peserta didik

BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Kepribadian muslim dapat dilihat dari kepribadian orang perorang (individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (ummah). kepribadian individu meliputi seseorang dalam sikap dan tingkah laku, serta kemampuan intelektual yang dimilikinya. Dan secara fitrah perbedaan individu ini diakui adanya. Dan tampaknya kita tidak dapat mengelakkan adanya keberagaman dan kesamaan. Maka walaupun sebagai individu masing-masing kepribadian itu berbeda, tapi dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah, perbedaan itu dipadukan. . Dan hal itu memungkinkan karena baik pembentukan kepribadian secara individu maupun sebagai ummah diwujudkan dari dasar dan tujuan yang sama. Sumber yang menjadi dasar dan tujuannya adalah ajaran wahyu.
Jadi dari pembelajaran tentang memahami kepribadian muslim dan cara-cara pembentukannya kita akan tahu berbagai macam kepribadian seorang muslim, masyarakat,, bangsa dan Negara. Dan cara-cara membentuk kepribadian dan membina hubungan yang baik.
2.Rumusan Masalah
1.apa yang dimaksud dengan kepribadian?
2.Bagaimana kita mengetahui tentang kepribadian seorang muslim itu?
3.Bagaimana cara membentuk kepribadian seorang muslim sebagai individu, rumah tangga, masyarakat dan bernegara?
4.Bagaimana cara pembentukan hubungan yang baik antara individu, rumahtangga, masyarakat, Negara maupun membentuk hubungan dengan Tuhan?

3.Tujuan
1.Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kepribadian.
2.Untuk mengetahui seperti apa kepribadian seorang muslim itu.
3.Untuk mengetahui bagaimana cara pembentukan kepribadian seorang muslim dan bagaimana cara membentuk hubungan yang baik sesama individu, rumah tangga, masyarakat, Negara dan membina hubungan dengan sang Khaliq.

BAB II
PEMBAHASAN

1.Memahami Kepribadian Muslim
A.Pengertian Kepribadian
Kata pribadi diartikan sebagai keadaan manusia orang perorang, atau keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak perorangan. Dan, kepribadian adalah sifat-sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dari orang atau bangsa lain.1
kepribadian adalah suatu sistem sempurna dari sekumpulan sifat khusus berkenaan dengan cita-cita, masyarakat, tanggapan dan jasmaniah baik yang bersifat fitrah maupun pengalaman yang aktif secara timbal balik dalam segala situasi dan kondisi yang sejalan dengan norma-norma masyarakat lingkungan hidup seseorang.2
Menurut tinjauan buku-buku psikologi, kepribadian berasal dari kata personare (Yunani), yang berarti menyuarakan melalui alat. Di zaman Yunani kuno para pemain sandiwara bercakap-cakap atau berdialog menggunakan semacam penutup muka (topeng) yang dinamakan persona. Dari kata ini kemudian di pindahkan ke bahasa Inggris menjadi personality (kepribadian).
Morison mengatakan bahwa kepribadian merupakan keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang individu dengan jalan menampilkan hasil-hasil kultural dari evolusi sosial. Adapun Mark A. May mengemukakan bahwa kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang. Atau sesuatu yang ada pada seseorang yang memungkinkannya untuk memberi pengaruh kepada orang lain. Kemudian Gardon W. Allport menyatakan, bahwa kepribadian merupakan susunan dinamis psikofisis dalam diri seseorang yang menentukan dirinya dapat atau tidak menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Carl Gustav Jung menilai kepribadian sebagai wujud pernyataan kejiwaan yang ditampilkan seseorang dalam kehidupannya. J. F. Dashial, menyebut kepribadian sebagai cerminan dari seluruh tingkah laku seseorang. Selanjutnya William Stem menyatakan bahwa kepribadian merupakan gambaran totalitas yang penuh arti dalam diri seseorang yang ditujukan kepada suatu tujuan tertentu secara bebas.
Walaupun setiap pendapat berbeda dari yang lain, namun pada dasarnya dari setiap pendapat itu termuat ciri-ciri yang mendasarinya. Karena itu tampaknya cukup beralasan jika pengertian kepribadian didefinisikan dari beberapa aspek. Kepribadian dapat didefinisikan sebagai iindividuality kalau dikaitkan dengan ciri khas yang ditampilkan seseorang hingga secara individu dapat dibedakan dari orang lain. Sebaliknya disebut personality, jika dihubungkan dengan penampilan keseluruhan sikap dan tingkah laku seseorang, baik lahiriah maupun batiniah. Ia pun dapat disebut mentality, bila dikaitkan dengan sikap dan tingkah laku seseorang yang berhubungan dengan kemampuan intelektual. Dan selanjutnya, kepribadian disebut identy, kalau dihubungkan dengan sifat kedirian sebagai suatu kesatuan dari sifat mempertahankan jati diri terhadap unsur pengaruh luar.
Kepribadian muslim dalam konteks ini barangkali dapat diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas dari keseluruhan tingkah laku sebagai muslim, baik yang ditampilkan dalam tingkah laku secara lahiriah maupun batiniah.
Kemudian ciri khas dari tingkah laku tersebut dapat dipertahankan sebagai kebiasaan yang tidak dapat dipengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain yang bertentangan dengan apa yang ia miliki. Ciri khas tersebut hanya mungkin dapat dipertahankan jika sudah terbentuk sebagai kebiasaan dalam waktu yang lama. Selain itu sebagai individu (orang perorang) setiap muslim memiliki latar belakang pembawaan yang berbeda. Perbedaan individu ini diharapkan tidak akan mempengaruhi perbedaan yang akan menjadi kendala dalam pembentukan kebiasaan dari ciri khas yang sama secara umum.3
B. Kepribadian Muslim
Kepribadian muslim dapat dilihat dari kepribadian orang perorang (individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (ummah). kepribadian individu meliputi ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkah laku, serta kemampuan intelektual yang dimilikinya. Karena adanya unsur kepribadian yang dimiliki masing-masing, maka secara individu, seorang muslim akan memiliki ciri khasnya masing-masing. Dengan demikian akan ada perbedaan kepribadian antara seorang muslim dengan muslim lainnya. Dan secara fitrah perbedaan individu ini diakui adanya. Islam memandang setiap manusia memiliki potensi yang berbeda, hingga kepada setiap orang dituntut untuk menunaikan perintah agamanya sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.4
Memang Tuhan menciptakan potensi manusia sama akan tetapi proses perjalanan kehidupan yang berbeda-beda sehingga memunculkan perbdaan dari tiap-tiap individu muslim. Bahkan meskipun pendidikanya sama namun mengapa hasilnya berbeda? Ini lah salah satu kecenderungan dari tiap-tiap individu itu sendiri.
Beranjak dari kenyataan tersebut, maka dalam upaya membentuk kepribadian muslim baik sebagai individu, maupun sebagai suatu ummah, tampaknya tidak mungkin dapat dielakkan adanya keberagaman (heterogen) dan kesamaan (homogeni). Maka walaupun sebagai individu masing-masing kepribadian itu berbeda, tapi dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah, perbedaan itu dipadukan. Dan hal itu memungkinkan karena baik pembentukan kepribadian secara individu maupun sebagai ummah diwujudkan dari dasar dan tujuan yang sama. Sumber yang menjadi dasar dan tujuannya adalah ajaran wahyu.5
Meskipun dasar dan tujuan pembentukanya itu sama belum tentu hasilnya sama. Semua tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhi juga. Ketika faktor-faktor itu mendukung untuk pewujudan bembentukan kepribadian muslim sejati, maka akan semakin cepat dan efisien pembentukan itu terjadi, begitu pula sebaliknya.

2.2. Pembentukan Kepribadian Muslim
Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur bukan hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang.6 Faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian berawal dari keluarga. Karena dilingkungan keluarga anak itu sudah memperoleh pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kebanyakan ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa masa pertumbuhan anak-anak terutama yang masih tinggal dalam lingkungan keluarganya mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan kejiwaan seseorang di masa yang akan datang. Demikian juga sekolah tidak kurang pengaruhnya lewat teman-teman, guru, dan lingkungan anak-anak di sekolah dan sebagainya.
Untuk itu Islam telah memberikan tuntunan jauh sebelum anak itu lahir di dunia. Islam telah menetapkan suatu kriteria dalam memilih jodoh yaitu, takwa (taat beragama). Oleh sebab itu Islam melarang seorang muslim mengawini seseorang yang tidak bertakwa (beragama).
Sehingga dengan menikahi seseorang yang beragama atau bertakwa itu akan menurunkan kepada si anak sifat-sifat yang baik dan menyiapkan untuk si anak suatu situasi yang aman dan tentram, bersumber dari rasa kasih sayang, sakinah (ketenangan) dan tumakninah (ketentraman) ang selalu memberikan anak segala kebutuhan jasmani dan rohani sesuai dengan tuntutan Islam.
Islam telah menggariskan pula cara mendidik anak di rumah, di masjid, di sekolah, dan di masyarakat. Karena di antara faktor yang membantu pembentukan kepribadian itu adalah memakai metode yang baik dapat memberikan kehidupan dan kemampuan bagi kepribadian itu menuju ke arah yang positi
Di antara hal-hal yang dapat menguatkan kepribadian muslim adalah kesederhanaan di dalam kehidupan dengan melalui jalan yang lurus dalam pengaturan harta benda, tidak bersifat kikir dan tidak juga berperilaku boros, tetapi berjalan di antara kedua hal tersebut, sebagaimana firman Allah
             7
Selanjutnya kepribadian dapat pula dikuatkan dengan olahraga, saling mengingatkan kepada kebenaran, dan menciptakan suasana Islam di mana saja kita berada untuk mencapai kebahagiaan duniawi dan ukhrawi bagi manusia dan masyarakat. Dengan demikian orang-orang Muslim menjadi sehat dan kuat, karena orang-orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mukmin yang lemah.8
Secara logika saja ketika dalam peperangan meski jumlah kuantitas banyak namun tidak memiliki setrategi dan teori dalam berperang maka akan dengan mudah untuk dikalahkan. Makanya Allah lebih mencitai hamba-hamba yang dalam segala bidang.

1.Pembentukan Kepribadian Muslim Sebagai Individu
Secara individu kepribadian muslim mencerminkan ciri khas yang berbeda. Ciri khas tersebut diperoleh berdasarkan potensi pembawaan. Dengan demikian secara potensial (pembawaan) akan dijumpai adanya perbedaan kepribadian antara seorang muslim dengan muslim lainnnya. Namun perbedaan itu terbatas pada seluruh potensi yang mereka miliki berdasaran faktor penbawaan masing-masing, meliputi aspek jasmani dan rohani. Pada aspek jasmaniah seperti perbedaan bentuk fisik, warna kulit, dan ciri-ciri fisik lainnya. Sedangkan pada aspek rohaniah seperti sikap mental, bakat, tingkat kecerdasan maupun sikap emosi.
Sebaliknya dari aspek ruh, ciri-ciri itu menyatu dalam kesatuan fitrah untuk mengabdi kepada penciptanya. Latar belakang pennciptaan manusia menunjukkan bahwa secara fitrah manusia memiliki roh yang sama. Aku telah membentuknya dan menghembuskan kepadanya roh-Ku.9
Pernyataan Allah dalam firman-Nya menunjukkan bahwa potensi seperti yang dimaksudkan, bukan hanya dimaksudkan bagi muslim saja, melainkan untuk seluruh manusia. Hal ini mengandung pengertian bahwa potensi dasar manusia bersumber pada potensi yang sama, yaitu dasar-dasar kepribadian yang berasal dari sifat-sifat Allah, meskipun hanya dalam kadar terbatas.
Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia. Dan tingkat kemuliaan erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sebab Nabi mengemukakan “Orang mukmin yang paling sempurna imannya, adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya” (Hadits), yang juga merupakan tujan pembentukan kepribadian muslim.
Disini terlihat ada dua sisi penting dalam pembentukan kepribadian muslim, yaitu iman dan akhlak. Iman seseorang berkaitan dengan akhlaknya. Iman sebagai konsep dan akhlak adalah implikasi dari konsep itu hubungannya dengan sikap dan perilaku sehari-hari. Muhammad Darraz menilai materi akhlak merupakan bagian dari hal-hal yang harus dipelajari dan dilaksanakan, hingga terbentuk kecenderungan sikap yang menjadi ciri kepribadian muslim.
Islam juga mengajarkan bahwa faktor genetika (keturunan) juga ikut berfungsi dalam pembentukan kepribadian muslim. Oleh karena itu, filsafat pendidikan Islam memberi pedoman dalam pendidikan pre-natal (sebelum lahir). Kemudian dalam proses berikutnya, secara bertahap sejalan dengan tahap perkembangan usianya. Pada usia selanjutnya, pendidikan akhlak dalam bentuk membiasakan kepada hal-hal yang baik dan terpuji sudah dimulai.
Dengan demikian pembentukan kepribadian muslim pada dasarnya merupakan suatu pembentukan kebiasaan yang baik dan serasi dengan nilai-nilai akhlak al karimah. Pembentukan kepribadian muslim secara menyeluruh adalah pembentukan yang meliputi berbagai aspek, yaitu:
1.Aspek idiil (dasar),
2.Aspek materiil (bahan),
3.Aspek sosial,
4.Aspek teologi,
5.Aspek teleologis (tujuan),
6.Aspek duratif (waktu),
7.Aspek dimensional (perbedaan individu),
8.Aspek fitrah manusia.10
2.Pembentukan kepribadian Muslim sebagai ummah.
Dalam pembentukan kepribadian-kepribadian muslim sebagai individu pembenmntukan diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan factor dasar dan faktor ajar atau lingungan, semua itu berpedomankan kepada nilai-nilai keislamanFaktor dasar ikembangkan dan ditingkatkan melalui bimbingan dan pembiasaan berpikir, bersikap dan bertingkah laku menurut norma-norma islam sedangkan factor ajar adilakukan dengan cara mempengaruhi individu dengan menggunakan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan kehidupan yang sejalan dengan norma-norma islam.
Yang disebut dengan ummah adalah komunitas muslim yang seakhidah. Sedangkan individu merupakan unsure dalam bidang masyarakat, dan kelompok masyarakat yang terkecil adalah rumah tangga. Maka dengan membentuk kesatuan pandangan hidup pada individu, rumah tangga diharapkan akan ikut memngaruhi sikap dan pandangan hidup dalam masyarakat, bangsa dan ummah. Kesatuan pandangan hidup diyakini akan membantu usaha membiana hubungan yang baik dan serasi antara sesame anggota keluarga, masyarakat, bangsa maupun antara sesamamanusia sebagai satu ummah.
Adapun pedoman untuk mewujudkan pembentukan hubungan terdiri dari tiga macam usaha, yakni: (1) member motivasi untuk berbuat baik, (2) mengah kemungkaran, (3) beriman kepada Allah (QS. 3:110) Dan untuk memenuhi ketiga persyaratan itu, usaha untuk membentuk kepribadia muslim sebagai ummah dilakukan secara bertahap, sesuai dengan ruang lingkup yang menjadi lingkungan masing-masing.
Menurut Abdullah al-Darraz kegiatan pembentukan di bagi menjadi 4 tahap yaitu:
a.Membentuk nilai-nilai islam dalam keluarga
b.Bentuk penerapannya adalah dengan melaksanakan pendidikan akhlak dilingkungan rumah tangga. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
Memberi bimbingan untuk berbuat baik terhadap orang tua.
Memlihara anak dengan kasih sayang.
Member tuntutan akhlak kepada anggota keluarga.
Membiasakan untuk menghargai peratuaran dalam rumah tangga.
Membiasakan untuk memenuhi hak dan kewajiban antar sesame kerabat.
c.Pembentukan nilai-nilai islam dalam hubungan social.
Kegiatan pembentukan hubungan social menurut penerapan nilai-nilai akhlak dalam pergaulan social. Langkah-langkah pelksanaannya mencakup:
Melatih dirin untuk tidak melakukan perbuatan keji dan tercela.
Mempererat hubungan kerjasama.
Meningkatkan perbuatan-perbuatan yang terpuji dan member manfaat dalam kehidupan bermasyarakat.
Membina hubungan menurut tata tertib.
d.Membina nilai-nilai islam dalam kehidupan bernegara.
Membina nilai-nilai islam dalam kehidupan bernegara ditunjukkan untuk membentuk hubungan timbal balik antara rakyat dengan kepala negaranya.langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
Kepala Negara berkewajiban untuk bermusyawarah dengan rakyatnya.
Kepala negara diharuskan menerapkan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran serta tanggung jawab terhadap rakyatnya.
Dalam penerapan undang-undang kepala Negara tidak membedakan latarbeklakang status social.
Selain dari nilai-nilai keislaman yang menyangkut pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah, menurut falsafah pendidikan islam, pola kepribadian tersebut harus pula tercermin dalam pola hubungan yang lebih luas. Hungan pertama adalah hubungan antar sesama muslim serbagai suatu ummah sedangkan dalam ruang lingkup yang lebih luas meliputi bentuk hubungan antara ummah (muslimin) dengan bangsa-bangsa lain dan juga dengan sesame makhluk.
Dalam kaitannya dengan pembinaan kepribadian muslim sebagai ummah, pembentuka di arahkan kepada nilai-nilai ukhuah islamiyyah (solidaritas sesama muslim) yang didasarkan prinsip seiman dan keyakinan. Hubungan agar sesame muslim dijalin atas dasar persamaan sesame makhluk dan akhidah. Usaha untuk menjaga hubungan ini dengan membina rasa kasih sayang senasib sepenanggungan(QS. 48:29).
Adapun cerminan kepribadian muslim sebagai mmah dalam membina hubungan mereka yang tidak seiman terbatas pada hubungan antara manusiaa, hubungan seperti itu dijelaskan sebagai assyidda’ ‘ala al-kuffar wa ruhamma’ bainahum (QS.48:29). Ada batasan yang jelas dalam membina hubungan dengan orang-orang yang berlainan aqidah dan pandangan hidup, serta mempersaudara sesama muslim dengan kasih sayang.
b. membina nilai-nilai islam dalam bungan dengan tuhan.
Baik sebagai individu maupun ummah, kaum muslim dianjurkan untuk senantiasamenjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT. Nilai-nilai islam yang diterapkan dalam membina hubungan mencakup:
Senantiasa beriman kepada Allah SWT.
Bertawakkal kepada Allah.
Menyatakan syukur atas segala nikmat yang telah diberikannya dan tidak putus asa dalam mengharap rahmat-Nya.
Berdo’a hanya kepada Allah, mensucikan diri, menanggungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya.
Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya.
Realisasi dari pembinaan hubungan yang baik epada Allah ini adalah cinta Allah. Dan puncaknya adalah menempatkan rasa cinta kepada-Nya dan Rasul-Nya di atas rasa cinta kepada yang lain.
Denan menerapkan rasa kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya di atas segalanya diharapkan kepribadian muslim sebagai individu maupun sebagai ummah akan cenerung lebih mendahulukan kepentingan melaksanakan perintah Khaliq-Nya dari kepentingan lainnya. Disini akan terlihat bahwa unsure pengabdian akan dapat menjadi unsure fungsional, tidak sekedarnorma-norma yang difungsikan sebagai pedoman yang mati . bentuk perintah dan larangan dapat diterapkan operasional dalam sikap dan tingkah laku.
Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun ummah pada hakekatnya berjalan seiring dan menuju ketujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri baik secara pribadi (individu) maupaun secara komunitas (ummah)untuk menjadi pengabdi Allah yang setia, tundukdan patuh terhadap ketentuan-ketentuan yang diberllakukan Allah.

BAB III
PENUTUP
1.kesimpulan
Untuk memahami bagaimana kepribadian seorang muslim dibutuhkan beberapa landasan dan kaca mata sudut pandang secara menyeluruh. Agar mendapatkan pemahaman yang seobjektif munkin. Mengapa juga para ahli keilmuan dan filosof mempunyai devinisi yang berbeda-beda. Hal ini karena kepribadian merupakan bentuk mater yang abstrak, sehingga perlu adanya pemahaman yang mendalam.
Setiap individu dengan individu yang lain pastinya mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, ada yang baik dan buruk. Sebagai upaya dala dunia pendidikan sudah sepatutnya untuk membentuk pribadi-pribadi yang baik dan menghilangkan pribadi-pribadi yang buruk. Apalagi sebagai seorang muslim sepatutnya membentuk pribadi-pribadi yang professional, mempunyai hubungan yang baik dengan siapapun, beraklak mulia, berdedikasi tinggi tehadap bangsa dan bertakwa kepada Allah.
Untuk mewujudkan itu semua tidaklah semuda apa yang kita bayangkan, diperlukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan kepribadian. Sehingga proses pembentukan kepribadian mengena dan bejalan maksimal serta hasilnya sesuai dengan apa yang kita inginkan.

2.SARAN
1.Pemahaman kepribadian tidak boleh dipandang hanya dengan satu sudut pandang saja.
2.Untuk membetuk pribadi-pribadi baik sesuai dengan yang kita inginkan, diperlukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhinya lebih mendetail dan terperinci.

About rudien87


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: