Arsip Penulis: rudien87

Tentang rudien87

mahasiswa anak desa

skripsi pendidikan

Bab 1 Muiz.


Continue reading


PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MELALUI MEDIA ICT

Membuat Bahan Ajar Berbasis ICT

Memakai PowerPoint®

Bagian Pertama

Pendahuluan

Salah satu keunggulan dari bahan ajar berbasis ICT adalah interaktivitas, baik secara fisik maupun mental. Interaktivitas mental adalah interaktivitas dimana pengguna mencoba memahami materi dengan cara menangkap informasi-informasi yang ditampilkan, mengolah dan menyimpannya dalam otak.

Tersedia banyak perangkat lunak komputer untuk membuat bahan ajar berbasis ICT, salah satu diantaranya Microsoft PowerPoint®.Meskipun fungsi utama dari software ini sebagai pengolah presentasi, namun kita bisa memanfaatkannya secara khusus untuk pembuatan bahan ajar berbasis ICT.

Langkah 01: Menyiapkan File

  1. Jalankan aplikasi PowerPoint®

(Start > All Programs > Microsoft Office > Microsoft Office PowerPoint 2003)

 

  1. Klik menu File, lalu pilih Save As…

 

  1. Di bagian file name, tulis nama file, dan kemudian klik tombol Save

 

 

Langkah 02: Menyiapkan Slide

Terdapat sedikit perbedaan antara slide untuk keperluan presentasi biasa dan slide untuk keperluan bahan ajar interaktif. Perbedaan itu terletak pada:

  • Dalam slide presentasi biasa, menu konteks (klik-kanan) dan navigasi default dalam keadaan aktif.
  • Dalam slide bahan ajar interaktif, baik menu konteks maupun navigasi default keduanya dikondisi dalam keadaan tidak aktif.

Berikut langkah-langkah menyiapkan slide bahan ajar interaktif:

  1. Jalankan Microsoft PowerPoint®
  2. Pilih layout Title Only.
  3. Klik Slide Show > Set Up Show…

 

  1. Pilih opsi Browsed at a kiosk (full screen), lalu klik OK.
  2. Salin Slide 1 sebanyak kebutuhan

 

Misalnya diperlukan 6 slide, maka anda harus membuat 5 salinan Slide 1 (Ulangi perintah Paste sebanyak 5 kali)

 

  1. Berikan judul pada tiap-tiap slide
    1. Klik Slide 1
    2. Klik placeholder bertuliskan Click to add title
    3. Ketik teks Home sebagai judul dari Slide 1.
    4. Klik diluar placeholder

 

  1. Ulangi langkah (a) hingga (d) untuk memasukkan teks Author, Kompetensi Dasar, Indikator, Materi dan Evaluasi, masing-masing ke Slide 2, Slide 3, Slide 4, Slide 5 dan Slide 6.

Langkah 03: Menyiapkan Tombol

Tombol diperlukan sebagai navigasi menuju ke bagian-bagian lain dalam bahan ajar interaktif anda. PowerPoint® menyediakan Toolbar Drawing untuk keperluan menggambar obyek.

 

 

Toolbar Drawing

 

 

 

  1. Pastikan bahwa anda sedang berada di Slide 1.
  2. Klik AutoShapes > Basic Shapes > Rounded Rectangle

 

  1. Drag didalam slide sehingga terbentuk bangun persegi-panjang

 

Home

 

  1. Mengatur-ulang bentuk obyek

 

  1. Menerapkan efek isian (fill effect)

Tujuan dari efek isian (fill effect) ini adalah supaya obyek tombol tampak lebih realistik.

 

 

 

  1. Penambahan teks
    1. Klik-kanan tepat pada obyek tombol
    2. Pilih menu Add Text
    3. c. Ketik teks Home
    4. Bila diperlukan, berilah efek cetak tebal (Bold) dan efek bayangan (Shadow) terhadap teks itu.
    5. Klik diluar obyek tombol

 

  1. Penyalinan obyek
    1. Pilih obyek tombol
    2. Klik icon Copy pada toolbar standard, lalu klik icon Paste

 

  1. Buatlah 5 buah salinan (klik icon Paste sebanyak 5 kali)

 

  1. Penempatan obyek tombol

Lakukan drag satu-per-satu untuk mengatur penempatan obyek-obyek tombol. Misalnya, tombol-tombol ditempatkan di sisi kiri slide berderet secara vertika. Anda bisa juga menggeser posisi obyek tombol menggunakan anak panah pada keyboard.

 

Lakukan penggantian teks untuk setiap tombol:

 

Langkah 04: Menyisipkan Hyperlink

Apa itu Hyperlink? Didalam Microsoft PowerPoint, hyperlink adalah suatu koneksi dari satu slide ke slide lain, halaman web, file, atau custom show. Hyperlnk itu sendiri dapat berupa teks, obyek atau WordArt.

Yang akan kita buat saat ini adalah hyperlink berupa obyek, dengan kata lain hyperlink tersebut disisipkan ke sebuah obyek (tombol).

  1. Pilih tombol Home.

 

  1. Klik icon Insert Hyperlink pada toolbar standard

 

 

  1. Di bagian Link to, pilih Place in This Document
  2. Di bagian Select a place in this document, pilih slide Home
  3. Klik OK
  4. Ulangi langkah (1) hingga (5) untuk menyisipkan hyperlink ke tombol-tombol lainnya sehingga setiap tombol mengkait ke slide-slide yang bersesuaian.
  • Tombol Author ¾® Slide Author
  • Tombol SK/KD ¾® Slide Kompetensi Dasar
  • Tombol Indikator ¾® Slide Indikator
  • Tombol Materi ¾® Slide Materi
  • Tombol Evaluasi ¾® Slide Evaluasi
  1. Menyisipkan efek animasi

Guna mendukung kesan realistik pada tombol yang sudah dibentuk oleh efek isian (fill effect), perlu diberikan pula efek animasi.

  1. Pilih tombol Home
  2. Klik menu Slide Show, lalu pilih Action Setting

 

  1. Pastikan tab Mouse Click dalam keadaan terpilih.
  2. Klik opsi Highlight click
  3. Klik tab Mouse Over
  4. Klik opsi Highlight when mouse over
  5. Klik OK

Dengan cara yang sama anda bisa memberikan efek animasi untuk tombol-tombol yang lain.

Anda bisa saksikan hasil dari efek animasi ini dengan cara:

  • Klik menu Slide Show, lalu pilih View Show
  • Geser pointer Mouse melintasi beberapa tombol
  • Klik salah satu tombol
  • Tekan ESC

Langkah 05: Pengaturan Navigasi

  1. Menyalin tombol-tombol navigasi ke setiap slide
    1. Pilih seluruh tombol pada slide Home

 

  1. Klik icon Copy pada toolbar standard
  2. Pilih slide Author, lalu klik icon Paste
  3. Pilih slide SK/KD, lalu klik icon Paste
  4. Pilih slide Indikator, lalu klik icon Paste
  5. Pilih slide Materi, lalu klik icon Paste
  6. Pilih slide Evaluasi, lalu klik icon Paste

Sekarang, seluruh slide sudah dilengkapi dengan tombol navigasi.

  1. Penyesuaian hyperlink

Hyperlink pada tombol tertentu didalam slide tertentu perlu dihapus karena tidak diperlukan. Sebagai contoh, hyperlink tombol Home didalam slide Home perlu ditiadakan. Mengapa? Karena misal ketika kita berada di slide Home maka mengklik tombol Home akan membawa kita ke slide Home itu sendiri. Bukankah kita sudah berada di slide Home saat itu?

  1. Pilih tombol Home didalam slide Home
  2. Klik icon Insert Hyperlink pada toolbar standard
  3. Klik tab Mouse Click (jika belum terbuka)
  4. Pilih opsi None
  5. Uncheck opsi Highlight click
  6. Klik tab Mouse Over
  7. Uncheck opsi Highlight when mouse over
  8. Klik OK

 

  1. Pilih tombol Home (didalam slide Home)
  2. Klik icon Fill Color pada toolbar Drawing

 

  1. Ulangi langkah (a) hingga (j) untuk:
  • Tombol Author didalam slide Author
    • Tombol SK/KD didalam slide Kompetensi Dasar
    • Tombol Indikator didalam slide Indikator
    • Tombol Materi didalam slide Materi
    • Tombol Evaluasi didalam slide Evaluasi

 

Selamat!

Sampai sejauh ini Anda sudah berhasil membuat interface untuk bahan ajar interaktif Anda. Di bagian berikutnya, anda akan lebih terkonsentrasi pada content (isi) dari bahan ajar ini.

 


Sejarah Singkat Darwinisme

Sebelum menelaah berbagai penderitaan dan bencana yang ditimpakan Darwinisme kepada dunia, marilah kita mempelajari sejarah Darwinisme secara sekilas. Banyak orang percaya bahwa teori evolusi yang pertama kali dicetuskan oleh Charles Darwin adalah teori yang didasarkan atas bukti, pengkajian dan percobaan ilmiah yang dapat dipercaya. Namun, pencetus awal teori evolusi ternyata bukanlah Darwin, dan, oleh karenanya, asal mula teori ini bukanlah didasarkan atas bukti ilmiah.
Pada suatu masa di Mesopotamia, saat agama penyembah berhala diyakini masyarakat luas, terdapat banyak takhayul dan mitos tentang asal-usul kehidupan dan alam semesta. Salah satunya adalah kepercayaan tentang “evolusi”. Menurut legenda Enuma-Elish yang berasal dari zaman Sumeria, suatu ketika pernah terjadi banjir besar di suatu tempat, dan dari banjir ini tiba-tiba muncul tuhan-tuhan yang disebut Lahmu dan Lahamu. Menurut takhayyul yang ada waktu itu, para tuhan ini pertama-tama menciptakan diri mereka sendiri. Setelah itu mereka melingkupi keseluruhan alam semesta dan kemudian membentuk seluruh materi lain dan makhluk hidup. Dengan kata lain, menurut mitos bangsa Sumeria, kehidupan terbentuk secara tiba-tiba dari benda tak hidup, yakni dari kekacauan dalam air, yang kemudian berevolusi dan berkembang.
Kita dapat memahami betapa kepercayaan ini berkaitan erat dengan pernyataan teori evolusi: “makhluk hidup berkembang dan berevolusi dari benda tak hidup.” Dari sini kita dapat memahami bahwa gagasan evolusi bukanlah diawali oleh Darwin, tetapi berasal dari bangsa Sumeria penyembah berhala.
Di kemudian hari, mitos evolusi tumbuh subur di peradaban penyembah berhala lainnya, yakni Yunani Kuno. Filsuf materialis Yunani kuno menganggap materi sebagai keberadaan satu-satunya. Mereka menggunakan mitos evolusi, yang merupakan warisan bangsa Sumeria, untuk menjelaskan bagaimana makhluk hidup muncul menjadi ada. Demikianlah, filsafat materialis dan mitos evolusi muncul dan berjalan beriringan di Yunani Kuno. Dari sini, mitos tersebut terbawa hingga ke peradaban Romawi.
Kedua pemikiran tersebut, yang masing-masing berasal dari kebudayaan penyembahan berhala ini, muncul lagi di dunia modern pada abad ke-18. Sejumlah pemikir Eropa yang mempelajari karya-karya bangsa Yunani kuno mulai tertarik dengan materialisme. Para pemikir ini memiliki kesamaan: mereka adalah para penentang agama.
Demikianlah, dan yang pertama kali mengulas teori evolusi secara lebih rinci adalah biologiwan Prancis, Jean Baptiste Lamarck. Dalam teorinya, yang di kemudian hari diketahui keliru, Lamarck mengemukakan bahwa semua mahluk hidup berevolusi dari satu ke yang lain melalui perubahan-perubahan kecil selama hidupnya. Orang yang mengulang pernyataan Lamark dengan cara yang sedikit berbeda adalah Charles Darwin.
Darwin mengemukakan teori tersebut dalam bukunya The Origin of Species, yang terbit di Inggris pada tahun 1859. Dalam buku ini, mitos evolusi, yang diwariskan oleh peradaban Sumeria kuno, dipaparkan lebih rinci. Dia berpendapat bahwa semua spesies makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang, yang muncul di air secara kebetulan, dan mereka tumbuh berbeda satu dari yang lain melalui perubahan-perubahan kecil yang terjadi secara kebetulan.
Pernyataan Darwin tidak banyak diterima oleh para tokoh ilmu pengetahuan di masanya. Para ahli fosil, khususnya, menyadari pernyataan Darwin sebagai hasil khayalan belaka. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, teori Darwin mulai mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kalangan. Hal ini disebabkan Darwin dan teorinya telah memberikan landasan berpijak ilmiah – yang dahulunya belum diketemukan– bagi kekuatan yang berkuasa pada abad ke-19.


PENGERTIAN, KHAKIKAT, LANDASAN FILOSOFIS DAN RELIGIUS,RUANGLINGKUP PENDIDIKAN AKHLAK DALAM ISLAM

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Akhlak

Akhlak menurut bahasa berasal daripada perkataan (al-akhlaaku) yaitu kata jama daripada perkataan (al-khuluqu) bererti tabiat,kelakuan, perangai, tingkahlaku, matuah, adat kebiasaan, malah ia juga bereti agama itu sendiri. Sedangkan menurut istilah adalah: sifat yang tertanam di dalam diri yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian dan paksaan.

Ibn Miskawaih, ahli falsafah Islam yang terkenal mentakrifkan akhlak itu sebagaikeadaan jiwa yang mendorong ke arah melahirkan perbuatan tanpa pemikiran dan penelitian.

Imam Ghazali radiAllahu anhu mengatakan: akhlak ialah suatu keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang menampilkan perbuatan-perbuatan dengan senang tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian. Apabila perbuatan yang terkeluar itu baik dan terpuji menurut syara dan aqal, perbuatan itu dinamakan akhlak yang mulia. Sebaliknya apabila terkeluar perbuatan yang buruk, ia dinamakan akhlak yang buruk[1].

Islam mempunyai dua sumber yaitu Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi pegangan dalam menentukan segala urusan dunia dan akhirat. Kedua-dua sumber itulah juga yang menjadi sumber akhlak Islamiyyah. Prinsip-prinsip dan kaedah ilmu akhlak Islam semuanya didasarkan kepada wahyu yang bersifat mutlak dan tepat neraca timbangannya.

Apabila melihat perbahasan bidang akhlak Islamiyyah sebagai satu ilmu berdasarkan kepada dua sumber yang mutlak ini, dapatlah dirumuskan definisinya seperti berikut:

Satu ilmu yang membahaskan tata nilai, hukum-hukum dan prinsip-prinsip tertentu bagi mengenalpasti sifat-sifat keutamaan untuk dihayati dan diamalkan dan mengenalpasti sifat-sifat tercela untuk dijauhi dengan tujuan membersihkan jiwa berasaskan wahyu Ilahi bagi mencapai keredhaan Allah (ridwaanullah).

Manakala akhlak pula dapatlah kita rumuskan sebagai satu sifat atau sikap keperibadian yang melahirkan tingkah laku perbuatan manusia dalam usaha membentuk kehidupan yang sempurna berdasarkan kepada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Allah.

Dengan kata lain, akhlak ialah suatu sistem yang menilai perbuatan zahir dan batin manusia  baik secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan Allah, manusia sesama manusia, manusia dengan haiwan, dengan malaikat, dengan jin dan juga dengan alam sekitar.

Dalam hidup ini ada dua nilai yang menentukan perbuatan manusia iaitu nilai baik dan buruk (good and bad), betul dan salah (true and false). Penilaian ini berlaku dalam semua lapangan kehidupan manusia. Apakah yang dimaksudkan dengan baik dan buruk, betul dan salah, benar dan palsu itu? Apakah alat pengukur yang menentukan sesuatu perbuatan itu baik atau buruk, betul atau salah, benar atau palsu? Persoalan-persoalan inilah yang akan dijawab oleh ilmu akhlak.

Matlamat hidup manusia berbeza antara individu dengan individu lain. Ada yang menjadikan kebendaan, harta benda sebagai matlamat yang diburu dalam kehidupan. Ada pula yang menjadikan kebesaran ataupun kekuasaan, ada yang mencari nama dan kemasyhuran. Ada juga yang berusaha mencai ilmu pengetahuan dan ada pula golongan yang memandang remeh terhadap kehidupan tersebut, sebaliknya bersifat zuhud di dunia; memadai dengan kehidupan yang sederhana. Mereka lebih menumpukan peningkatan rohaniyyah dengan mementingkan persoalan hidup akhirat.

Perbedaan pandangan inilah yang meneyebabkan timbulnya beberapa aliran di dalam memahami akhlak. Semua pandangan ini apabila diteliti dengan saksama, tidak dapat dijadikan sebagai matlamat terakhir atau tertinggi yang seharusnya dicapai oleh manusia. Oleh itu, tentulah di sebalik pandangan atau perbezaan ituada satu matlamat hakiki yang wajib dituntut oleh manusia. Apabila sesuatu perilaku atau perbuatan manusia itu selaras dengan neraca timbangan tersebut, itulah yang dikatakan baik dan sebaliknya yang tidak selaras dengan ukuran tersebut itulah yang dikatakan buruk atau jahat dan sebagainya.

Persoalan-persoalan inilah yang menjadi skop perbahasan ilmu akhlak, iaitu ilmu yang menerangkan tentang baik dan buruk, dan juga menerangkan sesuatu yang sepatutnya dilakukan oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya di dunia ini. Ilmu ini juga cuba menerangkan matlamat yang seharusnya dituju oleh manusia dan juga menggariskan jalan-jalan yang seharusnya dilalui untuk melaksanakan sesuatu dalam hidup ini.

Jelaslah bahawa fungsi akhlak ialah mengkaji dan meneliti aspek perilaku dan perbuatan manusia. Ia menilai dari segi baik atau buruknya perbuatan itu, apa yang patut dan apa yang tidak patut dilakukan oleh seseorang. Semua yang berlaku pada manusia bersifat tidak iradi (bukan dengan ikhtiar) seperti pernafasan, detik jantung dan sebagainya tidak termasuk dalam skop ilmu akhlak. Jadi tidaklah boleh diberi nilai atau hukuman ke atas perkara ini sebagai baik atau buruk.

Segala tindakan manusia yang dilakukan secara sedar dan dengan ikhtiar, sama ada hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, hubungan dengan diri sendiri dan sebagainya, semuanya mengandungi nilai akhlak. Segala tindakan manusia baik yang berupa peribadi mahupun bersifat sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya mengandungi nilai akhlak yang diambil kira dan dipertanggungjawabkan kepada kepada mereka yang terlibat di dalam dalamnya. Nilai akhlak yang buruk akan diberikan balasan siksa.

Jadi bidang akhlak itu hanya meliputi perilaku perbuatan dan tindakan manusia yang dilakukan dalam lingkungan dan suasana berikut:

Dilakukan dengan sedar dan niat.

Dilakukan denganikhtiar sendiri.

Melakukannya dengan sengaja, tidak dalam keadaan lupa atau bersalah.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah akhlak memiliki pengertian yang sangat luas dan hal ini memiliki perbedaan yang signifikan dengan istilah moral dan etika, standar atau ukuran baik buruk akhlak adalah berdasarkan alquran dan as-sunnah sehingga bersifat universal dan abadi. Sedangkan moral slalu dikaitkan dengan ajaran baik dan burukyang diterima umum oleh masyarakat, adat istiadat menjadi standartnya. Sementara itu, etika lebih banya dikaitkan dengan  ilmu atau filsafat, akal sebagai standartnya.hal ini menyebabkan standart nilai moral dan etika bersifat local dan temporal[2].

  1. B. Landasan Religius (al-Qur’an dan Hadis) Akhlak dalam Islam

Sumber hukum Islam yang menjadi acuan dalam menjalani kehidupan kita di dunia adalah al-Qur’an dan hadisbegitu pula dengan Landasan Religius Akhlak. Berikut ini adalah landasan Religius (al-Qur’an dan Hadis) akhak:

  1. Akhlak merupakan salah satu tujuan diutusnya Rasulullah.

اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Hakim).

  1. Akhlak yang bagus sebagai standart atau berpengaruh untuk kesempurnaan iman seseorang. “Sesempurna-sempurna iman seseorang di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud).
    1. Akhlak yang baik dapat memperberat timbangan kebajikan. “Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya di mizan kecuali kusnul khuluq/baiknya akhlak.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
    2. Akhlak yang tinggi menyebabkan orang masuk jannah. (QS. Ali Imron: 133-134).
    3. (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. al-Baqara: 112).
    4. Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”. Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).
    5. Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (QS. An-Nahl: 30).
    6. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl 128).
    7. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai (QS. Al-Isro’: 7).

10.  Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qashash: 77)

11.  Akhlak yang mulia dapat menjadikan dekat dengan Rasulullah di hari kiamat. “Sesung-guhnyaorang yang paling aku sukai dan paling dekat denganku tempat duduknya pada harikiamatadalah orang-orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Ahmad dan AbuDawud).

12.  Akhlak yang baik menjadkan seseorang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

اَنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesunguhnya orang yang paling kucintai di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhari).

13.  “Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Hakim)

14.   Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhori dan Malik).

15.  Orang yang terbaik di antara orang beriman adalah orang yang baik akhlaknya.

اِنَّ مِنْ حِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا
“Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

16.  Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

17.  Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud).

18.  Ummu Salamah, isteri Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, seorang wanita dari kami ada yang kawin dua, tiga dan empat kali lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di surga?” Nabi Saw menjawab, “Dia disuruh memilih dan yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata, “Ya Robbku, orang ini ketika dalam negeri dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani).

19.  Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi).

20.  Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim).

21.  Ya Rasulullah, terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang lain. Nabi Saw menjawab, “Katakan: ‘Aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur)’.” (HR. Muslim).

22.  Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong muslim, dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

23.  Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati. (HR. Ad-Dailami).

24.  Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara’ yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani).

25.  Menghemat dalam nafkah separo pendapatan (belanja), dan mengasihi serta menyayangi orang lain adalah separo akal, sedangkan bertanya dengan baik adalah separo ilmu. (HR. Ath-Thabrani).

26.  Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. (HR. Ahmad dan Al Hakim).

27.  Kebijaksanaan adalah tongkat yang hilang bagi seorang mukmin. Dia harus mengambilnya dari siapa saja yang didengarnya, tidak peduli dari sumber mana datangnya. (HR. Ibnu Hibban).

28.  Kalau kamu sudah tidak punya malu lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki. (HR. Bukhari).

29.  Tidak ada sesuatu yang ditelan seorang hamba yang lebih afdhol di sisi Allah daripada menelan (menahan) amarah yang ditelannya karena keridhoan Allah Ta’ala. (HR. Ahmad).

30.   Seorang sahabat berkata kepada Nabi Saw, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Saw berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Saw tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah.” (HR. Bukhari).

31.  Barangsiapa banyak diam maka dia akan selamat. (HR. Ahmad).

32.   Hati-hatilah terhadap prasangka. Sesungguhnya prasangka adalah omongan paling dusta. (HR. Bukhari).

33.  Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab).

34.  Seorang yang baik keislamannya ialah yang meninggalkan apa-apa yang tidak berkepentingan dengannya. (HR. Tirmidzi).

35.   Dekatkan dirimu kepada-Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemah dan berbuatlah ihsan kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu. (HR. Muslim).

36.  Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar).

37.  Barangsiapa rendah hati kepada saudaranya semuslim maka Allah akan mengangkat derajatnya, dan barangsiapa mengangkat diri terhadapnya maka Allah akan merendahkannya. (HR. Ath-Thabrani).

38.  Allah mewahyukan kepadaku agar kamu berprilaku rendah hati agar tidak ada orang yang menzalimi orang lain atau menyombongkan dirinya terhadap orang lain. (HR. Ahmad).

39.  Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk adalah kebengisan tabi’at dan kebengisan tabi’at di neraka. (HR. Bukhari dan Tirmidzi).

40.  Sesungguhnya cemburu (yakni cemburu yang wajar dan masuk akal adalah bagian) dari keimanan. (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Babawih).

41.  Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain. (HR. Muslim).

42.   Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu (HR. Muslim)[3].

 

  1. Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak dalam Islam

Akhlak Islam bagaikan garam yang dibutuhkan bagi tiap macam makanan, maka ia dibutuhkan untuk penenang hati dalam setiap lapisan masyarakat umat manusia, sepanjang zaman. Akhlak dibutuhkan dalam menjalin hubungan dengan Sang Kholik (Allah SWT), dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk lain ciptaan Allah SWT. Agar mempermudah dalam mempelajari ruang lingkup akhlak, perhatikan bagan berikut ini[4]:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ibadah                                          Wahyu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh implementasi ajaran akhlak dalam Islam

  1. Akhlak kepada Sang Kholik

Allah menciptakan manusia hanya untuk menghiasi dan meramaikan dunia. Tidak hanya sebagai kelengkapan, tetapi berfungsi sebagai makhluk. Allah SWT adalah Al-Khaliq (Maha pencipta) dan manusia adalah makhluk (yang diciptakan). Manusia wajib tunduk kepada peraturan Allah. Hal ini menunjukkan kepada sifat manusia sebagai hamba. Kewajiban manusia terhadap Allah SWT Di antaranya:
Kewajiban diri kita terhadap Allah, dengan mentauhidkan Allah dan menghindari syirik, bertaqwa kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya melalui berdo’a, berdzikir baik siang maupun malam, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring, dan bertawakal kepada-Nya. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pola-pola ini diantaranya[5]:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”  (QS. Al-Ikhlas, 1-4)

Kewajiban keluarga kita terhadap Allah, adalah dengan mendidik mereka, anak dan isteri agar dapat mengenal Allah dan mampu berkomunikasi dan berdialog dengan Allah.

Kewajiban harta kita dengan Allah adalah agar harta yang kita peroleh adalah harta yang halal dan mampu menunjang ibadah kita kepada Allah serta membelanjakan harta itu dijalan Allah.

  1. Pola akhlak kepada Rasulullah

Cara berakhlak kepada Rosulullah SAW yaitu dengan cara menegakkan sunnah Rasul, menziarahi kuburnya di Madinah, dan membacakan sholawat.

  1. Akhlak kepada diri sendiri

Manusia yang bertanggung jawab ialah pribadi yang mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri . bertanggung jawab atas tugas dan kewajiban yang dipikul diatas pundaknya, kewajibannya-kewajibannya: tanggungjawab terhadap kesehatannya, pakaiannya, minuman & makanannya dan bahkan yang menjadi apa yang menjadi miliknya.

  1. Pola akhlak kepada keluarga

Seperti berbakti kepada kedua orang tua atau birrul walidain, baik dengan tutur kata, pemberian nafkah ataupun do’a, member bantuan material maupun moral kepada karib kerabat atau aati dzal qurba, (suami) memberikan nafkah kepada istri, anak dan anggota keluarga lain, (suami) mendidik anak dan isrti agar terhindar dari api neraka, dan (istri) menaati suami.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan pola ini antara lain:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An-Nisa’: 19).

 

  1. Pola akhlak dalam masyarakat

Dalam konteks kepemimpinan, pola-pola hubungan yang yang perlu dikembangkan adalah: menegakkan keadilan, berbuat ihsan, menjunjung tinggi musyawarah, memandang kesesederajatan manusia, dan membela orang-orang yang lemah. Serta sebagai anggota masyarakat perlu menjunjung tinggi ukhwah dalam seiman dan ukhwah kemanusiaan, saling tolong menolong, pemurah, penyantun, menepati janji dan lain-lain.

 

KESIMPULAN

Akhlak ialah suatu sistem yang menilai perbuatan zahir dan batin manusia  baik secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan Allah, manusia sesama manusia, manusia dengan haiwan, dengan malaikat, dengan jin dan juga dengan alam sekitar.

Islam mempunyai dua sumber iaitu Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi pegangan dalam menentukan segala urusan dunia dan akhirat. Kedua-dua sumber itulah juga yang menjadi sumber akhlak Islamiyyah. Prinsip-prinsip dan kaedah ilmu akhlak Islam semuanya didasarkan kepada wahyu yang bersifat mutlak dan tepat neraca timbangannya.

Islam mempunyai dua sumber yaitu Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi pegangan dalam menentukan segala urusan dunia dan akhirat. Kedua-dua sumber itulah juga yang menjadi sumber akhlak Islamiyyah. Prinsip-prinsip dan kaedah ilmu akhlak Islam semuanya didasarkan kepada wahyu yang bersifat mutlak dan tepat neraca timbangannya.

Akhlak dibutuhkan dalam menjalin hubungan dengan Sang Kholik (Allah SWT), dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk lain ciptaan Allah SWT. Agar mempermudah dalam mempelajari ruang lingkup akhlak.

DAFTAR PUSTAKA

Anggota IKAPI. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: CV Alvabeta. 1993.

Asysyafii, Muhyiddin abi Zakakaria. Menuju Pribadi yang Shaleh. Surabaya: Media Idaman. 1991

Masyhur, Kahar. Membina Moral dan Akhlak. Jakarta: PT Rineka Cipta  1994.

Almusyawa, nabiel fuad. Pendidikan agama islam. pt. syamil cipta media. 2005.

Aminuddin. Pendidikan agama islam. Ghalia Indonesia. 2002.



[1]Almusyawa,  Nabiel fuad,M.Si. pendidikan agama islam,cipta media. Hal.170-180

[2] Aminuddin.dkk. Pendidikan Agama Islam. Bogor: Ghalia Indonesia, Hal, 152-153

[3] Asysyafii, Muhyiddin abi Zakakaria. 1991. Menuju Pribadi yang Shaleh. Surabaya: Media Idaman

[4] Kahar Masthur, Membina akhlak dan Moral, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), h. 17

[5] Muslim Nurdin, Moral dan Kognisi Islam, (Bandung, CV Alva Beta: 1993), h. 205-206

 


MENINGKATKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT MELALUI PEMAHAMAN SIFAT-SIFATNYA

Akhmad Khoiruddin dan Siti Nurul Fatimah, Iman kepada Allah melalui Pemahaman Sifat-sifatnya, Makalah Kelompok Mata Kuliah Aqidah Akhlak 1. Malang: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang, Oktober 2010.

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Islam adalah agama universal, berhubungan dengan ketuhanan. Apalagi idiologi Negara kita adalah pancasila sedangkan dalam sila pertama disebutkan bahawa “ketuhanan yang Maha Esa”. Dalam hal ini pancasila merupakan idilogi bangsa yang harus ditanamkan pada setiap generasi bangsa sebagai generasi penerus pencapaian kemerdekaan yang yang seutuhnya.

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meneruskan kemerdekaan ini. Karena pendidikan yang berberan penting dalam hal ini, oleh karena itu dalam proses pendidikan yang   berperan penting adalah guru sebab itu guru harus menguasai materi-materi dalam mendidik keimanan para siswanya. Tapi kenyataan yang ada dilapangan tidaklah semudah  dalam teori oleh karena itu dalam memperdalam materi-materi keimanan bagi para calon pendidik, dibuatlah makalah ini, disamping itu juga sebagai tanggung jawab perkuliahan.

Ajaran-ajaranNya yang berupa pokok-poko akidah (kepercayaan) dan pokok-pokok syariat (peraturan) telah disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. Selanjutnya beliau diitugaskan untuk menyampaikan kepada segenap manusia dan menyarankan supaya memrka memeluk agama islam dan menjalankan menurut ajaran agama islam.

Bukti-bukti yang cukup kuat telah memberikan keyakinan kepada orang-orang yang telah memperhatikan Quran dengan seksama. Karena itu seseorang yang cinta dan tunduk untuk menerima kebenaran mempercayai adnaya Allah.

Dalam konteks makalah ini, penulis ingin menyoroti masalah bagaimana mengimani Allah dengan sifat-sifat yang dimilikNya. Hal tersebut akan menjadi solusi dan bagaimana cara memperoleh keimanan terhadap aqidah pokok.

1.2.Rumusan Masalah

  1. Ayat-ayat apa saja yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah?

Bagaimana contoh perilaku sebagai cerminan meyakini akan sifat-sifat Allah?

2.Bagaimana memahami ayat-ayat tersebut?

3. Dengan ayat tersebut bagaimana kita mengetahui sifat-sifat All

1.3  Tujuan Penulisan Makalah

1. Untuk mengetahui Ayat-ayat apa saja yang berkaitan dengan sifat-sifat   Allah swt.

2. Untuk  mengetahui arti dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah swt.

3. Untuk mengetahui tanda-tanda adanya Allah.

4. Memberikan contoh perilaku dan cerminan  meyakini akan sifat-sifat Allah swt.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.1. Rukun Iman[1]

  1. Percaya kepada Allah
  2. Percaya kepada Malaikat-malaikatNya
  3. Percaya kepada kitab-kitabNya
  4. Percaya kepada Rasul-rasulNya
  5. Percaya kepada hari Akhir
  6. Percaya kepada qodha’ dan qadhar

Fardhu dan kesempurnaan iman menurut (Yusran Asmuni, 1996)

  1. Diiqrarkan dengan lidah

Seseorang bisa disebut beriman jika dia mempercayai didalam hatinya akan eksistensi Allah dan mengirarkan/mengucapkan kepercayaan dengan lidah.

  1. Ditashdiqkan dengan hati

Jika seseorang sudah tashdiq , membenarkan dan meyakini akan adanya Allah, maka Ia sudah beriman sekalipun perbuatannya tidak sesuaidengan tuntutan ajaran agama.

  1. Diamalkan dengan  perbuatan

Dibuktikan dengan perbuatan, dengan kata lain keimanan seseorang perlu untuk dibuktikan pula dengan amal perbuatannya.

Perusak iman

  1. Menduakan tuhan
  2. Senantiasa berbuat jahat
  3. Membnasakn sesama makhluk secara dhalim
  4. Berniat burk serta dendam didalam hati
  5. Menganggap enteng syariat
  6. Tidak takut berkurangnya  iman.

2.2. Ayat Al-Quran yang Berkaitan dengan Sifat-sifat Allah[2]

Sebagai Sang Khalik, Allah swt memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Mengenal sifat-sifat Allah dapat meningkatkan keimanan kita. Seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani ada 20, diantaranya:

  1. 1. Wujud

Sifat Allah yang pertama yaitu Wujud. Wujud artinya ada. Umat muslim yang beriman meyakini bahwa Allah swt ada. Untuk itulah kita tidak boleh meragukan atau mempertanyakan keberadaanNya. Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa alam semesta beserta isinya ada karna Allah yang menciptakannya.

Artinya:
Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. “ (QS. Al-A’raf: 54)

  1. 2. Qidam

Qidam berarti dahulu atau awal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan.

uqèd ãA¨rF{$# ãÅzFy$#ur ãÎg»©à9$#ur ß`ÏÛ$t7ø9$#ur ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÌÈ

Artinya: “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al-Hadid: 3)

  1. Baqa’

Sifat Allah Baqa’ yaitu kekal. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan hancur. Kita akan kembali kepadaNya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal.

Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. “(QS. Ar-Rahman: 26-27

  1. Mukhalafatu lil hawadits

Sifat Allah ini artinya adalah Allah berbeda dengan ciptaanNya. Itulah keistimewaan dan Keagungan Allah swt

 

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ (QS. Asy-Syuura: 11)

  1. Qiyamuhu binafsihi

Sifat Allah selanjutnya yaitu Qiyamuhu binafsihi, yang artinya Allah berdiri sendiri. Allah menciptakan alam semesta, membuat takdir, menghadirkan surga dan neraka, dan lain sebagainya, tanpa bantuan makhluk apapun. Berbeda dengan manusia yang sangat lemah, pastinya membutuhkan satu sama lain.

ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ‘yÛø9$# ãPq•‹s)ø9$# ÇËÈ

Artinya: “ALLAH, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. “ (QS. Ali-Imran: 2)

  1. Wahdaniyyah

Sifat Allah Wahdaniyyah yaitu esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah.

 

Artinya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

  1. Qudrat

Qudrat adalah berkuasa. Sifat Allah ini berarti Allah berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia ciptakan. Kekuasaan Allah sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia. Allah memiliki kuasa terhadap hidup dan mati segala makhluk. Kekuasaan Allah itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia dapat hilang atas kuasa Allah swt.

Artinya: “Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. “ [2]:22

  1. Iradat

Iradat berarti berkehendak. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt memiliki kehendak atas semua ciptaanNya. Bila Allah telah berkehendak terhadap takdir atau nasib seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya.

Artinya: 107. mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi[736], kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

[736] Alam akhirat juga mempunyai langit dan bumi tersendiri.

  1. Ilmu

Ilmu artinya mengetahui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat. Tiada yang luput dari penglihatan Allah.

ö@è% šcqßJÏk=yèè?r& ©!$# öNà6ÏZƒÏ‰Î/ ª!$#ur ãNn=÷ètƒ $tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒO‹Î=tã ÇÊÏÈ

Artinya: Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, Padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu?” (QS. Al-Huujarat:16)

  1. Hayat

Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya.

ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ÓyÕø9$# ãPq•‹s)ø9$# 4 Ÿw ¼çnä‹è{ù’s? ×puZř Ÿwur ×PöqtR 4 ¼çm©9 $tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# 3 `tB #sŒ “Ï%©!$# ßìxÿô±o„ ÿ¼çny‰YÏ㠞wÎ) ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 4 ãNn=÷ètƒ $tB šú÷üt/ óOÎgƒÏ‰÷ƒr& $tBur öNßgxÿù=yz ( Ÿwur tbqä܊Åsム&äóÓy´Î/ ô`ÏiB ÿ¾ÏmÏJù=Ï㠞wÎ) $yJÎ/ uä!$x© 4 yìřur çm•‹Å™öä. ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ( Ÿwur ¼çnߊqä«tƒ $uKßgÝàøÿÏm 4 uqèdur ’Í?yèø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇËÎÎÈ

Artinya: “Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

  1. Sam’un

Sifat Allah Sam’un atau mendengar. Allah selalu mendengar semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. Pendengaran Allah tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna.

ö@è% šcr߉ç7÷ès?r& `ÏB Âcrߊ «!$# $tB Ÿw à7Î=ôJtƒ öNà6s9 #uŽŸÑ Ÿwur $YèøÿtR 4 ª!$#ur uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÐÏÈ

Artinya: Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS. Al-Maidah: 76)

  1. Basar

Basar artinya melihat. Penglihatan Allah juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Allah mampu melihat, naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Maha Sempurna.

Artinya: Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Hujurat: 18)

  1. Kalam

Kalam artinya berfirman. Sifat Allah ini dapat kita lihat dengan adanya Al Quran sebagai petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. Al Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. “ (QS. An-Nisa: 164)

  1. Qadirun

Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaanNya.

ÇËÉÈ

ߊ%s3tƒ ä-÷Žy9ø9$# ß#sÜøƒs† öNèdt»|Áö/r& ( !$yJ¯=ä. uä!$|Êr& Nßgs9 (#öqt±¨B ÏmŠÏù !#sŒÎ)ur zNn=øßr& öNÍköŽn=tæ (#qãB$s% 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# |=yds%s! öNÎgÏèôJ|¡Î/ öNÏd̍»|Áö/r&ur 4 žcÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇËÉÈ

Artinya: “Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu. “ [2]:[20]

 

  1. Muridun

Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak. Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.

šúïÏ$Î#»yz $pkŽÏù $tB ÏMtB#yŠ ÝVºuq»uK¡¡9$# ÞÚö‘F{$#ur žwÎ) $tB uä!$x© y7•/u‘ 4 ¨bÎ) y7­/u‘ ×A$¨èsù $yJÏj9 ߉ƒÌãƒ ÇÊÉÐÈ

Artinya: mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. [11]:107

16. ‘Alimun

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.

Artinya:176. mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)[387]. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[387] Kalalah Ialah: seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.

  1. Hayyun

Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “ (QS. Al Furqon: 58).

  1. Sami’un
    Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar. Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.

Iw on#tø.Î) ’Îû ÈûïÏe$!$# ( ‰s% tû¨üt6¨? ߉ô©”9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4 `yJsù öàÿõ3tƒ ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãƒur «!$$Î/ ωs)sù y7|¡ôJtGó™$# Íouróãèø9$$Î/ 4’s+øOâqø9$# Ÿw tP$|ÁÏÿR$# $olm; 3 ª!$#ur ìì‹Ïÿxœ îLìÎ=tæ ÇËÎÏÈ

Artinya: “Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. “ [2]:[256].

  1. Basirun

Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia. Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.

¨bÎ) ©!$# ÞOn=÷ètƒ |=øŠxî ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ª!$#ur 7ŽÅÁt/ $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ

Artinya: “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “(Al-Hujurat: 18)

 

  1. Mutakallimun

Sifat Allah ini berarti Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah swt.

2.3. Tanda-tanda adanya Allah

Rasa manis bisa diketahui dengan perantaraan pengecap tetapi pengecap tidak mampu mengetahui sesuatu yang mengeluarkan bauharum dan yang menampilkan warna. Dengan perantaraan alat peraba tidak mampu mengetahui adanya suara-suara yang jauh. Daya tagkap manusia yang lebih jauh  adalah pendengaran, tetapi ada yang mampu ditangkap dan diketahui hanyalah suara-suara yang memasuki liang telinganya.demikian juga dengan dzat Allah SWT, tidak dapat dijangkau dengan panca indra karena Dia tidak bisa dilihat, diraba dan diketahui oleh panca indera. Tuhan dapat diketahui dan dilihat melalui akal pikiran yang sehat.

Imam Abu Hanifah membuktikan kekuasan Allah swt dengan adanya bermacam-macam ragam kehendak manusia, akan tetapi kadang-kadang kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini membuktikan adanya kekuasaan yang Maha tinggi yang menguasai diri kita.

Imam Malik membuktikan kekuasaan Allah dengan adanya manusia yang beragam bentuk, rupa, kulit, suara, kemauan, dan lain-lain. Namun tidak serupa.

Imam Syafi’ie membuktikan kekusaan Allah dengan memperhatikan dari sebuah jenis daun tumbuh-tumbuhan yang dapat berubah menjai bermacam-macam benda. Contoh: daun dimakan ukat sutera maka hasilnya akan menjadi sutera yang halus atau berkualitas, daun jika dimakan oleh lembu maka akan menghasilkan susu yang segar dan bermanfaat bagi kesehatan kita.

 

 

 

 

 

Sebuah  bukti Kekuasaan Allah

öqs9 $uZø9t“Rr& #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# 4’n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd‰|ÁtF•B ô`ÏiB ÏpuŠô±yz «!$# 4 šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ΎôØtR Ĩ$¨Z=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ   uqèd ª!$# “Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ÞOÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»yg¤±9$#ur ( uqèd ß`»oH÷q§9$# ÞOŠÏm§9$# ÇËËÈ   uqèd ª!$# ”Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨r‘‰à)ø9$# ãN»n=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$# ÚÆÏJø‹ygßJø9$# Ⓝ͓yèø9$# â‘$¬6yfø9$# çŽÉi9x6tGßJø9$# 4 z`»ysö6ߙ «!$# $£Jt㠚cqà2Ύô³ç„ ÇËÌÈ   uqèd ª!$# ß,Î=»y‚ø9$# ä—Í‘$t7ø9$# â‘Èhq|ÁßJø9$# ( ã&s! âä!$yJó™F{$# 4Óo_ó¡ßsø9$# 4 ßxÎm7|¡ç„ ¼çms9 $tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ( uqèdur Ⓝ͕yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$#

Artinya:

21. kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

23. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sifat Wajib Tulisan Arab Maksud Sifat Mustahil Tulisan Arab Maksud
Wujud ﻭﺟﻮﺩ Ada Adam ﻋﺪﻡ Tiada
Qidam ﻗﺪﻡ Sedia Haduth ﺣﺪﻭﺙ Baharu
Baqa ﺑﻘﺎﺀ Kekal Fana ﻓﻨﺎﺀ Akan binasa
Mukhalafatuhu lilhawadith ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu Mumathalatuhu lilhawadith ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ Menyamai atau bersamaan bagi-Nya dengan suatu yang baru
Qiamuhu binafsih ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ Berdiri-Nya dengan sendiri Qiamuhu bighairih ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ Berdiri-Nya dengan yang lain
Wahdaniat ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ Esa Allah Ta’ala pada dzat,pada sifat dan pada perbuatan Ta’addud ﺗﻌﺪﺩ Berbilang-bilang
Qudrat ﻗﺪﺭﺓ Berkuasa Ajzun ﻋﺟﺰ Lemah
Iradat ﺇﺭﺍﺩﺓ Berkehendak menentukan Karahah ﻛﺮﺍﻫﻪ Benci iaitu tidak menentukan
Ilmu ﻋﻠﻢ Mengetahui Jahlun ﺟﻬﻞ Bodoh
Hayat ﺣﻴﺎﺓ Hidup Al-Maut ﺍﻟﻤﻮﺕ Mati
Sama’ ﺳﻤﻊ Mendengar As-Summu ﺍﻟﺻﻢ Pekak
Basar ﺑﺼﺮ Melihat Al-Umyu ﺍﻟﻌﻤﻲ Buta
Kalam ﻛﻼ Berkata-kata Al-Bukmu ﺍﻟﺑﻜﻢ Bisu
Kaunuhu qaadiran ﻗﺎﺩﺭﺍ ﻛﻮﻧﻪ Keadaan-Nya yang berkuasa Kaunuhu ajizan ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ Keadaan-Nya yang lemah
Kaunuhu muriidan ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Kaunuhu kaarihan ﻛﻮﻧﻪ ﻛﺎﺭﻫﺎ Keadaan-Nya yang benci iaitu tidak menentukan
Kaunuhu ‘aliman ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ Keadaan-Nya yang mengetahui Kaunuhu jahilan ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ Keadaan-Nya yang bodoh
Kaunuhu hayyan ﺣﻴﺎ ﻛﻮﻧﻪ Keadaan-Nya yang hidup Kaunuhu mayitan ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ Keadaan-Nya yang mati
Kaunuhu sami’an ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ Keadaan-Nya yang mendengar Kaunuhu asamma ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ Keadaan-Nya yang pekak
Kaunuhu basiiran ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ Keadaan-Nya yang melihat Kaunuhu a’maa ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ Keadaan-Nya yang buta
Kaunuhu mutakalliman ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ Keadaan-Nya yang berkata-kata Kaunuhu abkam ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ Keadaan-Nya yang kelu

 

SIFAT KESEMPURNAAN

Dua puluh yang tertera di atas yang wajib bagi Allah terkandung di dalam dua sifat kesempurnaan. Sifat tersebut adalah:

  1. Istigna’ ( ﺇﺳﺘﻐﻨﺎﺀ )

Kaya Allah daripada sekelian yang lain daripada-Nya iaitu tidak berkehendak ia kepada sesuatu. Maksudnya, Allah tidak mengkehendaki yang lain menjadikan-Nya dan tidak berkehendakkan tempat berdiri bagi zat-Nya. Contohnya, Allah tidak memerlukan dan tidak mengkehendaki malaikat untuk menciptakan Arasy.

Maka, Maha suci Tuhan daripada tujuan pada sekelian perbuatan dan hukum-hukumnya dan tidak wajib bagi-Nya membuat sesuatu datau meninggalkan sesuatu.

Sifatnya: wujud, qidam, baqa’, mukhalafatuhu lilhawadith, qiamuhu binafsih, sama’, basar, kalam, kaunuhu sami’an, kaunuhu basiran, kaunuhu mutakalliman.

  1. Iftiqar ( ﺇﻓﺘﻘﺎﺭ )

Yang lain berkehendakkan sesuatu daripada Allah yaitu yang lain berkehendakkan daripada Allah untuk menjadikan dan menentukan mereka dengan perkara yang harus. Contohnya, manusia memohon kepada Allah melancarkan hidupnya.

Sifatnya: wahdaniat, qudrat, iradat, ilmu, hayat, kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu hayyan.

 

SIFAT YANG HARUS[3]

Sifat harus atau sifat jaiz juga dimiliki oleh Allah. Harus bagi Allah memperbuatkan sesuatu yang harus ada atau tiada atau meninggalkannya. Contohnya, harus bagi Allah menciptakan langit, bumi, matahari dan yang lain dan harus juga bagi Allah untuk tidak menciptakannya. Tidak wajib bagi Allah membuat sesuatu seperti menghidupkan atau mematikan bahkan itu harus pada hak Allah.Iman

Tanda-tanda Orang Beriman[4]

Walaupun Iman merupakan hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan indra manusia, namun orang yang memiliki iman daapat diketahui dengan mengenal tanda-tandanya yaitu: 1). jika disebut nama Allah maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat Al-Quran maka bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya ( Al-Anfal : 2). 2) senantiasa tawakkal 3) tertib dalam melaksanakan sholat dan selalu menjaga pelaksanaan (Al-Anfal:3), 4) Menafkahkan rezeki yang diterimanya  5) Menghindari perkataan dan menjaga kehormatan  6) memelihara amanah dan menepati janji 7) Berjihad di jalan dan suka menolong. 8)Tidak meninggalkan pertemuan sebelum minta izin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Sifat harus atau sifat jaiz juga dimiliki oleh Allah. Harus bagi Allah memperbuatkan sesuatu yang harus ada atau tiada atau meninggalkannya. Contohnya, harus bagi Allah menciptakan langit, bumi, matahari dan yang lain dan harus juga bagi Allah untuk tidak menciptakannya. Tidak wajib bagi Allah membuat sesuatu seperti menghidupkan atau mematikan bahkan itu harus pada hak Allah.Iman

Iman kepada Allah bukan berarti hanya sekedar meyakini akan adanya Allah akan tetapi mengerjakan atau mengamalkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah, menjauhi segala apa yang telah dilarangNya.

Orang beriman tidak akan merasa khawatir dengan keadaan duniayanya yang fana ini demi mencapai keberuntungan yang abadi di akhirat kelak. Dengan mengetahui sifat-sifat dan ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan sifat-sifat Alloh kita menegetahui bagaiman kekuasaan Alloh dengan keesaan yang maha segalanya. Dengan mengetahui ini semua diharapkan keimanan kiat semakin meningkatkan.

Dengan penyebutan ayat-ayat dan terjemahanya kita mengetahui bagaiman sifat-sifat wajib bagi Alloh, namun sebenaranya sifat-sifat Alloh tidak hanya sebatas disebutkan oleh pemakalah yakni dari siafat wujud sampai yang terkhir karena Alloh maha segala-galanya.

3.2 Saran

Diharapkan ada materi-materi yang lebih kreatif dalam meningkatkan kimanan kepada Alloh, karena materi-materi yang berhubungan dengan akidak adalah materi-materi yang abstrak.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan terjemahan.

 

Asmuni, Yusran. 1996. Ilmu Tauhid. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Hafiduddin, Didin. 2002. Membentuk Pribadi Qurani. Bandung: Harakah.

 

http://id.wikipedia.org / wiki indonesia/ Sifat-sifat Allah/

diakses pada 12 September 2010.

 

Syaltut, Mahmud. 1995. Akidah dan Syari’ah Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Thantawi, Ali. 2004. Aqidah Islam; Doktrin dan Filosofi. Solo: Era Intermedia.

 

Umari, Barmawi. 1966. Materia Achlaak. Semarang: CV. Ramadhani.

 

Tim Dosen PAI. 2007. Buku Daras: Pendidikan Agama Islam di Universitas

Brawijaya. Malang: Pusat Pembinaan Agama.

Al- Asyaar, Umar Sulaiman.2009. Al-asma’ al- Husna. Jakarta: Qisthi Press.

 

Jabir Al-Jazairy, Abu Bakar. 2006. Amalan Pemelihara Iman.  Jakarta: Qisthi Press.

 

Amin Abdul aziz, Jum’ah. 2005. Pemikiran Hasa Al-Banna dalam Aqidah dan Hadis. Jakarta: Al- Kautsar.

 

Abdul Wahab, Imam Muhamad. 2004. Tauhid. Yogykarta: Mitra Pustaka.

 

Imam, muawaffaquddin. 2007. Wahai Saudaraku Inilah Aqidahmu. Bogor:

Pustaka Ibnu Katsir.

 

Abdullah Al-Fauzan, Sholih Bin Fauzan. 2008. Kitab Tauhid jilid I, Jakarta: Darul

Haq.

 


[1] Barmawi Umari, 1966, Materia Achlaak. Semarang: CV. Ramadhani. Halaman 8

[2] http://Wikipedia /indonesia diakses pada 12 September 2010

[3] Thantawi, Ali. 2004. Aqidah Islam; Doktrin dan Filosofi. Solo: Era Intermedia.

[4] Tim Dosen PAI. 2007. Buku Daras: Pendidikan Agama Islam di Universitas

Brawijaya. Malang: Pusat Pembinaan Agama. Halaman 73

 


IMAN KEPADA MALAIKAT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar  Belakang

Keberadaan malaikat di alam abstrak dan pergantian mereka secara positif ditengah-tengah makhluk dan ditengah-tengah rill sekaligus hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat, kita wajib mengimani eksistensi mereka dan berusaha menghubungkan diri dengan mereka untuk mensucikan jiwa dan hati serta beribadah kepada Allah dengan khusyu’.

Berhubungan dengan malaikat merupakan ketinggian spiritual dan realisasi hikmah luhur sebagaimana Allah menciptakan manusia karena keagungan hikmah, yaitu melaksanakan amanat Allah, dan menegakkan kekhalifahan-Nya di muka bumi. Oleh karena itu, iman pada malaikat termasuk perbuatan baik dan merupakan panji-panji kebenaran dan takwa.

Iman tidak akan mempunyai nilai hakikat kecuali jika manusia mengimani alam abstrak (Malaikat)  tanpa ragu-ragu dan tidak berdasar praduga. Ini  adalah cara para nabi dan orang-orang mu’min yang telah menemukan hakikat dengan penglihatan mereka sehingga mereka mampu menangkap sesuatu yang tidak diketahui oleh orang-orang yang lengah dimuka bumi ini.

B.  Rumusan Masalah

  1. Menjelaskan arti beriman pada Malaikat ?
  2. Menjelaskan  tugas-tugas malaikat ?

C.  Tujuan

  1. Memahami tentang arti beriman pada Malaikat.
  2. Mengetahui tentang tugas-tugas  Malaikat.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Menjelasakan arti beriman pada Malaikat

Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul:

Malaikat berempat tinggal di langit dan mereka turun karena membawa perintah dari Allah. Ahmad dan bukhori meriwayatkan dari ibnu abbas bahwa rosulullah bertanya kepada jibril :”apa yang menghalangimu berkunjung pada kami lebih banyak daripada kunjungan yang engkau laksanakan?” Jibril menjawab sebagaimana ayat diturunkan :

:$tBur ãA¨”t\tGtR žwÎ) ̍øBr’Î/ y7În/u‘ ( ¼çms9 $tB tû÷üt/ $uZƒÏ‰÷ƒr& $tBur $oYxÿù=yz $tBur šú÷üt/ y7Ï9ºsŒ 4 $tBur tb%x. y7•/u‘ $|‹Å¡nS ÇÏÍÈ

Yang artinya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.

(QS. Maryam : 64)

  • Wujud Malaikat

Wujud para malaikat telah dijabarkan didalam Al Qur’an ada yang memiliki sayap sebanyak 2, 3 dan 4. surah Faathir 35:1 yang berbunyi:

Yang artinya: Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kemudian dalam beberapa hadits

Dikatakan bahwa Jibril memiliki 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril dan yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-’Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.

Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk[27] tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, hanya Nabi Muhammad SAW yang mampu melihat wujud asli malaikat bahkan sampai dua kali. Yaitu wujud asli malikat Jibril .[28]

Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan. Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Mereka dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Mereka tidak berjenis lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.

  • Sifat Malaikat

Sifat-sifat malaikat yang diyakini oleh umat Islam adalah sebagai berikut:

  1. Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti
  2. Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
  3. Selalu takut dan taat kepada Allah.
  4. Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.
  5. Mempunyai sifat malu.
  6. Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.
  7. Tidak makan dan minum.
  8. Mampu merubah wujudnya
  9. Memiliki kekuatan[37][38] dan kecepatan cahaya.

Malaikat tidak pernah lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka. Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Ada pengecualian terhadap kisah Muhammad yang pernah bertemu dengan Jibril dengan menampakkan wujud aslinya, penampakkan yang ditunjukkan kepada Muhammad ini sebanyak 2 kali, yaitu pada saat menerima wahyu dan Isra dan Mi’raj.

Beberapa nabi dan rasul telah di tampakkan wujud malaikat yang berubah menjadi manusia, seperti dalam kisah IbrahimLuthMaryam,Muhammad dan lainnya. Berbeda dengan ajaran Kristen dan Yahudi, Islam tidak mengenal istilah “Malaikat Yang Terjatuh” (Fallen Angel). Azazil yang kemudian mendapatkan julukan Iblis, adalah nenek moyang Jin, seperti Adam nenek moyang Manusia. Jin adalah makhluk yang dicipta oleh Allah dari ‘api yang tidak berasap’, sedang malaikat dicipta dari cahaya.

Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para Nabi dan Rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk beriman pada para malaikat. Allah, sebagaimana dalam firmannya, memberitakan perintahnya

Yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya.

B. Tugas-tugas Malaikat

Dalam ajaran agama islam terdapat 10 malaikat yang wajib kita ketahui dari banyak malaikat yang ada di dunia dan akherat yang tidak kita ketahui yaitu antara lain :

  1. Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi dan Rasul.

Yang artinya: Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu Telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al Baqoroh :97)

  1. Malaikat Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.
    1. Malaikat Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari kiamat.

Yang Artinya: Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). (Qs. Az Zumar: 68)

4. Malaikat Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.

Yang Artinya: Dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami, dan malaikat- malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al An’am: 61)
5. Malikat Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.

(#qè=äz÷Š$# sp¨Yyfø9$# óOçFRr& ö/ä3ã_ºurø—r&ur šcrçŽy9øtéB ÇÐÉÈ

Yang Artinya: Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (Qs. Az Zuqhuf: 70)

6. Malaikat Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.

Yang Artinya: Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (Malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.(Qs. Az Zuqhuf:80)
7. Malaikat Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik manusia ketika hidup.

8. Malaikat Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk / jahat manusia ketika hidup.

9. Malaikat Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.

Yang artinya: Dan orang-orang yang berada dalam neraka Berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya dia meringankan azab dari kami barang sehari”. (Qs. Al Mu’min:49)
10. Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu sorga / surga.

Yang artinya: (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(Ar Ra’d: 23)

  • Buah Iman Kepada Malaikat Allah

Beriman kepada Malaikat membuahkan pengaruh yang mulia diantaranya:

  1. Mengetahui dengan benar keagungan, kebesaran, kekuasaan malaikat, dan kebesaran makhluk menjadi bukti atas kebesaran Penciptanya.
  2. Bersyukur kepada Allah atas perhatianNya yang diberikan kepada anak Adam dengan menugaskan beberapa malaikat yang menjaga, mencatat amal mereka dan tugas-tugas lainnya dalam kemaslahatan hidup manusia.
  3. Kecintaan kita kepada para malaikat atas tugas-tugas yang mereka tunaikan dalam rangka mengabdi dan taat kepada Allah.
  4. Semakin meyakini kebesaran, kekuatan, dan kemahakuasaan Allah SWT .
  5. Berswyukur kepada Allah karena Allah SWt telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin.
  6. Menumbuhkan cinta kepada amal sholih karena mengetahui ibadah para malaikat.
  7. Merasa takut berksiat karena meyakini berbagai tugas malaikat seperti mencatat seluruh perbuatan makhlluk hidup, mencabut nyawa seluruh makhluk hidup, dan menyiksa  di neraka.
  8. Cinta kepada malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah, dan karena mereka selalu membantu dan mendoakan kita.

KESIMPULAN

  • Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul:
  • Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para Nabi dan Rasul.
  • Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi dan Rasul.

Malaikat Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia

Malaikat Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari kiamat.

Malaikat Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.

Malikat Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.

Malaikat Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.

Malaikat Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.

Malaikat Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik manusia ketika hidup.

Malaikat Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk / jahat manusia ketika hidup.

Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu sorga / surga.

DAFTAR PUSTAKA

Zaini Syahminah. Kuliah Aqidah Islam. Surabaya: Al- Ikhlas , 1993

Sabiq Sayid. Aqidah Islam. Surabaya: Al-Ikhlas, 1996


KONSEP IBADAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN


A. Pengertian Ibadah

Kalimat ibadah berasal daripada kalimat `abdun’. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah dan memperhambakan diri kepada sesuatu. Dari segi istilah agama Islam pula ialah tindakan, menurut, mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala perkara yang disyariatkan oleh Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya, sama ada ia berbentuk suruhan atau larangan. Ibnu Taimiah pula memberi takrif Ibadah, yiaitu nama bagi sesuatu yang disukai dan kasihi oleh Allah swt.

Pengertian Ibadah Menurut Al-Qur’an Islam sebagai agama mengandung sistem kepercayaan dan peribadatan. Islam tidak saja memiliki pokok-pokok kepercayaan tetapi juga memiliki sistem  ibadah. Al-Qur’an sebagai sumber dan dasar utama Islam mengandung ajaran  tentang berbagai hal yang terkait dengan peribadatan yang tujuan pokoknya adalah kemulyaan dan kebahagiaan. Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan melakukan hubungan dengan Allah dan manusia.

Ibadah adalah ketundukan hamba yang tak terhingga kepada Allah dengan cara melakukan tindakan apapun disertai mengharap ridlo Allah, ibadah adalah tugas pokok manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. “Dan  Aku tidak ciptakan  jin dan manusia kecuali  supaya  mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Diantara redaksi Al-Qur’an juga terdapat rangkaian ibadah kepada Allah diiringi larangan menyekutukan kepada-Nya (QS. Ali-Imran: 64; QS. An-Nur: 55; QS. An-Nisa’: 38 dan lain-lain) dan diiringi oleh perintah untuk sabar, teguh dalam menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah semata (QS. Maryam: 65), diiringi syukur kepada Allah (QS. Al-Ankabut: 17), dan terkadang diiringi perintah tawakal kepada-Nya (QS. Hud: 123), dan ada pula yang disertai perintah bertaqwa kepada-Nya (QS. Al-Ankabut: 16), diiringi perintah bersujud kepada-Nya (QS. Al-Hajj: 77; QS. An-Najm: 62), dan diiringi larangan menyembah dan perintah menjauhi thaghut (QS. An-Nahl: 36). Secara umum, perintah untuk beribadah kepada Allah adalah bermuara pada sikap ikhlas (QS. Az-Zumar: 2), karena hanya amal yang ikhlas saja yang diterima di sisi-Nya. Perhatikan ayat berikut:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Sesungguhnya  kami  menurunkan  al-Qur’an  kepadamu  dengan sebenarnya, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (QS.az-Zumar: 2)

Sesetengah ulama mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. dan hati yang sihat dan sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis, lebih lazat, lebih seronok dari kemanisan iman yang lahir dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. Dengan ini maka akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud:

ô`¨B zÓÅ´yz z`»uH÷q§9$# Í=ø‹tóø9$$Î/ uä!%y`ur 5=ù=s)Î/ A=ŠÏZ•B ÇÌÌÈ

“(Ia itu) Orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat”. (Qaf: 33).

Orang yang memperhambakan dirinya (beribadah) kepada Allah mereka akan sentiasa patuh dan tunduk kepada kehendak dan arahan Tuhannya, sama ada dalam perkara yang ia suka atau yang ia tidak suka dan mereka mencintai dan mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain-lainnya. Mereka mengasihi makhluk yang lain hanyalah kerana Allah semata-mata, tidak kerana yang lain Kasihkan kepada Rasulullah saw. pula kerana ia membawa Risalah Islam, cintakan kepada Rasulullah saw. hendaklah mengikuti sunahnya sebagaimana firman Allah swt. maksudnya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ

ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad) sekiranya kamu kasihkan Allah maka ikutilah aku (pengajaranku) nescaya Allah akan mengasihi kamu dan mengampunkan dosa- dosa kamu”. (Al-Imran: 31)

Dan andainya kecintaan kamu kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu mengatasi dan melebihi dari kencintaan dan kasih kepada yang lain; Allah akan turunkan keseksaan-Nya kepada manusia yang telah meyimpang dari ketentuan-Nya. Firman Allah swt. maksudnya:

ö@è% bÎ) tb%x. öNä.ät!$t/#uä öNà2ät!$oYö/r&ur öNä3çRºuq÷zÎ)ur ö/ä3ã_ºurø—r&ur óOä3è?uŽÏ±tãur îAºuqøBr&ur $ydqßJçGøùuŽtIø%$# ×ot»pgÏBur tböqt±øƒrB $ydyŠ$|¡x. ß`Å3»|¡tBur !$ygtRöq|Êös? ¡=ymr& Nà6ø‹s9Î) šÆÏiB «!$# ¾Ï&Î!qߙu‘ur 7Š$ygÅ_ur ’Îû ¾Ï&Î#‹Î7y™ (#qÝÁ­/uŽtIsù 4Ó®Lym š†ÎAù’tƒ ª!$# ¾Ín͐öDr’Î/ 3 ª!$#ur Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# šúüÉ)Å¡»xÿø9$# ÇËÍÈ

“Katakanlah (Muhammad) jika ibu bapa kamu, anak-anak kamu, saudara mara kamu, suami isteri kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbangkan kerugiannya, dan rumahtangga yang kamu sukai itu lebih kamu kasihi daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad untuk agama Allah, maka tunggulah (kesiksaan yang akan didatangkan) oleh Allah. Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasik”. (At-Taubah: 24).

Keikhlasan Dalam Beribadah

Dalam konteks ikhlas beribadah didasarkan pada kesadaran diri untuk melakukannya tanpa mengharapkan imbalan apapun, hanya karena Allah semata. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus” (QS.Al-Bayyinah: 5).

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#r߉ç6÷èu‹Ï9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJ‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

  1. 1. Cinta

Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi’ah Al- Adawiyah (w. 165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah Swt”. Tentang cinta itu sendiri Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa apa yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: “Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin.”

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. (QS. Al Baqarah: 165).

  1. 2. Harapan

Pengharapan kepada Allah sungguh indah dan tidak mengecewakan. Pengharapan kepada manusia hanya sia sia dan bersifat sementara tetapi di dalam Tuhan, kita menemukan pertolongan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al Baqarah: 218).

Hijrah ini meliputi ‘dari’ dan ‘menuju’: Dari kecintaan kepada selain Alloh menuju kecintaan kepada-Nya, dari peribadahan kepada selain-Nya menuju peribadahan kepada-Nya, dari takut kepada selain Alloh menuju takut kepada-Nya. Dari berharap kepada selain Alloh menuju berharap kepada-Nya. Dari tawakal kepada selain Alloh menuju tawakal kepada-Nya. Dari berdo’a kepada selain Alloh menuju berdo’a kepada-Nya. Dari tunduk kepada selain Alloh menuju tunduk kepada-Nya. Inilah makna Alloh, “Maka segeralah kembali pada Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50). Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat Laa ilaha illalloh.

  1. 3. Takut

Takut kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak terlalu diperhatikan oleh sebagian orang-orang mukmin, padahal itu menjadi dasar beribadah dengan benar. Seseorang yang takut kepada Allah mempunyai kekhawatiran atau ketakutan sekiranya lisannya mengucapkan perkataan yang mendatangkan murka Allah. Sehingga dia menjaganya dari perkataan dusta, ghibah (bergosip) dan perkataan yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. Bahkan selalu berusaha agar lisannya senantiasa basah dan sibuk dengan berdzikir kepada Allah, dengan bacaan Al Qur’an, dan mudzakarah ilmu.

¨bÎ) tûïÏ%©!$# Nèd ô`ÏiB ÏpuŠô±yz NÍkÍh5u‘ tbqà)Ïÿô±•B ÇÎÐÈ   tûïÏ%©!$#ur Oèd ÏM»tƒ$t«Î/ öNÍkÍh5u‘ tbqãZÏB÷sムÇÎÑÈ   tûïÏ%©!$#ur Oèd öNÍkÍh5tÎ/ Ÿw šcqä.Ύô³ç„ ÇÎÒÈ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka. (QS. Al Mukminun: 57-59).

Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah ‘Azza wajalla berfirman, “Anak Adam mendustakan Aku padahal tidak seharusnya dia berbuat demikian. Dia mencaci Aku padahal tidak seharusnya demikian. Adapun mendustakan Aku adalah dengan ucapannya bahwa “Allah tidak akan menghidupkan aku kembali sebagaimana menciptakan aku pada permulaan”. Ketahuilah bahwa tiada ciptaan (makhluk) pertama lebih mudah bagiku daripada mengulangi ciptaan. Adapun caci-makinya terhadap Aku ialah dengan berkata, “Allah mempunyai anak”. Padahal Aku Maha Esa yang bergantung kepada-Ku segala sesuatu. Aku tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun setara dengan Aku.” (HR. Bukhari).

Laksanakan segala apa yang diwajibkan Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa. (HR. Ath-Thabrani).

Diantara masalah aqidah yang banyak diabaikan dan tidak diperhatikan oleh banyak orang adalah masalah takut kepada Allah, Hal ini dikarenakan jauhnya mereka dari tuntunan agama dan sedikitnya pengetahuan yang mereka miliki. Sehingga tidak heran jika didapati mereka dengan begitu mudahnya melakukan dosa dan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya baik siang maupun malam. Takut kepada Allah Ta’ala merupakan keharusan bagi setiap hamba, karena ia merupakan syarat keimanan, tanpanya keimanan seseorang tidak berarti apa-apa, bahkan hati yang kosong ari rasa takut kepada Allah dapat dipastikan kosong pula dari keimanan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karena-Nya).” (QS al-Anfal : 2)

$yJ¯RÎ) šcqãZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# #sŒÎ) tÏ.èŒ ª!$# ôMn=Å_ur öNåkæ5qè=è% #sŒÎ)ur ôMu‹Î=è? öNÍköŽn=tã ¼çmçG»tƒ#uä öNåkøEyŠ#y— $YZ»yJƒÎ) 4’n?tãur óOÎgÎn/u‘ tbqè=©.uqtGtƒ ÇËÈ
Disamping itu, takut kepada Allah mempunyai keutamaan yang sangat banyak sekali, diantaranya, didapatnya naungan Allah dihari akhir, sebagai sebab terlindunginya diri dari segala keburukan, sebab diraihnya kejayaan, didapatnya rasa aman kelak dihari akhir, dan lain sebagainya. Rasa takut kepada Allah dapat ditumbuhkan dengan cara melatihnya, faktor yang dapat menumbuhkan rasa takut antara lain dengan mengingat kematian, siksa kubur, peristiwa-peristiwa mengerikan di hari Akhir, dahsyatnya siksa api Neraka.

Generasi salaf merupakan teladan dan contoh yang baik bagi kita dalam masalah ini, berbagai kisah menakjubkan tentang rasa takut mereka kepada Allah akan anda jumpai didalam buku ini, dan dengan membacanya kita akan dapat bercermin dan mengukur sampai sejauh mana rasa takut kita kepada Allah.

“Puncak kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran. Kepemudaan termasuk kelompok kegilaan (radikal). Orang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari (peristiwa) orang lain, dan orang yang sengsara ialah yang sengsara sejak dalam kandungan ibunya. Tiap perkara yang akan datang adalah dekat. (HR. Al-Baihaqi)”

Pahala Duniawi dan Ukhrowi

Pembalasan pahala dari Allah kepada para hamba-Nya, tidak harus diperoleh kelak di negeri akhirat. Akan tetapi Allah Ta’ala secara tunai dapat membalasnya langsung di dunia ini juga, terutama untuk para hamba Allah yang saleh dan sangat dekat dengan Allah (para Waliyullah) dengan anugerah dan keagungan Allah mengizinkan memperoleh pembalasan pahala sebagai rahmat dunia.

Pada dasarnya amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia disamping berniat untuk tujuan akhirat, dengan syarat apabila syariát menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut. Amal yang tidak tercampur niat untuk mendapatkan dunia memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi. Semua ini adalah karena dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya. Ia mendapat kehormatan untuk menerima rahmat dan anugerah Allah di dunia ini juga dan kelak akan memperolehnya berlipat ganda di akhirat.

Bagi seorang hamba Allah yang saleh, ia merasa bersyukur dan berbahagia apabila di dunia ini ia dapat menerima anugerah Allah, sebelum ia memasuki negeri akhirat. Pemberian Allah itu dimaksudkan agar seorang hamba selalu meningkat taqarrub-nya kepada Allah serta memanfaatkan semua rahmat Allah untuk melaksanakan muamalah bagi sesama hamba­-Nya. Allah Ta’ala tidak memberi pahala seorang hamba di dunia ini juga apabila si hamba bukan termasuk manusia yang sangat dekat dengan Allah. Taqarrub dan ketaatan si hamba telah memberinya rahmat yang besar dari Allah Swt. Syekh Ahmad Ataillah mengingatkan:

“Cukup Allah yang memberi pahala karena ketaatanmu, karena Ia telah rida kepadamu sebagai ahli ibadah. “

Inilah karunia besar dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ahli ibadah. Hamba yang mendahulukan Allah Ta’ala dari kepentingan duniawinya. Selain itu, ketaatan kepada Allah dengan tulus dan tekun itu sendiri sudah menjadi suatu kenikmatan bagi si hamba, dan kenikmatan itulah pahala dan rahmat yang besar bagi si hamba yang saleh.

Seorang hamba Allah yang saleh dan taqarrub kepada-Nya sudah menerima rahmat dari-Nya. Sebab, kalau tidak karena rahmat dan hidayah-Nya, tidak seorang pun yang dapat mengerjakan amal ibadah dengan tekun dan hati tulus ikhlas. Mereka mendapatkan kebahagiaan dalam ketaatan mereka sendiri. Syekh Ahmad Ataillah menjelaskan:

“Kiranya cukuplah sebagai pembalasan, dari apa yang Al­lah Ta’ala bukakan ke dalam hati nurani mereka kegemaran melaksanakan 1badah, dan memberikan mereka kenikmat­an dari amal ibadahnya itu. “

Inilah suatu pemberian dari Allah sebagai pahala yang sangat mulia, agar dapat dinikmati dalam hatinya pembalasan Allah tersebut, suatu perasaan halus yang bernilai. Itulah keridaan Allah yang besar, karena begitu taqarrubnya si hamba dan ketaatannya. Pemberian rahmat Allah sebenar­nya adalah surga. Tidak ada yang melebihi surga itu, hanyalah nikmat seorang yang beribadah sajalah yang akan melebihi surga tersebut.

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. Al Imran: 148).

Orang yang merasakan nikmat dan lezatnya beribadah adalah orang yang beribadah semata-mata tidak hanya mencari kenikmatan surga. Ia memperbagus ibadahnya dan merasakan pula kenikmatan ibadah di dunia ini juga sebelum ia merasakan kenikmatan surga di akhirat. Memperbagus ibadahnya itu termasuk kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-hamnba Nya. Seperti di waktu munajah tengah malam pada shalat lail akan memberi kekhususan nikmat bagi hamba yang melakukannya. Ia akan memperoleh hawalah dari munajah itu. Dalam munajah malam, orang akan mendapatkan sesuatu kelezatan yang jarang ia temui. Kenikmatan itu akan memberi bimbingan baginya terus mendekati Allah Jalla Jalaluh.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Al Imran: 145).

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Tujuan Beribadah

Tujuan utama ibadah ialah “Taqwa”.
Firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون        “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 21).

Seorang yang bertaqwa, akan selalu mengikuti sifat-sifat Nya. Ia akan terhindar dari gangguan kehidupan, goncangan jiwa dan apa saja yang bertalian dengan benda. Itu artinya bahwa ia beribadah kepada Allah. Manusia diberi sarana oleh-Nya. Diberi bumi untuk tinggal dan beribadah kepada-Nya. Allah memberi kewajiban-kewajiban. Karenanya Allah meminta hak agar manusia beribadah kepada-Nya, dengan tujuan, agar manusia dapat terhindar diri dari siksa neraka akherat.

Ekspresi Kepatuhan

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS. An Nisa: 65).”

Implementasi dari kepatuhan kepada Allah ini bukan saja berlaku bagi bumi, bulan, matahari, bintang-bintang, planet-planet dan benda-benda ruang angkasa lain tetapi juga untuk seluruh ciptaan Allah di jagad raya ini termasuk: gunung-gunung, pohon-pohon sampai binatang melata sekalipun melakukan kepatuhannya kepada Allah SWT sehingga tercipta harmoni keteraturan kehidupan.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي

الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ

وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ

يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS Al Hajj: 18).”

Ketaatan pada Allah adalah suatu yang sangat sakral karena pentingnya sebuah ketaatan meningkatkan iman kita kepada ketakwaan banyak dalil yang menerangkan tentang kepatuhan ketaatan dan ketakwaan dalam sebuah syiir di jelaskan bahwa patuh dan takwa adalah salahsatu dari sekian banyaknya simbul keimanan yang meningkatkan drajat setiap pelaku kepada derajad yang mulya di sisi Allah. Dan Allah telah menjelaskan dalam firmanya yang artinya (dan tidak aku ciptakan jin dan manusi kecuali untuk beribadah/menyembahku)

“Tidak ada ketaatan kepada orang yang tidak taat kepada Allah. (Abu Ya’la)”

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Dan dalam ayat lain juga di jelaskan yg artinya:

dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS Al Hajj:34)

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي

الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.(QS Al Hajj:35)

Ekspresi Pengagungan

Kalau semua manusia sadar bahwa hanya Allah yang memiliki sifat Agung dan diagungkan, maka selesailah sudah permasalahan yang mengenai konteks ini, bisa dilihat dan dirasakan bukti penciptaan-Nya baik dibumi dan dilangit, sehingga hanya Allah yang Pantas diAgungkan. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya

diturunkan “(permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Qs Al Baqarah:185)”

Ekspresi  Bersyukur

Dalam berbagai konteks telah dipaparkan tentang bersyukur, namun bersyukur yang sebenarnya adalah hanya kepada Allah, ketika manusia mensyukuri ni’mat yang telah Allah berikan kepadanya, dan menjadikan rasa syukur sebagai refleksi dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran diri untuk meresapi akan makna bersyukur tersebut dengan hati tulus.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Qs Ali imran:123)”

Kenapa kita diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah, karena secara tidak langsung Allah mengajari kita bagaimana tata cara melakukan sesuat dan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, misalnya penjelasan ayat dibawah ini.

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3řrâäãÎ/ öNà6n=ã_ö‘r&ur ’n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# 4 bÎ)ur öNçGZä. $Y6ãZã_ (#r㍣g©Û$$sù 4 bÎ)ur NçGYä. #ÓyÌó£D ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!%y` Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãMçGó¡yJ»s9 uä!$|¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y6ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNà6Ïdqã_âqÎ/ Nä3ƒÏ‰÷ƒr&ur çm÷YÏiB 4 $tB ߉ƒÌãƒ ª!$# Ÿ@yèôfuŠÏ9 Nà6ø‹n=tæ ô`ÏiB 8ltym `Å3»s9ur ߉ƒÌãƒ öNä.tÎdgsÜãŠÏ9 §NÏGãŠÏ9ur ¼çmtGyJ÷èÏR öNä3ø‹n=tæ öNà6¯=yès9 šcrãä3ô±n@ ÇÏÈ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.(Qs Al Maa-iddah:6)”

Ekspresi Ketaqwaan

Kewajiban manusia sebagai hamba adalah menyembah Allah Yang Maha Esa, karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia dan jin hanya untuk menyembah kepada-Nya, namun banyak dari manusia dan jin yang berpaling dari kewajibannya yaitu menyembah kepada Allah.

“Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan ikhlas, masuk surga. Para sahabat bertanya, “Apa keikhlasannya, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Memagarinya (melindunginya) dari segala apa yang diharamkan Allah.” (HR. Ath-Thabrani)”

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.(Qs Al Baqarrah:21)”

Dan masih banyak lagi kandungan Al-Quran yang menjelaskan tentang kewajiban manusia menyembah kepada Allah sebagai refleksi dirinya pada konteks ketaqwaan.

“Tiap orang yang bertaqwa termasuk keluarga Muhammad (umat Muhammad). (HR. Ath-Thabrani dan Al Baihaqi)”

Fungsi Ibadah

Adapun salah satu fungsi ibadah adalah agar manusia tidak lupa dengan Penciptanya, karena kesibukan manusia dengan urusan duniawi, terkadang ia lupa akan Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada disekelilingnya, oleh karena itu mengapa manusia hendaknya selalu beribadah kepada Allah agar senantiasa ingat kepada Allah.

Mengingat Allah

Sebagi seorang muslim hendaknya senantiasa selalu mengingat Allah sebagai refleksi diri atas Penciptaan-Nya, dan ditegaskan dalam Al-Quran, hendaknya seorang hamba itu senantiasa Mengingat Allah (Sang Khaliq) dalam berbagai situasi dan kondisi. Banyak

ûÓÍ_¯RÎ) $tRr& ª!$# Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& ’ÎTô‰ç6ôã$$sù ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ü“̍ò2Ï%Î! ÇÊÍÈ

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.(Qs Thaahaa:14)”

“Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)”

Media Penyucian

Banyak sekali tujuan ibadah, diantaranya adalah penyucian, sedangkan penyucian sendiri bukan hanya suci dari hadats besar atau hadats kecil dan sebaginya, namun mensucikan jiwa, dan segala sesuatu yang melekat dalam jiwa tersebut, serta ruang lingkup jiwa itu sendiri. Tujuannya adalah agar lebih dekat kepada Allah (sang pencipta).

Jiwa

Mengapa beribadah sebagai penyucian jiwa, karena dengan komitmen yang kuat dalam proses ibadah, manusia selalu berhati-hati dalam segala tindakan dan perbuatan, dalam bergaul dan berumah tangga, disamping itu mereka tidak pernah keluar dari garis prosedur yang telah ditentukan oleh syari’at.

štRqè=t«ó¡o„ur Ç`tã ÇيÅsyJø9$# ( ö@è% uqèd “]Œr& (#qä9͔tIôã$$sù uä!$|¡ÏiY9$# ’Îû ÇيÅsyJø9$# ( Ÿwur £`èdqç/tø)s? 4Ó®Lym tbößgôÜtƒ ( #sŒÎ*sù tbö£gsÜs?  Æèdqè?ù’sù ô`ÏB ß]ø‹ym ãNä.ttBr& ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÎ/º§q­G9$# =Ïtä†ur šúï̍ÎdgsÜtFßJø9$# ÇËËËÈ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.( Qs Al Baqarah:222)”

Harta Benda

Dewasa ini kita sering lalai karena harta, karena dengan berkelimang harta, manusia merasa kecukupan karena hadirnya harta tersebut, padahal sebenarnya harta inilah yang menjajah diri manusia, dan ketika hartanya telah bertumpuk-tumpuk, mereka lupa akan segalanya, lupa kepada yang member harta tersebut. Sebenarnya harta yang mereka cari selama ini belum tentu bersih, adakalanya melalui berbagai cara yang merugikan orang lain, oleh karena itu direkomendasikan kepada orang muslim (khusunya) untuk membersihkan hartanya yaitu dengan cara zakat fitrah atau zakat mal dan lain-lain.

“Dari Ibnu Abbas r. bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman –ia meneruskan hadits itu– dan didalamnya (beliau bersabda): “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.”

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui (QS. At Taubah: 103).”


Kesimpulan

Bahwa ibadah dalam perspektif Al-Quran adalah suatu proses, pelaksanaan, penghambaan, kepatuhan, dan ketaatan oleh seorang hamba yang harus dilakukan kepada sang Pencipta yang didasarkan dengan rasa ikhlas, cinta, dan takut (خوف) kepada sang Penciptanya. Dan tidak hanya itu, bahwa ibadah adalah suatu konsep yang dijelaskan dalam Al-Quran, yaitu penghambaan diri kepada sang Pencipta, dan ibadah bukan hanya sebatas sholat, akan tetapi juga dijelaskan didalam beberapa ayat Al-Quran, serta hadits-hadits nabi, seperti yang berbunyi

بني الاسلام علي خمس شهدة ان لااله الاالله وان محمد رسلو لله وتقيم الصلاة واتا الزكاة وصوم رمضا ن وحجج البيت ان اسطاع اليه سبيلا

 


qiyas sebagaisumber hukum islam

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Dalam sketsa pemikiran hukum dikenal bahwa Qiyas (Analogical Reasoning) merupakan suatu metode penetapan hukum yang menempati posisi keempat dalam kerangka pemikiran hukum (Ushul Fiqh). Para ulama dan praktisi hukum menilai bahwa semua produk hukum fiqh yang dihasilkan oleh metode Qiyas ini benar-benar valid dan memiliki kekuatan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Dilihat dari konteks sejarah ada kecenderungan bahwa metode Qiyas ini berawal dari logika filsafat Ariestoteles yang berkembang di Yunani kemudian ditransformasi menjadii khazanah kebudayaan Islam pada masa al-Makmun. Secara metodologi dan operasional, Qiyas merupakan upaya menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain yang memiliki justifikasi hukum dengan melihat adanya persamaan kausa hukum (‘illat). Dengan adanya persamaan kausa inilah, maka kasus yang pertama itu ditetapkan dan diberikan ketentuan hukumnya. Imam Syafi’i sebagai perintis pertama metode Qiyas ini membuat kualifikasi ketat terhadap unsur-unsur yang ada pada qiyas. Baginya Qiyas dapat berlaku dan memiliki kekuatan hukum yang valid jika keempat syaratnya terpenuhi yaitu ashl, hukm ashl, furu’ dan ‘illat.

Keempat syarat ini harus benar-benar terpenuhi apalagi dalam hal mencari ‘illat hukum, karena untuk mencari ‘illat hukum diharuskan memiliki kualitas intelektual yang tinggi dan analisis yang tajam. Banyak produk-produk hukum fiqh yang bertumpu pada metode qiyas seperti halnya penerapan zakat profesi, dan seperti kasus klasik dalam hal pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah sesudah wafatnya nabi dan beberapa kasus lain yang serupa.

Selanjutnya dalam makalah ini penulis mencoba akan jelaskan rumusan qiyas, yang penulis uraikan dengan memaparkan analisis dari aspek definisi,  syarat,rukun dan jenis qiyas yang selanjutnya penulis tuangkan ke dalam makalah yang berjudul “Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam”.

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah definisi qiyas itu?
  2. Apa rukun-rukun qiyas itu?
  3. Apa syarat-syarat qiyas itu?
  4. Apa dan bagaimanakah pembagian qiyas itu?

C. Tujuan

  1. Mengetahui definisi qiyas
  2. Mengetahui rukun-rukun qiyas
  3. Mengetahui syarat-syarat qiyas
  4. Mengetahui pembagian qiyas

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Qiyas

Qiyas dalam bahasa Arab berasal dari kata “qasa, yaqisu, qaisan” artinya mengukur, menyamakan dan ukuran. Secara etimologi qiyas berarti pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau penyamaan sesuatu dengan sejenisnya[1]. Qiyas menurut berarti, membandingkan atau mengukur, seperti menyamakan si A dengan si B, karena kedua orang itu mempunyai tinggi yang sama, bentuk tubuh yang sama, wajah yang sama dan sebagainya. Qiyas juga berarti mengukur, seperti mengukur tanah dengan meter atau alat pengukur yang lain. Demikian pula membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaan-persamaannya.

Sedangkan menurut ulama’ ushul fiqih qiyas berarti menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu.[2]

Jadi qiyas merupakan mashodirul ahkam yang keempat setelah Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’. Yakni cara mengishtinbatkan suatu hukum dengan cara menganalogikan antara dua hal yang memiliki kesamaan illat tetapi yang satu belum ada ketentuan hukumnya dalam nash.

والقياس هو ما طلب الدلائل الموافقة على خبر المتقدم من الكتاب والسنة

Qiyas adalah metode berfikir untuk menemukan petunjuk makna yang sesuai dengan khabar yang sudah ada dalam al-Qur’an dan sunnah”.

Adapun cara mengoperasionalkan qiyas ini yakni dimulai dengan mengeluarkan hukum yang ada pada kasus yang disebutkan dalam nash, setelah itu kita teliti illatnya. Selanjutnya kita cari dan teliti illat yang ada pada kasus yang tidak disebutkan dalam nash, sama ataukah tidak. Jika sudah diyakini bahwa illat yang ada dalam kedua kasus tersebut ternyata sama maka kita menggunakan ketentuan hukum pada kedua kasus itu berdasarkan  keadaan illat.

Supaya lebih mudah memahaminya, akan kami kemukakan beberapa contoh berikut:

  • Minum narkotik adalah suatu perbuatan yang perlu ditetapkan hukumnya, sedang tidak ada satu nashpun yang dapat dijadikan sebagai dasar hukumnya. Untuk menetapkan hukumnya dapat ditempuh cara qiyas dengan mencari perbuatan yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash, yaitu perbuatan minum khomr, yang diharamkan berdasarkan firman Allah SWT:

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S al-Ma’idah: 90)

Antara minum narkotik dan minum khomr ada persamaan ‘illat, yaitu sama-sama berakibat memabukkan para peminumnya, sehingga dapat merusak akal. Berdasarkan persamaan ‘illat itu, ditetapkanlah hukum minum narkotik yaitu haram, sebagaimana haramnya minum khomr.

  • Si A telah menerima wasiat dari B bahwa ia akan menerima sebidang tanah yang telah ditentukan, jika B meninggal dunia. A ingin segera memperoleh tanah yang diwasiatkan itu, karena itu dibunuhnyalah B. Timbul persoalan: apakah A tetap memperoleh tanah yang diwasiatkan itu? Untuk menetapkan hukumnya dicarilah kejadian yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash dan ada pula persamaan ‘illatnya. Perbuatan itu ialah pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap orang yang akan diwarisinya, karena ingin segera memperoleh harta warisan. Sehubungan dengan ini Rosulullah saw bersabda:

الْقَاتِلُ لاَيَرِثُ (رواه الترمذي)

Orang yang membunuh (orang yang akan diwarisinya) tidak berhak mewarisi. (H.R Tirmidzi)

Antara kedua peristiwa itu ada persamaan illatnya, yaitu ingin segera memperoleh sesuatu sebelum sampai waktu yang ditentukan. Berdasarkan persamaan ‘illat itu dapat ditetapkan hukum bahwa si A haram memperoleh tanah yang diwasiatkan B untuknya, karena ia telah membunuh orang yang telah berwasiat untuknya, sebagaiman orang yang telah membunuh orang yang akan diwarisinya, diharamkan memperoleh harta warisan dari orang yang telah dibunuhnya.

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa dalam melakukan qiyas ada satu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya sedang tidak ada satupun nash yang dapat dijadikan dasar hukumnya untuk menetapkan hukum dari peristiwa atau kejadian itu, dicarilah peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. Kedua peristiwa atau kejadian itu mempunyai ‘illat yang sama pula. Kemudian ditetapkanlah hukum peristiwa atau kejadian yang pertama sama dengan hukum peristiwa atau kejadian yang kedua.[3]

Berhubung qiyas merupakan aktivitas akal, maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama jumhur. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok:

1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabt maupun ijma ulama.

2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.

3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits

Kehujjahan Qiyas

Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma’ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar’i.

Dasar Hukum Qiyas

Sebagian besar para ulama fiqh dan para pengikut madzhab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum dalam ajaran Islam. Hanya mereka berbeda pendapat tentang kadar penggunaan qiyas atau macam-macam qiyas yang boleh digunakan dalam mengistinbathkan hukum, ada yang membatasinya dan ada pula yang tidak membatasinya, namun semua mereka itu barulah melakukan qiyas apabila ada kejadian atau peristiwa tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat dijadikan dasar. Hanya sebagian kecil para ulama yang tidak membolehkan pemakaian qiyas sebagai dasar hujjah, diantaranya ialah salah satu cabang Madzhab Dzahiri dan Madzhab Syi’ah.  Mengenai dasar hukum qiyas bagi yang membolehkannya sebagai dasar hujjah, ialah al-Qur’an dan al-Hadits dan perbuatan sahabat yaitu:

a. Al-Qur’an

1) Allah SWT berfirman:

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri kamu, kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisâ’: 59)

Dari ayat di atas dapat diambilah pengertian bahwa Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar menetapkan segala sesuatu berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Jika tidak ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits hendaklah mengikuti pendapat ulil amri. Jika tidak ada pendapat ulil amri boleh menetapkan hukum dengan mengembalikannya kepada al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu dengan menghubungkan atau memperbandingkannya dengan yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam hal ini banyak cara yang dapat dilakukan diantaranya dengan melakukan qiyas.

Artinya:

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir ahli kitab dari kampung halaman mereka pada pengusiran pertama kali.[4] Kamu tidak mengira bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat menghindarkan mereka dari (siksaan) Allah, akan tetapi Allah mendatangkan kepada mereka (siksaan) dari arah yang tidak mereka sangka. Dan Allah menanamkan ketakutan ke dalam hati mereka, dan mereka membinasakan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan-tangan orang yang beriman. Maka ambillah tamsil dan ibarat (dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan yang tajam.” (al-Hasyr: 2)

Pada ayat di atas terdapat perkataan fa’tabirû yâ ulil abshâr (maka ambillah tamsil dan ibarat dari kejadian itu hai orang-orang yang mempunyai pandangan tajam). Maksudnya ialah: Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar membandingkan kejadian yang terjadi pada diri sendiri kepada kejadian yang terjadi pada orang-orang kafir itu. Jika orang-orang beriman melakukan perbuatan seperti perbuatan orang-orang kafir itu, niscaya mereka akan memperoleh azab yang serupa. Dari penjelmaan ayat di atas dapat dipahamkan bahwa orang boleh menetapkan suatu hukum syara’ dengan cara melakukan perbandingan, persamaan atau qiyas.

b. Al-Hadits.

1. Setelah Rasulullah SAW melantik Mu’adz bin Jabal sebagai gubernur Yaman, beliau bertanya kepadanya:

 

Artinya:

“Bagaimana (cara) kamul menetapkan hukum apabila dikemukakan suatu peristiwa kepadamu? Mu’adz menjawab: Akan aku tetapkan berdasar al-Qur’an. Jika engkau tidak memperolehnya dalam al-Qur’an? Mu’adz berkata: Akan aku tetapkan dengan sunnah Rasulullah. Jika engkau tidak memperoleh dalam sunnah Rasulullah? Mu’adz menjawab: Aku akan berijtihad dengan menggunakan akalku dengan berusaha sungguh-sungguh. (Mu’adz berkata): Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk petugas yang diangkat Rasulullah, karena ia berbuat sesuai dengan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang boleh melakukan ijtihad dalam menetapkan hukum suatu peristiwa jika tidak menemukan ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berijtihad itu. Salah satu diantaranya ialah dengan menggunakan qiyas.

2. Rasulullah SAW pernah menggunakan qiyas waktu menjawab pertanyaan yang dikemukakan sahabat kepadanya, seperti:

 

Artinya:

“Sesungguhnya seorang wanita dari qabilah Juhainah pernah menghadap Rasullah SAW ia berkata: sesungguhnya ibuku telah bernadzar melaksanakan ibadah haji, tetapi ia tidak sempat melaksanakannya sampai ia meninggal dunia, apakah aku berkewajiban melaksanakan hajinya? Rasullah SAW menjawab: Benar, laksanakanlah haji untuknya, tahukah kamu, seandainya ibumu mempunnyai hutang, tentu kamu yang akan melunasinya. Bayarlah hutang kepada Allah, karena hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar.” (HR. Bukhari dan an-Nasâ’i)

Pada hadits di atas Rasulullah mengqiyaskan hutang kepada Allah dengan hutang kepada manusia. Seorang anak perempuan menyatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan berhutang kepada Allah, yaitu belum sempat menunaikan nadzarnya untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian Rasulullah SAW menjawab dengan mengqiyaskannya kepada hutang. Jika seorang ibu meninggal dunia dalam keadaan berhutang, maka anaknya wajib melunasinya. Beliau menyatakan hutang kepada Allah lebih utama dibanding dengan hutang kepada manusia. Jika hutang kepada manusia wajib dibayar tentulah hutang kepada Allah lebih utama harus dibayar. Dengan cara demikian seakan-akan Rasulullah SAW menggunakan qiyas aulawi.

c. Perbuatan sahabat

Para sahabat Nabi SAW banyak melakukan qiyas dalam menetapkan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nashnya. Seperti alasan pengangkatan Khalifah Abu Bakar. Menurut para sahabat Abu Bakar lebih utama diangkat menjadi khalifah dibanding sahabat-sahabat yang lain, karena dialah yang disuruh Nabi SAW mewakili beliau sebagai imam shalat di waktu beliau sedang sakit. Jika Rasulullah SAW ridha Abu Bakar mengganti beliau sebagai imam shalat, tentu beliau lebih ridha jika Abu Bakar menggantikan beliau sebagai kepala pemerintahan.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menuliskan surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya sikap dan cara seorang hakim mengambil keputusan. Diantara isi surat beliau itu ialah:

 

Artinya:

“kemudian pahamilah benar-benar persoalan yang dikemukakan kepadamu tentang perkara yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Kemudian lakukanlah qiyas dalam keadaan demikian terhadap perkara-perkara itu dan carilah contoh-contohnya, kemudian berpeganglah kepada pendapat engkau yang paling baik di sisi Allah dan yang paling sesuai dengan kebenaran…”

d. Akal

Tujuan Allah SWT menetapakan syara’ bagi kemaslahatan manusia. Dalam pada itu setiap peristiwa ada yang diterangkan dasarnya dalam nash dan ada pula yang tidak diterangkan. Peristiwa yang tidak diterangkan dalam nash atau tidak ada nash yang dapat dijadikan sebagai dasarnya ada yang ‘illatnya sesuai benar dengan ‘illat hukum dari peristiwa yang ada nash sebagai dasarnya. Menetapkan hukum dari peristiwa yang tidak ada nash sebagai dasarnya ini sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan berdasar nash karena ada persamaan ‘illatnya diduga keras akan memberikan kemaslahatan kepada hamba. Sebab itu tepatlah kiranya hukum dari peristiwa itu ditetapkan dengan cara qiyas.

 

B. Rukun Qiyas

Dari pengertian qiyas yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa unsur pokok (rukun) qiyas terdiri atas empat unsur [5]berikut:

  • Ashal (asal); yaitu sesuatu yang dinashkan hukumnya yang menjadi ukuran atau tempat menyerupakan/ menqiyaskan. Dalam istilah ushul disebut ashal (الاصل) atau maqis ‘alaih (المقيس عليه) atau musyabbah bih (مشبه به).
  • Far’ (cabang); yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya yang diserupakan atau yang diqiyaskan. Di dalam istilah ushul disebut al-far’u (الفرع) atau al-maqis (المقيس) atau al-musyabbah (المشبه).
  • Hukum ashal (حكم الاصل); yaitu hukum syara’ yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pula bagi cabang.
  • Illat (العلة); yaitu sebab yang menyambungkan pokok dengan cabangnya atau suatu sifat yang ada pada ashal dan sifat yang dicari pada far’.

Syarat-syarat illat antara lain adalah:

  1. Illat itu adalah sifat yang jelas, yang dapat dicapai oleh panca indra
  2. Merupaka sifat yang tegas dan tidak elastis yakani dapat dipastiakan berwujudnya pada furu’ dan tidak mudah berubah
  3. Merupakan sifat yang munasabah , yakni ada persesuian antara hukum da sifatnya
  4. Merupakan sifat yang tidak terbatsas pada aslnya, tapi bisa juaga berwujud pada beberapa satuan hukum yang bukan asl

Sebagai contoh ialah menjual harta anak yatim adalah suatu peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. Peristiwa ini disebut far’u. untuk menetapkan hukumnya dicari suatu peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yang ‘illatnya sama dengan peristiwa pertama. Peristiwa kedua ini memakan harta anak yatim yang disebut ashal. Peristiwa kedua ini telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yaitu haram (hukum ashal) berdasarkan firman Allah SWT:

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (Q.S an-Nisa’: 10).

Persamaan ‘illat antara kedua peristiwa ini, ialah sama-sama berakibat berkurang atau habisnya harta anak yatim. Karena itu ditetapkanlah hukum menjual harta anak yatim sama dengan memakan harta anak yatim yaitu sama-sama haram.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan [6]sebagai berikut:

-   Ashal, ialah memakan harta anak yatim

-   Far’u, ialah menjual harta anak yatim

-   Hukum ashal, ialah haram

-   ‘Illlat, ialah mengurangi atau menghabiskan harta anak yatim.

 

C. Syarat-syarat qiyas

Setelah diterangkan rukuk-rukun qiyas, berikut akan diterangkan syarat-syarat dari masing-masing rukun qiyas tersebut.

1)   Ashal

  • Menurut Imam al-Ghozali dan Syaifuddin al-Amidi yang keduanya adalah ahli ushul fiqh Syafiiyyah [7]syarat-syarat ashal itu adalah:
  • Hukum ashl itu adalah hukum yang telah tetap dan tidak mengandung kemungkinan dinasakhkan
  • Hukum itu ditetapkan berdasarkan syara’
  • Ashal itu bukan merupakan far’u dari ashl lainnya
  • Dalil yang menetapkan ‘illat pada ashal itu adalah dalil khusus, tidak bersifat umum
  • Ashl itu tidak berubah setelah dilakukan qiyas
  • Hukum ashl itu tidak keluar dari kaidah-kaidah qiyas far’u.

2)   Al-Far’u

Para ulama ushul fiqh mengemukakan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh al-far’u [8]yaitu:

  • Illat yang ada pada far’u harus sama dengan illat yang ada pada ashal. Contoh ‘illat yang sama dzatnya adalah mengqiyaskan wisky pada khamr, karena keduanya sama-sama memabukkan dan yang memabukkan itu sedikit atau banyak, apabila diminum hukumnya haram (H.R Muslim, Ahmad ibn Hanbal, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Nasa’i). ‘illat yang ada pada wisky sama dengan zatnya/materinya dengan ‘illat yang ada pada khamr. Contoh ‘illat yang jenisnya sama adalah mengqiyaskan wajib qishas atau perbuatan sewenang-wenang terhadap anggota badan kepada qishas dalam pembunuhan, karena keduanya sama-sama perbuatan pidana.
  • Hukum ashl tidak berubah setelah dilakukan qiyas. Misalnya, tidak boleh mengqiyaskan hukum mendzihar wanita dzimmi kepada mendzihar wanita muslimah dalam keharaman melakukan hubungan suami istri. Karena kaharaman hubungan suami istri dalam mendzihar suami istri yang bersifat muslimah bersifat sementara, yaitu sampai suami membayar kafarat. Sedangkan keharaman melakukan hubungan dengan istri yang berstatus dzimmi bersifat selamanya, karena orang kafir tidak dibebani membayar kafarat, dan kafarat merupkan ibadah, sedangkan mereka tidak dituntut untuk beribadah. Apabila qiyas ini ditetapkan, maka menurut ulama Hanafiyyah tidak sah. Akan tetapi menurut ulama Syafi’iyyah hukumnya sah karena orang dzimmi dikenakan kafarat.
  • Tidak ada nash atau ijma’ yang menjelaskan hukum far’u itu. Artinya tidak ada nash atau ijma’ yang menjelaskan hukum far’u dan hukum itu bertentangan dengan qiyas, karena jika demikian, maka status qiyas ketika itu bisa bertentangan dengan nash atau ijma’. Qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma’, disebut para ulama’ ushul fiqh sebagai qiyas fasid. Misalnya, mengqiyaskan hukum meninggalkan shalat dalam perjalanan kepada hukum bolehnya musafir tidak berpuasa, karena qiyas seperti ini bertentangan dengan nash dan ijma’.

Bahkan dalam literature lain ditambahkan beberapa syarat-syarat far’u[9], antara lain:

  • Hukum furu’ tidak mendahului hukum ashl. Artinya hukum far’u itu harus datang kemudian dari hukum ashl. Contohnya adalah mengqiyaskan wudhu’ dengan tayammum dalam wajibnya niat, karena keduanya sama-sama taharah (suci). Qiyas tersebut tidak benar, karena wudlu’ (far’u) diadakan sebelum hijrah, sedang tayammum (ashl) diadakan sesudah hijrah. Lagipula ditetapkannya tayammum itu adalah sebagai pengganti wudlu’ di saat tidak dapat melakukan wudlu’. Bila qiyas itu dibenarkan, maka berarti menetapkan hukum sebelum ada illatnya.
  • Cabang tidak mempunyai hukum yang tersendiri. Ulama usul berkata: “apabila datang nash maka qiyas menjadi batal.
  • Hukum cabang sama dengan hukum ashl.

3)   Hukum Ashl

Syarat-syarat hukum ashal[10], antara lain:

  • Hukum syara’ itu hendaknya hukum syara’ yang amaly yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Hal ini diperlukan karena yang akan ditetapkan itu adalah hukum syara’, sedang sandaran hukum syara’ itu adalah nash. Atas dasar yang demikian, maka jumhur ulama’ berpendapat bahwa ijma’ tidak boleh menjadi sandaran qiyas. Mereka menyatakan bahwa hukum yang ditetapkan berdasarkan ijma’ adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan, tidak mempunyai sandaran, selain dari kesepakatan para mujtahid. Karenanya hukum yang ditetapkan secara ijma’tidak dapat diketahui dengan pasti, sehingga tidak mungkin mengqiyaskan hukum syara’ yang amaly kepada hukum yang mujmal ‘alaih. Asy-Syaukani membolehkan ijma’ sebagai sandaran qiyas.
  • Hukum ashl harus ma’qul al-ma’na, artinya pensyari’atannya harus rasional
  • Hukum ashl itu tidak merupakan hukum pengecualian atau hukum yang berlaku khusus untuk peristiwa atau kejadian tertentu.

Hukum ashl macam ini ada dua macam, yaitu:

a) ‘Illat hukum itu hanya ada pada hukum ashl saja, tidak mungkin pada yang lain. Seperti dibolehkannya mengqoshor sholat bagi orang musafir. ‘Illat yang masuk akal dalam hal ini ialah untuk menghilangkan kesukaran atau kesulitan (masyaqqot). Tetapi Al-Qur’an dan dan hadits menerangkan bahwa illatnya itu bukan karena masyaqqat tetapi karena adanya safar (perjalanan)

b) Dalil (Al-Qur’an dan Hadits) menunjukkan bahwa hukum ashl itu berlaku khusus, tidak berlaku pada kejadian atau peristiwa yang lailn. Misalnya dalam sebuah riwayat dikatakan:

مَنْ شَهِدَ لَهُ خُزَيْمَةَ فَحَسْبُه

Kesaksian Khuzaimah sendirian sudah cukup. (H.R. Abu Daud, Ahmad ibn Hanbal, al-Hakim, al-Tirmidzi dan al-Nasa’i)

Ayat Al-Qur’an menentukan bahwa sekurang-kurangnya saksi itu adalah dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki bersama dua orang wanita (Q.S Al-Baqoroh, 2: 282), tetapi Rosulullh saw. Menyatakan bahwa apabila Khuzaimah (sahabat) yang menjadi saksi, maka cukup sendirian. Hukum kesaksian secara khusus ini tidak bisa dikembangkan dan diterapkan kepada far’u, karena hukum ini hanya berlaku untuk pribadi Khuzaimah. Demikian juga hukum-hukum yang dikhususkan bagi Rosululloh saw., seperti kawin lebih dari empat orang tanpa mahar.

Ada juga syarat lain yang disebutkan dari sumber lain [11] bahwa syarat hukum ashal adalah:

  • Hukum ashl itu adalah hukum yang tetap berlaku, bukan hukum yang telah dinasakhkan, sehingga masih mungkin dengan hukum ashl itu membangun (menetapkan) hukum. Alasannya ialah bahwa perentangan hukum dari ashl kepada far’u adalah didasarkan kepada adanya sifat yang menyatu pada keduanya. Hal ini sangat tergantung kepada pandangan (i’tibar) dari pembuat hukum ashl yang telah dimansukh, tidak ada lagi pandangan pembuat hukum terhadap sifat yang menyatu pada hukum ashl tersebut.

4) ‘illat

  • Pengertian ‘illat

Secara etimologi ‘illat berarti nama bagi sesuatu yang menyebabkan berubahnya keadaan sesuatu yang lain dengan keberadaannya. Misalnya penyakit itu dikatakan ‘illat, karena dengan adanya penyakit tersebut tubuh manusia berubah dari sehat menjadi sakit.

Secara termenologi, terdapat beberapa definisi ‘illat yang dikemukakan ulama ushul fiqh. Akan tetapi pada makalah ini akan kami sebutkan definisi ‘illat menurut imam al-Ghozali, yaitu:

المُئَثِّرُ فِيْ حُكْمِ بِجَعْلِهِ تَعَالَى لاَبِالذَّاتِ

Sifat yang berpengaruh terhadap hukum, bukan karena dzatnya, melainkan karena perbuatan syar’i.

Menurutnya, ‘illat itu bukanlah hukum, tetapi merupakan penyebab munculnya hukum, dalam arti: adanya suatu ‘illat menyebabkan munculnya hukum. Al-Ghozali berpendapat bahwa pengaruh ‘illat terhadap hukum bukan dengan sendirinya, melainkan harus karena adanya izin Allah. Maksudnya, Allah-lah yang menjadikan ‘illat itu berpengaruh terhadap hukum.[12]

Misalnya seorang pembunuh terhalang mendapatkan warisan dari harta orang yang ia bunuh, disebabkan pembunuhan yang ia lakukan. Dalam kasus ini bukan karena membunuh semata-mata yang menjadi ‘illat yang menyebabkan ia tidak mendapat warisan, tetapi atas perbuatan dari kehendak Allah. Dengan demikian, ‘illat ini hanya merupakan indikasi, penyebab dan motif dalam suatu hukum, yang dijadikan ukuran untuk mengetahui suatu hukum.

  • Ø Bentuk-bentuk ‘illat

‘illat adalah sifat yang menjadi kaitan bagi adanya suatu hukum. Ada beberapa bentuk sifat yang munkin menjadi ‘illat bagi hukum bila telah memenuhi syarat-syarat tertentu[13]. Di antara bentuk sifat itu adalah:

  • Sifat haqiqi, yaitu yang dapat dicapai oleh akal dengan sendirinya, tanpa tergantung kepada ‘urf (kebiasaan) atau lainnya. Contohnya: sifat memabukkan pada minuman keras.
  • Sifat hissi, yaitu sifat atau sesuatu yang dapat diamati dengan alat indera. Contohnya: pembunuhan yang menjadi penyebab terhindarnya seseorang dari hak warisan, pencurian yang menyebabkan hukum potong tangan, atau sesuatu yang dapat dirasakan, seperti senang atau benci.
  • Sifat ‘urfi, yaitu sifat yang tidak dapat diukur, namun dapat dirasakan bersama. Contohnya: buruk dan baik, mulia dan hina.
  • Sifat lughowi, yaitu sifat yang dapat diketahui dalam penamaannya dalam artian bahasa. Contohnya: diharamkannya nabiz karena ia bernama khomr.
  • Sifat syar’i, yaitu sifat yang keadaannya sebagai hukum syar’i dijadikan alasan untuk menetapkan sesuatu hukum. Contohnya: menetapkan bolehnya mengagungkan barang milik bersama dengan alasan bolehnya barang itu dijual.
  • Sifat murakkab, yaitu bergabungnya beberapa sifat yang menjadi alasan adanya suatu hukum. Contohnya: sifat pembunuhan secara sengaja, dan dalam bentuk permusuhan, semuanya dijadikan alasan berlakunya hukum qishos.

Semua sifat tersebut dapat menjadi ‘illat. Tetapi mengenai kemungkinannya untuk menjadi ‘illat bagi suatu hukum, para ulama berbeda pendapat. Bagi ulama yang dapat menerima sifat tersebut sebagai ‘illat, masih diperlukan beberapa syarat yang akan dijelakan di bawah ini.

  • Ø Syarat-syarat ‘illat

Syarat-suarat ‘illat [14]adalah sebagai berikut:

  • ‘illat itu mengandung motivasi hukum, bukan sekedar tanda-tanda atau indikasi hukum. Maksudnya, fungsi ‘illat adalah bagian dari tujuan disyari’atkannya hukum, yaitu untuk kemashlahatan umat manusia. Contohnya: sifat “menjaga diri” merupakan hikmah diwajibkannya qishosh. Maksudnya, bila seseorang pembunuh diqishosh, maka orang akan menjauhi pembunuhan, sehingga diri (jiwa) manusia akan terpelihara dari pembunuhan.
  • ‘Illat itu jelas, nyata, dan bisa ditangkap indera manusia, karena ‘illat merupakan pertanda adanya hukum. Misalnya sifat memabukkan dalam khamr. Apabila ‘illat itu tidak nyata, tidak jelas, dan tidak bisa ditangkap indera manusia, maka sifat seperti itu tidak bisa dijadikan ‘illat. Contoh sifat yang tidak nyata, adalah sifat “sukarela” dalam jual beli. Sifat “sukarela” ini tidak bisa dijadikan ‘illat yang menyebabkan pemindahan hak milik dalam jual beli, karena “sukarela’ itu masalah batin yang sulit diindera. Itulah sebabnya para ahli fiqh menyatakan bahwa “sukarela” itu harus diwujudkan dalam bentuk perkataan “ijab” dan ”qobul”.

Dalam literature lain [15]ditambahkan bahwa syarat ‘illat itu antara lain:

  • ‘illat itu harus dalam bentuk sifat yang terukur (منضبطه), keadaannya jelas dan terbatas, sehingga tidak bercampur dengan yang lainnya. Contohnya: keadaan dalam perjalanan menjadi ‘illat untuk bolehnya mengqashar sholat. Qashar sholat diperbolehkan bagi orang yang melakukan perjalanan, karena keadaan dalam perjalanan itu menyulitkan (masyaqqah), namun masyaqqah itu sendiri tidak dapat diukur dan ditentukan secara pasti, karena berbeda antara seseorang dengan lainnya, antara satu situasi dan situasi lainnya. Karenanya, masyaqqah itu tidak dapat dijadikan ‘illat hukum. Sifatnya sama dengan sifat yang batin (tidak dhahir), sehingga harus diambil sifat lain yang dhahir sebagai patokan yang alasan di dalamnya terdapat alasan yang sebenarnya, yaitu “keberadaan dalam perjalanan” yang sifatnya jelas dan terukur.
  • Harus ada hubungan kesesuaian dan kelayakan antara hukum dengan sifat yang akan menjadi ‘illat (مناسبه و ملائمه). Adanya kesesuaian hubungan antara sifat dengan hukum itu menjadikannya rasional, diterima semua pihak, dan mendorong seseorang untuk lebih yakin dalam berbuat.

Contohnya: sakit menjadi ‘illat bolehnya seseorang membatalkan puasa, karena sakit itu menyulitkan seseorang untuk berpuasa. Seandainya dilakukan juga, malah akan merusak dirinya, padahal syara’ melarang merusak dan melarang mencelakakan diri. Sifat yang tidak ada hubungan kesesuaian dengan hukum tidak dapat dijadikan ‘illat bagi bolehnya berbuka puasa, karena antara mengantuk dan puasa tidak mempunyai hubungan kesesuaian apa-apa.

  • Ø Fungsi ‘illat

Pada dasanya setiap ‘illat menimbulkan hukum. Antara ‘illat dan hukum mempunyai kaitan yang erat. Dalam kaitan itulah terlihat fungsi tertentu dari ‘illat,[16] yaitu sebagai:

  • Penyebab/penetap yaitu ‘illat yang dalam hubungannya dengan hukum merupakan penyebab atau penetap (yang menetapkan) adanya hukum, baik dengan nama mu’arrif, mu’assir, atau ba’its. Contohnya ‘illat memabukkan menyebabkan berlakunya hukum haram pada makanan dan minuman yang memabukkan.
  • Penolak yaitu ‘illat yang keberadaannya menghalangi hukum yang akan terjadi, tetapi tidak mencabut hukum itu seandainya ‘illat tersebut terdapat pada saat hukum tengah berlaku. Contohnya dalam masalah iddah. Adanya iddah menolak dan menghalangi terjadinya perkawinan dengan laki-laki yang lain, tetapi iddah itu tidak mencabut kelangsungan perkawinan bila iddah itu terjadi dalam perkawinan. Iddah dalam hal ini adalah iddah syubhat.
  • Pencabut yaitu ‘illat yang mencabut kelangsungan suatu hukum bila ‘illat itu terjadi dalam masa tersebut, tetapi ‘illat itu tidak menolak terjadinya suatu hukum. Contohnya: sifat thalaq dalam hubungannya dengan kebolehan bergaul. Adanya thalaq itu mencabut haq bergaul suami istri (jika mereka telah menikah atau rujuk), karena memang mereka boleh menikah lagi sesudah adanya thalaq itu.
  • Penolak dan pencabut yaitu ‘illat yang dalam hubungannya dengan hukum dapat mencegah terjadinya suatu hukum dan sekaligus dapat mencabutnya bila hukum itu telah berlangsung. Contohnya sifat radha’ (hubungan persusuan) berkaitan dengan hubungan perwakinan. Adanya hubungan susuan mencegah terjadinya hubungan perkawinan antara orang yang sepersusuan dan sekaligus mencabut atau membatalkan hubungan perkawinan yang sedang berlangsung, bila hubungan susunan itu terjadi (diketahui) waktu berlangsungnya perkawinan.

 

d) Pembagian qiyas

Qiyas dapat dibagi menjadi tiga macam [17], yaitu: Qiyas ‘illat, Qiyas dalalah dan Qiyas syibih.

  1. Qiyas ‘illat ialah qiyas yang mempersamakan ashl dengan far’u, karena keduanya mempunyai persamaan ‘illat. Qiyas ‘illat terbagi:

a. Qiyas jali, ialah qiyas yang ‘illatnya berdasarkan dalil yang pasti, tidak ada kemungkinan lain selain dari ‘illat yang ditunjukkan oleh dalil itu. Qiyas jali terbagi menjadi:

-          Qiyas yang ‘illatnya ditunjuk dengan kata-kata, seperti memabukkan adalah ‘illat larangan minum khamr, yang disebut dengan jelas dalam nash.

-          Qiyas mulawi ialah yang hukum pada far’u sebenarnya lebih utama ditetapkan dibanding dengan hukum pada ashal. Seperti haramnya hukum mengucapkan kata “ah” kepada kedua orang tua berdasarkan firman Allah SWT:

Artinya:

Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah”

(Q.S al-Isra’: 23)

‘illatnya ialah menyakiti hati kedua orang tua. Bagaimana hukum memukul orang tua? Dari kedua peristiwa itu nyatalah bahwa hati orang tua lebih sakit bila dipukul anaknya dibanding dengan ucapan “ah” yang diucapkan anaknya kepadanya. Karena itu sebenarnya hukum yang ditetapkan bagi far’u lebih utama dibanding dengan hukum yang ditetapkan pada ashal.

-       Qiyas musawi, ialah qiyas hukum yang ditetapkan pada far’u sebanding dengan hukum yang ditetapkan pada ashal, seperti menjual harta anak yatim diqiyaskan kepada memakan harta anak yatim. ‘illatnya adalah sama-sama menghabiskan harta anak yatim.

Memakan harta anak yatim haram hukumnya berdasarkan firman Allah SWT:

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (Q.S an-Nisa’: 10).

Karena itu ditetapkan pulalah haram hukumnya menjual harta anak yatim. Dari kedua peristwa ini nampak hukum yang ditetapkan pada ashal sama pantasnya dengan hukum yang ditetapkan pada far’u.

b. Qiyas khafi, ialah qiyas yang ‘illatnya munkin dijadikan ‘illat dan munkin pula tidak dijadikan ‘illat, seperti mengqiyaskan sisa minuman burung buas kepada sisa minuman binatang buas. ‘illatnya ialah kedua binatang itu sama-sama minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya bercampur dengan sisa minumannya itu. ‘illat ini mungkin dapat digunakan untuk sisa burung buas dan mungkin pula tidak, karena mulut burung buas berbeda dengan mulut binatang buas. Mulut burung buas terdiri dari tulang atau zat tanduk. Tulang atau zat tanduk adalah suci, sedang mulut binatang buas adalah daging, daging binatang buas adalah haram, namun kedua-duanya adalah mulut, dan sisa minuman. Yang tersembunyi di sini adalah keadaan mulut burung buas yang berupa tulang atau zat tanduk.

  1. Qiyas dalalah

Qiyas dalalah ialah qiyas yang ‘illatnya tidak disebut, tetapi merupakan petunjuk yang menunjukkan adanya ‘illat untuk menetapkan sesuatu hukum dari suatu peristiwa. Seperti harta kanak-kanak yang belum baligh, apakah wajib ditunaikan zakatnya atau tidak. Cara ulama yang menetapkannya wajib mengqiyaskannya kepada harta orang yang telah baligh, karena ada petunjuk yang menyatakan ‘illatnya, yaitu kedua harta itu sama-sama dapat bertambah atau berkembang. Tetapi madzhab Hanafi, tidak mengqiyaskannya kepada harta orang yang telah baligh, tetapi kepada ibadat, seperti shalat, puasa dan sebagainya. Ibadat hanya diwajibkan kepada orang mukallaf, termasuk di dalamnya orang yang telah baligh, tetapi tidak diwajibkan kepada anak kecil (orang yang belum baligh). Karena itu ia anak kecil tidak wajib menunaikan zakat hartanya yang telah memenuhi syarat-syarat zakat.

  1. Qiyas syibih

Qiyas syibih adalah qiyas yang far’u dapat diqiyaskan kepada dua ashal atau lebih, tetapi diambil ashal yang lebih banyak persamaannya dengan far’u. seperti hukum merusak budak dapat diqiyaskan kepada hukum merusak orang merdeka, karena kedua-duanya adalah manusia. Tetapi dapat pula diqiyaskan kepada harta benda, karena sama-sama merupakan hak milik. Dalam hal ini budak diqiyaskan kepada harta benda karena lebih banyak persamaannya dibanding dengan diqiyaskan kepada orang merdeka. Sebagaimana harta budak dapat diperjual-belikan, diberikan kepada orang lain, diwariskan, diwakafkan dan sebagainya.

Dilihat dari segi kekuatan ‘illat yang terdapat pada far’u dibandingkan yang terdapat pada ashal. Dari segi ini qiyas dibagi kepada tiga segi[18], yaitu:

  1. Qiyas al-Aulawi, yaitu qiyas yang hukumnya pada far’u lebih kuat daripada hukum ashl, karena ‘illat yang terdapat pada far’u lebih kuat dari yang ada pada ashl. Misalnya, mengqiyaskan memukul pada ucapan “ah”.

Dalam surat al-Isra’, 17:23 Allah berfirman:

(Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é&

Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (Q.S al-Isra’, 17: 23)

Para ulama ushul fiqh mengatakan bahwa ‘illat larangan ini adalah menyakiti orang tua. Keharaman memukul orang tua lebih kuat daripada sekedar mengatakan “ah” karena sifat “menyakiti” melalui pukulan lebih kuat dari ucapan “ah”.

  1. Qiyas al-Musawi, yaitu hukum pada far’u sama kualitasnya dengan hukum yang ada pada ashl, karena kualitas ‘illat pada keduanya juga sama. Misalnya Allah berfirman dalam surat al-Nisa’, 2:2:

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. (Q.S an-Nisa’, 4: 2)

Ayat ini melarang memakan harta anak yatim secara tidak wajar, para ulama ushul fiqh, mengqiyaskan membakar harta anak yatim kepada memakan harta anak yatim secara tidak wajar, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, karena kedua sikap itu sama-sama menghabiskan harta anak yatim dengan cara zalim.

  1. Qiyas al-adna, yaitu ‘illat yang ada pada far’u lebih lemah dibandingkan dengan ‘illat yang ada pada ashl. Artinya ikatan ‘illat yang ada pada far’u sangat lemah disbanding ikatan ‘illat yang ada pada ashl. Misalnya, mengqiyaskan apel pada gandum dalam hal berlakunya riba fadhl, karena keduanya mengandung ‘illat yang sama yaitu sama-sama jenis makanan. Dalam hadits Rosulullah saw. Dikatakan bahwa benda sejenis apabila dipertukarkan dengan berbeda kuantitas, maka perbedaan itu menjadi riba fadhl. Dalam hadits tersebut diantaranya disebutkan gandum (H.R Bukhori Muslim). Oleh sebab itu, Imam al-Syafi’I mengatakan bahwa dalam jual beli apel pun bisa berlaku riba fadhl. Akan tetapi, berlakunya hukum riba pada apel lebih lemah dibandingkan dengan yang berlaku pada gandum, karena ‘illat riba al-fadhl pada gandum lebih kuat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Bahwasanya Allah Swt mensyariatkan hukum tak lain adalah untuk kemaslahatan. Kemaslahatan manusia merupakan tujuan yang dimaksud dalam menciptakan hukum. Kedua, bahwa nash baik Al Qur’an maupun hadits jumlahnya terbatas dan final. Tetapi, permasalahan manusia lainnya tidak terbatas dan tidak pernah selesai. Mustahil jika nash-nash tadi saja yang menjadi sumber hukum syara’. Karenanya qiyas merupakan sumber hukum syara’ yang tetap berjalan dengan munculnya permasalahan-permasalahan yang baru. Yang kemudian qiyas menyingkap hukum syara’ dengan apa yang terjadi yang tentunya sesuai dengan syariat dan maslahah.

  • Pengertian qiyas

Qiyas adalah menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu

  • Rukun-rukun qiyas
  1. Ashl
  2. Far’u
  3. Hukum Ashl
  4. ‘illat
  • Syarat-syarat qiyas

Dari masing-masing rukun, memiliki syarat-syarat tersendiri.

  • Pembagian qiyas
  1. Qiyas jali
  2. Qiyas dalalah
  3. Qiyas syibih

 

DAFTAR PUSTAKA

Djazuli dkk. 2000. Ushul Fiqh Metodologi Hukum Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Hanafie, Ahmad. 1962. Ushul Fiqh. Jakarta: Widjaya

Haroen, Nasrun. 1995. Ushul Fiqh 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu

Saebani, Ahmad. 2008. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: Pustaka Setia

Syafe’I, Rachmad. 2007. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia

Syarifuddin, Amir. 1997. Ushul Fiqh Jilid 1. Jakarta: Wacana Ilmu

Umar, Muin dkk. 1986. Ushul Fiqh 1. Jakarta: Departemen Agama

http://metodeqiyas.htm (4 Nopember 2010: 09.20)

http://hukumislam.htm (7 Nopember 2010: 10.30)

 

 

 

 

 

 


[1] Ahmad Saebani, Ilmu Ushul Fiqh.(Bandung. Pustaka Setia:2008) h.172

[2] Muin Umar, dkk. Ushul Fiqh 1. (Jakarta. Departemen Agama: 1986)h.107

[3] Muin Umar, dkk. Ushul Fiqh…….h.107

[4] Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah.

[5] Djazuli, Ushul Fiqih (Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada: 2000) h. 136-137

[6] Muin Umar, dkk. Ushul Fiqh 1…….h.118-119

[7] Harun Nasrun, Ushul Fiqh 1(Jakarta. Logos Wacana Ilmu: 1995) h. 73

[8] Nasrun Haroen. Ushul Fiqh……. h. 75-76

[9] Ahmad Hanafie, Ushul Fiqih(Jakarta, Widjaya: 1962) h.129

[10] Muin Umar, dkk. Ushul Fiqh……. h.119-120

[11] Amir Syarifuddin,. Ushul Fiqh Jilid 1. (Jakarta Wacana Ilmu:1997) h. 170

 

[12]Nasrun Haroen. Ushul……. h. 77

 

[13] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh…….h. 173

[14] Nasrun Haroen. Ushul …….h.75-76

[15] Amir Syarifuddin,. Ushul Fiqh Jilid…….  h. 176

[16] Amir Syarifuddin,. Ushul Fiqh…….h. 174

[17] Muin Umar, dkk. Ushul Fiqh……. h.139-142

[18] Nasrun Haroen. Ushul Fiqh……. h.75-76

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Makalah Ilmiah Populer dan Makalah Kajian

A. Makalah Ilmiah Populer

Karangan ilmiah yang menyajikan fakta umum maupun fakta pribadi.

 

B. Makalah Ilmiah Kajian

Makalah yang dipakai untuk karya tulis ilmiah.

 

2.2     Format Makalah Ilmiah Populer dan Makalah Kajian

Format makalah ilmiah populer dan makalah ilmiah kajian adalah sebagai berikut :

1.  Tidak menggunakan penomoran secara eksplisit.

2.  Penulisan sumber referensi/catatan kaki dan susunan karangan populer tidak perlu memuat lampiran.

3.  Bahasa yang digunakan harus jelas, ringkas, lugas dan sederhana.

 

2.3     Ciri-ciri Makalah Ilmiah Populer dan Makalah Ilmiah Kajian

Ciri-cirinya sebagai berikut :

1.  Menyajikan fakta secara cermat dan jujur.

2.  Fakta disajikan secara cermat dan jujur.

3.  Penulis tidak berpihak kepada siapapun (netral).

4.  Pemaparannya sederhana, ringkas dan jelas.

5.  Topik yang disajikan tentang ilmu dan teknologi.

 

2.4     Bentuk Penyajian Karangan/Makalah Ilmiah Populer dan Makalah Ilmiah Kajian

1.  Tajuk rencana

Tajuk rencana berisi pesan redaksi surat kabar.

Format :

a.  Terletak pada kolom pertama/kesatu halaman pertama/kedua.

b.  Panjang tajuk rencana 8-9 paragraf atau 20-40 kalimat.

2.  Esai

Bag I     Permasalahan

Bag II    Kajian dan Pemecahan Masalah

Bag III  Simpulan

3.  Opini Pembaca

Tulisan yang berisi gagasan tentang suatu peristiwa/masalah yang muncul di masyarakat. Format langsung berisi pemecahan atau sasaran.

4.  Ulasan berita, ekonomi, politik dan buku

Berisi komentar terhadap suatu pendapat/gagasan orang lain, peristiwa, esai, artikel dan lain-lain.

 

2.5     Penulisan Bagian Awal Dalam Penulisan Makalah

A. Bagian-bagian Makalah

Secara garis besar, bagian makalah dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1.  Bagian awal

a.  Halaman sampul

b.  Kata pengantar

c.  Daftar isi

d.  Daftar tabel

e.  Daftar gambar

2.  Bagian inti

a.  Pendahuluan

b.  Latar belakang penulisan makalah

c.  Masalah atau topik bahasan

d.  Tujuan penulisan makalah

e.  Teks utama

f.  Penutup

 

3.  Bagian akhir

a.  Daftar rujukan

b.  Lampiran (jika ada)

 

Penulisan bagian-bagian awal makalah di atas, diuraikan sebagai berikut :

1.  Bagian Awal

a.  Halaman Sampul

Halaman sampul berisi judul makalah, keperluan atau maksud ditusnya makalah, nama penulisan makalah, nama logo lembaga (bila berada dalam suatu lembaga), nama lembaga dan tempat serta waktu penulisan makalah.

b.  Kata Pengantar

1) Pembuka

Berisi tentang ucapan syukur kepada Tuhan dan kepada pihak-pihak yang telah membantu pembuatan makalah.

2) Isi

Tujuan pembuatan makalah.

3) Penutup

Berisi permohonan saran, ucapan maaf dan lain-lain.

c.  Daftar Isi

Daftar isi memberikan gambaran atau panduan tentang garis besar isi makalah.

d.  Daftar Tabel

Dalam penulisannya tabel ada (7) ketentuan yang perlu diperhatikan :

1) Sederhana

2) Tabel subbiknya diletakkan dalam halaman tersendiri.

3) Tabel perlu diberi identitas.

4) Jika tabel lebih dari satu halaman lanjutan akhir tabel pada halaman pertama harus diulang pada halaman lanjutan.

5) Kata tabel ditulis dengan huruf besar-kecil.

6) Berilah jarak 3 spasi antar teks sebelum dan sesudah tabel.

e.  Daftar Gambar

Lima (5) ketentuan penyajian gambar :

1) Judul gambar diletakkan di bawah gambar.

2) Gambar ditampilkan sederhana

3) Gambar sebaiknya ditempatkan di halaman tersendiri.

4) Gambar diacu dengan menggunakan angka

5) Jika gambar diperoleh dari sumber tertentu, dicantumkan nama penulis, tahun terbit dan halaman.

 

2.  Bagian Inti

a.  Pendahuluan

Pendahuluan berisi penjelasan tentang latar belakang penulisan makalah, masalah atau topik bahasan beserta bahasannya dan tujuan penulisan makalah.

b.  Latar Belakang

Dalam bagian ini diharapkan dapat mengantarkan pembaca pada masalah yang dibahas dalam makalah dan menunjukkan bahwa masalah atau topik tersebut memang perlu dibahas. Ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu :

1.  Penulisan latar belakang dimulai dengan suatu yang diketahui bersama (umum).

2.  Penulisan bagian latar belakang dimulai dengan kutipan dari orang terkenal, ungkapan dan slogan.

c.  Masalah atau Topik Pembahasan

d.  Tujuan Penulisan Makalah

1) Bagi penulis

Bertujuan untuk dapat mengarahkan kegiatan yang harus dilakukan selanjutnya dalam penulisan makalah, khususnya dalam pengumpulan bahan penulisan.

2) Bagi pembaca

Bertujuan untuk memberikan informasi tentang apa yang disampaikan dalam makalah tersebut.

e.  Teks Utama atau Inti

Penulisan bagian teks utama yang baik adalah dapat membahas topik secara mendalam dan tuntas.

f.  Penutup

Menarik kesimpulan dari apa yang telah dibahas pada teks utama makalah.

 

3.  Bagian Akhir

a.  Daftar Rujukan

Daftar rujukan dapat berupa buku, makalah, artikel, majalah, surat kabar, jurnal laporan penelitian dan sebagainya. Unsur yang tertulis dalam daftar rujukan secara berturut-turut meliputi :

1) Nama penulis dengan urutan : nama akhir, dan nama tengah tanpa gelar akademik.

2) Tahun penerbitan.

3) Judul, termasuk anak judul (sub judul).

4) Kota tempat penerbitan.

5) Nama penerbit

b.  Lampiran

Bagian lampiran berisi hal-hal yang bersifat pelengkap yang dimanfaatkan dalam proses penulisan makalah.

 

2.6     Cara Memulai dan Mengembangkan Latar Belakang

Latar belakang berisi hal-hal yang berupa alasan mengapa makalah ini perlu ditulis. Cara penulisan latar belakang sebagai berikut :

1.  Dimulai dengan hal umum yang sudah diketahui bersama atau berdasarkan teori yang relevan dengan topik yang dibahas. Kemudian dilanjutkan dengan paparan yang menunjukkan bahwa tidak selamanya hal itu terjadi.

2.  Dimulai dari kutipan pendapat orang terkemuka yang selanjutnya dihubungkan relevansinya dengan topik yang dibahas.

3.  Dimulai dengan pertanyaan teoritis.

 

2.7     Cara Merumuskan, Menulis Rumusan Masalah dan Tujuan

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh penulis makalah dalam menentukan beberapa topik :

1.  Topik harus bermanfaat.

2.  Topik harus menarik dan dikuasai oleh penulis.

3.  Topik yang dibahas mudah dijangkau oleh penulis.

4.  Topik hendaknya tidak terlalu luas untuk membatasi biasanya dilakukan dengan merumuskan beberapa pertanyaan kemudian diseleksi.

 

2.8     Teknik Pengembangan Pembahasan Topik

Bagian utama disebut juga bagian inti penulisan makalah. Penulisan bagian utama yang baik adalah dapat membahas topik secara tuntas dan mendalam.

Teknik perangkaian bahan dalam pembahasan topik yaitu :

1.  Mulai dengan ide yang sederhana menuju pada hal yang kompleks.

2.  Gunakan teknik kiasan, perumpamaan dan perbandingan.

3.  Gunakan teknik klasifikasi

 

2.9     Teknik Penyimpulan dan Pembuatan Saran

Penulisan simpulan dapat dilakukan sebagai berikut :

1.  Penegasan kembali ringkasan pembahasan

2.  Penarikan kesimpulan dari teks utama

 

 

PENUTUPAN ATAU KESIMPULAN

 

Makalah ilmiah populer adalah makalah yang dipakai untuk karya tulis ilmiah yang merupakan sarana pemecahan suatu masalah yang kontroversi tanpa maksud untuk dibaca dalam suatu seminar.

Makalah ilmiah kajian adalah makalah yang menyajikan fakta umum maupun fakta pribadi yang ditulis tidak berdasarkan metodologi penulisan yang baik dan benar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, E. Zaenal. 1993. Penulisan Ilmiah Dengan Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta : Mediayatama Sarana Perkasa.

 

Akhadiah, Sabarti dkk. 1992. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

 

Maimunah, Siti Anjiat. 2005. Bahan Ajar Bahasa Indonesia Malang. Penerbit : Universitas Negeri Malang.

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.