Lingkungan Gratis Pendidikan

Lingkungan Gratis Pendidikan
Baru baru ini pemerintahan menggembor-gemborkan pendidikan gratis untuk sekolah dasar dan menegah, namun hal ini masih banyak kontrovesial. Aplikasi di lapangan juga masih perlu dipertanyakan. Masih banyak keluhan masyarakat terkait biaya pendidikan, meskipun sudah gratis tapi masih membutuhkan beli seragam dan alat tulis, sedangkan harga barang-barang ini juga tidak murahbagi msayarakt yang ekonominya di bawah layak. Dari berkerja orang tuanya hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, itu pun masih dengan makan yang ala kadarnya. Tapi pemerintah mencoba meringankan beban mereka dengan membuat subsidi pendidikan, dengan bahasa yang menyenangkan hati yakni pendidikan “gratis”.
Dari bahasa gratis masih banyak menimbulkan pertanyaan dikalangan masyarakat khususnya orang-orang yang ekonominya masih dibawah layak. Jika dari para politis pendidikan gratis ini hanya sebagai momentum yang paling empuk ketika kampanye. Bagi para pendidik gratis justru menjadi bumerang bagi mereka masalhnya merka tidak akan mendapatkan gaji tambahan jika pendidikan di gratiskan. Bagi para orng tua murid pendidikan gratis hanya melegahkan ketika di dengar dan ketika di rasakan masih cukup memras kantong, dengan bertambah banyaknya kegiatan-kegiatan di luar jam sekolah tapi masih program sekolah (ekscool).
Adakah solusi dari siapapun yang bisa membantu beban masyarakat yang masih sulitmengeyam pendidikan , padahal pendidikan merupakan urat-nadi bangsa, bangsa tidak akan bisa berkembang jika pendidikanya tidak berkembang, dan pendidikan tidak akan berkembang tanpa adanya usaha dan biaya yang mencukupi kebutuhan logistik yang diperlukan. Jika paradigmanya seperti itu maka pendidikan harus berdasarkan uang dan uang jika tidak ada uang maka tidak ada pelajaran. Ini lah paradigma yang salah “tidak ada uang tidak ada pendidikan”. Tanpa uang pun pendidikan bisa kita wujudkan asalkan dengan usahan yang sungguh-sungguh. Bukanlah unag yang kita cari dalam pendidikan tapi esensi dari kehidupan ada dalam pendidikan. Manusia tanpa pendidikan maka dia lebih bodoh dari hewan. Hewan masih mendidik anak-anaknya sampai mereka mampu untuk bertahan hidup. Untuk itulah bagaimana kita bisa memformulasikan pendidikan yang benar-benar pendidikan tanpa adanya tendensi apa pun.
Untuk itu mengapa pendidikan gratis tidak kita mulai dari lingkungan disekitar kita? Karena pendidikan formal yang siswanya agak banyak membutuhkan biaya oprasional yang cukup banyak. Berbeda lagi jika pendidikan formal yang siswanya hanya beberapa siswa saja, pastinya biaya oprasionalnya lebih sedikit, lagian pendidikan yang mahal pun belum pasti menjamin kwalitas peserta didiknya dan belum pasti pendidikan yang tidak bayar hasilnya bodoh-bodoh, tidak mampu bersaing dengan yang lain.
Mengapa para pahlawan dahulu mempunyai konsep berjuang untuk kemerdekaan Indonesia padahal fasilitas pendidikanya, jika dibandingkan dengan sekarang jauh berbeda. Sekarang ini fasilitas sudah jauh lebih mudah, tapi mengapa out put yang di hasilkan justru kurang potensial. Mungkin kurangnya kesadaran masyarakat kita terkait pentingnya pendidikan.
Kesadaran pendidikan bisa kita mulai dengan membentuk forum-forum belajar kecil di rumah atau kontrakan, sebagai kaum intelek yang berasal dari lulusan sarjana atau diploma. Apalagi ketika masih mahasisiwa sudah mau mewujudkan hal ini, yang pastinya perubahan kehidupan dibidang pendidikan aka jauh lebih baik. Bukan hal sulit ketika tekat dan niat sungguh-sungguh untuk mewujudkan pendidiakan dengan paradigma baru yang diterapkan, mengembalikan esensi pendidikan yakni” memanusiakan manusia” bukan hal sulit ketika ada kemauan. Mahasiswa sebagai kaum akademis sudah sepatutnya bisa mewujudkan pendidikan gratis mereka hanya cukup mengeluarkan waktu saja, karena mahasiswa dalam segi keuanganya masih di suplai oleh orang tua. Namun masalahnya paradigma salah masyarakat kita masih cukup kental “pendidikan jika tidak mahal maka tidak berkwalitas” hal ini juga menjadi beban tersediri bagi dunia pendidikan
Pejuang pendidikan ketika berada di lngkungan masyarakat yang notaben ekonaminya tinggi sebab masyarakat ini mempunyai cukup banyak uang dan orientasi dari pendidikan anaknya adalah untuk kerja dan menghasilkan uang tidak ubahnya dengan berinvestasi di dunia pendidikan.
Selamat berperang para pejuang pendidikan, rintang besar masih membentang luas di hamparan ketidakpastian, tapi musuh terbesar mu adalah dirimu sendiri, karena ketika kau tidak kuat maka kau akan mengkomersilakan mereka yang tidak berdaya, dalam kesempitan kau paksa mereka memeras kantong yang kosong.
Penulis : Akhmad Khoirudin
Mahsiswa Fakultas Tarbiyah UIN Malang

About rudien87


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: