspek fenomena social keagamaan.
Sebenarnya jika seseorang hendak meneliti fenomena social keagamaan maka banyak aspek yang akan diteliti. Karena itu agar suatu penelitian terfokus pada satu aspek tertentu peneliti harus memilih aspek mana dari fenomena social tersebut yang hendak dikaji, didalami. Fenomena social keagamaan misalnya, memiliki sejumlah aspek seperti : system kepercayaan, kepemimpinan, komunitas, lembaga, lembaga, ritus, pengetahuan, rasionalitas, konsekuensi atau makna social.
Untuk kejelasan pemahaman peneliti terhadap fenimena social keagamaan tersebut peneneliti perlu menggambarkan sejumlah aspek atau dimensi tersebut dengan dukungan dan membaca literature seraya menghubungkan dengan fenomena NU dan Muhammadiyah sebagai dua substruktur keagamaan.
Pemahaman peneliti tentang aspek-aspek keagamaan tersebut bisa dilukiskan sebagai berikut:
a) Aspek komunitas
b) Aspek rasionalitas
c) Aspek pengetahuan
d) Aspek kelembagaan
e) Aspek kepemimpinan
f) Aspek system keyakinan
g) Aspek ritus atau peribadatan
h) Aspek konsekuensi atau makna social
3) Beberapa penelitian sejenis terdahulu yang pernah dilakukan
Penelitian sejenis terdahulu, dalam hal ini maksudnya adalah penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang mempunyai focus penelitian, kata kunci yang sama. Ini juga penting, karena berfungsi untuk memberi keterangan atau bukti bahwa penelitian hendak dilakukan tersebut adalah baru, belum pernah dilakukan sebelumnya atau bukan hasil jiplakan, plagiat. Untuk kepentingan ini, peneliti harus membaca kumpulan hasil-hasil penelitian,baik berupa jurnal atau dafar judul skripsi, tesis atau desertasi (kumpulan abstrak penelitian). Dalam butir penelitian jenis terdahulu ini dikemukakan beberapa unsure seperti : nama peneliti, tahun peneliti, permasalahan atau tujuan, teori dan metode yang digunakan, hasil dan kesimpulannya. Yang demikian diungkapkan sebagai bukti bahwa peneliti telah melakukan penelusuran, hasil bacaan peneliti.
4) Apa yang belum diketahui atau peneliti pensaran ingin mengetahui dari fenomena social yang telah dipaparkan.
Peneliti perlu menegaskan tentang apa yang belum diketahui tersebut. Ungkapan tentang apa yang belum diketahui atau ingin diketahui ini dinamakan ungkapan tentang pernyataan-permasalahan atau problem statement, artinya permasalahan yang dinyatakan dalam kalimat pernyataan, bukan kalimat pertanyaan.
5) Pentingnya atau signifikansi atau urgensi sesuatu yang belum diketahui tersebut untuk diteliti.
Dengan tambahan penjelasan bahwa jika pernyataan permasalahan tersebut diteliti, maka hasil penelitian tersebut diharapkan pertama dapat member kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam sosiologi terutama sosiologi agama. Kontribusi tersebut biasanya disebut kegunaan akademik atau teoretik.
6) Mengemukakan kata-kata kunci.
Untuk penelitian kualitatif kata kuncinya adalah knsep-konsep (bukan variabel) yang hendak diteliti. Ambil kata-kata kunci ini dari kalimat-kalimat dalam pernyataan permasalahan atau judul.
Dengan mengetahui dan menyebut kata kunci ini maka peneliti tahu, sadar dan semakin jelas, konsep-konsep apa yang hendak diteliti. Lebih dari itu peneliti memperoleh petunjuk tentang teori dan yang relevan yang hendak atau harus dipilih, sehingga betul-betul dapat dipahami untuk kemudian digunakan sebagai pembantu dalam mengumpulkan data.
Berdasarkan level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
1) Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengungkapkan atau memotret situasi social yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.
2) Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks social atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.
3) Rumusan masalah asosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkontruksi hubungan antara situasi social atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah aosiatif dibagi menjadi tiga, yaitu hubungan simetris, kausal dan reciprocal atau interaktif. Hubungan simetris adalah hubungan suuatu gejala munculnya bersamaan sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibatatau interaktif. Hubungan klausal adalah hubungan yang bersifat sebab dan akibat. Selanjutnya hubungan reciprocal adalah hubungan hubungan yang bersifat interaktif.

Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variable penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, instrumen, dan tehnik analisa data. Sedangkan dalam penelitian kualitatif seperti yang telah dikemukakan, rumusan masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian masuk lapangan atau situasi social tertentu. Namun demikian setiap peneliti baik peneliti kuantitatif maupun kualitatif harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dengan kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context). Peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitiannya, kemungkinan belum memiliki gambaran yang jelas tentang aspek-aspek masalah yang akan ditelitinya. Ia akan mengembangkan focus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design” (Lincoln dan Guba, 1985: 102).
Dalam penelitian kualitatif, pertanyaan penelitian tidak dirumuskan atas dasar definisi operasional dari suatu variable penelitian. Pernyataan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspk-aspek lain (in context).
Dalam penelitian kualitatif, pernyataan penelitian tidak dirumuskan atas dasar definisi operasional dari suatu variable penelitian. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dengan kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context).
Menulis tujuan penelitian sebenarnya ingin memperjelas apa sebenarnya yang hendak diteliti. Esensinya adalah sama dengan kalimat judul pernyataan-permasalahan dan permasalahan penelitian. Tujuan penelitian ini bias diungkapkan dengan kata-kata, ingin mengetahui atau secara lengkapnya : tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui.
Kalimat untuk menuliskan tujuan penelitian ini pun juga harus konsisten dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk tetap konsisten ini, hendaknya peneliti tetap mencantumkan kata-kata kunci atau konsep yang telah digunakan dalam kalimat perumusan masalah. Jangan menambah kata kunci baru, mengganti atau menghilangkannya. Pertahankan konsep kunci yang telah dipilih sejak awal (kalau memang dirasa sudah tepat). Misalnya dengan menyatakan, tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui proses konversi warga Muhammadiyah yang berasal dari NU.
Bila hal itu dilakukan maka peneliti lalu menjadi tidak konsisten, sebab peneliti telah mengubah konsep rasionalitas dirumusan permasalah dengan konsep lain yakni proses. Meneliti rasionalitas konversi akan berbeda data yang dikumpulkan dan hasil penelitiannya bila dibandingkan dengan jika meneliti proses konversi. Kedua onsep tersebut berbeda pengertian atau defisi konseptualnya. Hal ini misalnya akan berakibat pada adanya perbedaan pada pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalm wawancara.
Perlu dikemukakan juga bahwa konsistensi suatu pernyataan jika peneliti tetap menggunakan kata-kata kunci tersebut. Hindari menggunakan kata-kata kunci dengan kata padanannya atau dianggap sama saja. Misalnya kata kunsi rasionalitas diganti dengan alasan dan pertimbangan.
C. Menyusun Asumsi
Asumsi dalam kamus ilmiah populer mempunyai arti praduga, anggapan sementara (yang kenbenarannya masih perlu dibuktikan). Dalam penelitian kita diharuskan untuk menyusun asumsi. Hal ini sebagai stimulus, agar kita mencari pembuktiaan sebuah kebenaran ilmiah. Dalam menyusun asumsi ini kita tidak boleh sembarangan, akan tetapi kita harus melihat konteks atau objek yang kita teliti.
Dalam beberapa tesis atau disertasi, ada bagian khusus yang memuat asumsi yang digunakan. Asumsi-asumsi tersebut dikemukakan satu per satu. Pada tesis yang lain para peneliti tidak menempatkannya pada bagian khusus karena asumsi tersebut telah dimasukkan pada bagian pendahuluan laporan. Asumsi adalah kenyataan penting yang dianggap benar tetapi belum terbukti kebenaran (Gay, 1976). Suatu kejadian atau situasi yang dianggap benar, sehingga kebenarannya tidak diragukan. Ini tidak sama dengan hipotesis, karena asumsi tidak memerlukan pengujian atau pembuktian.
Asumsi berarti : dugaan yang diterima sebagai dasar; landasar berpikir karena dianggap benar. Sedangkan mengasumsikan berarti menduga; memperkirakan; memperhitungkan; meramalkan. Asumsi adalah sebagai dasar dari suatu penelitian. Sebab sebuah penelitian berangkat dari asumsi. Dalam penelitian asumsi merupakan perekat (lem) atau adonan. Dikatakan perekat atau adonan karena asumsi menjadi perekat antara satu variabel dengan variabel lainnya. Asumsi dapat kita gunakan membangun suatu konstruksi bangunan penelitian yang besar. seperti menyusun batu-batu. Asumsi bisa dengan sebab akibat, tetapi bisa juga tentang suatu masalah. Asumsi juga merupakan hal penting dalam menentukan paradigma penelitian. Asumsi juga berguna untuk menafsirkan kesimpulan kita.
Contoh :
1. bahwa perubahan-perubahan kurikulum hanyalah menambah kebingungan bagi guru dan peserta didik.
2. bahwa persaingan penerimaan siswa baru antar SMU tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.
3. bahwa pendidikan di Indonesia belum memenuhi kriteria pemerataan kualitas pendidikan antara di kota dan di desa.
4. bahwa kurikulum membatasi kreatifitas guru dalam mengembangkan anak didik.
5. bahwa krisis global kedua akan berpengaruh terhadap omset para pengusaha di seluruh Indonesia.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah, merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi, penyimpangan antara teori dengan praktik, penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan, dan penyimpangan antara pengalaman masa lampau dengan yang terjadi sekarang.
Mengungkapkan latar belakang permasalahan maksudnya adalah menulis uraian butir-butir yang terdapat di dalamnya. Dengan ungkapan lain, apa saja yang seharusnya ditulis dalam latar belakang sebuah penelitian. Dengan membaca latar belakang suatu penelitian, maka akan menjadi jelas apa sebenarnya yang hendak diteliti, apa manfaat dan focus penelitian tersebut.
Berdasarkan level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif
Menulis tujuan penelitian sebenarnya ingin memperjelas apa sebenarnya yang hendak diteliti. Esensinya adalah sama dengan kalimat judul pernyataan-permasalahan dan permasalahan penelitian. Tujuan penelitian ini bias diungkapkan dengan kata-kata, ingin mengetahui atau secara lengkapnya : tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui.
Asumsi dalam kamus ilmiah populer mempunyai arti praduga, anggapan sementara (yang kenbenarannya masih perlu dibuktikan).

DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2008, “Memahami Penelitian Kualitatif,” Cet. IV, Bandung: Alfabeta
Arikunto, Suharsimi. 2006, “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik”, Cet. XIII, Jakarta: Rineka Cipta
Hamidi. 2004, “Metode Penelitian Kualitatif Aplikasi Praktis, Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian”, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press
Lexy J. Moleong. 2005. “ Metodelogi Penelitian Kualitatif”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Almanshur Fauzan, Ghony Djunaidi. 2009. “ Metodelogi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif”. Malang: UIN-Malang Press.

About rudien87


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: