Daily Archives: November 10, 2010

TA’WIL DAN NASAKH, MURADIF DAN MUSYTARAK

Abstrak
Ada beberapa kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam ushul fiqih, yang daripadanya akan memberikan arahan dan aturan-aturan dalam usaha menggali dan menetapkan hukum-hukum Islam. Diantaranya adalah ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak. Ta’wil menurut Ushul fiqh seperti disimpulkan Adib Sholeh, berarti pemalingan suatu lafal dari maknanya yang zahir kepada makna lain yang tidak cepat ditangkap, karena ada dalil yang menunjukkan bahwa makna itulah yang dimaksud oleh lafal itu. Nasakh diartikan pembatalan hukum sayara’ yang ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama yang datang kemudian.. Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna, jumhur ulama’ menyatakan bahwa mendudukan dua muradif pada tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat syara’. Sedangkan musytarak lafal yang mempunyai dua makna atau lebih dan jumhur ulama memperbolehkan penggunaan musyatarak menurut arti yang dikehendaki atau berbagai makna.

Kata Kunci: Ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak

Pendahuluan
Seperti yang telah diungkapkan di atas tadi bahwa kaidah-kaidah akan memberikan arahan dan aturan dalam menggali dan menetapkan hukum Islam. Ada beberapa kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam ushul fiqih , yang akan memberikan arahan dan aturan-aturan dalam usaha menggali dan menetapkan hukum-hukum Islam. Diantaranya adalah ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak. Karena itulah kiranya diperlukan penjelasan-penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian, macam-macam ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak.

A. Nasakh
1. Pengertian
Secara etimologi Nasakh adalah pembatalan atau penghapusan (Bakry: 2003. Hal, 256).
Secara terminologi adalah:
a. Menurut ulama’ Ushul Fiqih adalah penjelasan berakhirnya masa berlakunya suatu hukum melalui dalil syar’i yang datang kemudian.
b. Pembatalan hukum syara’ ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama datang kemudian. (Bakry: 2003. Hal, 256).
Dari definisi di atas para ulama’ Ushul Fiqih mengemukakan bahwa Nashakh baru dianggap benar apabila:
a. Pembatalan itu dilakukan melalui tuntunan syara’ yang mengandung hukum.
b. Yang dibatalkan adalah hukum syara’ yang disebut dengan mansukh
c. Hukum yang membatalkan hukum terdahulu. Datangnya kemudian (Bakry:2003. Hal, 257).

2. Rukun Nasakh
Adapun rukun-rukun Nasakh yaitu:
a. ‘Adat Nasakh, yaitu pernyataan yang menunjukkan pembatalan (penghapusan)
b. Nasikh yaitu Allah, karena Dia-lah yang membuat hukum dan Dia pula yang membatalkan sesuatu dengan kehendak-Nya.
c. Mansukh, yaitu hukum yang dibatalkan.
d. Mansukh ‘Anbu, yaitu orang yang dibebani hukum, (Bakry:2003. Hal, 257).

3. Hikmah Nasakh
Adapun hikmah Nasakh yaitu untuk memelihara kemaslahatan umat baik di dunia maupun di akhirat. Di samping itu persoalan nasakh hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup . (Bakry:2003. Hal, 257)

4. Syarat-syarat Nasakh
1. Syarat-syarat yang disepakati:
a. Yang dibatalkan adalah hukum syara’.
b. Pembatalan itu datangnya dari khitbah (tuntutan) syara’.
c. Pembatalan hukum itu tidak disebabkan berakhirnya waktu berlaku hukum tersebut sebagaimana yang ditunjukkan syara’ itu sendiri
d. Tuntuntan syara’ yang menaskhakan itu datangnya kemudian dari tuntutan syara’ yang dinasakhkan. (Bakry:2003. Hal, 258)
2. Syarat yang diperselisihkan
a. Hukum itu tidak dinasakhkan, kecuali apabila orang mukallaf telah mempunyai kesempatan untuk melaksanakannya (ulama mu’tazilah dan hanafiah). Alasannya Allah dan Rasul itu tidak akan membebankan suatu membebankan suatu hukum pada mukallaf. Kecuali ada suatu kebaikan yang akan dari hukum itu.
b. Keluarga Mu’tazilah dan Maturidiyah. Hukum yang dinasakhkan itu sesuatu yang baik yang pembatalannya dapat diterima akal.
c. Sebagian ulama ushul fiqh mensyaratkan bahwa terhadap hukum yang dibatalkan itu harus ada penggantinya.
d. Sebagian ulama ushul fiqh dari kalangan hanafiyah. Apabila yang dinaskhkan itu adalah ayat Al Qur’an atau sunnah yang mutawatir, maka yang menasakhkan juga harus yang sederajat atau sama kualitasnya
e. Imam Syafi’i Al Qur’an tidak boleh dinasakhkan kecuali dengan Al Qur’an dan sunnah tidak boleh dinasakhkan dengan sunnah.
f. Jumhur ulama yang membatalkan dan yang dibatalkan itu bukan qiyas, artinya qiyas tidak bisa dinasakhkan Al Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas lainnya.
g. Jumhur juga mensyaratkan baik yang menasakhkan maupun yang dinasakhkan itu bukan ijma’, karena apabila yang dinasakhkan ijma’ itu adalah nash, maka hal itu tidak mungkin karena ijma’ baru dianggap sah apabila tidak bertentangan dengan nash. (Bakry:2003. Hal, 259)

5. Macam-macam Nasakh
a. Dihapus lafalnya (tulisannya) saja tetapi hukum masih tetap.
Contoh: ayat yang artinya : “orang tua zina baik laki-laki maupun perempuan maka rajamlah dengan batu”
Ini masih berlaku hukumnya tetapi lafalnya (tulisanya) dalam mushaf sudah tidak ada, berdasarkan hadis diriwayatkan oleh umar. (bukhari/Muslim).
b. Dihapus hukumnya saja tetapi lafalnya (tulisan) masih tetap.
Contoh: QS Al Baqarah: 234
        
Yang maksudnya: iddah permpuan yang di tinggal mati suaminya selama 1 tahun. Ini tulisan (lafalnya) masih, tetapi hukumnya sudah dihapus oleh ayat yang menerangkan iddah tersebut ialah 4 bulan 10 hari.
c. Menghapus hukum dan lafalnya, kedua-duanya bersama-sama.
Contoh sebagaimana berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah yang dimaksudkan: telah diturunkan suatu surat ayat Al Qur’an yang artinya “sepuluh kali susuan yang diketahui dengan tertentu, dari seorang ibu yang menyusui, menyebabkan haramnya menikah, kemudian ini dihapus (hukumnya dan tulisannya), dengan lima kali susuan saja.

6. Nasakh dalam hubungan antara Al Quran dan Hadits
Nasakh dalam hubungan antara Al Qur’an dan hadis itu ada beberapa macam ialah:
a. Ayat Al Qur’an Dinasakh oleh Ayat Al Qur’an
Contoh ayat Al- Qur’an yang di nasakh oleh ayat Al Qur’an lain:
       ••                 •     
Yang artinya : “orang-orang yang mati dari kamu sedangkan mereka meninggalkan istri, wajiblah wasiat kepada istri mereka, menyenangkan diri hingga setahun dengan tidak keluar.” ( Al Baqarah:240)

Al Baqarah: 240 dinasakhkan oleh ayat ayat Al Qur’an Al Baqarah: 234
          
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.”
Al Baqarah ayat 240 menerangkan iddah orang yang ditinggal mati suaminya ialah 1 tahun. Ini di nasakhkan oleh Al Baqarah ayat 234 yang menerangkan iddah itu tidak satu tahun, tetapi 4 bulan 10 hari. Jadi yang berlaku sekarang 4 bulan10 hari.

b. Ayat Al Qur’an Dinasakh oleh Hadist
Contoh ayat Al Qur’an yang dinasakh oleh hadits ialah:

        •     
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf” (Al Baqarah:180)

Ayat ini dinasakhkan oleh hadis yang diriwatkan oleh Imam Turmudzi:
Yang artinya:.. “Tidak wajib wasiat tertuju kepada ahli waris.”

Al Baqarah ayat 180 menerangkan bahwa orang akan meninggalkan harta wajib berwasiat. Ayat ini dinasakhkan oleh hadist yang maksudnya: tidak wajib wasiat tentang harta peninggalan terhadap ahli waris. Sebab hak waris (warisan) itu sudah ditentukan pembagiannya dalam Al Quran. Lihatlah dalam ilmu Faraid (hukum hak waris).

c. Hadist di nasakh oleh ayat Al Quran
Contoh hadits yang di nasakh oleh ayat Al Quran ialah hadits Bukhari-Muslim.
Yang Artinya: “.. maka sesungguhnya NabiMuhammad SAW didalam shalat menghadap kearah Baitul maqdis selama 16 bulan.”
Hadis ini di nasakh oleh Al Baqarah:150
     
“Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”
Oleh karena itu hingga kini kiblat umat islam diwaktu shalat ialah ka’bah (Masjidil Haram).

d. Hadits dinasakh oleh hadits
Contoh hadist yang dinasakh oleh hadits ialah hadits Muslim.
Yang Artinya:” Aku telah melarang kamu ziarah kubur itu. Karena dinasakh oleh hadits yang artinya:.. ingatlah maka ziarahilah kubur itu”
Oleh karena itu Ziarah kubur itu hukumnya tidak haram, tetapi boleh. (Amir: 1968, hal 53-56 )

7. Cara Mengetahui Nasakh dan Mansukh
a. Penjelasannya langsung dari Rasul
b. Ada petunjuk yang menyatakan salah satu nash lebih dahulu datangnya dari yang lain. Contoh sabda Rasul tentang ziarah kubur
c. Periwayat hadits secara jelas menunjukkan bahwa salah satu hadits yang bertentangan itu lebih dahulu datangnya dari hadits yang lain, seperti ungkapan perawi hadits bahwa hadits ini diungkapkan Rasul tahun sekian dari hadits ini pada tahun sekian (Bakry: 2003. Hal, 261).

8. Nash yang Tidak Bisa Menerima Nasakh
Tidak semua nash dalam Al-Qur’an atau as-Sunnah dapat dinasakh oleh nash yang datang kemudian. Akan tetapi banyak diantara nash-nash itu adalah nash-nash muhkamat (tetap) yang tidak dapat menerima nasakh, yaitu:
a. Nash-nash yang mengandung hukum yang bersifat esensial, tidak berbeda lantaran perbedaan manusia, dan tidak berbeda buruknya lantaran perbedaan penghargaan. Seperti nash-nash yang mengandung pengertian mewajibkan mengimani Allah, para utusan, Kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan prinsip-prinsip akidah lainnya. Seperti juga nash-nash yang menetapkan pokok-pokok keutamaan, misalnya; berbakti kepada orang tua, jujur, adil, menyampaikan amanah, dan lainnya.
b. Nash-nash yang mengandung beberapa hukum dan sighotnya memberi pengertian menguatkan hukum-hukum itu. Karena penguatan sighot terhadap hukum-hukum itu memberi mendorong ketiadaan nasakh nash-nash itu. Seperti firman Allah dalam menjelaskan hukum para penuduh wanita punya suami berzina:

و لا تقبلوا لهم شهادة ابدا (النؤ ر:4 )

“Jangan memberi kesaksian untuk mereka selamanya” (QS. An-Nur: 4)
c. Nash-nash yang menunjukkan peristiwa yang telah terjadi dan memberitakan kejadian-kejadian yang telah lalu. (Khalaf: 1994. Hal, 377).

B. Ta’wil
1. Pengertian Ta’wil
Dari sudut bahasa ta’wil mengandung arti At-Tafsir (penjelasan, uraian) atau Al-Marja’, Al-Mashir (kembali, tempat kembali) atau Al-Jaza’ (balasan yang kembali kepadanya) (Syafe’i: 2007. hal, 170).
Menurut Terminologi para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ta’wil,. Para ulama salaf mendefinisikan ta’wil antara lain sebagai berikut:
a. Imam Al-Ghozali dalam kitab Al-Mustasyfa

ان التاءويل عبارة عن احتمال يعضده دليل يصير به اغلب علئ الظن من المعنى الذى يدل عليه الظاهر.

Artinya:”Sesungguhnya ta’wil itu merupakan ungkapan tentang pengambilan makna dari lafadz yang bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafadz zhahir”.
e. Imam Al-Amudi dalam kitab Al-Mustasyfa

حمل اللفظ علي غير مدلوله الظاهر منه مع احتماله بدليل يعضده.
`
Artinya:”Membawa lafadz zhahir yang membawa ihtimal probabilitas kepada makna lain yang didukung dalil” (Syafe’i: 2007. hal, 170).
Kaum Muhadditsin mendefinisikan ta’wil yaitu sejalan dengan definisi yang dikemukakan ulama ushul fiqih, yaitu:
a. Menurut Wahab Khallaf
صرف اللفظ عن ظاهر بدليل

Artinya:”Memalingkan lafadz dari zhahirnya, karena ada dalil”.
b. Menurut Abu Zarhah

اخراج اللفظ عن ظاهر معناه الي معني اخر يحتمله و ليس هؤ الظاهر فيه

Artinya:”Ta’wil adalah mengeluarkan lafadz dari artinya yang zhahir kepada makna lain tetapi bukan zhahirnya” (Syafe’i: 2007. hal, 171)
Apabila diteliti secara seksama pengertian ta’wil menurut bahasa lebih umum daripada pengertian khas, ‘amm, atau mutlaq. Karena lafadz-lafadz tersebut menunjukkan arti yang dimaksud dan dianggap dalil qath’i. selain itu, khas memindahkan arti hakiki kepada majasi, sedangkan ‘amm memindahkan arti yang zhahir dengan dalil. Begitu pula mutlaq memindahkan arti dan memperluas jenisnya dengan cara membatasi dan mempersempit arti berdasarkan dalil (Syafe’i: 2007. hal, 171).
Menurut Adib Sholeh, ta’wi banyak berlaku pada bidang hukum Islam. Misalnya, menakwilkan suatu lafadz dari makna hakikat kepada makna majaznya, menakwilkan lafadz mutlak kepada pengertian muqoyyadnya, menakwilkan suatu bentuk perintah kepada pengertian selain hukum wajib, dan memalingkan pengertian suatu larangan kepada hukum selain haram. (Effendi & Zein : 2005, hal, 230-231)
Penyebab adanya pena’wilan terhadap lafadz-lafadz yang artinya dianggap kuat diantaranya karena arti zhahirnya tidak sesuai dengan arti yang hakiki , sehingga dalil hasil ta’wil yang tidak kuat menjadi kuat. Dengan kata lain, mengutamakan makna dari hasil prasangka yang sesuai dengan maksud syara’ (Syafe’i: 2007. hal,172).

2. Objek Ta’wil
Kajian ta’wil sebagaimana ijtihad dan ra’yu, tidak menyangkut nash-nash yang qath’i, baik secara khusus maupun umum, yang merupakan landasan kaidah-kaidah syara’ yang bersifat umum atau kaidah-kaidah fiqih yang berguna untuk menentukan ketetapan hukum masah furu’, sehingga para imam dapat menerima dan mengamalkannya. Selain itu ta’wil juga tidak menyangkut hukum-hukum agama penting lainnya yang mudah ataupun sulit dipahami yang merupakan dasar-dasar syari’at. Juga tidak mencakup peraturan-peraturan syariat yang bersifat umum, diantaranya bahan-bahan yang memerlukan penafsiran dan pematokan hukum, karena maksud syara’ harus diterangkan dengan jelas dan digambarkan secara qath’i agar terhindar dari munculnya arti spekulatif (Syafe’i:: 2007. hal,172)
Adapun kajian ta’wil kebanyakan adalah furu’ sebagaimana pendapat imam Asy-Syaukani. Ta’wil juga tidak membahas tentang lafadz-lafadz yang musytarak. (Syafe’i: 2007. hal,172).

3. Dalil-dalil Penunjang Ta’wil
Takwil pada dasarnya mencakup arti yang lemah yang memperlukan dalil untuk memperkuat praduga hasil takwil tersebut, sehingga arti yang tadinya lemah akan menjadi kuat karena sesuai dengan kemaslahatan umum dan dugaan para mujtahid.
Dengan demikian dalil penunjang takwil harus lebih kuat dari pada dalil penunjang arti secara bahasa. Dalil yang dipakai untuk menguatkan takwil juga disyaratkan harus sesuai dengan syara’ diantaranya dalil yang memberikan batasan yang terlalu luas terhadap maksud syara’ atau yang memperluas arti haqiqi yang dikandung dalam maksud syara’.
Semua dalil tersebut harus sesuai dengan syara’ dan dianggap hujjah dalam syara’. Bisa juga dianggap sebagai i’tibar yang sesuai dengan Al Qur’an seperti ijma’ atau bersumberkan dari roh nash dan hikmah nash atau mungkin perkembangan pemahaman terhadap nash yang sesuai dengan kemaslahatan yang umum kemudian dikuatkan dengan pendapat para sahabat, tabi’in dan tabi’in-tabi’in.
Secara ringkas, dalil-dalil yang dipakai dalam takwil adalah sebagai berikut:
a. Nash yang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
b. Ijma’
c. Kaidah kaidah umum syari’at yang diambil dari Al Qur’an dan sunnah
d. Kaidah kaidah fiqh yang menetapkan bahwa pembentuk syari’at memperhatikan hal-hal yang bersifat juz’i tanpa batas, yang diterima dan diamalkan oleh para imam dan menjadi dasar adanya perbedaan dalam berijtihad dengan ra’yu.
e. Hakikat kemaslahatan umum.
f. Adat yang diucapkan dan diamalkan.
g. Hikmah syari’at atau tujuan syari’at itu sendiri yang terkadang berupa maksud yang berhubungan dengan kemasyarakatan, perekonomian, , politik , dan akhlaq.
h. Qiyas
i. Akal yang merupakan sumber perbincangan segala sesuatu yang menurut ushuliyyah lebih dikenal dengan istilah takwil qarib.
j. Kecenderungan memperluas pematokan hukum untuk berbagai tujuan dan merupakan dasar umum dalam pembinaan dalam syari’at yang bersifat ijtihad atau ijtihad dengan ra’yu juga merupakan tujuan yang dianggap berlaku sebagaimana pendapat imam Asy Syatibi “asal pandangan melalui kecenderungan adalah istilah lain dari maksud yang dikehendaki syari’at sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu”.
Rusaknya Penakwilan biasanya berawal dari mendatangkan sesuatu yang tidak perlu atau menyalahi salah satu pembentuk syari’at kaidah-kaidah umum hukum, hukum-hukum yang bersumber dari dalil qath’i dan melakukan takwil ba’id yang dilarang, dengan kata lain jangan sampai melakukan ijtihad dengan takwil dan menyimpang dari kaidah kaidah dasar diatas.(Syafe’i: 2007, hlm 174)
1. Dalil penunjang takwil tidak disyaratkan Qath’i
Sudah jelas bahwa takwil itu perubahan arti untu membatasi maksud syara’ dengan dalil yang bersifat zhanni bisa dipakai dalil dalam takwil diantaranya juga khabar Ahad dan Qiyas.(Syafe’i: 2007, hlm :174)
2. Ta’wil yang dihasilkan dari perubahan makna bukan perubahan lafadz
Jika suatu syari’at memakai bahasa untuk mengungkapkan maksudnya, dasar umum yang dipakainya adalah yang sesuai dengan bunyi bahasa yang mempunyai kaitan khusus. Setiap nash dalam syari’at undang-undang harus difahami berdasarkan hakikat maknanya yang mutlak yang berasal dari bahasa itu sendiri. Sebagai dasar pemahaman, barang siapa berpegang teguh kepada suatu dasar tidak diminta untuk menegakkan arti dalil sesuai dengan pemahaman nash atau membatasinya sesuai dengan maksud syari’at karena orang yang berpegang teguh kepada dasar tidak dimintai dalil.
Dengan demikian setiap mujtahid diharuskan untuk berpegang teguh pada arti zahir yang kuat dan tidak boleh mengamalkan berdasarkan artinya yang lainnya yang dipandang lemah, meskipun sama-sama benar selama tidak ada dalil lain yang kuat dan shahih (Syafe’i: 2007, hlm 174-175).

3. Landasan Ta’wil
Pada mulanya takwil itu tidak ada dan tidak terbentuk, kecuali dengan dalil. Kemudian dari ide dasar tersebut muncul muncul beberapa masalah juz’i antara lain kewajiban untuk mengamalkan setiap petunjuk yang berasal dari arti nash secara zahir dan semua dalil dianggap hujjah karena kejelasan dan kebenarannya sehingga lafadz mutlak berlaku seperti kemutlakannya dan tidak diikat. Kecuali dengan dalil lafadz umum berlaku sesuai keumumannya dan tidak ditakhsis kecuali dengan dalil .Adapun lafadz yang khas diamalkan berdasarkan hakikat artinya dan tidak boleh mengubah arti kalimat majasi kecuali dengan dalil. Sementara takwil itu menyalahi landasan asal tersebut (Syafe’i :2007, hlm, 175).
Sesungguhmya takwil itu adalah mencakup kemungkinan yang berasal dari akal bukan bersumber dari bahasa karena takwil itu mengubah arti sesuai dengan kebutuhan bahasa, takwil itu tidak akan ada kecuali dengan dalil. Al Qur’an dalam penjelasannya mengikuti perkembangan bahasa dan teksnya begitu pula sunnah dan setiap perundang-undang yang ditulis dengan bahasa arab. (Syafe’i :2007, hlm, 175)
Oleh karena itu Imam syafi’i berpendapat bahwa diantara penyebab timbulnya perbedaan pendapat dikalangan umat islam adalah kecerobohan dalam memahami teks dari berbagai nash. Kemudian mereka membuat penakwilan tanpa menggunakan dalil-dalil yang shahih, bahkan mereka mencoba mengadopsi hukum-hukum yang berasal dari filsafat yunani. Seperti Aristoteles dan sebagainya. mereka berkata “Manusia itu tidak akan bodoh dan saling berbeda pendapat kalau tidak meninggalkan ucapan-ucapan orang Arab mengikuti Aristoteles”.
Ada 3 ketentuan umum yang dapat dijadikan pegangan agar terhindar dari kesalahan dalam berijtihad juga sebagai cara meng-istimbath hukum dari nash dengan menggunakan takwil:
a. Jika artinya itu sudah tentu mengandung hukum jelas dan dalalahnya qath’i maka tidak boleh ditakwilkan dengan akal.
b. Jika arti nash yang zahir itu berarti umum atau berarti zanni yang tidak pasti wajib mengamalkan sesuai maknanya karena kejelasan arti dan keberadaannya. Jangan sampai diterangkan dengan berbagai kemungkinan yang tidak berdasarkan pada dalil.
c. Dibolehkan mengubah syari’at sesuai dengan arti yang zahir kepada arti lain sepanjang berdasar dalil pada dalil, bahkan diwajibkan untuk mengompromikan berbagai nash yang saling bertentangan (Syafe’i: 2007, hlm 174-176).

4. Syarat-syarat Ta’wil Beserta Contohnya
Dasar umum yang ditetapkan para ulama untuk menetapkan adanya ta’wil berasal dari teks bahasa dan uslub-uslubnya, yang menjaga agar ijtihad dengan ra’yu tidak menjadi tetap. Para ulama juga mewajibkan agar mengamalkan syari’at sesuai dengan zahir ayat sehingga terdapat isyarat untuk menggunakan ta’wil. Sesungguhnya syarat-syarat ta’wil itu diambil dari teks pembinaan dari teks yang ada dan maksud syara’. (Syafe’i: 2007, hlm, 176).
Persyaratan ta’wil bergantung pula kepada makna teks agar ketetapan nash dan makna zahirnya tidak bertentangan dengan roh umum suatu syari’at. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makna syari’at yang berhubungan dengan ta’wil berkaitan erat dengan taksis, taqyid, perubahan kearah majasi, dan pengompromian antara nash-nash yang zahirnya saling bertentangan. Semuanya sesuai dengan dalil shahih yang kuat, dan tidak hanya berdasarkan pemahaman arti saja tetapi juga makna rohnya. (Syafe’i: 2007, hlm, 176)
Kesimpulannya ta’wil itu erat kaitannya dengan maksud syari’at yang berasal dari nash, bukan hanya dengan dalilnya itu sendiri. Hal itu juga termasuk salah satu metode ijtihad dengan ra’yu, yaitu membatasi arti yang dimaksud dengan dalil. Adapaun syarat-syarat ta’wil itu adalah:
a. Lafadz yag dita’wil harus betul-betul memenuhi kriteria dan kajiannya.
b. Tawil itu harus berdasarkan dalil shahih yang bisa menguatkan ta’wil. Contoh: ta’wil dari nash yang di dalamnya terdapat pertentangan antara zahir nash yang mengandung arti juz’i dengan dasar umum syari’at adalah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

ان الميت يعقب ببكاء اهله

“Sesungguhnya jenazah itu disiksa oleh tangisan keluarganya”
Siti Aisyah menolak hadits tersebut karena menurutnya hal itu bertentangan dengan dasar umum syari’at yang ada dalam Al-Qur’an yaitu firman Allah SWT:

و لا تزر وازرة وزر اخري

Sebagian mujtahid mena’wilkan kemutlakan hadits tersebut kemudian mereka menaqyid dengan jenazah ketika masa hidupnya.
Maka maksud ayat tersebut menjadi tidak bertentangan setelah ditaqyid. Pengompromian ini dilakukan dengan mengamalkan dua nash secara bersamaan. Metode seperti itulah yang dianggap terbaik daripada mencela salah satunya.
dengan contoh di atas dapat diketahui bahwa ta’wil itu ada karena adanya pertentangan dalam nash yang artinya zahir (Syafe’i: 2007, hal, 1766-177).
• Ta’wil berdasarkan dalil adalah maslahat, yang dimaksud maslahat disini bukan berarti bahwa hikmah syari’at itu harus nash tertentu, tetapi dalil yang mentaksis dalil umum atau meng-istisna dari landasan umum baik secara khas ataupun ‘amm, dengan cara seperti itu dalil yang keluar dari landasan umum melalui taksis, menyalahi hukum yang umum atau keadaan umum.
Taksis merupakan salah satu bagian dari ta’wil bahkan yang paling banyak dipakai. Contoh:

والوالدات يرضعن اولادهن حولين كاملين…..(البقرة:232)

“Para ibu hendaknya mnyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh”.
Imam Malik menaksis keumumannya dengan perbuatan adat (urf amaliyah). Dia berpandangan bahwa seorang ibu diharuskan menyusui anaknya karena kesempurnaan derajatnya. Maka bila seorang ibu sakit sehingga tidak bisa menyusui anaknya, ia tidak diwajibkan menyusui anaknya karena menjaga dari kemudharatan. Dan menjaga maslahat adalah maslahat. (Syafe’i: 2007, hlm,177-179)
• Mentaksis keadaan umum dengan kemaslahatan, yang dimaksud keadaan umum adalah kemerdekaan umum atau dasar kebolehan yang berdasarkan firman Allah ang berdasarkan ayat:

هو الذي خلق لكم ما في الارض جميعا (البقرة:29)

“Dialah yang menjadikan untuk kamu semua apa-apa yang ada di bumi”
Kemerdekaan umum adalah kemerdekaan jual beli dan hak memiliki terhadap barang adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi manusia dengan mengutamakan persamaan karena hal itu termasuk perbuatan yang dibolehkan.
Rasulullah melarang talaqa as-sil’a atau perdagangan yang diadakan untuk kaum badawi karena jual beli semacam itu dikategorikan jual beli yang menggambarkan adanya penghinaan terhadap makanan yang sangat penting terhadap manusia. Taksis seperti itu adalah berdasarkan kemaslahatan umum begitu pula larangan jual beli yang mengandung riba, karena didalamnya terdapat pengikisan keadilan dan terdapat unsur memakan harta manusia secara batil, yakni kaidah yang menghilangkan keridhaan. (Syafe’i: 2007, Hlm 179-180).
c. Lafadz yang mencakup arti yang dhasilkan melalui takwil menurut bahasa.
Penakwilan menurut bahasa dilakukan dengan cara tekstual, kontekstual atau majaz. (Syafe’i: 2007, Hlm 181)
d. Takwil tidak boleh bertentangan dengan nasah yang qath’i karena nash tersebut bagian dari aturan syara’ yang umum.
Takwil adalah metode ijtihad yang bersifat zanni, sedangkan zanni tidak akan kuat melawan yang qath’i. Contohnya menakwillan kisah kisah yang ada dalam Al Qur’an dengan mengubah arti yang zahir menjadi fiksi (yang tidak terjadi). Penakwilan seperti iu bertentangan dengan kejelasan ayat yang qath’i yang menjadikan kisah tersebut sebagai kejadian sejarah yang nyata. (Rahmat Syafe’i :2007, Hlm, 181-182)
e. Arti dari penakwilan nash harus lebih kuat dari arti zahir yakni dikuatkan dengan dalil.
Contoh tentang petentangan antara juz’i dan dasar umum. Nash yang berarti juz’i dikompromikan artinya dengan dasar umum yaitu dengan cara mentaqyid dan dasar umum itu merupkan dalil yang lebih kuat. Telah dijelaskan beberapa men-taqyid hak kekuasaan atas harta tanpa memadaratkan tetangga dengan mengamalkan dasar umum yakni sabda Nabi SAW:

لا ضرر ولا ضرار

”Tidak madarat dan tidak memadaratkan ”
Hal itu termasuk kamaslahatan individu, sedang penakwilnnya berdasarkan kemaslahatan umum yang dijadikan dalil adalah lebih kuat dari pada zahir lafadz.
Begitu pula bertentangan antara zahir dengan nash tidak diragukan lagi bahwa nash itu menaksis yang zahir karena nash lebih kuat dan lebih jelas. Selain itu ucapan juga membutuhkan arti asli maksud harus diutamakan.
Juga tentang penakwilan yang berdasarkan hikmah pembinaan syari’at. Hal itu merupakan roh nash yang menguatkan dan merupakan tujuan pokok. Tidak diragukan lagi bahwa maksud disyari’atkannya sesuatu itu lebih kuat daripada zahir lafadznya.(Syafe’i : 2007 hlm, 182-183)

6 . Takwil Ba’id
Sebagaimana yang diterangkan di atas bahwa jika persyaratannya tak dapat dipenuhi dalam suatu penakwilannya maka takwil tersebut dinamakan takwil bai’id. Dan juga jika penyimpangan dari persyaratan tadi maka takwil seperti itu tertolak.
Namun beberapa ulama berbeda pendapat tentang keberadaan takwil ba’id tersebut. Mereka berbeda pendapat dalam penetapannya, ada yang berpendapat bahwa sebagian takwil itu ba’id tetapi sebagian lagi menilai bahwa takwil seperti itu (dikatakan ba’id oleh orang lain ) dikatakan qarib dan sahih. (Syafe’i : 2007 hlm, 184)
Misalnya kifarat khuntsa ketika melanggar sumpah.

فكفارته اطعام عشرة مساكين من اوساط ما تطعمؤن اهليكم او كسوتهم (المئدة:89)

“….maka kifarat(melanggar)sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin….”(QS. Al Maidah: 89).

C. Muradhif
1. Pengertian
Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna (Usman: 1996, hal. 64).

2. Kaidah Yang Berkaitan Dengan Muradhif
Jumhur ulama menyatakan bahwa mendudukkan dua muradhif pada tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat syara’. Kidahnya:”

ايقاع كل من المرادفين مكان الاخر يجوز اذا لم يقم عليه طالع شرعي.

“Mendudukkan dua muradhif itu pada tempat yang sama itu diperbolehkan jika tidak ditetapkan oleh syara’”.
Al-Qur’an adalah mukjizat, baik dari sudut lafal maupun maknanya , karena itu tidak diperbolehkan mengubahnya. Bagi Malikiah menyatakan bahwa takbir shalat tidak diperbolehkan kecuali “Allahu Akbar”, sedang Imam Syafi’i hanya memperbolehkan “Allahu Akbar” atau “Allahul Akbar” sedangkan Abu Hanifah memperbolekan semua lafal yang semisal dengannya, misalnya “ Allahul A’dhom” “Allahul Ajal” dan sebagainya (Usman: 1996, hal. 65).

D. Musytarak
1. Pengertian
Lafadz Musytarak adalah lafadz yang mempunyai dua makna atau lebih (Usman:1996. hal, 64). Lafadz musytarak adalah lafadz yang mempunyai dua arti atau lebih dengan kegunaan yang banyak yang dapat menunjukkan artinya secara gantian. Artinya lafadz itu bisa menunjukkan arti ini dan itu. Seperti lafadz a’in, menurut bahasa bisa berarti mata, sumber mata air, dan mata-mata. Lafadz quru’ menurut bahasa bisa berarti suci atau haid. Begitu juga dengan lafadz sanah dan yadun (Halimuddin: 2005. hal, 221)

2. Penggunaan Lafadz Musytarak
Jumhur ulama dari golongan Syafi’i, Qodli Abu bakar, dan Abu ‘Ali
Al-jaba’i memperbolehkan penggunaan musytarak menurut arti yang dikehendaki. Atau berbagai makna. Kaidahnya:

استعمال المشترك في معنيه اؤ معانيه يجوز

“Penggunaan musytarak pada yang dikehendaki ataupun beberapa maknanya yang diperbolehkan “.
Misalnya firman AllahSWT:

الم تر ان الله يسجد له من في السموات ومن في الارض والشمس والقمر والنجوم والجبال والشجر والدواب وكثير من الناس (الحج:18)

“Apakah kamu tiada mengetahui, kepada Allah bersujud aopa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang, yang melata dan sebagian besar daripada manusia” (Qs. Al-Hajj: 18).
Makna sujud mempunyai dua arti yaitu bersujud dengan mengarahkan wajah pada tanah, ataupun bersujud berarti kepatuhan (inqiyad). Kiranya pengggunaan kedua makna ini diperbolehkan, yakni adanya ketundukan bagi apa yang ada di langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon dan sebagainya, dan penggunaan makna sujud dengan menghadapkan wajah pada tanah bagi sebagian orang-orang yang taat. Dengan kata lain penggunaan lafadz musytarak itu diperbolehkan sesuai dengan proporsinya (Usman: 1996, hal. 65-66).

3. Sebab Adanya Musytarak
Sebab adanya lafadz musytarak dalam bahasa itu karena beberapa kabilah –kabilah atau suku-suku yang mempergunakan lafadz-lafadz itu untuk menunjukkan satu pengertian. Beberapa kabilah yang dimaksud dengan tangan ialah seluruh harta yang lain mengatakan ialah lengan dan telapak tangan, yang lain mengatakan hanya telapak tangan saja. Menurut catatan bahasa orang berpendapat bahwa perkataan dalam bahasa arab yaitu lafadz Musytarak mempunyai 3 arti yaitu: Diantarnya orang menempatkan lafadz itu diatas berbentuk hakiki. Sudah itu orang enggunkan dengan bentuk lain yaitu majazi kemudian ada pula orang yang mempergunakan lafadz ini bermakna majazi inilah yang banyak dipakai orang sehigga orang lupa bahwa dia adalah majazi (Khallaf:2005, hlm 222).
Musytarak adalah isim (kata benda) seperti yang dikatakan diatas.Apabila lafadz-lafadz musytarak terdapat pada nash syar’i, bersekutu dengan makna lughawi dan makna istilahi maka orang harus memilih yang dimaksud dengan istilahi syar’i. Lafadz shalat menurut istilah bahasa artinya do’a dan menurut istilah artinya ibadah tertentu berbunyi: Dirikanlah olehmu sembahyang.”Yang dimaksud disini menurut syar’i ialah ibadat tertentu bukan makna lughawi yang berarti Do’a (Khallaf: 2005, hlm 222).

KESIMPULAN

• Ta’wil adalah pemalingan suatu lafal dari maknanya yang zahir kepada makna lain yang tidak cepat ditangkap, karena ada dalil yang menunjukkan bahwa makna itulah yang dimaksud oleh lafal itu.
• Nasakh diartikan pembatalan hukum syara’ yang ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama yang datang kemudian.
• Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna, jumhur ulama’ menyatakan bahwa mendudukan dua muradif pada tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat syara’.
• Sedangkan musytarak lafal yang mempunyai dua makna atau lebih dan jumhur ulama memperbolehkan penggunaan musyatrak menurut arti yang dikehendaki atau berbagai makna sesuai proporsinya.
• Penjelasan mengenai kaidah-kaidah tersebut sangat diperlukan guna menggali dan menetapkan suatu hukum yang bersumber dari nash-nash.

DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Nazar. 2003. Fiqih dan Ushul Fiqih. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persad.
Amir, Djafar. 1968. Ushul Fiqih. Semarang: CV. Toha Putera.
Effendi, Satria & Zein. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta: Prenada Media.
Khallaf, Abdul Wahhab.1994. Kaidah- kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqh). Terjemahan Noer Iskandar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Khallaf, Abdul Wahhab.2005. Ilmu Ushul Fiqih .Terjemahan Halimudin Jakarta: PT Renaka Cipta.
Syafe’i, Rahmat. 2007. Ilmu Ushul Fiqh, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Usman, Muhsin. 1995. Kaidah kaidah istinbath hukum Islam, Kaidah kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


ontologi pendidikan islam

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidik merupakan salah satu unsur pendidikan yang banyak memegang peran dan ikut andil dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan. Tercapai tidaknya tujuan pendidikan dipengaruhi pula oleh pendidik, atau bisa dikatakan pendidik adalah Central of Education.

Teori-teori tentang pendidik, banyak dikemukakan oleh pemikir-pemikir barat. Padahal islam juga mempunyai pandangan tentang pendidik yang tidak kalah dengan teorinya orang barat. Yang semua itu bisa menjadi bukti bahwa pemikir islam bukan pengadobsi pemikiran orang barat.k

Selama ini islam hanya dipandang sebagai pengikut (ma’mum) adanya kemajuan dari barat. Apabila ditelaah lebih jauh, ternyata konsep yang diberikan islam tentang pendidik lebih baik dibandingkan konsep barat.  Konsep barat dipandang kering dari unsur religi, karena mereka tidak memberikan unsur-unsur spiritual untuk perubahan akhlak peserta didiknya.

Akan tetapi, kenapa selama ini pendidikan islam masih kalah kualitasnya dari pendidikan barat?.  Untuk itu, perlu dikaji sejauh manakah islam memandang seorang pendidik, demi kemajuan pendidikan islam.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa definisi pendidik menurut pendidikan islam?.
  3. Apa saja istilah pendidik dalam literatur pendidikan islam?.
  4. Bagaimana islam memandang seorang pendidik?.
  5. Bagaimana tugas dan peran pendidik?.
    1. Bagaimana sikap profesional dan kode etik yang harus dimiliki seorang pendidik?.
  6. Tujuan

Makalah ini nantinya bertujuan untuk mengetahui konsep pendidik dalam perspektif islam.

 

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam

Pendidik dalam islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).[1]

Di dalam ilmu pendidikan yang dimaksud pendidik ialah semua yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu manusia, alam, dan ke-budayaan.[2] Pengertian ini lebih luas dari pengertian yang diberikan oleh pendidikan islam.

Setelah mengetahui pengertian tersebut, siapakah sebenarnya pendidik itu?. Dalam islam, orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.[3]

Orang tua bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anaknya. Tanggung jawab itu disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal: Pertama, karena kodrat yaitu karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya. Kedua, karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang yang berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua juga.[4] Firman allah SWT:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.[5]

Akan tetapi tidak selamanya orang tua dapat memberikan bimbingan terus terhadap anak-anaknya, untuk itu dibutuhkan seorang guru. Walaupun telah dibantu seorang guru, orang tua tidak bisa lepas dari tanggung jawab mendidik anaknya.

Pengertian guru secara terbatas adalah sebagai satu sosok individu yang berada di depan kelas.[6] Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak orang tua.[7] Dengan demikian guru adalah orang tua kedua ketika berada di sekolahan.

 

  1. Istilah-Istilah Pendidik dalam Perspektif Pendidikan Islam

Dalam literatur pendidikan islam seorang pendidik (guru) dapat di sebut sebagai ustadz, mu’allim, murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu’addib.[8] Al-Ghozali menambahkan dengan al-Walid (orang tua).[9]

Kata “ustadz” biasa digunakan untuk memanggil seorang profesor; ini mengandung makna bahwa seorang guru dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya.[10]

Kata “muallim” berasal dari kata dasar ‘ilm yang berarti menangkap sesuatu. Dalam setiap ‘ilm terkandung dimensi teoritis dan dimensi amaliah (al-asfahani). Allah mengutus rasul-Nya antara lain agar Beliau mengajarkan (ta’lim) kandungan al-kitab dan al-hikmah yakni kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal yang mendatangkan manfaat dan menampik madlarat.[11]

Kata “murabby” berasal dari kata dasar “Rabb”. Tuhan adalah sebagai Rabb al-‘alamin dan Rabb al-nas, yakni yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam seisinya termasuk manusia. Manusia sebagai khalifahnya diberi tugas untuk menumbuh kembangkan kreativitasnya agar mampu mengkreasi, mengatur dan memelihara alam seisinya. Dilihat dari pengertian ini, maka tugas guru adalah mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan mala petaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitarnya.[12]

Kata “Mursyid” biasa digunakan untuk guru dalam Thariqah (tasawuf). Seorang Mursyid (guru) berusaha menularkan penghayatan (transinternalisasi) akhlak dan kepribadiannya kepada peserta didiknya, baik yang berupa etos ibadahnya, etos kerjanya, etos belajarnaya, maupun dedikasinya yang serba Lillahi Ta’ala (karena mengharapkan ridla Allah semata). Dalam konteks pendidikan mengandung makna bahwa guru merupakan model atau sentral identifikasi diri, yakni pusat anutan dan teladan bahkan konsultan bagi peserta didiknya.[13]

Kata mudarris berasal dari akar kata “darasa – yadrusu – darsan wa durasan wadirasatan”, yang berarti: terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadikan usang, melatih, mempelajari. Dilihat dari pengertian ini, maka tugas guru adalah berusaha mencerdaskan peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan mereka, serta melatih ke-trampilan mereka sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.[14]

Sedangkan kata “mu’addib” berasal dari kata ‘adab, yang berarti moral, etika, dan adab atau kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir dan batin. Kata peradaban dalam bahasa Indonesia juga berasal dari kata dasar ‘adab. Sehingga guru adalah orang yang beradab sekaligus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization).[15]

 

 

  1. Kedudukan Pendidik dalam Islam

Salah satu hal yang menarik pada ajaran Islam ialah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat dibawah kedudukan Nabi dan Rasul. Penghargaan Islam yang tinggi kepada guru tidak bisa dilepaskan karena islam menghargai ilmu pengetahuan.[16]

Hadits Rosulullah SAW: Ulama ialah pewaris para Nabi. (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi).

Ada penyebab khusus mengapa orang Islam amat menghargai guru, yaitu pandangan bahwa ilmu pengetahuan itu semuanya bersumber dari tuhan. Firman Allah:

(#qä9$s% y7oY»ysö6ߙ Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ

“Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [17]

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, sebagaimana dikutip al-Abrasyi mengatakan: “Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu. Dialah yang bekerja dibidang pendidikan. Sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya ini”.[18]

Dalam kitab Taisir Al-khollaq hal. 6, Karangan syaikh Hafid Husain al-mas’udi, diterangkan bahwa seorang peserta didik hendaknya mempercayai  keutamaan guru itu lebih besar dari pada keutamaan orang tua, dikarenakan pendidik (guru) adalah yang mendidik ruhaninya.

 

 

 

Hadits Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan seorang guru::

أغْدُ عَالِمًا, أَو مُتَعَلِّمًا, أَوْ مُسْتَمِعًا, أَوْ مُحِبًّا, وَلاَ تَكُنْ الْخَامِسَ فَتَهْلَكَ.

(رواه البيهقى)[19]

 

“ Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga engkau menjadi rusak”.

Dalam hadits Nabi SAW yang lain: “Tinta seorang Ilmuwan (yang menjadi guru) lebih berharga ketimbang darah para Syuhada”.[20]

Andaikata di Dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: “pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia keluar dari sifat kebinatangan (baik binatang jinak maupun binatang buas) kepada  sifat insaniyah dan ilahiyah.[21]

 

  1. Tugas dan Peran Pendidik

Sebagian ahli dan pemerhati pendidikan berpandangan bahwa guru merupakan unsur determinan pendidikan yang paling utama. Pandangan ini melahirkan pola pendidikan teacher centered, guru adalah sentral proses pendidikan. Sebaliknya sebagian berpandangan bahwa anak didik/siswalah yang menjadi unsur determinan pendidikan. Pandangan ini mengimplikasikan pola pendidikan student centered, anak didik merupakan sentral orientasi dalam proses pendidikan.[22]

Menurut al-Ghozali, tugas pendidik yang utama adalah me-nyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri (Taqorrub) kepada Allah SWT. hal tersebut karena tujuan Pendidikan Islam yang utama adalah upaya mendekatkan diri kepada-Nya.[23]

Menurut Ki Hajar Dewantara, mengatakan bahwa tugas seorang pemimpin (guru) adalah ing ngarso sung tulada (didepan memberi teladan), ing madya mbangun karsa (ditengah membangun semangat), dan tut wuri handayani (dibelakang memberi pengaruh).[24]

Muhaimin secara utuh mengemukakan tugas-tugas pendidik dalam pendidikan islam. Dapat dilihat dalam bagan dibawah ini:

 

NO. PENDIDIK KARAKTERISTIK DAN TUGAS
 

1

 

Utadz

Orang yang berkomitmen dengan profesionalitas, yang melekat pada dirinya sikap dedikatif , komitmen, terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continuous improvement.
 

2

 

Mu’allim

Orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi, serta implementasi (amaliah).
 

3

 

Murabby

Orang yang mendidik dan mempersiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
 

4

 

Mursyid

Orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan, dan konsultan bagi peserta didiknya.
 

5

 

Mudarris

Orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbarui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai minat, bakat, dan kemampuannya.
 

6

 

Mu’addib

Orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas dimasa depan.

 

Dari tabel diatas, tugas-tugas pendidik sangat amat berat, yang tidak saja melibatkan kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan afektif dan kemampuan psikomotorik.[25]

Terdapat beberapa peran guru dalam pembelajaran tatap muka yang dikemukakan oleh Moon, yaitu sebagai berikut:

1)      Guru sebagai perancang pembelajaran (Designer of Instruction).

Guru dapat merancang dan mempersiapkan semua komponen agar berjalan dengan efektif dan efisien.

2)      Guru sebagai pengelola pembelajaran (Manager of Instruction).

Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan meng-gunakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

3)      Guru sebagai pengarah pembelajaran.

Hendaknya guru senantiasa berusaha menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar.

4)      Guru sebagai Evaluator (Evaluator of Student Learning).

Evaluasi fungsinya sebagai penilaian hasil belajar peserta didik,  informasi yang diperoleh melaui evaluasi ini akan menjadi umpan balik terhadap proses pembelajaran. Umpan balik akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran selanjutnya.

5)      Guru sebagai Konselor.

Sebagai konselor guru diharapkan akan dapat merespons segala masalah tingkah laku yang terjadi dalam proses belajar.

6)      Guru sebagai pelaksana kurikulum.

Sebagai pelaksana kurikulum tentunya guru sebagai orang yang bertanggung jawab dalam upaya mewujudkan segala sesuatu yang telah tertuang dalam suatu kurikulum resmi. Bahkan pandangan mutakhir menyatakan bahwa meskipun suatu kurikulum itu bagus, namun berhasil atau gagalnya kurikulum tersebut pada akhirnya terletak di tangan pribadi guru.[26]

 

 

  1. Profesionalisme dan Kode Etik Seorang Pendidik.

Pendidik diharapkan mempunyai sikap profesional, sikap professional akan menimbulkan semangat dalam diri pendidik untuk terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan.

Seseorang dikatakan profesional bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamannya dimasa depan.[27]

Profesional, jelas berkaitan dengan kemampuan fungsional seorang guru untuk memahami, bersikap, menilai, memutuskan, atau bertindak didalam kaitan tugasnya. Profesional itulah yang akan menjadi kekuatan untuk mencapai hasil-hasil pendidikan dengan kualitas yang baik.[28]

Di zaman yang menghargai profesionalisme ini, guru sebagai tenaga profesional dibidang pendidikan mengalami nasib yang kurang menguntungkan. Sedangakan realitas menunjukkan bahwa ia telah melahirkan banyak orang yang cerdik pandai, diplomat, politikus, menteri, bahkan presiden sekalipun kiranya tidak akan pernah ada tanpa ada eksistensi guru. Fenomena ini mengedam karena tuntutan manusiawi dan profesionalisnya belum diperhatikan secara baik.[29]

Pendidik yang profesional harus memiliki kompetensi-kompetensi yang lengkap, meliputi:

1)      Penguasaan materi al-Islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan pengayaan, terutama pada bidang-bidang yang menjadi tugasnya.

2)      Penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode, dan teknik) pendidikan islam, termasuk kemampuan evaluasinya.

3)      Penguasaan ilmu dan wawasan kependidikan.

4)      Memahami prinsip-prinsip dalam menafsirkan hasil penelitian pendidikan, guna keperluan pengembangan pendidikan islam masa depan.

5)      Memiliki kepekaaan terhadap informasi secara langsung atau tidak langsung yang mendukung kepentingan tugasnya.[30]

Kompetensi-kompetensi pendidik dapat dilihat melalui pendekatan bayany, burhany, dan ‘irfany.[31]

 

Pendekatan bayani Pendekatan burhani Pendekatan ‘irfani
  1. Orang yang menguasai ilmu-ilmu agama.
  2. orang yang memahami al-qur’an dan menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
  3. orang yang memahami hadits dan menguasai ilmu yang berkaitan dengannya.
  4. hafidz,mujtahid, fuqoha, teolog.
1. ahli manthiq, ilmuan, fisikawan.

2.  peneliti.

3.  orang yang punya pola pikir logis-empiris.

  1. spiritual-religius.
  2. orang yang matang jiwa dan moralnya.
  3. mempunyai kepekaan so-sial yang timggi dan terhindar dari sifat cela.
  4. orang yang memiliki pengalaman, baik ilmu maupun spiritual.

 

Selain sikap professional pendidik juga harus mempunyai kode etik dalam proses belajar mengajar maupun terhadap lingkungan pendidikannya. Kode etik pendidik adalah norma-norma yang mengatur hubungan (hubungan relationship) antara pendidik dan peserta didik, orang tua peserta didik, koleganya, serta dengan atasannya.[32]

 

 

KESIMPULAN

Pada hakikatnya, pendidik yang pertama adalah Allah, karena Allah yang mengajari manusia dari ketidaktahuan, sesuai dengan QS. Al-Baqorah: 32. kedua adalah para Nabi/Rasul. Ketiga adalah orang tua. Keempat adalah guru. Akan tetapi dalam pelaksanaannya orang tualah yang bertanggung jawab terhadap anaknya.

Pendidik merupakan salah satu unsur pendidikan yang dipandang dalam islam sangat tinggi, mempunyai kedudukan yang sangat mulia. Karena Ulama adalah pewaris para nabi, pendidiklah yang meneruskan perjuangan para nabi untuk mengenalkan (mendekatkan) peserta didik kepada Allah SWT.

Selaku pewaris para nabi, tentunya pendidik juga harus mempunyai keagungan akhlak, etika yang luhur, secara tidak langsung pendidik menjadi contoh (uswah) bagi peserta didiknya.

Dalam kaitannya tuntutan tersebut trentunya hanya dapat dipenuhi apabila dalam diri pendidik mempunyai sikap profesional yang harus dimilki oleh setiap pendidik, sikap yang mencerminkan bahwa pendidik adalah pewaris para nabi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hasyimi, Ahmad. Mukhtar Al-hadits An-nabawiyyah. Surabaya: Al-hidayah.

 

Al-Mas’udi, Hafidz Husain. Taisir Al-khollaq. Surabaya: Almiftah.

 

Bahruddin dan Muh. Makin. 2007. Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia pendidikan. Jogjakrta: Ar-Ruzz Media.

 

Darajat, Zakiah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

 

H. Muhaimin. Volume 1 No. 1 2003. el-Hikmah; Jurnal Pendidikan Fakultas Tarbiyah. Malang: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Sudan d.h. STAIN Malang.

 

Hamzah B. Uno, Haji. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Hasan, M. Ali dan Mukti Ali. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya.

 

M. Suyudi. 2005. Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an: integrasi epistemologi bayani, burhani, dan irfani. Yogyakarta: Mikraj.

 

Muhaimin. 2006. Quo Vadis Pendidikan Islam:  pembacaan realitas pendidikan islam, social dan keagamaan. Malang: UIN- Malang Press.

 

Mujib, Abdul. et al. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

 

Rosyadi, Khoiron. 2004.  Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

___________. 2006. Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: Remaja Rosdakarya,

 

 


[1] Abdul Mujib, et al, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 87.

[2] ___________, Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h.170.

[3] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 35.

[4] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 172-173.

[5] QS. al-Tahrim (66): 6.

[6] M. Ali Hasan dan  Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 2003), h. 81.

[7] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 39.

[8] H. Muhaimin, el-Hikmah; Jurnal Pendidikan Fakultas Tarbiyah, (Malang: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Sudan d.h. STAIN Malang, Volume 1 No. 1 2003), h. 10.

[9] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 172.

[10] Muhaimin, Quo Vadis Pendidikan Islam:  pembacaan realitas pendidikan islam, social dan keagamaan, (Malang: UIN- Malang Press, . 2006), h. 101.

[11] Ibid., h. 102.

[12] H. Muhaimin, el-Hikmah; Jurnal Pendidikan Fakultas Tarbiyah, (Malang: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Sudan d.h. STAIN Malang, Volume 1 No. 1 2003), h. 10.

[13] Ibid., h. 10-11.

[14] Ibid., h. 11.

[15] Muhaimin, Quo Vadis Pendidikan Islam:  pembacaan realitas pendidikan islam, social dan keagamaan, (Malang: UIN- Malang Press, . 2006), h. 105.

[16] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 177.

[17] QS. al-Baqarah:32

[18] Ibid., h. 178.

[19] Ahmad Al-Hasyimi, Mukhtar Al-hadits An-nabawiyyah, (Surabaya: Al-hidayah), h. 29.

[20] Abdul Mujib, et al, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 88.

[21] Ibid., h. 89.

[22] Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, Membuka Jendela Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 218.

[23] Abdul Mujib, et al, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 90.

[24] Bahruddin dan Muh. Makin, Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia pendidikan, (Jogjakrta: Ar-Ruzz Media, 2007), h. 185-186.

[25] Abdul Mujib, et al, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 92.

[26] Hamzah B. Uno,  Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 22-25.

[27] Muhaimin, Quo Vadis Pendidikan Islam:  pembacaan realitas pendidikan islam, social dan keagamaan, (Malang: UIN- Malang Press, . 2006), h. 101-102.

[28] Hasan, M. Ali dan Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 2003), h. 82-83.

[29] Bahruddin dan Muh. Makin, Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia pendidikan, (Jogjakrta: Ar-Ruzz Media, 2007), h. 181.

[30] Abdul Mujib, et al, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 94-95.

[31] M. Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an: integrasi epistemologi bayani, burhani, dan irfani, (Yogyakarta: Mikraj, 2005), h. 183.

[32] Ibid., h. 97.

 


JIHAD, JIHAT

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kita panjatkan ke Hadlirat Allah swt yang telah memberikan hidayah-Nya kepada kita, sehingga makalah ini dapat kami susun sebagaimana mestinya Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi kita Muhammad saw, yang telah menuntun kita dari jalan yang gelap gulita menuju jalan yang terang benderang.

Untuk kesekian kalinya kami haturkan terima kasih kepada Bapak Muhammadiyah Ja’far selaku dosen Pembina mata kuliah Hikmatut Tasyri’ yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.

Makalah tentang “Hikmah Jihad” ini untuk memenuhi tugas Hikmatut Tasyri’  yang bertujuan agar kita semua mengetahui himah di balik jihad yang pada saat ini penuh dengan kontroversi.

Dalam penyusunan makalah ini kami mengalami banyak kendala, namun demi memenuhi tugas perkuliahan ini kami mencoba semampu kami, agar makalah yang masih jauh dari kesempuranaan ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi kami maupun bagi masyarakat pada umumnya.

 

Malang,    Oktober 2007

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Pemikiran yang lebih mengedepankan rasionalitas dalam menanggapi segala aspek kehidupan,telah menciptakan pemikiran baru yang beredar di masyarakat. Munculnya isu terorisme dengan berdasarkan pada landasan jihad yang diyakini oleh beberapa pihak, telah menciptakan paradigma baru yang timbul di dalam masyarakat saat ini. Masyarakat telah banyak yang mengartikan bahwa agama Islam dengan “Jihad”nya membawa perubahan pada sendi-sendi kehidupan umat Islam itu sendiri terutama di Negara Indonesia yang notabene di klaim sebagai Negara panganut agama Islam terbesar di dunia.

Sebagaimana al-Quran dan Hadits yang dapat ditafsirkan dengan berbagai sudut pandang, maka jihad juga dapat ditafsrikan (sebagaimana al-Quran dan al-Hadits), tidak hanya oleh umat muslim semata namun juga  oleh umat  non-muslim. Melalui  makalah ini kami mencoba menjelaskan Jihad menurut pandangan beberapa pihak, dengan harapan dapat memberikan sedikit pemahaman tentang jihad.

RUMUSAN MASALAH

  1. Apa pengertian dari Jihad ?
  2. Apa tujuan dari jihad ?

3.   Bagaimana hukum pelaksanaan Jihad ?

4.   Bagaimana pembagian Jihad dalam Islam ?

5.   Bagaimana keutamaan pelaksanaan Jihad ?

TUJUAN

  1. Untuk mengetahui makna dari Jihad
  2. Untuk mengetahui tujuan dari Jihad
  3. Untuk lebih memahami hukum dalam pelaksanaan Jihad
  4. Untuk mengetahui pembagian Jihad dalam Islam
  5. Untuk mengetahui keutaman melaksanakan Jihad

 

 

 

PEMBAHASAN

HIKMAH JIHAD

Pengertian Jihad

Jihad adalah lafadz Islam yang digunakan dengan makna “perang”. Kata “Jihad” berasal dari kata kerja “Jaahada”, “yujaahidu”,”mujaahadatan” dan “jihad”; diambil dari kata “Juhdun” yang bermakna “pekerjaan keras dan berat”. Imam Ar-Raghib Al-Asfahaniy mengatakan, bahwa jihad adalah penumpahan seluruh kesanggupan untuk melawan musuh.[1]

Dalam pemaknaan ini, jihad dapat dibagi menjadi 2 pengertian, yaitu:

  1. Jihad besar (al-jihad al-akbar)

Ini adalah perjuangan bathin secara terus-menerus dan penuh waspada melawan kejahilan dan kebodohan, hawa nafsu dan sifat-sifat tercela dari jiwa rendah yang menjauhkan manusia dari Allah. Ini adalah perjuangan hakiki melawan segenap musuh, kaum kafir dan kaum zalim dari dalam. Senjata yang digunakan dalam al-jihad al-akbar ini adalah mengingat Allah (dzikrullah).

  1. Jihad kecil (al-jihad al-shaghir)

Inilah perjuangan lahiriah melawan orang-orang kafir, orang-orang tak beriman dan orang-orang zalim.[2]

 

Tujuan Jihad

Sebagaimana kita ketahui bahwa jihad dilaksanakan karena memiliki beberapa tujuan yang harus dicapai. Secara teknis, ada dua macam jihad, yakni jihad tuntutan dan jihad perlawanan. Tujuan dari kedua macam jihad ini adalah:[3]

  1. Meninggikan kalimatullah, menyampaikan agama-Nya, mengajak manusia kepada agama-Nya, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.  Allah berfirman:

وقتلوهم حتى لاتكون فتنة ويكون الدين لله ….

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah…”(Al-Baqarah: 193)

  1. Menolong orang-orang yang teraniaya. Allah berfirman:

ومالكمل لاتقا تلون في سبيل الله والستضعفين من الرجال والنساء والولدان الذين يقولون ربنا اخرجنا من هذه القر ية الظا لم اهلها واجعل لنا من لدنك وليا واجعل لنامن لد نك نصيرا.

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau” (An-Nisa’:75)

  1. Menghadapi musuh, menjaga dan menegakkan Dinul Islam. Allah berfirman:

….فمن اعتدى عليكم فاعتدواعليه بمثل مااعتدى عليكم واتقواالله واعلمواان الله مع المتقين.

… Karena itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta rang-orang yang beruat baik” (Al-Baqarah: 194)

Hukum Pelaksanaan Jihad

Di dalam agama Islam jihad diwajibkan atas kaum muslimin dalam menghadapi tiga keadaan:

Pertama: Pada saat pasukan muslimin berhadap-hadapan dengan pasukan musuh di medan perang.

Kedua: Jika kafir menduduki negeri Islam, penduduknya wajib berperang melawan mereka.

Ketiga: Jika Imam (Khalifah) telah mengumumkan mobilisasi maka kaum muslimin wajib berperang bersama-sama Imam melawan musuh, sekalipun Imam tidak mengemukakan alasan-alasannya.[4]

Jika kata “jihad” disebut dalam pengertian yang mutlak, maka yang dimaksud adalah jihad dengan tangan (kekuatan). Jihad dengan tangan ini bisa berhukum fardhu ‘ain, bisa juga fardhu kifayah. Kefardhuaanya menjadikan semua yang berkaitan dengannya berhukum fardhu. Latihan jihad itu fardhu, niat jihad itu fardhu dan semua usaha mempersiapkannya juga menjadi fardhu. Kefardhuan tersebut    dibebankan kepada seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan, individu maupun kelompok- dan kadar kefardhuannya pun bervariasi antara seseorang dengan yang lain.[5]

Macam-Macam Jihad

Dilihat dari jenis obyeknya, jihad itu terdiri dari empat tingkatan, yakni: jihad terhadap nafsu, jihad terhadap syaitan, jihad terhadap orang-orang kafir dan munafik serta jihad terhadap orang-orang yang berbuat zhalim, bid’ah serta munkar.

1. Jihad terhadap nafsu

Jihad terhadap nafsu atau memerangi nafsu ini terdiri atas empat cara atau tahapan:

  1. Jihad dengan mempelajari ilmu dan petunjuk, yaitu mempelajari agama yang haq. Seseorang tidak akan dapat mencapai kejayaan, kebahagiaan di dunia dan akhirat melainkan dengan ilmu dan petunjuk. Apabila dia tidak mau mempelajari ilmu yang bermanfaat, maka dia akan celaka dunia dan akhirat
  2. Jihad dengan cara mengamalkan ilmu tersebut. Sebab, jika tidak diamalkan, ilmu tidak akan bermanfaat, bahkan mungkin mendatangkan madlarat.
  3. Jihad dengan cara berdakwah sesuai dengan ilmu yang diamalkan atau mengajarkan sesuatu (ilmu agama) kepada orang yang belum mempelajarinya. Jika tidak, ia termasuk orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah. Maka ilmunya tidak bermanfaat dari siksa Allah swt.
  4. Jihad dengan cara bersabar atas segala kesulitan delam dakwah. Misalnya, sabar terhadap caci maki orang. Hal yang demikian sepenuhnya kita serahkan kepada Allah swt. Sebab, barang siapa yang berilmu dan mengamalkannya disertai dengan sabar, ia akan didoakan para malaikat. Allah berfirman:

 

والعصر. ان الانسان لفي خسر. الاالذين امنواوعملواالصلحت وتوا صوابالحق وتواصواباالصبر.

Artinya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman danmengerjakan ama saleh dan nasihat menasihati kebenaran dan nasihat menasisiahati supaya menetapi kesabaran” (QS. al-Ashr:1-3)

Apabila terpenuhi keempat tingkatan tersebut maka ia akan termasuk sebagai orang yang Rabbani. Maka, para Salafush Shalih bersepakat bahwa seseorang tidak dapat disebut sebagai seorang yang Rabbani sampai ia dapat mengetahui kebenaran, mengamalkannya dan mengajarkannya. Oleh karena itu orang yang berilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya, maka ia akan disanjung di sisi para Malaikat-Nya.

 

2. Jihad terhadap syaitan

Jihad terhadap syaitan ini terdiri atas dua cara, yaitu:

  1. Jihad dengan cara memerangi keraguan dalam iman dan segala bentuk syubhat
  2. Jihad dengan cara memerangi hawa nafsu dan segala keinginan yang merusak.

Jihad pertama dilakukan setelah yakin, sedangkan jihad kedua dilakukan setelah bersabar. Sebagaimana firman Allah:

ليجزي الله الصدقين بصد قهم ويعذب المنفقين ان شاء اويتوب عليهم ان الله كان غفورارحيما.

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” (As Sajdah: 24)

Allah mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama hanya dapat diperoleh dengan sabar dan yakin. Sabar itu akan dapat menolak syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak. Sedangkan yakin akan dapat menolak dari keraguan dan syubhat

 

3. Jihad terhadap orang-orang kafir dan munafik

Jihad ini mempunyai empat cara atau tahapan, yakni:

  1. Dengan hati
  2. Dengan lisan
  3. Dengan harta
  4. Dengan tangan (kekuatan atau kekerasan)

Jihad terhadap orang-orang kafir lebih tepat jika dilakukan dengan menggunakan kekuatan, sedangkan jiha terhadap orang-orang munafik lebih tepat dengan menggunakan lisan.

Allah Ta’ala berfirman:
يا يهاالنبي جا هد الكفا روالمنفقين واغلظ عليهم ومأوهم جهنم وبئس المصير.

Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (At-Taubah: 73)

Jihad melawan orang-orang kafir dibagi menjadi 2 (dua):
a. Jihadul Fat-h wath Thalab (jihad ofensif).

Jihad ini memerlukan terpenuhinya syarat-syarat syar’iyyah (syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syari’at Islam), sebagai berikut:
1. Adanya seorang imam (pemimpin).
2. Ada Daulah (negara).
3. Ada ar-Raayah (bendera jihad).

 

 

 

b. Jihadud Difaa’ (jihad defensif, pembelaan terhadap sebuah negeri Muslim).

Jihad ini hukumnya fardhu ‘ain atas seluruh penduduk negeri yang diserang oleh musuh (agresor). Jika penduduk negeri tersebut lemah, maka mereka harus dibantu oleh penduduk negeri tetangganya yang terdekat.

Membela agama Allah merupakan salah satu faktor terpenting yang dapat mewujudkan kemenangan. Menegakkan Din ini bisa dilakukan melalui perkataan, perbuatan amal saleh ataupun berdakwah. [6]

Firman Allah:

….ولينصرن الله من ينصره ان الله لقوي عزيز. الذين ان مكنهم فى الارض اقامواالصلوة واتوالز كوةوامروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عا قبة الامور

…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (orang-orang yang menolong agama-Nya itu adalah) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Al-Hajj: 40-41)

 

4. Jihad terhadap orang-orang zhalim, pelaku bid’ah dan kemunkaran, serta mereka yang memusuhi

Pada jihad ini terdapat tiga tingkatan:
1. Dengan tangan apabila sanggup.
2. Apabila tidak sanggup maka dengan lisan.
3. Apabila tidak sanggup maka dengan hati.

Sedangkan di dalam buku Jundullah, Tsafaqan wa Akhlaqan, disebutkan bahwa jihad itu ada lima macam, yakni: jihad dengan tangan, jihad dengan lisan, jihad dengan harta, jihad dengan pengajaran dan jihad dengan politik. Jihad dalam berbagai bentuknya itu merupakan jalan untuk melestarikan Islam, serta melangsungkan dan menegakkan kalimat-Nya.[7]

Memberikan sifat kepada orang-orang yang menghidupkan jihad yang wajib -menurut ketentuan syari’at- dengan kata-kata terorisme adalah kesalahan yang besar, fitnah, tuduhan yang tidak benar dan kesalahan yang fatal serta kebodohan yang sangat.

Adapun melakukan kekacauan (anarki), menteror orang, melemparkan bom, bunuh diri dengan bom mobil, menakut-nakuti orang yang aman atau orang-orang yang dijaga keamanannya oleh negara, membunuh anak-anak, wanita dan orang tua dengan nama jihad dari agama ini adalah tidak benar, perbuatan ini menentang Allah ar-Rafiiq, Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Mukminin. Mereka telah keluar dari jalannya ulama yang pemahaman ilmunya sangat mendalam.

 

Keutamaan Pelaksanaan Jihad

Keutamaan jihad sangat banyak sekali, di antaranya adalah:

1. Geraknya mujahid (orang yang berjihad di jalan Allah) di medan perang itu diberikan pahala oleh Allah.

2. Jihad adalah perdagangan yang untung dan tidak pernah rugi.

3. Jihad lebih utama daripada meramaikan Masjidil Haram dan memberikan minum kepada jama’ah haji.

4. Jihad merupakan satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid).

5. Jihad adalah jalan menuju Surga.

6. Orang yang berjihad, meskipun dia sudah mati syahid namun ia tetap hidup dan diberikan rizki.

7. Orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa tidak berbuka dan melakukan shalat malam terus-menerus.

8. Sesungguhnya Surga memiliki 100 tingkatan yang disediakan Allah untuk orang yang berjihad di jalan-Nya. Antara satu tingkat dengan yang lainnya berjarak seperti langit dan bumi.

9. Surga di bawah naungan pedang.

 

10. Orang yang mati syahid mempunyai 6 keutamaan:

a. diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama,

b. dapat melihat tempatnya di Surga,

c. akan dilindungi dari adzab kubur,

d. diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat,

e. diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari,

f. dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya.

11. Orang yang pergi berjihad di jalan Allah itu lebih baik dari dunia dan seisinya.

12. Orang yang mati syahid, ruhnya berada di qindil (lampu/ lentera) yang berada di Surga.

13. Orang yang mati syahid diampunkan seluruh dosanya kecuali hutang.

 

 

PENUTUP

SARAN

Jihad sesungguhnya memiliki maknanya luas. Namun dalam memahaminya harus didasarkan kepada esensi dari jihad itu sendiri yaitu bersungguh-sungguh. Di masa sulit seperti saat ini alangkah baiknya bila kita lebih mengedepankan jihad terhadap hawa nafsu dengan kemampuan kita masing-masing. Dengan begitu kita bias lebih menginstropeksi diri kita untuk berbuat sesuatu yang lebih baik, bagi diri sendiri, bagi agama dan bagi masyarakat.

KRITIK

Bagi kaum awwam, pemaknaan Jihad yang tidak dapat dimengerti secara luas dapat menciptakan pemikiran baru yang nantinya memberikan pemahaman yang salah. Pada umumnya orang-orang yang mengikuti ajaran baru atau menerima begitu saja ajaran yang telah disampaikan kepada mereka, hanya tahu tentang sekilas ajaran itu tanpa mencoba mengkaji lebih lanjut ajaran itu. Kesalahpahaman dalam penafsiran ini yang menimbulkan jihad disama artikan dengan terorisme.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad. 1993. Islam dari Masa ke Masa. Bandung: Rosdakarya,

Amstrong, Amatullah. 2001. Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Bandung: Mizan

Said Hawwa. 1999. Membina Angkatan Mujtahid, Studi Analisis atas Konsep Dakwah Hasan Al-Banna dalam Risalah Ta’lim. Solo: Intermedia

Said bin Ali Al Qahthani. 1994. Dakwah Islam Dakwah Bijak, Jakarta: Gema Insani Press


[1] Ahmad Amin. Islam dari Masa ke Masa. Bandung: Rosdakarya, 1993, hal. 33

[2] Amatullah Amstrong. Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Bandung: Mizan, 2001, hal. 133

[3] Said bin Ali Al Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Jakarta: Gema Insani Press, 1994, hal. 392

[4] Ahmad Amin. Op.Cit, hal. 33-34

[5] Said Hawwa. Membina Angkatan Mujtahid, Studi Analisis atas Konsep Dakwah Hasan Al-Banna dalam Risalah Ta’lim. Solo: Intermedia, 1999, hal. 169

[6] Said bin Ali Al Qahthani, Op.Cit, hal. 405

[7] Said Hawwa. Op.Cit, hal. 169

 


AYAT MANTUQ DAN AYAT MAFHUM AYAT MUJMAL DAN AYAT MUBAYYAN

Abstark

Hubungan antara hukum Islam atau fiqih Islam dengan pengetahuan bahasa Arab merupakan hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Alasannya sangat jelas. Karena sumber pokok dari hukum Islam itu adalah Al-Qur’an dan Hadits yang nota bene memakai atau menggunakan bahasa Arab standar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab atau ilmu nahwu dan sharaf. Kalau kita menengok kepada lafadz-lafadz yang digunakan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan dalam Hadits Nabi, maka dapat disimpulkan bahwa diantara lafadz yang digunakan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tersebut ada lafadz yang jelas penunjukan atau pengertian atau maknanya. Di samping itu ada pula lafadz yang tidak jelas atau samar maknanya. Diantara yang tidak jelas maknanya itu ada yang disebut dengan Ayat Mujmal yang berlawanan dengan Ayat Mubayyan. Pembahasan tentang Mujmal dan Mubayyan ini sangat membantu dalam pemahaman terhadap maksud atau makna dari suatu ayat Al-Qur’an atau suatu Hadits Nabi. Ada juga lafadz Al-Qur’an yang apabila ditinjau dari segi dilalah (penunjukkan) terhadap hukumnya bisa dipahami langsung dari lafal yang tertulis yang biasa disebut dengan Ayat Mantuq, ada juga lafadz Al-Qur’an yang bisa dipahami dari sesuatu yang ditunjuk oleh lafadz, tetapi bukan dari ucapan lafadz itu sendiri yang biasa disebut dengan Ayat Mafhum.

Kata Kunci : Ayat Mantuq, Ayat Mafhum, Ayat Mujmal, Ayat Mubayyan

Pendahuluan

Ketika kita berbicara mengenai ayat-ayat yang terkandung di dalam Al-Qur’an, sebenarnya dari semua ayat yang ada didalam Al-Qur’an tersebut tidak semuanya memberikan arti/pemahaman yang jelas terhadap kita. Jika kita mau telusuri, ternyata banyak sekali ayat-ayat yang masih butuh penjelasan yang lebih mendalam mengenai hukum yang tersimpan dalam ayat tersebut.

Ayat Mantuq adalah  salah satu ayat yang hukumnya sudah memuat apa yang diucapkan (makna tersurat), akan tetapi ada Ayat Mafhum yang mana ayat tersebut hukumnya terkandung dalam arti dibalik manthuq (makna tersirat). Menurut kitab mabadiulawwaliyah, mantuq adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadz dalam tempat pengucapan, sedangkan mafhum adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam tempat pengucapan.

Ini menunjukkan bahwa ternyata ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak hanya memberikan pemahaman secara langsung dan jelas, tetapi ada ayat yang maknanya tersirat didalam ayat tersebut. Begitu juga dengan ayat Mujmal, yang mana ayat ini belum jelas maksudnya, apabila tidak ada keterangan lain yang menjelaskannya. Dan ayat ini berlawanan dengan ayat mubayyan.

Oleh karena itu, agar kita semua dapat memahami dan mengetahui hukum/makna yang terdapat didalam ayat-ayat Al-Qur’an, penulis akan memaparkan sedikit penjelasan mengenai pengertian, pembagian sampai contoh dari ayat-ayat tersebut.

Lafal dari Segi Dilalah (Penunjukkan) Terhadap Hukum

Lafal Mantuq

  1. Pengertian Lafal Mantuq

Kata mantuq secara bahasa berarti sesuatu yang ditunjukkan oleh lafal ketika diucapkan. Secara istilah dilalah mantuq adalah : (Wahbah al-Zuhaili, 2001 : 360)

دلالة المنطوق هي دلالة اللفظ على حكم شيئ مذ كور في الكلم

“Dilalah mantuq adalah penunjukkan lafal terhadap hukum sesuatu yang disebutkan dalam pembicaraan (lafal)”.

Dari definisi ini diketahui bahwa apabila suatu hukum dipahami langsung lafal yang tertulis, maka cara seperti ini disebut pemahaman secara mantuq. Misalnya, hukum yang dipahami langsung dari teks firman Allah pada S. Al-Isra’ : 23 yang berbunyi :

فلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka”.

Dengan menggunakan pemahaman secara mantuq ayat ini menunjukkan haramnya mengucapkan kata “ah” dan membentak kedua orang tua. Larangan atau haramnya hal tersebut langsung tertulis dan ditunjukkan dalam ayat ini.

Para ahli ushul fiqh membagi mantuq kepada dua macam, yaitu mantuq sharih dan mantuq ghairu sharih. Mantuq sharih secara bahasa berarti sesuatu yang diucapkan secara tegas. Adapun definisi mantuq sharih secara istilah adalah:

المنطوق الصريح هوما وضغ اللفظ له فيد ل عليه بالمطابقة او بالتضمن

“Mantuq sharih adalah makna yang secara tegas yang ditunjukkan suatu lafal sesuai dengan penciptaannya, baik secara penuh atau berupa bagiannya”. (Mushtafa Said al-Khain, 2001 : 139)

Untuk memahami definisi ini dengan baik perlu dikemukakan contoh penggunaan dilalah mantuq sharih pada firman Allah S. Al-Baqarah : 175 yang berbunyi :

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Ayat ini menunjukkan secara jelas dan tegas melalui mantuq sharih tentang kehalalan jual beli dan keharaman riba.

Adapun mantuq ghairu sharih adalah :

المنطوق غير صريح هو مالم يوضع اللفظ له بل هولا زم لما وضع

“Mantuq ghairu sharih adalah pengertian yang ditarik bukan dari makna asli dari suatu lafal, sebagai konsekuensi dari suatu ucapan”. (Mushtafa Said al-Khain, 2001 : 139)

Dari definisi ini jelas bahwa apabila penunjukkan suatu hukum didasarkan pada konsekuensi dari suatu ucapan (lafal), bukan ditunjukkan secara tegas oleh suatu lafal sejak penciptaannya, baik secara penuh atau bagiannya disebut dilalah mantuq ghairu sharih. (Firdaus, 2008 : 172). Misalnya, firman Allah S. Al-Baqarah : 233 yang berbunyi :

’n?tãur ϊqä9öqpRùQ$# ¼ã&s! £`ßgè%ø—Í‘ £`åkèEuqó¡Ï.ur Å$rã÷èpRùQ$$Î/

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”.

Dari ayat ini dipahami bahwa nasab seorang anak dihubungkan kepada bapak bukan kepada ibu karena tanggung jawab nafkah anak berada di tangan bapak. Kesimpulan seperti ini diambil dengan cara mantuq ghairu sharih dari ayat di atas.

Dilalah mantuq ghairu sharih sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yaitu dilalah iqtidha’, dilalah ima’ dan dilalah isyarat. (Mushtafa Said al-Khain, 2001 : 139)

a) Dilalah Iqtidha’

Adapun yang dimaksud dengan dilalah iqtidha’ adalah :

دلالة الاقتضاء هى دلالة اللفظ على ما يكون مقصودا للمتكلم و يتوقف عليه صدق الكلام او صحته عقلا او سرعا

“Dilalah iqtidha’ adalah pengertian yang dimaksudkan oleh pembicara dan kebenaran atau ketepatan pengertian ucapan itu bergantung pada akal atau syara’. (Firdaus, 2008 : 172)

Definisi ini mengisyaratkan bahwa untuk memahami dilalah iqtidha’ diperlukan pengertian kata yang disisipkan secara tersirat dalam pemahaman (akal) untuk memudahkan memahami suatu redaksi. Tanpa pengertian kata yang disisipkan tersebut agak sulit memahami sebuah redaksi secara apa adanya. Misalnya, firman Allah dalam S. Al-Baqarah : 184 yang berbunyi :

`yJsù šc%x. Nä3ZÏB $³ÒƒÍ£D ÷rr& 4’n?tã 9xÿy™ ×o£‰Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé&

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak tiga hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.

Untuk dapat memahami ayat ini secara benar perlu disisipkan kata aftara setelah kata safarin. Dengan demikian, ayat ini menjelaskan bahwa siapa yang sakit atau berada dalam perjalanan, lalu ia berbuka puasa (tidak berpuasa) pada siang Ramadhan, maka hendaklah ia mengganti puasa yang ditinggalkan tersebut pada hari yang lain.

b) Dilalah Ima’

Untuk memahami dilalah ima’ dapat diamati dari definisi yang dikemukakan para ahli ushul fiqh berikut :

دلالة الايماء هى دلالة اللفظ على لازم مقصود للمتكلم لا يتوقف عليه صدق الكلام او صحته عقلا او سرعا بسبب اقتران الحكم بوصف

“Dilalah ima’ adalah pengertian yang lazim menjadi maksud pembicara, dimana kebenaran atau ketepatan pengertian ucapan itu tidak bergantung pada akal atau syara’ karena penyebutan suatu hukum sesudah menyebutkan suatu sifat”. (Firdaus, 2008 : 173)

Penerapan dilalah ima’ dapat diamati dari firman Allah S. Al-Maidah : 38 yang berbunyi :

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah”.

Perintah memotong tangan yang terdapat dalam ayat ini terkait dengan sifat yang disebutkan pada ayat ini, yaitu pencurian.

c) Dilalah Isyarat

Ahli ushul fiqh mendefinisikan dilalah isyarat adalah :

دلالة الاشارة هي دلالة اللفظ على لازم غير مقصود للمتكلم

“Suatu pengertian yang ditunjukkan suatu redaksi yang bukan maksud asli dari pembicara” . (Firdaus, 2008 : 174)

Definisi ini menjelaskan bahwa suatu redaksi menunjukkan suatu pengertian, tetapi bukan pengertian aslinya melainkan suatu konsekuensi hukum yang ditunjukkan redaksi itu. Karena erat kaitannya dengan hukum yang jelas dalam mantuq, maka hukum yang diambil dari dilalah isyarat dipandang sebagai hukum yang ditunjuk oleh matuq secara tidak tegas.

Penerapan dilalah isyarat dapat diamati dari kasus berikut. Dalam S. Al-Ahkaaf : 15 yang berbunyi :

$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ $·Z»|¡ômÎ) ( çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $\döä. çm÷Gyè|Êurur $\döä. ( ¼çmè=÷Hxqur ¼çmè=»|ÁÏùur tbqèW»n=rO #·öky­ 4

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”.

Dalam S. Luqman : 14 yang berbunyi :

$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”.

Mantuq yang terdapat dalam S. Al-Ahkaaf : 15 menegaskan bahwa jumlah masa kandungan dan menyusukan anak selama 30 bulan. Sedangkan pada S. Luqman : 14 menjelaskan masa menyusukan anak selama dua tahun atau dua puluh empat bulan. Dari kedua ayat ini dapat digunakan dilalah isyarat, yaitu sisa waktu selama enam ulan adalah minimal dalam kandungan. Masa minimal kandungan selama enam bulan bukan dimaksudkan oleh turunnya kedua ayat tersebut, tetapi merupakan konsekuensi logis dari ketegasan kedua ayat itu.

 

  1. Pembagian Mantuq

Mantuq terbagi menjadi dua, yaitu : (Saiful Hadi, 2009 : 121)

1)      Nash, yaitu suatu perkataan yang jelas dan tidak mungkin di ta’wilkan lagi. Seperti firman Allah SWT :

`yJsù óO©9 ô‰Ågs† ãP$u‹ÅÁsù ÏpsW»n=rO 5Q$­ƒr&

“Maka hendaklah puasa tiga hari” (S. Al-Maidah : 89)

2)      Zhahir, yaitu suatu perkataan yang menunjukkan sesuatu makna, bukan yang dimaksud dan menghendaki kepada penta’wilan. Seperti firman Allah SWT :

4’s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u‘ rèŒ È@»n=pgø:$# Q#tø.M}$#ur ÇËÐÈ

“Dan kekal wajah tuhan engkau” (Q. S. Ar-Rahman : 27)

Wajah dalam ayat diartikan dengan dzat, karena mustahil bagi Allah mempunyai wajah

 

Lafal Mafhum

  1. Pengertian Mafhum

Pengertian Mafhum secara bahasa adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lafadz, tetapi bukan dari ucapan lafadz itu sendiri. (A. Hanafie MA, 1961 : 74)

Para ahli ushul fiqh mendefinisikan mafhum sebagai berikut :

المفهوم مادل عليه اللفظ لا في محل النطق و بعبارة اخرى هو دلالة اللفظ على حكم شىئ لم يذكر في الكلام او هو اثبات نقيض حكم المنطوق للمسكوت عنه

“Mafhum adalah penunjukkan lafal yang tidak diucapkan atau dengan kata lain penunjukkan lafal terhadap suatu hukum yang tidak disebutkan atau menetapkan pengertian kebalikan dari pengertian lafal yang diucapkan (bagi sesuatu yang tidak diucapkan)”. (Wahbah al-Zuhaili, 2001 : 361)

Seperti firman Allah SWT :

 

فلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka” (Q. S. Al-Isra’ : 23)

 

Secara mantuq, hukum yang dapat ditarik dari ayat ini adalah haramnya mengucapkan kata “ah” dan menghardik orang tua. Dari ayat ini dapat juga digunakan mafhum, dimana melaluinya dapat diketahui haram hukumnya memukul orang tua dan segala bentuk perbuatan yang menyakiti keduanya.

  1. Pembagian Mafhum

Mafhum juga dapat dibedakan kepada 2 bagian :

  1. Mafhum Muwafaqah, yaitu pengertian yang dipahami sesuatu menurut ucapan lafadz yang disebutkan. Menurut para ahli usul fiqh mafhum muwafaqah adalah penunjukkan hukum yang tidak disebutkan untuk memperkuat hukum yang disebutkan karena terdapat kesamaan antara keduanya dalam meniadakan atau menetapkan (Mushtafa Said al-Khain, 2001 : 143). Mafhum Muwafaqah dapat dibagi kepada :
    1. Fahwal Khitab, yaitu apabila yang dipahamkan lebih utama hukumnya daripada yang diucapkan. Seperti memukul orang tua lebih tidak boleh hukumnya, firman Allah yang berbunyi :

Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka” (Q. S. Al-Isra’ : 23).

Sedangkan kata-kata yang keji saja tidak boleh (dilarang) apalagi memukulnya.

  1. Lahnal Khitab, yaitu apabila yang tidak diucapkan sama hukumnya dengan yang diucapkan, seperti firman Allah SWT :

¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ tAºuqøBr& 4’yJ»tGuŠø9$# $¸Jù=àß $yJ¯RÎ) tbqè=à2ù’tƒ ’Îû öNÎgÏRqäÜç/ #Y‘$tR

”Mereka yang memakan harta benda anak yatim secara aniaya sebenarnya memakan api ke dalam perut mereka” (Q. S. An-Nisa’ : 10)

Membakar atau setiap cara yang menghabiskan harta anak yatim sama hukumnya dengan memakan harta dilarang (haram)

  1. Mafhum Mukhalafah, yaitu pengertian yang dipahami berbeda daripada ucapan, baik dalam istinbat (menetapkan) maupun Nafi’ (meniadakan). Oleh sebab itu hal yang dipahami selalu kebalikannya daripada bunyi lafadz yang diucapkan. Seperti firman Allah SWT :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) š”ÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó™$$sù 4’n<Î) ̍ø.ό «!$# (#râ‘sŒur yìø‹t7ø9$#

“Apabila kamu dipanggil untuk mengerjakan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengerjakannya dan tinggalkanlah jual beli” (Q. S. Jum’at : 9)

Dipahami dari ayat ini bahwa boleh jual beli di hari Jum’at sebelum azan si Mu’azin dan sesudah mengerjakan sholat. Dinamakan juga Mafhum Mukhalafah ini Dalil Khitab.

Mafhum mukhalafah terdiri dari beberapa bagian, diantaranya : (A. Hanafie M.A, 1961 : 80 – 81)

  1. Mafhum al-Sifat, adalah penunjukkan suatu lafal yang terkait dengan suatu sifat terhadap kebalikan hukumnya ketika tiada sifat tersebut. Misalnya, firman Allah S. An-Nisa’ : 25 yang berbunyi :

`tBur öN©9 ôìÏÜtGó¡o„ öNä3ZÏB »wöqsÛ br& yxÅ6Ztƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$# `ÏJsù $¨B ôMs3n=tB Nä3ãZ»yJ÷ƒr& `ÏiB ãNä3ÏG»uŠtGsù ÏM»oYÏB÷sßJø9$#

“Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanitamerdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki.”

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang laki-laki mukmin boleh menikahi budak perempuan yang beriman ketika tidak mampu menikahi perempuan beriman yang merdeka. Melalui mafhum mukhalafah diketahui haramnya menikahi budak perempuan yang tidak beriman.

  1. Mafhum ‘Illat, yaitu menghubungkan hukum sesuatu menurut ‘illatnya. Seperti mengharamkan minuman keras karena memabukkan.
  2. Mafhum al-Adad, yaitu memperhubungkan hukum sesuatu kepada bilangan yang tertentu. Seperti firman Allah SWT :

tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù’tƒ Ïpyèt/ö‘r’Î/ uä!#y‰pkà­ óOèdr߉Î=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_

“Orang-orang menuduh perempuan-perempuan baik berbuat curang (zina), kemudian tidak mereka datangkan 4 orang saksi, maka pukullah mereka 80 kali pukulan” (Q. S. An-Nur : 4)

Berdasarkan ayat ini, hukuman bagi orang yang menuduh wanita baik-baik melakukan zina, sementara ia tidak mampu menghadirkan empat orang saksi adalah dipukul sebanyak 80 kali. Dalam hal ini, tidak boleh mengurangi dan menambah hukuman pukulan dari 80 kali.

  1. Mafhum Ghayah, yaitu lafadz yang menunjukkan hukum sampai kepada ghayah (batasan/hinggaan), hingga lafadz ghayah ini adakalanya dengan “ilaa” dan dengan “hatta”. Seperti firman Allah SWT :

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$#

“Bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai kepada dua mata siku” (Q. S. Al-Maidah : 6) atau firman Allah SWT :

Ÿwur £`èdqç/tø)s? 4Ó®Lym tbößgôÜtƒ

“Dan jangan kamu dekati istri-istrimu hingga mereka itu suci” (Q. S. Al-Baqarah : 222)

  1. Mafhum had, yaitu menentukan hukum dengan disebutkan suatu adat di antara adat-adatnya. Seperti firman Allah SWT :

@è% Hw ߉É`r& ’Îû !$tB zÓÇrré& ¥’n<Î) $·B§ptèC 4’n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB ÷rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B ÷rr& zNóss9 9ƒÍ”\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_͑ ÷rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ΎötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ 4

“Katakanlah, tidak saya peroleh di dalam wahyu yang diturunkan kepada saya, akan suatu makanan yang haram atas orang memakannya, kecuali bangkai, darah yang mengalir dan daging babi; karena ia barang yang keji atau fasiq, yaitu binatang yang disembelih dengan tidak atas nama Allah” (Q. S. Al-An’am :145).

  1. Mafhum al-Laqab, yaitu meniadakan berlakunya suatu hukum yang terkait dengan suatu lafal terhadap orang lain dan menetapkan hukum itu berlaku untuk nama atau sebutan tertentu (Hasballah, 2001 : 250). Misalnya, firman Allah dalam S. Yusuf : 4 yang berbunyi :

øŒÎ) tA$s% ß#ߙqムÏm‹Î/L{ ÏMt/r’¯»tƒ ’ÎoTÎ) àM÷ƒr&u‘ y‰tnr& uŽ|³tã $Y6x.öqx. }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur öNåkçJ÷ƒr&u‘ ’Í< šúïωÉf»y™

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud padaku.”

Dari ayat ini dipahami bahwa ucapan tersebut hanya terkait dengan Nabi Yusuf karena tidak ada kaitannya dengan orang lain.

  1. Mafhum al-Syarat, ialah menetapkan kebalikan hukum yang terkait dengan syarat ketika syarat tersebut tidak ada (Hasballah, 2001 : 251). Misalnya, firman Allah dalam S. Talaq : 6 yang berbunyi :

bÎ)ur £`ä. ÏM»s9′ré& 9@÷Hxq (#qà)ÏÿRr’sù £`ÍköŽn=tã 4Ó®Lym z`÷èŸÒtƒ £`ßgn=÷Hxq 4

“Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.”

Ayat ini menegaskan adanya kewajiban suami memberi nafkah terhadap isterinya yang ditalak bain dalam keadaan hamil. Secara mafhum mukhalafah, suami tidak berkewajiban memberi nafkah terhadap isterinya yang telah ditalak yang tidak dalam keadaan hamil.

  1. Syarat-Syarat Mafhum Mukhalafah

Syarat-syarat sahnya mafhum mukhalafah, seperti yang dikemukakan oleh A. Hanafie dalam bukunya Ushul Fiqh diperlukan empat syarat,yaitu sebagai berikut :

1)      Mafhum mukhalafah tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat, baik dalil mantuq mapun mafhum muwafaqah.

ü  Contoh yang berlawanan dengan dalil mantuq :

Ÿwur (#þqè=çGø)s? öNä.y‰»s9÷rr& spu‹ô±yz 9,»n=øBÎ)

“Jangan kamu bunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan” (Q. S. Isra’ : 31)

Mafhumnya, kalu bukan karena takut kemiskinan dibunuh, tetapi mafhum mukhalafah ini berlawanan dengan dalil mantuq, yaitu :

Ÿwur (#qè=çFø)s? }§øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/

“Jangan kamu membunuh manusia yang dilarang Allah kecuali dengan kebenaran” (Q. S. Isra’ :33)

ü  Contoh yang berlawanan dengan mafhum muwafaqah :

Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ

“Janganlah engkau mengeluarkan kata yang kasar kepada orang tua, dan jangan pula engkau hardik” (Q. S. Isra’ : 23)

Yang disebutkan, hanya kata-kata yang kasar mafhum mukhalafahnya boleh memukuli. Tetapi mafhum ini berlawanan dengan mafhum muwafaqahnya, yaitu tidak boleh memukuli.

2)      Yang disebutkan (mantuq) bukan suatu hal yang biasanya terjadi. Contoh :

ãNà6ç6Í´¯»t/u‘ur ÓÉL»©9$# ’Îû Nà2͑qàfãm

“Dan anak tirimu yang ada dalam pemeliharaanmu” (Q. S. An-Nisa’ :23)

Dan perkataan “yang ada dalam pemeliharaanmu” tidak boleh dipahamkan bahwa yang tidak ada dalam pemeliharaanmu boleh dikawini. Perkataan itu disebutkan, sebab memang biasanya anak tiri dipelihara ayah tiri karena mengikuti ibunya.

3)   Yang disebutkan (mantuq) bukan dimaksudkan untuk menguatkan sesuatu keadaan. Contoh:

المسلم من سلم المسلمون من يديه ولسانه

“Orang Islam ialah orang yang tidak mengganggu orang-orang Islam lainnya, baik dengan  tangan ataupun dengan lisannya” (Hadits)

Dengan perkataan “orang-orang Islam (Muslimin)” tidak dipahamkan bahwa orang-orang yang bukan Islam boleh diganggu. Sebab dengan pekataan tersebut dimaksudkan, alangkah pentingnya hidup rukun dan damai di antara orang-orang Islam sendiri.

4)      Yang disebutkan (mantuq) harus berdiri sendiri, tidak mengikuti kepada yang lain. Contoh :

Ÿwur  ÆèdrçŽÅ³»t7è? óOçFRr&ur tbqàÿÅ3»t㠒Îû ωÉf»|¡yJø9$#

“Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) padahal kamu sedang ber’itikaf di masjid” (Q. S. Al-Baqarah : 187)

Tidak dapat dipahamkan, kalau tidak ber’itikaf di masjid, boleh mencampuri.

 

  1. 4. Kehujjahan Dalil Mafhum

“Mafhum muwafaqah bisa menjadi hujjah”. Hampir semua ulama berpendirian demikian, kecuali golongan zhahiriyah. “Semua mafhum nmukhalafah bisa menjadi hujjah, kecuali mfhum laqaab”. Demikianlah pendapat kebanyakan ulama ushul. Mengkhususkan sesuatu untuk disebut tentulah ada faedahnya. Kalau tidak demikian apa perlunya disebutkan? Juga dapat kita ketahui dari bahasa Arab, bahwa pabila sesuatu mempunyai dua sifat dan yang disebutkan hanya salah satunya, maka yang dikehendaki, ialah sifat yang disebutkan bukan sifat lainnya. Berlainan dengan pendapat tersebut, maka Abu Hanifah dan Ibnu Hazm dari golongan zhahiriyah mengatakan, bahwa semua mafhum mukhalafah tidak bisa menjadi hujjah (pegangan). Menyebutkan salah satu sifat, tidak berarti meniadakan sifat-sifat lainnya. (A. Hanafie MA, 1961 : 81 – 82)

Lafal  Mujmal dan Mubayyan

Lafal Mujmal

  1. 1. Pengertian Mujmal

Secara etimologi, kata mujmal berarti sesuatu yang diragukan. Secara istilah, para ahli ushul fiqh mendefinisikan mujmal dalam berbagai macam. Imam sarakhasi mendefinisikan mujmal sebagai berikut :

المجمل هو لفظ لا يفهم ا لمراد منه الا با ستفسار من ا لمجمل و بيان من جهته يعرف به المراد

Mujmal adalah suatu lafal yang tidak dapat dipahami maksudnya kecuali ada penjelasan dari yang mengeluarkan lafal mujmal itu dan melalui penjelasannya diketahui maksud lafal tersebut. (Abi Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahal Al-Sarakhasi, 1973 : 168)

Wahbah Al-Zuhaili mendefinisikan mujmal dengan :

المجمل هو اللفظ الذي خفي المراد منه بنفسه اللفظ خفاء لا يدرك الا ببيان من المتكلم به

Mujmal adalah lafal yang sulit dipahami maksudnya kecuali melalui penjelasan dari mutakallim (orang yang mengucapkan). (Wahbah Al-Zuhaili, 2001 : 340)

Sedangkan Jalaluddin Abd Al-Rahman mendefinisikan mujmal sebagai :

المجمل هو ماله د لالة غير واضحة

Mujmal adalah lafal yang dilalahnya tidak jelas. (Jalaluddin Abd Al-Rahman, 2003 : 12)

Dari beberapa definisi mujmal di atas dipahami bahwa mujmal merupakan suatu lafal yang sulit dipahami kecuali ada penjelasan langsung dari yang menyampaikan lafal tersebut. Kesulitan memahami lafal ini bukan berasal dari luarnya, tetapi dari lafal itu sendiri. Untuk dapat memahami lafal mujmal sangat bergantung pada penjelasan mutakallim atau Syari’ yang menyampaikan lafal tersebut. (Firdaus, 2008 : 162)

Ada beberapa sebab suatu lafal disebut mujmal, yaitu :

1)      Lafal yang mempunyai makna musytarak tanpa diiringi oleh indikator (qarinah) sehingga sulit untuk mengetahui makna yang paling terkuat diantaranya. Misalnya, lafal quru’ dalam firman Allah S. Al-Baqarah : 228 yang berbunyi :

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spsW»n=rO &äÿrãè%

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’”.

Lafal quru’ ini secara bahasa berarti suci dan haid. Imam Syafi’i berpendapat bahwa lafal quru’ berarti suci, sedangkan imam Abu Hanifah berpendapat bahwa quru’ berarti haid. (Saiful Hadi, 2009 : 69)

2)      Suatu lafal yang maknanya secara bahasa aneh atau ganjil, seperti kata (هلوع) pada firman Allah S. Al-Ma’arij :19 – 21 yang berbunyi :

* ¨bÎ) z`»|¡SM}$# t,Î=äz %·æqè=yd ÇÊÒÈ #sŒÎ) çm¡¡tB •Ž¤³9$# $Yãrâ“y_ ÇËÉÈ #sŒÎ)ur çm¡¡tB çŽösƒø:$# $¸ãqãZtB ÇËÊÈ

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.

Kata (هلوع) dalam ayat 19 S. Al-Ma’arij ini sulit dipahami sampai Allah menjelaskan pada ayat 20 dan 21 pada surat yang sama.

3)      Pemindahan lafal dari makna kebahasaan menuju makna secara istilah atau menurut syara’, seperti lafal shalat, zakat, puasa, dan haji. Sehubungan dengan ini, Sunnah dating menjelaskan makna secara syara’ dari lafal-lafal ini. Apabila tidak ada penjelasan Syari’ tentang makna lafal-lafal ini, maka tidak mungkin mengetahui makna lafal tersebut secara syara’ sebagaimana yang diinginkan oleh Syari’.

  1. 2. Bentuk Lafadz Mujmal

Lafadz yang mujmal mempunyai dua bentuk : (M. Umar, 1983 : 301)

1)      Bentuk Al-Ifrod yang terdiri dari satu lafadz. Bentuk Al-Ifrod itu dapat terjadi karena :

  • Satu lafadz mempunyai beberapa arti (musytarak) seperti lafadz quru’ dapat berarti haid dan dapat pula berarti suci
  • Pengambilan kata-kata (etimologis) seperti qoola dapat berarti perkataan kalau diambil dari kata qaulun dan dapat berarti tidur siang kalau diambil dari kata-kata qailulah
  • Lafadz yang digunakan untuk menunjukkan istilah syara’ tertentu seperti lafadz shalat, zakat, puasa, dan sebagainya.

Bentuk Al-Ifrod itu dapat pula berupa :

  • Isim seperti lafadz laun dapat berarti hitam atau putih, lafadz Nashil dapat berarti dahaga atau segar.
  • Fiil seperti lafadz ‘as’asa dapat berarti menghadap atau membelakangi
  • Hukum seperi huruf wawu dapat berfungsi sebagai athaf (kata hubung) atau isti’naf (permulaan kata) atau berfungsi sebagai hal. Huruf ilaa dapat menunjukkan ghaya (batas = sampai) dapat berarti ma’a (beserta)

2)      Bentuk At-Tarkib yakni susunan kalimat dari beberapa lafadz yang merupakan rangkaian satu kalimat yang tak dapat dipisah-pisahkan, seperti firman Allah S. Al-Baqarah : 237 yang berbunyi :

÷rr& (#uqàÿ÷ètƒ “Ï%©!$# ¾Ínωu‹Î/ äoy‰ø)ãã Çy%s3ÏiZ9$# 4

“Atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah”

Di dalam ayat di atas masih berbentuk ijmal karena kalimat “orang yang memegang ikatan nikah”, itu dapat berarti “suami” dan dapat pula berarti “wali”.

Untuk menentukan siapa di antara keduanya yang dimaafkan itu perlu bayan, yaitu sebagaimana yang diterangkan selanjutnya dalam ayat 237 S. Al-Baqarah tersebut.

  1. 3. Hukum Mujmal

Terhadap lafal yang mujmal perlu tawaqquf untuk mengetahui maksudnya. Lafal ini tidak dapat diamalkan sampai dating penjelasan dari Syari’ tentang maksudnya. Apabila penjelasan dari Syari’ terhadap lafal mujmal cukup jelas, maka lafal mujmal berubah menjadi lafal mufassar sehingga hukum yang dikandungnya harus diambil, seperti penjelasan Syari’ tentang lafal shalat, zakat dan haji.

Apabila penjelasan lafal mujmal oleh Syari’ tidak begitu jelas, maka lafal mujmal berada pada posisi lafal musykil dan hukumnya tetap diambil. Dalam hal ini, mujtahid berupaya kuat untuk menghilangkan kemusykilan yang terdapat dalam lafal tersebut dengan tidak bergantung pada penjelasan baru dari Syari’. Misalnya, lafal riba pada firman Allah S. Al-Baqarah : 275 yang berbunyi :

¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$#

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Menurut Abu Hanifah, lafal riba yang terdapat dalam ayat ini mujmal karena riba secara bahasa berarti tambahan. Sebagaimana yang diketahui bahwa tidak semua tambahan termasuk riba. Jual beli yang disyariatkan Islam bertujuan untuk memperoleh keuntungan dan tambahan. Namun, yang dilarang dalam Islam adalah memperoleh tambahan dalam sebuah transaksi tanpa ada pengganti yang disyariatkan ketika transaksi berlangsung. Untuk menentukan suatu transaksi termasuk riba atau tidak perlu didukung oleh penjelasan Syari’. Dalam hal ini, Nabi SAW hanya menjelaskan enam jenis barang yang termasuk riba, yaitu emas, perak, gandum, jelai, korma, dan garam. (HR. Bukhari).

Untuk itu, para ulama boleh melakukan ijtihad menentukan jenis barang lain yang termasuk riba dengan mengqiyaskan kepada enam jenis barang yang disebutkan dalam hadits ini. (Zaidan, 2003 : 352 – 353)

 

 

 

Lafal Mubayyan

  1. Pengertian dan Pembagian Mubayyan

Secara etimologi, kata mubayyan seakar dengan kata bayan yang berarti jelas atau terang. Kata bayan dapat pula berarti mengeluarkan lafadz mujmal dari keadaan yang sulit dipahami agar jelas dan mudah untuk dipahami. (Saiful Hadi, 2001 : 70)

Istilah mubayyan adalah lawan dari mujmal. Secara istilah, para ahli ushul fiqh mendefinisikan mubayyan sebagai berikut :

المبين ما اتضحت دلا لته بالنسبة الى معنا ها

“Mubayyan adalah suatu lafal yang dilalahnya telah jelas dengan memperhatikan maknanya”. (Firdaus, 2008 : 165)

 

Dilihat dari segi kejelasan maknanya, mubayyan terbagi menjadi dua bentuk.

1)      Al-wadih bi Nafsihi, yaitu lafal yang telah jelas maknanya sejak awal penggunaannya sehingga tidak membutuhkan penjelasan dari lafal lain. Kejelasan lafal ini diketahui melalui pendekatan bahasa, seperti firman Allah SWT dalam S. Al-Baqarah : 282 yang berbunyi :

ª!$#ur Èe@à6Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇËÑËÈ

“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

Makna yang terkandung dalam ayat ini dapat dipahami dengan mudah dengan melihat penggunaan bahasanya.

Selain itu, kejelasan lafal dapat diketahui dengan menggunakan akal, seperti firman Allah SWT dalam S. Yusuf : 82 yang berbunyi :

È@t«ó™ur sptƒös)ø9$# ÓÉL©9$# $¨Zà2 $pkŽÏù uŽÏèø9$#ur ûÓÉL©9$# $uZù=t6ø%r& $pkŽÏù ( $¯RÎ)ur šcqè%ω»|Ás9 ÇÑËÈ

“Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ”.

Apabila diperhatikan secara bahasa, ayat ini memerintahkan untuk bertanya kepada kampung. Hal ini tentu tidak logis. Oleh sebab itu, akal dapat memahami bahwa yang diperintahkan sebenarnya bertanya kepada penduduk yang tinggal di kampung tersebut.

Adakala kejelasan lafal diperoleh melalui illat yang terdapat padanya. Hal seperti ini disebut kalangan Hanafiyyah dengan dilalah al-nash dan kalangan Syafi’iyyah menyebutnya fahwal khitab. Dalam hal ini, hukum yang terdapat pada maskut anhu (yang tidak disebutkan) lebih utama dari hukum mantuq (yang disebutkan). Misalnya, larangan mengucapkan kata uff kepada orang tua dalam s. Al-Isra’ : 23 yang berbunyi :

Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÈ

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia “.

Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua akan menyakitkan hatinya. Namun, mencaci maki dan memukulnya lebih menyakitkan dari mengucapkan kata “ah” karena itu hal tersebut lebih utama haramnya.

2)      Al-wadih bi Ghairihi, yaitu untuk mengetahui maknanya perlu dibantu oleh lafal lain. Misalnya, firman Allah SWT pada S. Al-An’am : 141 yang berbunyi :

(#qè?#uäur ¼çm¤)ym uQöqtƒ ¾Ínϊ$|Áym ( Ÿ

Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)”.

Kata hak yang terdapat dalam ayat ini mengandung makna sesuatu yang memiliki sifat, maka penjelasannya dapat berupa kadar atau ukuran.

  1. Tingkatan Bayan

Menurut para ahli ushul fiqh, bayan mempunyai lima tingkatan, yaitu : (Firdaus, 2008 : 167)

1)      Bayan al-Ta’kid, yaitu nash al-jalli (nash yang jelas) yang tidak membutuhkan takwil. Dengan kata lain, al-Qur’an telah memberikan penjelasan secara lengkap tentang suatu persoalan. Misalnya, firman Allah SWT pada S. Al-Baqarah : 196 yang berbunyi :

(!#sŒÎ*sù ÷LäêYÏBr& `yJsù yì­GyJs? Íot÷Kãèø9$$Î/ ’n<Î) Ædkptø:$# $yJsù uŽy£øŠtGó™$# z`ÏB ēô‰olù;$# 4 `yJsù öN©9 ô‰Ågs† ãP$u‹ÅÁsù ÏpsW»n=rO 5Q$­ƒr& ’Îû Ædkptø:$# >pyèö7y™ur #sŒÎ) öNçF÷èy_u‘ 3 y7ù=Ï? ×ouŽ|³tã ×’s#ÏB%x. 3

“Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna”.

Ayat ini merupakan penjelasan (bayan) tentang puasa tamattu’. Puasa dilakukan tiga hari ketika melaksanakan ritual haji dan tujuh hari dilakukan setelah kembali ke kampong halaman sehingga jumlah keseluruhan puasa itu menjadi sepuluh hari. Pernyataan Allah dalam ayat ini dengan menegaskan  (تلك عشرة كا ملة)(Itulah sepuluh (hari) yang sempurna) merupakan penjelasan yang bersifat tambahan atau penguat. Sebenarnya, di dalam ayat ini telah jelas bahwa puasa tamattu’ tiga hari ketika melaksanakan haji dan tujuh hari setelah kembali ke kampung sehingga jumlahnya menjadi sepuluh hari. Dengan demikian, bayan atau penjelasan di sini memperkuat hukum yang terdapat dalam ayat.

2)      Nash yang menjelaskan secara jelas tentang maksud pembicaraan sebelumnya. Bayan ini hanya diketahui oleh ulama. Misalnya, maksud huruf wawu  (الواو) dan ilaa (الى) dalam ayat tentang wudhu’, yaitu S. Al-Maidah : 6 yang berbunyi :

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3řrâäãÎ/ öNà6n=ã_ö‘r&ur ’n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$#

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”

Huruf ilaa dan wawu yang terdapat dalam ayat ini mempunyai fungsi dan hal ini hanya dapat diketahui oleh orang yang mengetahui bahasa Arab. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad SAW memberikan contoh tentang tata cara berwudhu dengan berpedoman pada ayat ini. Nabipun menjelaskan bahwa kedua siku dan kedua mata kaki dibasuh ketika berwudhu’. Sementara dalam ayat ini memungkinkan dipahami kedua siku dan kedua mata kaki merupakan batas akhir yang dibasuh. Berdasarkan penjelasan Nabi kedua siku dan mata kaki termasuk anggota wudhu’ yang dibasuh.

3)      Nash-nash Sunnah yang dating menjelaskan hal-hal yang bersifat umum dalam al-Qur’an. Banyak ayat al-Qur’an yang hanya menjelaskan hukum secara umum, seperti perintah shalat dan zakat yang terdapat pada S. Al-Baqarah : 43 yang berbunyi :

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qãèx.ö‘$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”

Ayat ini hanya menjelaskan bahwa setiap mukallaf diperintahkan untuk melaksanankan shalat wajib lima waktu dan menunaikan zakat harta bagi yang mampu. Mengenai tata cara shalat, jumlah rakaat, waktu dan bacaannya Nabi SAW yang menjelaskan melalui sunnah fi’liyah dan taqririyah. Demikian pula dengan zakat, Nabi SAW pula yang menjelaskan melalui sunnahnya tentang nisab dan jumlah zakat yang dikeluarkan muzakki (orang yang berzakat).

Sunnah menjelaskan dan menetapkan hukum yang belum diatur dalam Al-Qur’an. Sesuatu yang dijelaskan Nabi SAW meskipun tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an, tetapi hakikatnya tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan al-Qur’an. Sebab, apa yang disampaikan Nabi SAW berasal dari wahyu tidak langsung atau dari Allah juga. Hal ini sejalan dengan firman Allah, S. Al-Najm : 3-4 yang berbunyi :

$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #“uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.

4)      Qiyas yang diistinbatkan dari al-Qur’an dan Sunnah yang disebut dengan bayan al-isyarah.

  1. Lafadz Mubayyan terhadap Lafadz yang Mujmal

Penjelasan/Lafadz Mubayyan terhadap Lafadz yang mujmal itu ada tujuh macam, yaitu : (M. Umar, 1983 : 302 – 304)

1)      Penjelasan dengan perkataan atau disebut juga penjelasan penguat. Misalnya kewajiban berpuasa atas orang yang mengerjakan ibadah Haji secara tamattu’, seperti firman Allah pada S. Al-Baqarah : 196 yang berbunyi:

!#sŒÎ*sù ÷LäêYÏBr& `yJsù yì­GyJs? Íot÷Kãèø9$$Î/ ’n<Î) Ædkptø:$# $yJsù uŽy£øŠtGó™$# z`ÏB ēô‰olù;$# 4 `yJsù öN©9 ô‰Ågs† ãP$u‹ÅÁsù ÏpsW»n=rO 5Q$­ƒr& ’Îû Ædkptø:$# >pyèö7y™ur #sŒÎ) öNçF÷èy_u‘ 3 y7ù=Ï? ×ouŽ|³tã ×’s#ÏB%x.

“Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna”.

Kalimat “Itulah sepuluh (hari) yang sempurna” adalah penjelasan penguat bagi tiga dan tujuh hari yang telah ditetapkan sebelumnya.

2)      Penjelasan dengan perbuatan. Seperti hadist Nabi yang berbunyi :

صلوا كما رايتموني اصلى

“Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat” (HR. Bukhari)

Hadits ini adalah merupakan penjelasan terhadap kemujmalan ayat-ayat shalat.

3)      Penjelasan dengan tulisan. Seperti surat-surat Nabi yang dikirim ke daerah-daerah mengenai kadar dan pembagian zakat. Dan surat-surat itu merupakan penjelasan Rasulullah SAW terhadap kemujmalan ayat-ayat zakat.

4)      Penjelasan dengan isyarat. Seperti penjelasan Rasulullah SWA mengenai bilangan dari bulan Ramadhan. Rasulullah mengatakan “Begini, begini, begini” (sambil mengangkat kedua tangannya dan mengisyaratkan dengan jari-jarinya). Dan hal ini diulang sampai dua kali dan pada kali yang kedua Rasulullah menekuk salah satu ibu jarinya.

Hal ini dapat dipahami bahwa jumlah hari bulan Ramadhan itu adakalanya 30 hari adakalanya 29 hari. Hadits ini merupakan bayan terhadap ayat-ayat tentang puasa.

5)      Penjelasan dengan meninggalkan sesuatu. Seperti perbuatan Rasulullah SAW meninggalkan wudhu setelah memakan suatu makanan yang dimasak dengan api setelah pada mulanya Rasulullah mengambil wudhu sehabis memakan makanan yang dimasak dengan api

6)      Penjelasan dengan sikap diam. Seperti tatkala Nabi menjelaskan tentang wajibnya ibadah haji, ada seseorang sahabat menanyakan apakah kewajiban haji itu tiap tahun? Nabi diam tidak menjawab.

diamnya Rasulullah tidak menjawab pertanyaan sahabatnya merupakan jawaban bahwa haji itu tidak wajib tiap tahun.

7)      Penjelasan dengan mukhashshis-mukhashish terhadap dalil-dalil yang Am sebagaimana telah diterangkan pada bab tentang Ayat Am dan Khas.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalil-dalil yang terkandung didalam Al-Qur’an tidak semuanya memberikan pemahaman/penjelasan yang jelas dan secara langsung. Akan tetapi banyak ayat yang maknanya tersirat dan membutuhkan ayat yang lain untuk memahamkannya. Skema dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an :

DALIL AL-QUR’AN DARI SEGI DILALAH HUKUMNYA

Mantuq                                                                                  Mafhum

Zhahir            Nash                           Muwafaqah                                       Mukhalafah

Fahwal Khitab          Lahnul Khitab Mafhum Sifat

Mafhum Syarat

Mafhum ‘Illat

Mafhum ‘Adad

Mafhum ghayah

Mafhum Hasr

Mafhum Laqab

Daftar Pustaka

  1. Khallaf, Abdul Wahhab. 1998. Ilmu Ushul Fikih. Jakarta. Rineka Cipta.
  2. A. Hanafi. 1961. Usul Fiqh. Jakarta. Wijaya.
  3. Hadi, Saiful. 2009. Ushul Fiqh. Yogyakarta. Sabda media.
  4. M. Umar, dkk. 1984. Fiqih-Ushul Fiqih-Mantiq. Jakarta. Departemen Agama RI.
  5. Firdaus. 2008. Ushul Fiqh. Jakarta. Zikrul
  6. Syafe’i, Rachnat. 1999. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung. Pustaka Setia.

Lampiran

 


AL KHOS dan TAKHSIS

AL KHOS dan TAKHSIS

Fiqih mengerti hukum (berdaar al quran, hadist, sunah, ijtihat)

Usul (kaidah-kaidah, dalil-dalil, untuk mengambil hokum)

Masyarakat ibarat ikan yang ada dalam kolam jika belum bisa menerima hokum yang berat maka tidak boleh dipaksakan.

Ketika kita memahami hukum fiqih perlu adanya pemahaman yang menyeluruh atau objektif terkait sumber-sumber hukum yang berlaku dan yang sudah ditetapkan. Hukum yang berlaku di masyarakat tidak semena-mena bisa dirubah begitu saja sebab sudah menjadi kultur dan tradisi masyarakat dan berlaku bertahun-tahun bahkan sudah menjadi warisan turun temurun. Ketika kita mau merubah hukum adat di suatu daerah maka kita perlu dengan perlahan untuk masuk pada masyarakat dan sedikit-sedikit kita merubah pola pikirnya, seperti halnya yang telah dilakukan oleh nabi Muhamad SAW.

Sedangkan hukum yang sudah di tetapkan (khod’i) yakni bersumber dari Al qur’an dan Al hadist yang sudah jelas tidak bertentangan dan tidak membutuhkan penafsiran lagi. Untuk hokum ini tidak bisa di otak-atik lagi karena sudah mutlak dari Tuhan dan manusia hanya bisa menjalani dan merasionalkan apa-apa yang sudah ditetapakan dan digariskan oleh Tuhan.

Karena sumber hukum berdasar dari Al qur’an dan Al hadist yang mana keduanya menggunakan bahasa arab karena Nabi Muhamad SAW diturunkan di bangsa Arab, untuk itu perlu adanya pemahaman bahasa arab yang cukup sehingga pengambilan hokum tidak memberatkan dan tidak terlalu meringankan atau sederhana sehingga disepelehkan oleh manusianya.

Salah satunya untuk mencapai pemahaman itu yaitu kita harus mengetahui kalimat-kalimat sumber hokum yang bermakna khusus dan umum atau yang sudah khusus tapi perlu di spsifikan lagi. Untuk itu ada yang namanya khos dan takhsis sebagai pemahaman dan pengambilan hokum yang objektif.

Takhsis adalah mengecualikan sebagian dari lafad umum (amm). Seperti halnya ayat perintah haji. Haji diwajibkan bagi seluruh umat muslim tapi di akhir lafad ada pengecualian yakni bagi yang sudah mampu.

Takhsis ada dua macam yakni yang mutasil (langsung) yakni antara lafad yang umum (amm) langsung di sambung dengan lafad yang menaksisnya. Kedua adalah takhsis munfasil (pisah) antara lafad yang dan yang di taksis berpisah (tidak langsung)

Syarat-Syarat istisna’ (lafad yang menyifati atau yang menjadi jawaban)

-     Mutasil atau langsung jika tidak maka tidak shah

Contohnya ketika dalam akad nikah, yakni ketika wali nikah membacakan akad nikah dan sang pengantin adalah menjawab, sedangkan ketika di putus antara akad dan jawaban maka tidak shah nikahnya.

-     Tidak sampai menghabiskan mustasna minhunya (objek dari istisna’)

Contohnya, talak tiga kecuali tiga, hutang seribu kecuali seribu

-     Tidak mendahului mustasna minhu

 

Aplikasi dari takhsis :

-     Takhsis dibatasi oleh sifat maka yang lain tidak masuk

Contohnya. Syaratnya yang menjadi calon penerima beasiswa adalah mahasiswa kelas A, maka kelas B, C dan yang lain tidak boleh menerima beasiswa.

-     Takhsis dengan memberi batasan akhir

Contohnya. Dilarang mendekati istri yang sedang haid maka diperbolehkan ketika istrinya sudah suci.

-     Takhsis dengan menyebut badal

Contohnya. Ketika orang tidak mampu berdiri untuk sholat maka boleh dikerjakan dengan duduk.

 

Macam-macam bentuk takhsis:

-     Takhsis kitab dengan kitab

Janganlah kamu menikahi wanita musrik. Surat (Al baqoroh, 221) kemudian di takhsis dengan ayat : orang-orang merdeka dari ahlul kitab. (Al Maidah, 5)

Sehingga di sini ada pemaknaan boleh menikahi orang selain islam asalkan masih menjadi ahlul kitab yakni agamanya (nabi Isa)

-     Takhsis kitab dengan sunah

Alloh mewasiatkan pada kamu semua bagian anak laki-laki dua kali lipat dari anak perempuan (An nisa’, 11) Kemudian di tahksis dengan hadist Bukhori Muslim: Orang kafir tidak bisa mewarisi orang muslim dan orang muslim tidak bisa mewarisi orang kafir.

-     Sunah dengan Kitab

Hadist Bukhori Muslim: Alloh tidak akan menerima sholat kalian kecuali dengan wudlu’. Kemudian di takhsis dengan ayat, kecuali bertayamum ( An Nisa’ 43)

 

-     Sunah dengan Sunah

Hadist riwayat Bukhori Muslim: Dalam hasil panen yang di airi dengan hujan maka zakatnya adalah satu per sepuluh

(1/10) kemudian di takhsis dengan hadist yang lain: kecuali ketika mencapai satu nisob (94 gram emas).

-     Kitab dengan kiyas

Wanita dan laki-laki yang melakukan zinah di cambuk 100x, Alloh mengkhususkan bagi wanita budak yakni separuh atas hukuman wanita merdeka. Maka ketika laki-laki budak yang melakukan zinah, apakah di samakan dengan laki-laki merdeka ataukah di samakan dengan wanita budak??? Dan hal ini di butuhkan yang namanya kiyas.

-     Sunah dengan kiyas

Menunda-nunda membayar hutang bagi orang yang mampu maka halal kehormatanya. Kemudian yang menjadi pertanyaan ketika yang hutang itu orang tuanya apakah juga halal kehormatanya makanya butuh yang namanya kiyas.

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.