TA’WIL DAN NASAKH, MURADIF DAN MUSYTARAK

Abstrak
Ada beberapa kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam ushul fiqih, yang daripadanya akan memberikan arahan dan aturan-aturan dalam usaha menggali dan menetapkan hukum-hukum Islam. Diantaranya adalah ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak. Ta’wil menurut Ushul fiqh seperti disimpulkan Adib Sholeh, berarti pemalingan suatu lafal dari maknanya yang zahir kepada makna lain yang tidak cepat ditangkap, karena ada dalil yang menunjukkan bahwa makna itulah yang dimaksud oleh lafal itu. Nasakh diartikan pembatalan hukum sayara’ yang ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama yang datang kemudian.. Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna, jumhur ulama’ menyatakan bahwa mendudukan dua muradif pada tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat syara’. Sedangkan musytarak lafal yang mempunyai dua makna atau lebih dan jumhur ulama memperbolehkan penggunaan musyatarak menurut arti yang dikehendaki atau berbagai makna.

Kata Kunci: Ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak

Pendahuluan
Seperti yang telah diungkapkan di atas tadi bahwa kaidah-kaidah akan memberikan arahan dan aturan dalam menggali dan menetapkan hukum Islam. Ada beberapa kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam ushul fiqih , yang akan memberikan arahan dan aturan-aturan dalam usaha menggali dan menetapkan hukum-hukum Islam. Diantaranya adalah ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak. Karena itulah kiranya diperlukan penjelasan-penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian, macam-macam ta’wil, nasakh, muradif dan musytarak.

A. Nasakh
1. Pengertian
Secara etimologi Nasakh adalah pembatalan atau penghapusan (Bakry: 2003. Hal, 256).
Secara terminologi adalah:
a. Menurut ulama’ Ushul Fiqih adalah penjelasan berakhirnya masa berlakunya suatu hukum melalui dalil syar’i yang datang kemudian.
b. Pembatalan hukum syara’ ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama datang kemudian. (Bakry: 2003. Hal, 256).
Dari definisi di atas para ulama’ Ushul Fiqih mengemukakan bahwa Nashakh baru dianggap benar apabila:
a. Pembatalan itu dilakukan melalui tuntunan syara’ yang mengandung hukum.
b. Yang dibatalkan adalah hukum syara’ yang disebut dengan mansukh
c. Hukum yang membatalkan hukum terdahulu. Datangnya kemudian (Bakry:2003. Hal, 257).

2. Rukun Nasakh
Adapun rukun-rukun Nasakh yaitu:
a. ‘Adat Nasakh, yaitu pernyataan yang menunjukkan pembatalan (penghapusan)
b. Nasikh yaitu Allah, karena Dia-lah yang membuat hukum dan Dia pula yang membatalkan sesuatu dengan kehendak-Nya.
c. Mansukh, yaitu hukum yang dibatalkan.
d. Mansukh ‘Anbu, yaitu orang yang dibebani hukum, (Bakry:2003. Hal, 257).

3. Hikmah Nasakh
Adapun hikmah Nasakh yaitu untuk memelihara kemaslahatan umat baik di dunia maupun di akhirat. Di samping itu persoalan nasakh hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup . (Bakry:2003. Hal, 257)

4. Syarat-syarat Nasakh
1. Syarat-syarat yang disepakati:
a. Yang dibatalkan adalah hukum syara’.
b. Pembatalan itu datangnya dari khitbah (tuntutan) syara’.
c. Pembatalan hukum itu tidak disebabkan berakhirnya waktu berlaku hukum tersebut sebagaimana yang ditunjukkan syara’ itu sendiri
d. Tuntuntan syara’ yang menaskhakan itu datangnya kemudian dari tuntutan syara’ yang dinasakhkan. (Bakry:2003. Hal, 258)
2. Syarat yang diperselisihkan
a. Hukum itu tidak dinasakhkan, kecuali apabila orang mukallaf telah mempunyai kesempatan untuk melaksanakannya (ulama mu’tazilah dan hanafiah). Alasannya Allah dan Rasul itu tidak akan membebankan suatu membebankan suatu hukum pada mukallaf. Kecuali ada suatu kebaikan yang akan dari hukum itu.
b. Keluarga Mu’tazilah dan Maturidiyah. Hukum yang dinasakhkan itu sesuatu yang baik yang pembatalannya dapat diterima akal.
c. Sebagian ulama ushul fiqh mensyaratkan bahwa terhadap hukum yang dibatalkan itu harus ada penggantinya.
d. Sebagian ulama ushul fiqh dari kalangan hanafiyah. Apabila yang dinaskhkan itu adalah ayat Al Qur’an atau sunnah yang mutawatir, maka yang menasakhkan juga harus yang sederajat atau sama kualitasnya
e. Imam Syafi’i Al Qur’an tidak boleh dinasakhkan kecuali dengan Al Qur’an dan sunnah tidak boleh dinasakhkan dengan sunnah.
f. Jumhur ulama yang membatalkan dan yang dibatalkan itu bukan qiyas, artinya qiyas tidak bisa dinasakhkan Al Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas lainnya.
g. Jumhur juga mensyaratkan baik yang menasakhkan maupun yang dinasakhkan itu bukan ijma’, karena apabila yang dinasakhkan ijma’ itu adalah nash, maka hal itu tidak mungkin karena ijma’ baru dianggap sah apabila tidak bertentangan dengan nash. (Bakry:2003. Hal, 259)

5. Macam-macam Nasakh
a. Dihapus lafalnya (tulisannya) saja tetapi hukum masih tetap.
Contoh: ayat yang artinya : “orang tua zina baik laki-laki maupun perempuan maka rajamlah dengan batu”
Ini masih berlaku hukumnya tetapi lafalnya (tulisanya) dalam mushaf sudah tidak ada, berdasarkan hadis diriwayatkan oleh umar. (bukhari/Muslim).
b. Dihapus hukumnya saja tetapi lafalnya (tulisan) masih tetap.
Contoh: QS Al Baqarah: 234
        
Yang maksudnya: iddah permpuan yang di tinggal mati suaminya selama 1 tahun. Ini tulisan (lafalnya) masih, tetapi hukumnya sudah dihapus oleh ayat yang menerangkan iddah tersebut ialah 4 bulan 10 hari.
c. Menghapus hukum dan lafalnya, kedua-duanya bersama-sama.
Contoh sebagaimana berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah yang dimaksudkan: telah diturunkan suatu surat ayat Al Qur’an yang artinya “sepuluh kali susuan yang diketahui dengan tertentu, dari seorang ibu yang menyusui, menyebabkan haramnya menikah, kemudian ini dihapus (hukumnya dan tulisannya), dengan lima kali susuan saja.

6. Nasakh dalam hubungan antara Al Quran dan Hadits
Nasakh dalam hubungan antara Al Qur’an dan hadis itu ada beberapa macam ialah:
a. Ayat Al Qur’an Dinasakh oleh Ayat Al Qur’an
Contoh ayat Al- Qur’an yang di nasakh oleh ayat Al Qur’an lain:
       ••                 •     
Yang artinya : “orang-orang yang mati dari kamu sedangkan mereka meninggalkan istri, wajiblah wasiat kepada istri mereka, menyenangkan diri hingga setahun dengan tidak keluar.” ( Al Baqarah:240)

Al Baqarah: 240 dinasakhkan oleh ayat ayat Al Qur’an Al Baqarah: 234
          
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.”
Al Baqarah ayat 240 menerangkan iddah orang yang ditinggal mati suaminya ialah 1 tahun. Ini di nasakhkan oleh Al Baqarah ayat 234 yang menerangkan iddah itu tidak satu tahun, tetapi 4 bulan 10 hari. Jadi yang berlaku sekarang 4 bulan10 hari.

b. Ayat Al Qur’an Dinasakh oleh Hadist
Contoh ayat Al Qur’an yang dinasakh oleh hadits ialah:

        •     
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf” (Al Baqarah:180)

Ayat ini dinasakhkan oleh hadis yang diriwatkan oleh Imam Turmudzi:
Yang artinya:.. “Tidak wajib wasiat tertuju kepada ahli waris.”

Al Baqarah ayat 180 menerangkan bahwa orang akan meninggalkan harta wajib berwasiat. Ayat ini dinasakhkan oleh hadist yang maksudnya: tidak wajib wasiat tentang harta peninggalan terhadap ahli waris. Sebab hak waris (warisan) itu sudah ditentukan pembagiannya dalam Al Quran. Lihatlah dalam ilmu Faraid (hukum hak waris).

c. Hadist di nasakh oleh ayat Al Quran
Contoh hadits yang di nasakh oleh ayat Al Quran ialah hadits Bukhari-Muslim.
Yang Artinya: “.. maka sesungguhnya NabiMuhammad SAW didalam shalat menghadap kearah Baitul maqdis selama 16 bulan.”
Hadis ini di nasakh oleh Al Baqarah:150
     
“Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”
Oleh karena itu hingga kini kiblat umat islam diwaktu shalat ialah ka’bah (Masjidil Haram).

d. Hadits dinasakh oleh hadits
Contoh hadist yang dinasakh oleh hadits ialah hadits Muslim.
Yang Artinya:” Aku telah melarang kamu ziarah kubur itu. Karena dinasakh oleh hadits yang artinya:.. ingatlah maka ziarahilah kubur itu”
Oleh karena itu Ziarah kubur itu hukumnya tidak haram, tetapi boleh. (Amir: 1968, hal 53-56 )

7. Cara Mengetahui Nasakh dan Mansukh
a. Penjelasannya langsung dari Rasul
b. Ada petunjuk yang menyatakan salah satu nash lebih dahulu datangnya dari yang lain. Contoh sabda Rasul tentang ziarah kubur
c. Periwayat hadits secara jelas menunjukkan bahwa salah satu hadits yang bertentangan itu lebih dahulu datangnya dari hadits yang lain, seperti ungkapan perawi hadits bahwa hadits ini diungkapkan Rasul tahun sekian dari hadits ini pada tahun sekian (Bakry: 2003. Hal, 261).

8. Nash yang Tidak Bisa Menerima Nasakh
Tidak semua nash dalam Al-Qur’an atau as-Sunnah dapat dinasakh oleh nash yang datang kemudian. Akan tetapi banyak diantara nash-nash itu adalah nash-nash muhkamat (tetap) yang tidak dapat menerima nasakh, yaitu:
a. Nash-nash yang mengandung hukum yang bersifat esensial, tidak berbeda lantaran perbedaan manusia, dan tidak berbeda buruknya lantaran perbedaan penghargaan. Seperti nash-nash yang mengandung pengertian mewajibkan mengimani Allah, para utusan, Kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan prinsip-prinsip akidah lainnya. Seperti juga nash-nash yang menetapkan pokok-pokok keutamaan, misalnya; berbakti kepada orang tua, jujur, adil, menyampaikan amanah, dan lainnya.
b. Nash-nash yang mengandung beberapa hukum dan sighotnya memberi pengertian menguatkan hukum-hukum itu. Karena penguatan sighot terhadap hukum-hukum itu memberi mendorong ketiadaan nasakh nash-nash itu. Seperti firman Allah dalam menjelaskan hukum para penuduh wanita punya suami berzina:

و لا تقبلوا لهم شهادة ابدا (النؤ ر:4 )

“Jangan memberi kesaksian untuk mereka selamanya” (QS. An-Nur: 4)
c. Nash-nash yang menunjukkan peristiwa yang telah terjadi dan memberitakan kejadian-kejadian yang telah lalu. (Khalaf: 1994. Hal, 377).

B. Ta’wil
1. Pengertian Ta’wil
Dari sudut bahasa ta’wil mengandung arti At-Tafsir (penjelasan, uraian) atau Al-Marja’, Al-Mashir (kembali, tempat kembali) atau Al-Jaza’ (balasan yang kembali kepadanya) (Syafe’i: 2007. hal, 170).
Menurut Terminologi para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ta’wil,. Para ulama salaf mendefinisikan ta’wil antara lain sebagai berikut:
a. Imam Al-Ghozali dalam kitab Al-Mustasyfa

ان التاءويل عبارة عن احتمال يعضده دليل يصير به اغلب علئ الظن من المعنى الذى يدل عليه الظاهر.

Artinya:”Sesungguhnya ta’wil itu merupakan ungkapan tentang pengambilan makna dari lafadz yang bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafadz zhahir”.
e. Imam Al-Amudi dalam kitab Al-Mustasyfa

حمل اللفظ علي غير مدلوله الظاهر منه مع احتماله بدليل يعضده.
`
Artinya:”Membawa lafadz zhahir yang membawa ihtimal probabilitas kepada makna lain yang didukung dalil” (Syafe’i: 2007. hal, 170).
Kaum Muhadditsin mendefinisikan ta’wil yaitu sejalan dengan definisi yang dikemukakan ulama ushul fiqih, yaitu:
a. Menurut Wahab Khallaf
صرف اللفظ عن ظاهر بدليل

Artinya:”Memalingkan lafadz dari zhahirnya, karena ada dalil”.
b. Menurut Abu Zarhah

اخراج اللفظ عن ظاهر معناه الي معني اخر يحتمله و ليس هؤ الظاهر فيه

Artinya:”Ta’wil adalah mengeluarkan lafadz dari artinya yang zhahir kepada makna lain tetapi bukan zhahirnya” (Syafe’i: 2007. hal, 171)
Apabila diteliti secara seksama pengertian ta’wil menurut bahasa lebih umum daripada pengertian khas, ‘amm, atau mutlaq. Karena lafadz-lafadz tersebut menunjukkan arti yang dimaksud dan dianggap dalil qath’i. selain itu, khas memindahkan arti hakiki kepada majasi, sedangkan ‘amm memindahkan arti yang zhahir dengan dalil. Begitu pula mutlaq memindahkan arti dan memperluas jenisnya dengan cara membatasi dan mempersempit arti berdasarkan dalil (Syafe’i: 2007. hal, 171).
Menurut Adib Sholeh, ta’wi banyak berlaku pada bidang hukum Islam. Misalnya, menakwilkan suatu lafadz dari makna hakikat kepada makna majaznya, menakwilkan lafadz mutlak kepada pengertian muqoyyadnya, menakwilkan suatu bentuk perintah kepada pengertian selain hukum wajib, dan memalingkan pengertian suatu larangan kepada hukum selain haram. (Effendi & Zein : 2005, hal, 230-231)
Penyebab adanya pena’wilan terhadap lafadz-lafadz yang artinya dianggap kuat diantaranya karena arti zhahirnya tidak sesuai dengan arti yang hakiki , sehingga dalil hasil ta’wil yang tidak kuat menjadi kuat. Dengan kata lain, mengutamakan makna dari hasil prasangka yang sesuai dengan maksud syara’ (Syafe’i: 2007. hal,172).

2. Objek Ta’wil
Kajian ta’wil sebagaimana ijtihad dan ra’yu, tidak menyangkut nash-nash yang qath’i, baik secara khusus maupun umum, yang merupakan landasan kaidah-kaidah syara’ yang bersifat umum atau kaidah-kaidah fiqih yang berguna untuk menentukan ketetapan hukum masah furu’, sehingga para imam dapat menerima dan mengamalkannya. Selain itu ta’wil juga tidak menyangkut hukum-hukum agama penting lainnya yang mudah ataupun sulit dipahami yang merupakan dasar-dasar syari’at. Juga tidak mencakup peraturan-peraturan syariat yang bersifat umum, diantaranya bahan-bahan yang memerlukan penafsiran dan pematokan hukum, karena maksud syara’ harus diterangkan dengan jelas dan digambarkan secara qath’i agar terhindar dari munculnya arti spekulatif (Syafe’i:: 2007. hal,172)
Adapun kajian ta’wil kebanyakan adalah furu’ sebagaimana pendapat imam Asy-Syaukani. Ta’wil juga tidak membahas tentang lafadz-lafadz yang musytarak. (Syafe’i: 2007. hal,172).

3. Dalil-dalil Penunjang Ta’wil
Takwil pada dasarnya mencakup arti yang lemah yang memperlukan dalil untuk memperkuat praduga hasil takwil tersebut, sehingga arti yang tadinya lemah akan menjadi kuat karena sesuai dengan kemaslahatan umum dan dugaan para mujtahid.
Dengan demikian dalil penunjang takwil harus lebih kuat dari pada dalil penunjang arti secara bahasa. Dalil yang dipakai untuk menguatkan takwil juga disyaratkan harus sesuai dengan syara’ diantaranya dalil yang memberikan batasan yang terlalu luas terhadap maksud syara’ atau yang memperluas arti haqiqi yang dikandung dalam maksud syara’.
Semua dalil tersebut harus sesuai dengan syara’ dan dianggap hujjah dalam syara’. Bisa juga dianggap sebagai i’tibar yang sesuai dengan Al Qur’an seperti ijma’ atau bersumberkan dari roh nash dan hikmah nash atau mungkin perkembangan pemahaman terhadap nash yang sesuai dengan kemaslahatan yang umum kemudian dikuatkan dengan pendapat para sahabat, tabi’in dan tabi’in-tabi’in.
Secara ringkas, dalil-dalil yang dipakai dalam takwil adalah sebagai berikut:
a. Nash yang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
b. Ijma’
c. Kaidah kaidah umum syari’at yang diambil dari Al Qur’an dan sunnah
d. Kaidah kaidah fiqh yang menetapkan bahwa pembentuk syari’at memperhatikan hal-hal yang bersifat juz’i tanpa batas, yang diterima dan diamalkan oleh para imam dan menjadi dasar adanya perbedaan dalam berijtihad dengan ra’yu.
e. Hakikat kemaslahatan umum.
f. Adat yang diucapkan dan diamalkan.
g. Hikmah syari’at atau tujuan syari’at itu sendiri yang terkadang berupa maksud yang berhubungan dengan kemasyarakatan, perekonomian, , politik , dan akhlaq.
h. Qiyas
i. Akal yang merupakan sumber perbincangan segala sesuatu yang menurut ushuliyyah lebih dikenal dengan istilah takwil qarib.
j. Kecenderungan memperluas pematokan hukum untuk berbagai tujuan dan merupakan dasar umum dalam pembinaan dalam syari’at yang bersifat ijtihad atau ijtihad dengan ra’yu juga merupakan tujuan yang dianggap berlaku sebagaimana pendapat imam Asy Syatibi “asal pandangan melalui kecenderungan adalah istilah lain dari maksud yang dikehendaki syari’at sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu”.
Rusaknya Penakwilan biasanya berawal dari mendatangkan sesuatu yang tidak perlu atau menyalahi salah satu pembentuk syari’at kaidah-kaidah umum hukum, hukum-hukum yang bersumber dari dalil qath’i dan melakukan takwil ba’id yang dilarang, dengan kata lain jangan sampai melakukan ijtihad dengan takwil dan menyimpang dari kaidah kaidah dasar diatas.(Syafe’i: 2007, hlm 174)
1. Dalil penunjang takwil tidak disyaratkan Qath’i
Sudah jelas bahwa takwil itu perubahan arti untu membatasi maksud syara’ dengan dalil yang bersifat zhanni bisa dipakai dalil dalam takwil diantaranya juga khabar Ahad dan Qiyas.(Syafe’i: 2007, hlm :174)
2. Ta’wil yang dihasilkan dari perubahan makna bukan perubahan lafadz
Jika suatu syari’at memakai bahasa untuk mengungkapkan maksudnya, dasar umum yang dipakainya adalah yang sesuai dengan bunyi bahasa yang mempunyai kaitan khusus. Setiap nash dalam syari’at undang-undang harus difahami berdasarkan hakikat maknanya yang mutlak yang berasal dari bahasa itu sendiri. Sebagai dasar pemahaman, barang siapa berpegang teguh kepada suatu dasar tidak diminta untuk menegakkan arti dalil sesuai dengan pemahaman nash atau membatasinya sesuai dengan maksud syari’at karena orang yang berpegang teguh kepada dasar tidak dimintai dalil.
Dengan demikian setiap mujtahid diharuskan untuk berpegang teguh pada arti zahir yang kuat dan tidak boleh mengamalkan berdasarkan artinya yang lainnya yang dipandang lemah, meskipun sama-sama benar selama tidak ada dalil lain yang kuat dan shahih (Syafe’i: 2007, hlm 174-175).

3. Landasan Ta’wil
Pada mulanya takwil itu tidak ada dan tidak terbentuk, kecuali dengan dalil. Kemudian dari ide dasar tersebut muncul muncul beberapa masalah juz’i antara lain kewajiban untuk mengamalkan setiap petunjuk yang berasal dari arti nash secara zahir dan semua dalil dianggap hujjah karena kejelasan dan kebenarannya sehingga lafadz mutlak berlaku seperti kemutlakannya dan tidak diikat. Kecuali dengan dalil lafadz umum berlaku sesuai keumumannya dan tidak ditakhsis kecuali dengan dalil .Adapun lafadz yang khas diamalkan berdasarkan hakikat artinya dan tidak boleh mengubah arti kalimat majasi kecuali dengan dalil. Sementara takwil itu menyalahi landasan asal tersebut (Syafe’i :2007, hlm, 175).
Sesungguhmya takwil itu adalah mencakup kemungkinan yang berasal dari akal bukan bersumber dari bahasa karena takwil itu mengubah arti sesuai dengan kebutuhan bahasa, takwil itu tidak akan ada kecuali dengan dalil. Al Qur’an dalam penjelasannya mengikuti perkembangan bahasa dan teksnya begitu pula sunnah dan setiap perundang-undang yang ditulis dengan bahasa arab. (Syafe’i :2007, hlm, 175)
Oleh karena itu Imam syafi’i berpendapat bahwa diantara penyebab timbulnya perbedaan pendapat dikalangan umat islam adalah kecerobohan dalam memahami teks dari berbagai nash. Kemudian mereka membuat penakwilan tanpa menggunakan dalil-dalil yang shahih, bahkan mereka mencoba mengadopsi hukum-hukum yang berasal dari filsafat yunani. Seperti Aristoteles dan sebagainya. mereka berkata “Manusia itu tidak akan bodoh dan saling berbeda pendapat kalau tidak meninggalkan ucapan-ucapan orang Arab mengikuti Aristoteles”.
Ada 3 ketentuan umum yang dapat dijadikan pegangan agar terhindar dari kesalahan dalam berijtihad juga sebagai cara meng-istimbath hukum dari nash dengan menggunakan takwil:
a. Jika artinya itu sudah tentu mengandung hukum jelas dan dalalahnya qath’i maka tidak boleh ditakwilkan dengan akal.
b. Jika arti nash yang zahir itu berarti umum atau berarti zanni yang tidak pasti wajib mengamalkan sesuai maknanya karena kejelasan arti dan keberadaannya. Jangan sampai diterangkan dengan berbagai kemungkinan yang tidak berdasarkan pada dalil.
c. Dibolehkan mengubah syari’at sesuai dengan arti yang zahir kepada arti lain sepanjang berdasar dalil pada dalil, bahkan diwajibkan untuk mengompromikan berbagai nash yang saling bertentangan (Syafe’i: 2007, hlm 174-176).

4. Syarat-syarat Ta’wil Beserta Contohnya
Dasar umum yang ditetapkan para ulama untuk menetapkan adanya ta’wil berasal dari teks bahasa dan uslub-uslubnya, yang menjaga agar ijtihad dengan ra’yu tidak menjadi tetap. Para ulama juga mewajibkan agar mengamalkan syari’at sesuai dengan zahir ayat sehingga terdapat isyarat untuk menggunakan ta’wil. Sesungguhnya syarat-syarat ta’wil itu diambil dari teks pembinaan dari teks yang ada dan maksud syara’. (Syafe’i: 2007, hlm, 176).
Persyaratan ta’wil bergantung pula kepada makna teks agar ketetapan nash dan makna zahirnya tidak bertentangan dengan roh umum suatu syari’at. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makna syari’at yang berhubungan dengan ta’wil berkaitan erat dengan taksis, taqyid, perubahan kearah majasi, dan pengompromian antara nash-nash yang zahirnya saling bertentangan. Semuanya sesuai dengan dalil shahih yang kuat, dan tidak hanya berdasarkan pemahaman arti saja tetapi juga makna rohnya. (Syafe’i: 2007, hlm, 176)
Kesimpulannya ta’wil itu erat kaitannya dengan maksud syari’at yang berasal dari nash, bukan hanya dengan dalilnya itu sendiri. Hal itu juga termasuk salah satu metode ijtihad dengan ra’yu, yaitu membatasi arti yang dimaksud dengan dalil. Adapaun syarat-syarat ta’wil itu adalah:
a. Lafadz yag dita’wil harus betul-betul memenuhi kriteria dan kajiannya.
b. Tawil itu harus berdasarkan dalil shahih yang bisa menguatkan ta’wil. Contoh: ta’wil dari nash yang di dalamnya terdapat pertentangan antara zahir nash yang mengandung arti juz’i dengan dasar umum syari’at adalah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

ان الميت يعقب ببكاء اهله

“Sesungguhnya jenazah itu disiksa oleh tangisan keluarganya”
Siti Aisyah menolak hadits tersebut karena menurutnya hal itu bertentangan dengan dasar umum syari’at yang ada dalam Al-Qur’an yaitu firman Allah SWT:

و لا تزر وازرة وزر اخري

Sebagian mujtahid mena’wilkan kemutlakan hadits tersebut kemudian mereka menaqyid dengan jenazah ketika masa hidupnya.
Maka maksud ayat tersebut menjadi tidak bertentangan setelah ditaqyid. Pengompromian ini dilakukan dengan mengamalkan dua nash secara bersamaan. Metode seperti itulah yang dianggap terbaik daripada mencela salah satunya.
dengan contoh di atas dapat diketahui bahwa ta’wil itu ada karena adanya pertentangan dalam nash yang artinya zahir (Syafe’i: 2007, hal, 1766-177).
• Ta’wil berdasarkan dalil adalah maslahat, yang dimaksud maslahat disini bukan berarti bahwa hikmah syari’at itu harus nash tertentu, tetapi dalil yang mentaksis dalil umum atau meng-istisna dari landasan umum baik secara khas ataupun ‘amm, dengan cara seperti itu dalil yang keluar dari landasan umum melalui taksis, menyalahi hukum yang umum atau keadaan umum.
Taksis merupakan salah satu bagian dari ta’wil bahkan yang paling banyak dipakai. Contoh:

والوالدات يرضعن اولادهن حولين كاملين…..(البقرة:232)

“Para ibu hendaknya mnyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh”.
Imam Malik menaksis keumumannya dengan perbuatan adat (urf amaliyah). Dia berpandangan bahwa seorang ibu diharuskan menyusui anaknya karena kesempurnaan derajatnya. Maka bila seorang ibu sakit sehingga tidak bisa menyusui anaknya, ia tidak diwajibkan menyusui anaknya karena menjaga dari kemudharatan. Dan menjaga maslahat adalah maslahat. (Syafe’i: 2007, hlm,177-179)
• Mentaksis keadaan umum dengan kemaslahatan, yang dimaksud keadaan umum adalah kemerdekaan umum atau dasar kebolehan yang berdasarkan firman Allah ang berdasarkan ayat:

هو الذي خلق لكم ما في الارض جميعا (البقرة:29)

“Dialah yang menjadikan untuk kamu semua apa-apa yang ada di bumi”
Kemerdekaan umum adalah kemerdekaan jual beli dan hak memiliki terhadap barang adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi manusia dengan mengutamakan persamaan karena hal itu termasuk perbuatan yang dibolehkan.
Rasulullah melarang talaqa as-sil’a atau perdagangan yang diadakan untuk kaum badawi karena jual beli semacam itu dikategorikan jual beli yang menggambarkan adanya penghinaan terhadap makanan yang sangat penting terhadap manusia. Taksis seperti itu adalah berdasarkan kemaslahatan umum begitu pula larangan jual beli yang mengandung riba, karena didalamnya terdapat pengikisan keadilan dan terdapat unsur memakan harta manusia secara batil, yakni kaidah yang menghilangkan keridhaan. (Syafe’i: 2007, Hlm 179-180).
c. Lafadz yang mencakup arti yang dhasilkan melalui takwil menurut bahasa.
Penakwilan menurut bahasa dilakukan dengan cara tekstual, kontekstual atau majaz. (Syafe’i: 2007, Hlm 181)
d. Takwil tidak boleh bertentangan dengan nasah yang qath’i karena nash tersebut bagian dari aturan syara’ yang umum.
Takwil adalah metode ijtihad yang bersifat zanni, sedangkan zanni tidak akan kuat melawan yang qath’i. Contohnya menakwillan kisah kisah yang ada dalam Al Qur’an dengan mengubah arti yang zahir menjadi fiksi (yang tidak terjadi). Penakwilan seperti iu bertentangan dengan kejelasan ayat yang qath’i yang menjadikan kisah tersebut sebagai kejadian sejarah yang nyata. (Rahmat Syafe’i :2007, Hlm, 181-182)
e. Arti dari penakwilan nash harus lebih kuat dari arti zahir yakni dikuatkan dengan dalil.
Contoh tentang petentangan antara juz’i dan dasar umum. Nash yang berarti juz’i dikompromikan artinya dengan dasar umum yaitu dengan cara mentaqyid dan dasar umum itu merupkan dalil yang lebih kuat. Telah dijelaskan beberapa men-taqyid hak kekuasaan atas harta tanpa memadaratkan tetangga dengan mengamalkan dasar umum yakni sabda Nabi SAW:

لا ضرر ولا ضرار

”Tidak madarat dan tidak memadaratkan ”
Hal itu termasuk kamaslahatan individu, sedang penakwilnnya berdasarkan kemaslahatan umum yang dijadikan dalil adalah lebih kuat dari pada zahir lafadz.
Begitu pula bertentangan antara zahir dengan nash tidak diragukan lagi bahwa nash itu menaksis yang zahir karena nash lebih kuat dan lebih jelas. Selain itu ucapan juga membutuhkan arti asli maksud harus diutamakan.
Juga tentang penakwilan yang berdasarkan hikmah pembinaan syari’at. Hal itu merupakan roh nash yang menguatkan dan merupakan tujuan pokok. Tidak diragukan lagi bahwa maksud disyari’atkannya sesuatu itu lebih kuat daripada zahir lafadznya.(Syafe’i : 2007 hlm, 182-183)

6 . Takwil Ba’id
Sebagaimana yang diterangkan di atas bahwa jika persyaratannya tak dapat dipenuhi dalam suatu penakwilannya maka takwil tersebut dinamakan takwil bai’id. Dan juga jika penyimpangan dari persyaratan tadi maka takwil seperti itu tertolak.
Namun beberapa ulama berbeda pendapat tentang keberadaan takwil ba’id tersebut. Mereka berbeda pendapat dalam penetapannya, ada yang berpendapat bahwa sebagian takwil itu ba’id tetapi sebagian lagi menilai bahwa takwil seperti itu (dikatakan ba’id oleh orang lain ) dikatakan qarib dan sahih. (Syafe’i : 2007 hlm, 184)
Misalnya kifarat khuntsa ketika melanggar sumpah.

فكفارته اطعام عشرة مساكين من اوساط ما تطعمؤن اهليكم او كسوتهم (المئدة:89)

“….maka kifarat(melanggar)sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin….”(QS. Al Maidah: 89).

C. Muradhif
1. Pengertian
Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna (Usman: 1996, hal. 64).

2. Kaidah Yang Berkaitan Dengan Muradhif
Jumhur ulama menyatakan bahwa mendudukkan dua muradhif pada tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat syara’. Kidahnya:”

ايقاع كل من المرادفين مكان الاخر يجوز اذا لم يقم عليه طالع شرعي.

“Mendudukkan dua muradhif itu pada tempat yang sama itu diperbolehkan jika tidak ditetapkan oleh syara’”.
Al-Qur’an adalah mukjizat, baik dari sudut lafal maupun maknanya , karena itu tidak diperbolehkan mengubahnya. Bagi Malikiah menyatakan bahwa takbir shalat tidak diperbolehkan kecuali “Allahu Akbar”, sedang Imam Syafi’i hanya memperbolehkan “Allahu Akbar” atau “Allahul Akbar” sedangkan Abu Hanifah memperbolekan semua lafal yang semisal dengannya, misalnya “ Allahul A’dhom” “Allahul Ajal” dan sebagainya (Usman: 1996, hal. 65).

D. Musytarak
1. Pengertian
Lafadz Musytarak adalah lafadz yang mempunyai dua makna atau lebih (Usman:1996. hal, 64). Lafadz musytarak adalah lafadz yang mempunyai dua arti atau lebih dengan kegunaan yang banyak yang dapat menunjukkan artinya secara gantian. Artinya lafadz itu bisa menunjukkan arti ini dan itu. Seperti lafadz a’in, menurut bahasa bisa berarti mata, sumber mata air, dan mata-mata. Lafadz quru’ menurut bahasa bisa berarti suci atau haid. Begitu juga dengan lafadz sanah dan yadun (Halimuddin: 2005. hal, 221)

2. Penggunaan Lafadz Musytarak
Jumhur ulama dari golongan Syafi’i, Qodli Abu bakar, dan Abu ‘Ali
Al-jaba’i memperbolehkan penggunaan musytarak menurut arti yang dikehendaki. Atau berbagai makna. Kaidahnya:

استعمال المشترك في معنيه اؤ معانيه يجوز

“Penggunaan musytarak pada yang dikehendaki ataupun beberapa maknanya yang diperbolehkan “.
Misalnya firman AllahSWT:

الم تر ان الله يسجد له من في السموات ومن في الارض والشمس والقمر والنجوم والجبال والشجر والدواب وكثير من الناس (الحج:18)

“Apakah kamu tiada mengetahui, kepada Allah bersujud aopa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang, yang melata dan sebagian besar daripada manusia” (Qs. Al-Hajj: 18).
Makna sujud mempunyai dua arti yaitu bersujud dengan mengarahkan wajah pada tanah, ataupun bersujud berarti kepatuhan (inqiyad). Kiranya pengggunaan kedua makna ini diperbolehkan, yakni adanya ketundukan bagi apa yang ada di langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon dan sebagainya, dan penggunaan makna sujud dengan menghadapkan wajah pada tanah bagi sebagian orang-orang yang taat. Dengan kata lain penggunaan lafadz musytarak itu diperbolehkan sesuai dengan proporsinya (Usman: 1996, hal. 65-66).

3. Sebab Adanya Musytarak
Sebab adanya lafadz musytarak dalam bahasa itu karena beberapa kabilah –kabilah atau suku-suku yang mempergunakan lafadz-lafadz itu untuk menunjukkan satu pengertian. Beberapa kabilah yang dimaksud dengan tangan ialah seluruh harta yang lain mengatakan ialah lengan dan telapak tangan, yang lain mengatakan hanya telapak tangan saja. Menurut catatan bahasa orang berpendapat bahwa perkataan dalam bahasa arab yaitu lafadz Musytarak mempunyai 3 arti yaitu: Diantarnya orang menempatkan lafadz itu diatas berbentuk hakiki. Sudah itu orang enggunkan dengan bentuk lain yaitu majazi kemudian ada pula orang yang mempergunakan lafadz ini bermakna majazi inilah yang banyak dipakai orang sehigga orang lupa bahwa dia adalah majazi (Khallaf:2005, hlm 222).
Musytarak adalah isim (kata benda) seperti yang dikatakan diatas.Apabila lafadz-lafadz musytarak terdapat pada nash syar’i, bersekutu dengan makna lughawi dan makna istilahi maka orang harus memilih yang dimaksud dengan istilahi syar’i. Lafadz shalat menurut istilah bahasa artinya do’a dan menurut istilah artinya ibadah tertentu berbunyi: Dirikanlah olehmu sembahyang.”Yang dimaksud disini menurut syar’i ialah ibadat tertentu bukan makna lughawi yang berarti Do’a (Khallaf: 2005, hlm 222).

KESIMPULAN

• Ta’wil adalah pemalingan suatu lafal dari maknanya yang zahir kepada makna lain yang tidak cepat ditangkap, karena ada dalil yang menunjukkan bahwa makna itulah yang dimaksud oleh lafal itu.
• Nasakh diartikan pembatalan hukum syara’ yang ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama yang datang kemudian.
• Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna, jumhur ulama’ menyatakan bahwa mendudukan dua muradif pada tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat syara’.
• Sedangkan musytarak lafal yang mempunyai dua makna atau lebih dan jumhur ulama memperbolehkan penggunaan musyatrak menurut arti yang dikehendaki atau berbagai makna sesuai proporsinya.
• Penjelasan mengenai kaidah-kaidah tersebut sangat diperlukan guna menggali dan menetapkan suatu hukum yang bersumber dari nash-nash.

DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Nazar. 2003. Fiqih dan Ushul Fiqih. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persad.
Amir, Djafar. 1968. Ushul Fiqih. Semarang: CV. Toha Putera.
Effendi, Satria & Zein. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta: Prenada Media.
Khallaf, Abdul Wahhab.1994. Kaidah- kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqh). Terjemahan Noer Iskandar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Khallaf, Abdul Wahhab.2005. Ilmu Ushul Fiqih .Terjemahan Halimudin Jakarta: PT Renaka Cipta.
Syafe’i, Rahmat. 2007. Ilmu Ushul Fiqh, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Usman, Muhsin. 1995. Kaidah kaidah istinbath hukum Islam, Kaidah kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

About rudien87


3 responses to “TA’WIL DAN NASAKH, MURADIF DAN MUSYTARAK

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: