PERIODESASI PENGUMPULAN HADIS

PERIODESASI PENGHIMPUNAN HADIS

A. PENGERTIAN
Untuk mengetahui bagaimana periode dalam pembukuan hadist terlebih dahulu kita mengetahui sejarah pembukuanya mulai dari awal islam sampai era sekarang ini, yakni: Zaman Rosululloh masa hidup, zaman khulafaurasyidn dan sebagian besar zaman umawiyah hingga abad pertama hijrah, hadis Nabi tersebar dari mulut ke mulut. Ketika itu umat Islam belum mempunyai inisiatif untuk menghinpun hadis Nabi yang bertebaran. Mereka cukup dengan hapalnya yang menjadi kekuatanya. Dan memang diakui oleh sejarah bahwa kekuatan hapalan para sahabat dan para tabi’in benar-benar sulit ditandinginya.
Hadits nabi tersebar ke wilayah yang luas dibawa oleh para sahabat dan tabi’in ke Seluruh penjuru dunia. Para sahabat pun mulai berkurang jumlahnya karena meninggal dunia. Sementara itu, usaha pemalsuan terhadap hadis hadis nabi makin tambah banyak, baik yang dibuat oleh orang orang jindik maupun musuh-musuh Islam maupun yang datang dari orang Islam sendiri.
Abu Zahrah memasukkan penulisan dan pembukuan hadis sebagai periode keempat di antara tujuh periode yang ia tetapkan sebagai berikut. (Nasikun, 2000: 244)
1. Periode pewahyuan dan pembentukan.
2. Periode pemantapan dan pembatasan riwayat.
3. Periode penyebaran riwayat.
4. Periode penulisan dan pembukuan.
5. Periode penyaringan dan pemikiran.
6. Periode penggabungan dan penertiban.
7. Periode penjabaran dan pembahasan.
Urgensi hadis dalam penentuan sikap terhadap berbagai makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran atau sebagai kewenangan tersendiri bagi Rasulullah Saw, bagi para sahabat, memiliki kedudukan yang khas dan sejarah tersendiri yang tidak bisa lepas dari aspek budaya dan peradaban saat itu. Sikap para sahabat tersebut, ditinjau dari aspek kebudayaan saat itu, meliputi dua titik persoalan yang utama, yakni perhatian dan tradisi mereka terhadap budaya lisan dan tulisan. Kedua aspek ini, dalam salah satu tinjauan riwayat Abu Hurairah, berlaku secara bersamaan dan menjadi tradisi yang mengakar bagi generasi selanjutnya. Dalam Shahih al-Bukhari dinyatakan bahwa Abu Hurairah pernah berkata, “Tidak ada seorang pun sahabat Nabi Saw yang lebih banyak hadisnya daripada diriku selain Abdullah bin Amr, karena ia menulis sedangkan aku tidak”. (Shahih al-Bukhari, “Kitab al-Ilmu, Bab Kitabah al-ilm”)
Penyampaian hadis secara lisan merupakan hal mendasar dalam tradisi saat itu. Bahkan setelah koleksi tertulis hadis disusun, penyampaian hadis secara lisan masih ideal. Kelisanan, dalam sistem ini, merupakan kebajikan bukan sebaliknya. Seperti faqih yang meremehkan bukti tertulis, dan lebih menyukai pembuktian lisan langsung, ulama hadis pun menekankan superioritas penyampaian hadis secara langsung, pribadi, dan lisan. Nilai tulisan hanyalah untuk membantu mengingat. (Brown, 2000: 115)

B. SPESIFIKASI HADIS
Seperti di jelaskan bahwa dalam pembukuan hadis di sekitar abad kedua hijriah yang di lakukan para pemuka hadis dalam rangka penghimpunan dan membukukanya semata-mata di dorong oleh kemauan yang kuat agar hadis Nabi itu tidak hilang begitu saja bersama wafatnya para penghapalnya. Barulah sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriyah sebagian Muhadisin merintis ilmu ini dalam garis-garis besarnya saja dan masih berserakan dalam beberapa mushapnya. Diantara mereka adalah Ali Bin Al-Madani (238 H), Imam Al-Bukhori, Imam Muslim, Imam At-Turmudzi dan lain-lain.
Adapun perintis pertama yang menyusun ilmu ini secara spesialis dalam satu kitab khusus ialah Al-Qadli Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzy (360 H) yang diberi nama dengan Al-Muhadisul Fasil Bainar Rawi Was Sami. Kemudian bangkitlah Al-Hakim Abu Abdilah An-Naisaburi (321-405 H) menyusun kitabnya yang bernama Makrifatu Ulumil Hadis. Usaha beliau ini diikuti oleh Abu Na’dim Al-Asfahani (336-430 H) yang menyusun kitab kaidah periwayatan hadis yang diberi nama Al-Kipayah dan Al Jami’u Lidabis Syaikhi Was Sami’ yang berisi tentang tata cara meriwayatkan hadis.
Begitulah selanjutnya bermunculan ahli hadis yang menyusun kitab Mustalahul Hadis dengan berbagai macam system dan bentuk yang berlain-lainan, seperti Imam As-Suyuti dengan kitab karyanya bernama Alfiyats, At-Taqrib, dan at-Tadrib, M. mahfud At-Turmudzi dengan kitabnya bernama MAnhaj Azawin Nadai. Al-Hafid bin Hajar Al-Asqalani dengan kitabnya Nuhabtul Fikar.

C. PEMBAGIAN HADIS
Ilmu ini tidak mempersoalkan tentang materi dari suatu hadis yang datanng dari Nabi Muhammad SAW., namun karena hadis itu belum/tidak ditulis dan dibukukan sejak masa hayat Nabi Muhammad SAW. sebagaimana Al-Qur’an, dan baru ditulis dan dibukukan setelah melewati beberapa generasi, maka kebenaran dan keasliannya sangat mungkin dipengaruhi oleh keadaan dan difat dari seseorang yang membawanya dan meriwayatkannya. Secara singkat bahwa pokok-pokok pembahasan ilmu Mustalahul Hadis berkisar pada:
1. Macam-macam hadis dan pembagianya
2. Nama-nama perawi dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan nama-nama itu, misalnya tentang keadaan, sifat, riwayat hidupnya.
3. Cara-cara menerima dan meriwayatkan, dari siapa ia menerima dan kepada siapa di riwayatkan.
Faidah dari mempelajari ilmu Mustalahul hadis agar kita dapat:
1. Mengetahui nama-nama hadits yang maqbul (dapat diterima).
2. Mengetahui nama, hadis yang seharusnya ditolak (murtad)
3. Mengetahui nama-nama hadis yang belum dapat diterima dan belum bisa menolaknya (hadis yang seharusnya ditawakupkan sehingga mendapatkan kejelasan).

Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk pertamakalinya ditemukan oleh khalifau Umar bin Khotob (w. 23 H = 644 M). Ide itu tidak dilaksanakan oleh Umar karena merasa khawatir, umat Islam terganggu perhatian mereka dalam mempelajari Al-Qur’an. Kebijaksanaan Umar dapat dimengerti karena pada zaman Umar, daerah Islam telah makin luas; jumlah orang yang baru memeluk Islam makin bertambah banyak.
Sebelum kholifah Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan surat perintah, telah cukup orang yang mencatat hadis, namun mereka melakukan itu bukan atas perintah resmi kepala negara. Di samping itu berbagai hadis Nabi yang tersebar dalam masyarakat belum seluruhnya terhimpun secara tertulis. Para perawi hadis pada masa itu masih banyak yang mengandalkan hapalan datipada tulisan. Karena pada masa itu hapalan merupakan salah satu tradisi yang di junjung tinggi dalam pemeliharaan dan pengembangan hapalan yang tinggi . selain itu, para penghapal masih banyak yang berpendapat bahwa penulisan hadis tidak diperkenankan.

D.CABANG-CABANG HADIS
Dengan melalui proses dan waktu yang cukup panjang, di antaranya karena hadis Nabi telah tersebar di berbagai wilayah Islam, akhirnya seluruh hadis Nabi berhasil di himpun dalam kitab-kitab hadis. Ulama yang membukukan hadis cukup banyak dan metode yang di gunakan cukup beragam. Motif utama yang mengerakan hati kholifah umar bin abdul aziz berinisiatif menghimpun Al hadis dalam bentuk tulisan adalah:
1. Kemauan kuat untuk tidak membiarkan al hadis seperti pada masa lalu, beliau khawatir akan hilang dan lenyap
2. Kemampuan kuat untuk membersihkan dan memelihara al hadis dari hadis mudu buatan orang-orang yang bertujuan mengeruhkan dan mereobohkan Islam maupun yang buat oleh orang kuntuk mepertahankan ideologin golonganya dan mepertahankan madzhabnya.
3. kalau hadis tidak di tulis dan di dewankan pada masa Rosulullloh, pada masa khulafaurasyidin. Dengan alas an adanya kekhawatiran bercampurnya aAl Qur’an dan Al hadis. Maka alas an tersebut telah tiada. Karena Al Qur’an telah di himpun dalam satu mashaf , telah tersebar luas, di hapal dan di amalkan oleh kaum muslimin
4. kalau pada zaman khulafaurasyidin belum pernah terbayangkan akan terjadinyapeperangajn antara kaum muslimin dengan orang kafir, dan demikian pula dengan terjadinya saudara antara orang-orang Islam sendiri. maka saat itu peperangan-peperangan tersebut telah benar-benar terjadi dan bahkan kian hari kian menjadi-jadi, yang sekaliguskian berakibat kurangnya jumlah ulama ahli hadis yang merupakan bendaharawan-bendaharawan al hadis.

Untuk memelihara al hadis dari percampuran hadis maudu dan menghilangkan kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya al hadis dari permukaan bumi maka beliau menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan pejabat-pejabat dan para ulama yang memegang kekuasaan di wilayah masing-masing, agar menghimpun dan menulis al hadis, intruksi tersebut antara lain berbunyi:
أُنْظُرْ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ فَاجْمَعُوْا . رواه ابو نعيم
Artinya:
“Telitilah hadis Rosululloh SAW. Kemudian kumpulkan.” (HR. Abu Nu’iam)
Dan beliau memberi intruksi kepada wali kota madinah, abu bakar bin Muhammad bin hazm untuk mengumpulkan dan mengumpulkan al hadis yang ada padanya dan yang ada pada tabi’i wanita yang bernama Amrah bin Abdur Rahman..
Intruksi yang sama juga dikirimkan kepada abu bakar Muhammad bin muslim ubaidah bin syihab az zuhri, seorang imam dan ulama besar di hijaz dan syam. Beliau adalah seorang tabi’I yang ahli dalam bidang fiqih dan hadis. Setelah menerima intruksi tersebut maka keduanya segera melaksanakan pengumpulan dn penulisan sebagaimana yang di kehendaki kholofah abu bakar bin amr bin hazm, mengumpulkan dan menuliskan hadis-hadis yangada padanya sendiri dan hadis-hadis yang di hapal oleh amrah bin abdurrahman, seorang tabi’I wanita yang terkenal murid aisyah r.a. yang terkenal sebagai srikandi Islam dalam bidang fiqih. Di samping itu juga hadis-hdais yang masih di hapal oleh qosim ibnu Muhammad ibnu abu bakar as sidiq, seorang pemuka tabi’I dan salah seoranh dari fuqaha madinah yang tujuh.
Ibnu Syhab segeralah mengumpulkan dan menuliskan hadis-hadis yang dihapalnya dan juga yang telah ditulis sebelumnya dalam lembaran-lembaran tertentu. Bahkan beliau ini memperbanyak penulisannya tersebut dan mengirimkannya satu lembar kepada masing-masing penguasa di tiap-tiap wilayah. Dari sebab inilah, maka beliau dikenal sebagai penulis hadis yanng pertama atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan begitulah anggapan para ahli tarikh dan ulama pada saat itu.
Bermula dari kedua ulama besar itulah penulisan dan pembukaan hadis yang diseponsori oleh khalifah Umar bin Abdul Azis berhasil dengan baik kemudian diikuti oleh ulama-ulama berikutnya yang diseponsori oleh khalifah-khalifah Abbasiyah, seperti antara lain:
1. Ibnu Juraij (80-150 H), sebagai pendewan hadis di kota Mekah.
2. Ibnu Ishaq (meninggal tahun 151 H) sebagai pendewaan hadis di kota Madinah.
3. Malik ibnu Annas (terkenal dengan nama Imam Malik) yang wafat tahun 179 H. sebagai pendewaan hadis di kota Madinah.
4. Ar-Robi bin Sihab (wafat tahun 176 H), sebagai pendewaan hadis di kota Bashrah.
5. Hammad bin Salammah (wafat tahun 176 H), sebagai pendewaan hadis di kota Bashrah.
6. Sufyan As-Saury (meninggal tahun 116 H), sebagai pendewaan hadis di kota kufah.
7. Ai-Auzi (wafat tahun 156 H), sebagai pendewaan hadis di kota Syam.
8. Ibnu Mubarok (wafat tahun 181 H), sebagai pendewaan hadis di kota Khurasan.

Tentang rudien87


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: